Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 112. Tekad untuk mandiri



Bab 112. Tekad untuk mandiri


^^^" Selalu ada jalan, saat kita mau berserah kepada Tuhan!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Jelang pukul delapan ia meminta Yudha untuk membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan Padang yang berada di lajur sebelah kiri. Ia ingin sarapan saja dulu sembari berisitirahat.


" Disini aja gapapa kan?" Tanya Ajisaka.


"Lanjut! Dari pada susah-susah cari parkiran!" Sahut Sakti ogah-ogahan ribet. Pria jelas lebih simpel segala sesuatunya.


" Ya bener, aku juga udah kebelet kencing nih!" Yudha berucap seraya meringis saat menarik tuas handbrake. Kandung kemihnya jelas minta dikurangi.


Mereka bertiga masuk, rumah makan itu lumayan ramai pagi itu. Banyak group pesepeda gowes yang juga hendak mengisi perut mereka disana.


" Ambilin aku sekalian Sak, aku mau ke toilet dulu!" Yudha berucap sembari berlalu.


" Makanya kawin, biar burung elu enggak cuma buat kencing doang. Biar gak rugi sunat!" Sakti terkekeh, membuat Ajisaka turut tertawa kecil.


" Sialan! Kayak elu udah ngerasain aja!" Yudha berucap dengan suara yang mulai terdengar menjauh.


Mereka berdua lantas mengambil menu sesuai keinginan masing-masing. Sambal ijo juga sayur daun singkong serta paru sapi menjadi penghuni piring Ajisaka. Sakti mengambil rendang dan terlihat menyiramkan kuah kental ke dalam nasinya.


Menggiurkan.


Sepertinya mereka benar-benar lapar. Terbukti, tanpa menunggu durasi yang lama, makanan dengan bumbu pekat dan lauk andalan berupa rendang itu telah licin tandas tak bersisa.


" Eeeiikkkk!" Sakti bersendawa kenyang. Menepuk perutnya yang telah penuh.


" CK! Cangkemu Sak Sak!" Yudha berdecak sebal, lagi- lagi yang paling sering menjadi musuh dedengkot macam Sakti.


" Kenapa? Ini tandanya pencernaan kita normal tau!" Selalu dan selalu saja pandai bersilat lidah.


Licin sekali mulut pria itu.


" Eh coba lihat itu!" Ajisaka menunjuk ke arah meja nomer tiga yang berada di lajur paling kiri. Membuat dua pria itu kini mengikuti arah tunjuk Aji.


Sepasang pria dan wanita yang sudah selesai makan dan terlihat beranjak untuk menuju meja kasir.


" Kenapa?" Yudha tak mengerti.


" Coba tebak, mereka udah menikah apa belum?" Ajisaka tumben mau berkelakar. Sepertinya pria di sampingnya itu mulai menunjukkan gelagat aneh.


" Itu sih cincai!" Ucap Sakti jumawa. Berniat akan menebak.


Yudha hanya mencibir dengan menyebikkan bibirnya.


" Gini, kalau yang bayar cowoknya, berarti mereka masih pacaran!"


" Nah, kalau yang bayar ceweknya, udah jelas mereka pasti merupakan pasangan suami istri!" Ucap Sakti mantap.


Aji dan Yudha saling melirik.


" Dapat teori dari mana lu?" Tanya Yudha.


" Elu jangan lupa, meksipun diantara kita berempat aku yang paling sering di tolak cewek, tapi hal sepele kayak gitu jelas diluar otak man!"


Sungguh menggelitik, mereka bertiga malah menjadikan orang lain sebagai bahan banyolan. Dua orang yang menjadi bahan obrolan itu pasti saat ini tengah merasakan panas di telinga mereka.


.


.


Sakti lagi-lagi menjadi pria paling serakah karena memonopoli tempat duduk belakang itu seorang diri. Tidur membujur berbantalkan neck pillow dengan nyamannya.


Kok penak uripmu sak? ( Kok enak hidup mu Sak?)


Kini, Ajisaka mengambil alih ruang kemudinya. Bergantian dengan Yudha yang kini sibuk berbalas pesan. Mungkin dengan wanita yang tengah dekat dengan pria sipit itu.


" Manyun aja kenapa?" Ajisaka sempat melirik wajah sahabatnya yang kini berona mendung.


Yudha mengusap wajahnya kasar " Mumet banget sama cewek Ji. Gak pernah mau ngerti, maunya minta di ngertiin teros!" Yudha meletakkan ponselnya dengan kasar ke dasbor mobil Ajisaka.


Pria itu kini memejamkan matanya seraya melipat kedua tangannya ke belakang.


" Makanya jangan mau mumet!" Cibir Aji seraya menahan tawa.


" Elu belum aja. Entar juga kebagian gimana mumetnya saat berurusan dengan betina!" Jawab Yudha masih memejamkan matanya.


Aji terkekeh, untung dia tidak seperti sahabatnya yang lain. Selama ini waktunya habis untuk perkebunan buah naga juga Ajisaka's food yang baru ia dirikan.


Tepat saat matahari berada di puncak cakrawala, ketiga pria itu touch down di Kalianyar. Motor Yudha ada di garasi rumah Ajisaka, membuat pria jangkung itu tak perlu mengantar kedua sahabatnya itu.


" Aku langsung balik aja Ji, capek banget!" Tukas Sakti yang meregangkan otot-ototnya. Terlihat sok lelah.


"Eh paijo! Elu tu paling enak diantara kita, udah tidur kayak orang mati, sekarang bilang capek, capek! Yang ada kita yang capek!" Yudha mendengus seraya mengeluarkan beberapa kardus berisikan makanan untuk Arju dan mamak Mariana.


