Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 91. Find You



Bab 91.Find You


^^^" Banyak jiwa petarung gigih terlahir dari sebuah keterpaksaan!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


" Argggggghhh!!!"


DOR!


DOR!


DOR!


Ia berteriak sembari melepaskan tembakan ke atas. Meluapkan kekesalan yang berkecamuk di hatinya. Ia mengeluarkan misil itu guna mengurangi sesak di dadanya. Kemarahan itu harus tersalurkan.


Membuat kesemuanya menjadi takut. Termasuk Raditya.


Pandu benar-benar muak. Ingin sekali rasanya ia meledakkan kepala Raditya saat itu juga. Menghajar pria itu hingga mati, atau menusuk tubuh pria itu agar ia juga merasakan bagaimana rasanya di tikam.


Hanya itu yang ia inginkan. Hanya itulah yang menjadi tujuannya berada di kota itu. Hanya itulah yang menjadi alasan utamanya mau bergabung bersama Bayu. Sh it!


Tapi, ucapan Satya dan Andhika memang benar adanya. Raditya harus hidup demi membongkar siapa Riko dan keluarganya ke muka publik. Benar-benar birokrasi rumit.


" Maju!" Radit meminta para anak buahnya untuk melawan Pandu beserta rekannya. Dasar licik!


" Bos, kami butuh bantuan. Kami ada di lantai dua?" Andhika menekan earpiece yang ia kenakan. Menginformasikan kepada Bayu jika mereka membutuhkan tenaga bantuan sembari memasang kuda-kuda, untuk menghadapi anak buah Raditya yang berkisar belasan orang.


.


.


Bayu


Ia masih sibuk memantau Abimana ,selaku leader dari team Charlie yang tengah bersama Kadek dan Willy saat Andhika menginformasikan berita kepadanya.


Berita yang meminta Bayu untuk menerjunkan tambahan personel untuk menolong mereka. Jelas sesuatu telah terjadi pada anak buahnya.


" Willy, Kadek!"


" Naik ke lantai dua!"


" Bawa senjata kalian!"


Ucapan Bayu terdengar spontan dan lugas. Membuat dua anak buah Andhika itu langsung menjawab titah Bayu dengan sigap.


" Siap bos!"


Bayu melihat gedung yang mereka serbu itu merupakan kantor ekspedisi. Tapi, mengapa dan bagiamana bisa dijadikan tempat seperti itu, sepertinya ia nanti harus menghubungi kepolisian guna mencari tahu.


Jelas ada hal terselubung yang perlu ia singkap.


" Ben! Aksa!" Sisir sampai ke area belakang!" Titahnya kepada anak buah Satya itu.


" Siap Bos!"


Berharap segala sesuatunya berada di bawah kendali.


.


.


Widaninggar


Dengan napas tersengal-sengal. Ia masih menggendong Damar yang sebenarnya cukup berat untuk di gendong itu. Tapi ia tak memiliki pilihan. Ia harus kabur malam itu.


Kakinya bahkan terasa nyeri. Sepertinya ia tak sengaja terkena goresan ranting kayu. Kakinya terasa perih.


Lolongan suara anjing dan juga tempat yang gelap sama sekali tak menyurutkan langkahnya yang semakin melemah. Ia lebih takut jika ia akan tertangkap lagi oleh Joni kembali.


Ya, Widaninggar berhasil keluar dari kawasan biadab malam itu dengan susah payah. Simbahan keringat bahkan membuat bajunya basah dan lembab.


Kini ,ia telah berada di tepi jalan. Berada tepat di bawah pohon. Meski sebenarnya tak baik, lantaran berteduh di bawah pohon saat malam hari, membuat Widaninggar akan lebih banyak menghirup karbondioksida ketimbang oksigen malam itu.


Pantas saja napasnya kian tersengal. Sesak tiada jelas.


Bangunan yang digunakan untuk menyekap dirinya itu benar-benar berada di tempat yang sangat sepi sekali. Entah berapa kilo lagi dia harus berjalan agar bisa menemukan kendaraan.


Beruntung Joni dkk tak mengejarnya lantaran saat ini mereka di sibukkan dengan berita jika team KJ tengah menyerang Raditya. Jelas merupakan sebuah ancaman.


