Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 68. Threat from Riko



Bab 68. Threat from Riko


^^^" Kau bisa lolos dari kejaran manusia, tapi kau tak bisa lolos dari kejaran karma. Meski dibawah kolong langit manapun di alam raya ini."^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Serafina


" Siapa yang da..."


Alih-alih ingin memastikan siapa tamu yang datang, ia justru dibuat terkejut siang itu.


Ucapannya juga langsung menguap ke udara, kala mata kepalanya menangkap sosok yang paling ia hindari selama ini tersenyum kepadanya.


Riko?


Dan tiga orang di muka pintu itu kini menatapnya lekat. Memindai tampilan Fina yang memang selalu cantik.


" Jon, turunkan senjatamu!" Ucap Riko kepada salah satu anak buahnya. Membuat Fina menatap Riko penuh kebencian.


Senjata?


Mau apa mereka?


" Mau apa lo kemari?" Fina malah baru tahu jika Riko ternyata seperti itu. Semenjak ia putus dengan Riko, mengapa Riko menjadi berubah menjadi tak terkendali begini?


Riko tersenyum seraya masuk kedalam rumah dan kini terlihat menangkup wajah Fina dengan lembut, menatapnya penuh minta.


"Tentu saja karena aku rindu denganmu sayang!" Riko mengecup bibir Fina dengan sekali kecupan seraya tersenyum licik.


Membuat mbak Waroh kini membulatkan matanya. Oh no!!


" Brengsek!' Fina membuang tangan Riko dari wajahnya dengan kasar. Ia juga langsung mengusap bibirnya dengan menatap Riko penuh rasa jijik.


Anjing banget!


Riko menatap Fina yang juga menatapnya penuh ketidaksukaan. Ia sempat menyesalkan dirinya. Mengapa ia bisa jatuh cinta kepada pria di depannya itu, dan...


Oh astaga, bahkan mendadak ia ingat akan aksi erotisnya bersama Riko. Sungguh, ia sangat menyesali semua hal yang berkaitan dengan Riko.


" Aku ingin bertemu dengan papamu!" Riko duduk dan menyilangkan satu kakinya. Menatap tajam Fina yang masih berdiri mematung


Ia bahkan menggunakan bahasa yang halus kepada Fina saat ini. Tapi, mengapa Fina sama sekali telah kehilangan rasa kepada pria itu. Sungguh, yang tersisa hanyalah kebencian.


" Oh astaga tenggorokanku kering, emm Mbak bisa buatkan saya minum!" Riko menatap dan tersenyum ke arah mbak Waroh. Membuat wanita itu gemetaran dan langsung pergi.


Fina mendecak kesal demi melihat sikap Riko yang aneh itu. Apa maunya?


" Papa enggak ada dirumah, dan sebaiknya elo pergi dari sini!" Fina mendatangi Riko yang terlihat seenaknya sendiri dirumahnya.


Menatap pria itu dengan tatapan bengis. Sama sekali tak suka!


Riko menarik lengan Fina dengan tiba-tiba, membuatnya langsung masuk dalam rengkuhan Riko.


" Lepas Riko, elu gila ya!' Fina memberontak kala ia di peluk oleh Riko yang benar-benar rindu kepada Fina. Mendadak hati dan pikirannya dikuasi oleh amarah yang membuncah.


Pria edan!


Dua anak buah Riko membalikkan badannya kala melihat Fina yang kini berada di pangkuan Riko dalam paksaan. Jelas mereka harus melakukan hal itu.


" Dengar, aku akan menggunakan caraku sendiri agar kamu menjadi milikku lagi Fin. Tidak siapapun, tidak juga pria miskin itu. Hanya aku!" Riko mencengkeram pipi Fina hingga membuat bibir wanita itu mengerucut.


Riko benar-benar terlihat memburu nafasnya. Seperti ada rasa tidak terima dalam dirinya.


Riko dengan napas tak teratur menatap Fina yang sepertinya ketakutan. Jelas saja ia ketakutan, lihatlah bagaimana Riko memperlakukannya.


" Oh ya? Tapi sayangnya gue sama sekali udah gak ada rasa sama elo Rik! Hati gue udah mati!"


Riko mengeraskan rahangnya demi mendengar sahutan Fina. Benar-benar menyakitkan!


"Lagipula dengan kehilangan elo , justru membuat gue dapat orang yang lebih baik!"


" Orang yang gue cinta!"


Fina tersenyum licik mengejek Riko yang kini menatapnya geram.


PLAK!


" Jaga mulutmu!" Riko menampar pipi Fina dengan keras. Entah mengapa api kecemburuan seolah membakar logikanya. Membuatnya benar-benar diujung rasa marah.


Astaga apa kejiwaan pria di depannya itu terganggu?


Riko terlihat menatap tangannya yang baru saja ia gunakan menampar Fina penuh sesal. Sementara Fina kini dengan dada bergemuruh menatap benci Riko. Mata dan hidungnya memanas, ia ingin menangis.


" Fina, aku minta maaf!"


" Aku...!" Riko terlihat belingsatan. Entah mengapa ia tak bisa mengontrol dirinya.


" Ada apa ini ribut- ribut!' Suara papa terdengar dari depan.


" Papa?"


.


.


Tuan Guntoro


Ia belum selesai menghadiri sebuah acara bersama istrinya sebenarnya. Namun, mendadak Lidia merasa tidak enak badan. Alhasil, ia akhirnya memutuskan untuk undur diri terlebih dahulu.