Sakti terkekeh " ulu..ulu.. Ojo nesu nesu, endang tuek raimu engko ( jangan marah-marah, cepat tua wajahmu nanti)"


Ajisaka tergelak " Udah- udah, ni Sak tadi Pak Bayu bawain kita oleh-oleh. Bawa aja semuanya. Kasih ke ibumu, aku gak usah!"


Aji berucap bukan tanpa alasan. Ia seorang diri tiap hari. Dan, jelas ia tak akan sempat untuk makan ini itu dengan santai.


Sepeninggal kedua sahabatnya, ia masuk ke dalam rumahnya. Masih sama. Terlihat geliat beberapa pekerja yang hendak mengambil tray untuk memetik buah naga.


" Bos! Udah pulang?" Sapa Sukron yang terlihat sibuk dengan kalkulator dan juga beberapa pembukuan.


" Wes, pie? ( Udah, gimana?)" Ia bahkan tak sempat masuk ke kamarnya terlebih dahulu. Langsung menanyakan ada kendala apa saat ia berada di kota.


" Bibinya sampean kemarin datang kesini bawa cewek bos. Nyari sampean!" Sukron menatap Ajisaka dengan wajah bloon.


" Cewek cantik!"


" Ngapain bibi kemari?" Ia menduga jika bibinya itu pasti masih tak jera untuk mengenalkan wanita-wanita bergaya Hedon kepadanya.


" Yang lain?" Tanya Ajisaka kembali, merasa jika informasi seputar bibinya itu merupakan hal tidak penting. Saudara sepupu dari mendiang ibunya itu pasti hanya datang untuk meminjam uang kepadanya.


" Harga yang kemaren cocok bos. Tanahnya juga dekat dengan perkebunan sampean yang di dekat kali itu. Nanti kita bisa survey!" Tukas Sukron detail.


" Hanya saja, sertifikat tanah itu masih ada di bank. Yang punya masih punya sangkut paut hutang sama pihak bank bos!"


Membuat Ajisaka tercenung. Ia punya target jika tahun ini gudang keduanya harus sudah jadi.


Ya, Ajisaka berniat membangun gudang kedua untuk tempat sortir buah naga agar para pemetik tak kesulitan dalam mengedrop hasil panen. Singkatnya, ia ingin rumahnya bersih dari aktivitas pekerja.


.


.


Widaninggar


Ia duduk terpekur menatap hamparan sawah yang luas. Sedari tadi memainkan ujung bajunya dengan tatapan kosong.


" Gimana? Masih gak ketemu?" Ibu mendatangi dirinya yang tengah melamun di belakang dapurnya yang sangat sederhana.


Ia menggeleng. Ia tak tahu sejak kapan dirinya hanya mengenakan giwang yang tinggal sebelah itu.


Ya, kini Widaninggar telah sampai di kediaman orangtuanya bersama Damar. Telah menceritakan pula kepada kedua orangtuanya tentang nasibnya yang buruk. Membuat kedua orangtuanya geram.


Uang pemberian Fina tempo hari semakin berkurang karena ia belanjakan untuk kebutuhannya selama ia kembali di desa beberapa hari terakhir.


" Kalau dijual sebelah apa laku ya Buk?" Ia menatap muram wajah ibunya yang terlihat guratan letih di sana-sini. Saking lamanya hidup dalam kesusahan.


" Laku, tapi ya harganya jelas gak sama Wid!" Wanita itu duduk mengusap punggung Wida. Bagaimanapun juga orang tua tetaplah orang tua.


" Pinjam uang di bank aja buat modal. Sedapatnya!" Tutur Ibu dengan suara lembut. Merasa tak memiliki pilihan lain.


Keluarga mereka merupakan keluarga yang berpenghasilan minim. Cukup untuk makan namun tak memiliki sisa.


" Kemaren bapakmu bilang enggak apa-apa. Itu BPKB motor bapakmu kamu sekolahkan ke bank!"


"Nanti perbulannya bapakmu bisa ngoyo buat bantu!"


Wida tertegun. Entah sampai kapan ia akan terus menjadi beban. Setelah kejadian buruk yang menimpanya, orang tuanya sangat merasa bersalah sekali.


Ia berniat meneruskan keahliannya dalam menjahit. Lumayan pikirnya. Ia tak tahu harus bekerja apa. Apalagi, damar harus masuk TK tahun ini. Mustahil ia akan melimpahkan urusan damar pada ibunya yang sudah berumur.


Mau minta bantuan ke kakangnya juga mustahil.


Kakangnya juga memiliki ekonomi yang sama dengan dirinya. Tinggal di sebuah kota yang angka produktif penduduknya sama banyaknya dengan jumlah pengangguran yang ada.


" Kamu pikir-pikir dulu. Kalau iya bapakmu siap ngantar. Kamu harus punya pekerjaan yang bisa nyambi momong Damar dirumah!"


Gak mungkin juga ia meninggalkan Damar di bawah asuhan ibunya. Itu jelas merupakan tanggungjawabnya sebagai ibu.


" Biar kamu gak merasa kesepian!" Tukas Ibu lagi. Menambah nyeri hatinya. Hidupnya kini abu-abu. Menjanda di usia muda sama sekali bukanlah prestasi yang patut ia banggakan.


Ibu benar, ia harus memiliki pekerjaan. Tidak ada gunanya meratapi masa lalu yang buruk itu. Toh bapaknya Damar malah mau mencelakai mereka berdua.


Tidak, ia harus mandiri sekarang.


.


.


.


.