" Buk, Damar turun saja ya? Ibuk pasti capek" Bocah laki-laki berusia Lima tahun itu merasa kasihan dengan Ibunya yang sudah bersimbah keringat. Padahal, Widaninggar beberapa jam yang lalu tubuhnya baru saja terlihat segar usai mandi.


Dengan napas terengah-engah, ia menurunkan Damar di bahu jalan yang ia rasa aman meski hanya berteman pendaran cahaya lampu penerangan jalan milik pemerintah.


Terlihat suram.


" Ibuk capek nak. Sini kamu duduk dulu ya!" Widaninggar dengan napas ngos-ngosan menjawab sembari duduk bersimpuh ke tanah seraya berselanjar. Ia benar-benar diujung lelahnya.


Napasnya bahkan masih terlihat kembang kempis. Benar-benar lelah!


" Damar takut buk!" Ucap bocah itu memeluk tubuh Ibunya. Semua yang terjadi jelas membuat trauma bagi bocah itu.


" Udah aman. Besok kita pulang ke rumah Mbah ya!" Widaninggar memeluk erat tubuh putranya. Berusaha memberikan kehangatan dan arti perlindungan.


Sekelebat bayangan wajah Fina melintas. Jika bukan karena Fina, jelas ia tak akan bisa menghirup udara bebas seperti saat ini. Terimakasih Fin!


" Mbah di desa?" Damar tersenyum senang penuh antusias ketika menjawab.


Widaninggar mengangguk seraya tersenyum. Sungguh, meski masih dilanda kecemasan, namun senyum Damar merupakan obat untuk rasa lelahnya.


"Kita jalan pelan ya nak?"


" Nanti kita beli makan kalau sudah ketemu jalan besar!"


Damar mengangguk penuh minat. Luar biasa. Padahal baru beberapa detik yang lalu ia sangat muram. Namun begitu mendengar jika ibunya akan mengajaknya untuk pulang ke Mbah, ia begitu terlihat senang.


Harusnya jam segitu mereka sudah lelap bersama mimpi. Harusnya ia bisa memeluk guling dan berselimut hangat diatas matras empuk.


Tapi keadaan selalu punya kenyataan.


.


.


BUG


BUG


Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat jika Raditya berusaha kabur melalui jendela.


" Sial!" Umpat Pandu yang melihat kelicikan Raditya.


PRANG!


Pandu yang geram membanting tubuh anak buah Radit ke atas meja yang masih berhiaskan botol minuman keras merk mahal itu. Benar-benar mengulur waktu.


Andhika dan Satya yang melihat hal itu sempat terkejut. Namun sejurus kemudian, mereka kembali fokus dengan manusia laknat yang tengah gencar mereka hajar.


Ya, masing- masing dari mereka kini sibuk menghadapi anak buah Radit. Perkelahian itu benar-benar tak terelakkan.


Sayup-sayup terdengar suara jeritan wanita binal yang takut saat melihat tubuh pria yang ambruk dan menabrak beberapa perkakas disana.


" Jangan kabur lo!" Pandu menunjuk Raditya yang kini berlari menuju arah jendela. Andhika, Satya dan lain lainnya belum bisa membantu karena masih sibuk dengan musuh mereka masing-masing.


Sialan!


Para wanita binal yang tiada berguna itu terlihat meringkuk di bawah sofa dengan menutup wajah menggunakan kedua tangan mereka. Benar-benar menegangkan.


" Radit! Berhenti Lo!" Pandu terus berlari, bahkan ia turut menuruni jendela dari lantai dua itu.


Ada nyambungnya juga ia bekerja di KJ. Kini ia bak menjadi anak kijang yang berlari dan melompat dengan cepat. Bayu benar-benar tak salah menamai perusahaannya.


Raditya benar-benar pria licin , licik dan lincah. Lihatlah, pria itu bahkan dengan mudahnya melompat kesana kemari tanpa takut terjatuh. Bagiamanapun juga, ia merupakan produk dari KJ, meski telah salah jalan.


DOR!


DOR!


Radit bahkan bisa mengelak dari tembakan yang dilayangkan oleh Pandu. Jam bahkan sudah menunjukan pukul satu dini hari. Benar-benar tak terbayangkan ketegangan yang saat ini tercipta.


Pandu terlihat mencari jalan pintas saat melihat Radit yang berlari menuju garasi mobil. Bisa ia pastikan jika pria itu berniat kabur untuk saat ini. Dasar brengsek!


Dan benar saja, Pandu kini tepat menghadang di depan Raditya yang pergerakannya sudah terkunci.


Membuat pria itu kini mati kutu. Ah sial.


" Berhenti atau kutembak kepalamu sekarang juga!" Pandu benar-benar geram. Kini ia man to man dengan Radit. Empat mata berbicara tanpa ada orang lain.


" Aku tidak menyangka orang desa sepertimu memiliki kemampuan diatas rata-rata!" Radit tersenyum licik. Sejujurnya ia kagum akan ketangkasan Pandu.


" Kenapa kau bunuh adikku brengsek. Kenapa!!?!" Pandu berteriak sembari menodongkan sepucuk senjata api ke wajah Raditya yang tanpa persenjataan itu.


Membuat nyali Radit sedikit memudar. Jelas Pandu tengah marah.


" Apa salah adikku!" Pandu berteriak.


Bukannya menjawab, Radit malah bersidekap dan seolah menantang Pandu.


BUG


DUG


BRUK


Pandu langsung meninju lalu menendang Raditya dengan luapan emosi yang menguasai dirinya saat melihat Raditya yang masih bungkam seraya mengejek dirinya. Bajingan!


Panas hati tengah membakar kewarasan.


Radit terlihat mengelap sudut bibirnya yang kini terasa asin dan berdenyut. Kepalanya juga seperti di kelilingi bintang-bintang.


Pusing dan pening.


" Brengsek!" Maki Raditya kepada Pandu.


" Katakan, siapa yang menyuruhmu?" Pandu mencengkeram kerah baju Radit dengan geram.


Otot lengannya bahkan terlihat mengetatkan dan mengeras. Benar-benar seakan ingin meremukkan tulang Radit saat itu juga.


" Jawab!!!" Ucap Pandu berteriak. Membuat Radit menelan ludahnya sendiri karena grogi. Lebih tepatnya takut.


Radit hanya mencibir menutupi rasa takutnya.


" Jawab!" Suara Pandu sampai terdengar serak saat itu. Benar-benar definisi dari meluapkan kemarahan sesungguhnya.


" Tuan Hartadi Wijaya!"


" Papa dari kekasih wanita yang tengah dekat denganmu!" Sahut Raditya dengan wajah menahan emosi. Menatap Pandu dengan napas memburu.


" Kau yang mengganggu anaknya!"


" Kau jangan lupa, pria miskin sepertimu harus tahu diri dengan siapa kau bersaing!"


Pandu tertegun. Ayu benar-benar telah menjadi korban dari kesalahannya. Pandu terlihat menitikkan air matanya. Ini benar-benar tak adil untuk Ayudya.


" Ayu!!" Lirihnya dalam hati sembari meratap.


BUG!


PRAK!


Radit menatap Pandu yang sepertinya tengah tidak fokus, sejurus kemudian ia memanfaatkan kelemahan Pandu dengan menjadukkan kepalanya ke wajah Pandu dengan kerasnya saat ia melihat adanya kesempatan.


Kesempatan untuk kabur pastinya.


PRAK!


Sejurus kemudian Raditya terlihat menendang senjata yang di pegang Pandu. Membuat revolver milik Pandu itu kini terlempar sejauh beberapa meter dari tempatnya bersimpuh.


" Argghhhh!" Ringis Pandu yang merasa tulang hidungnya seketika terasa nyeri hebat. Pria brengsek! Rutuk Pandu jelas.


" Kau memang hebat, tapi kau jangan lupa jika aku lebih licik darimu?" Radit berlari menuju mobil di garasi itu sembari mencibir. Ia kabur dengan senyum licik. Menatap Pandu yang terlihat kesakitan.


Tak mau menunggu lama, Pandu yang masih menetralisir rasa sakit di wajahnya itu, kini berlari dan memungut kembali senjatanya yang tergeletak agak jauh darinya. Ia mencoba mencari kendaraan lain untuk digunakan mengejar Raditya. Meski wajahnya benar-benar terasa sakit.


Benar-benar pria brengsek!


Mau tak mau, ia harus dan kudu menyelesaikannya saat ini juga. Nyawa harus di bayar dengan nyawa!


.


.


.


.