Kesehatan mama Fina lebih penting.


Namun sesampainya di rumah, ia terperanjat kala melihat mobil mewah terparkir di bahu jalan depan rumahnya.


Siapakah?


Mengapa mobilnya tidak di bawa masuk jika itu adalah tamu Fina, ataupun Kemal. Ia akhirnya turut tak memarkirkan mobilnya kedalam.


" Bud, kamu tolong ke Pelangi Sari ya!"


" Siap Tuan!"


Budi melesat saat itu juga, membuatnya kini merengkuh tubuh istrinya seraya berjalan masuk kedalam rumahnya yang terbilang besar.


Usai melewati gerbang, ia melihat dua orang asing berwajah sangar yang berdiri seraya bersidekap. Khusyu berdiam diri seraya menatap tajam ke arahnya.


Jelas ada keributan.


Intonasi yang di ucapkan tak terbantahkan lagi, jika seseorang tengah beradu mulut.


Mendengar seperti ada keributan, ia yang masih merengkuh tubuh istrinya itu berjalan kedalam tanpa menghiraukan dua orang asing yang terus saja menatapnya itu.


" Ada apa ini ribut-ribut?" Ucapnya saat ia masih berada di bibir pintu.


" Papa?" Sahut Fina dengan suara bergetar. Dan demi apapun yang ada di alam semesta ini, dada Guntoro seolah tersulut kala melihat Riko yang duduk dengan jarak dekat dengan anaknya.


Lebih marah lagi, ia melihat anaknya yang memegangi pipinya yang kini terlihat sangat merah.


" Fina! Kamu?" Mata Guntoro mendelik, sementara Lidia mendadak kepalanya makin sakit karena melihat anaknya berduaan.


" Apa yang kamu lakukan kepada Fina, hah?" Tentu saja Guntoro berang saat itu.


" Oh, selamat siang Om!" Ucap Riko seraya berdiri dan membetulkan jaketnya. Tersenyum licik. Ia bahkan tak menghiraukan pertanyaan Guntoro yang sebenarnya mengandung kadar kemarahan.


Guntoro menatap Riko geram. Anak kurang ajar!


" Mau apa kamu kesini hah?" Benar-benar tak menyukai Riko.


Riko mendekatinya dengan senyum yang tak bisa di artikan. " Akhirnya saya bisa berjumpa dengan calon mertua saya. Tuan Guntoro!" Riko mendekati wajahnya seraya meraih tangan Guntoro lalu berniat menciumnya.


Ia menarik lalu mengibaskan tangannya saat Riko hendak menaruh tangannya. No way!


Lidia bahkan menatap Riko penuh kebencian. Hatinya harap-harap cemas saja saat itu. Ia juga heran, mengapa Fina bisa tergila-gila dengan pria itu.


Pria yang bahkan tidak mencerminkan attitude yang baik kepada orang tua.


Hih!


Fina cemas, ia takut jika Riko mengucapkan sesuatu kepada papanya perihal dirinya yang...,ah ya ampun. Jelas membuat Fina ketakutan.


" Saya cuma mau katakan jika saya menginginkan putri anda. Apakah anda sudah tahu kalau..."


" Riko!" Fina benar-benar ketakutan. Fina menggelengkan kepalanya seraya mengisyaratkan kata ' jangan'. Jangan sampai Riko mengucapkan suatu hal yang jelas akan membuat dunianya runtuh saat itu juga.


Guntoro kini menatap kedua anak muda di depannya itu dengan tatapan penuh selidik. Ada apa sebenarnya?


Riko tersenyum karena berhasil mengintimidasi Fina. Ia sangat puas karena memiliki kartu AS yang kini bisa ia mainkan.


" Kami pernah pacaran. Anak anda sangat mencintai saya, kami hanya memiliki sedikit kesalahpahaman beberapa waktu lalu, sehingga kami memutuskan untuk break sebentar!"


" Apa? Break apa?" Kesal Fina dalam hati. Sungguh ia benar-benar muak dengan Riko buang ternyata bermulut licin.


"Dan saya kemari hanya ingin berkata, jika jangan sampai anda mendekatkan Fina pada siapapun kecuali saya. Jika tidak....!"


Guntoro benar-benar geram dengan sikap pemuda kurang ajar itu. Apakah ia sama sekali tidak pernah mendapatkan pengajaran norma kesopanan?


" Pergi kamu dari sini, saya tidak akan pernah sudi punya menantu seperti kamu!" Maki Guntoro dengan penuh kegeraman.


Riko sangat merasa terhina dengan ucapan Guntoro. Pria itu harga dirinya benar-benar tersentil.


" Jon!" Panggil Riko pada dua anak buahnya. Ia benar-benar di titik geramnya.


" Ya Bos!" Ucapnya sigap seraya menunduk hormat kepada Riko.


" Saya memiliki banyak sekali manusia seperti mereka!" Riko mendekati seraya menatap wajah Guntoro dengan senyum. Membuat Lidia ketakutan.


" Jadi, sebaiknya minta anak anda untuk tidak keras kepala kepada saya!"


" Jika tidak....!" Riko mengapa tajam Guntoro.


" Anda tahu siapa saya bukan, hm?"


Baik Guntoro maupun Riko kini saling menatap tajam.


" Jangan mimpi kamu!" Sahut Guntoro penuh kemarahan. Siapa pria itu, berani mengancamnya?


" Jon!" Riko mengedipkan matanya memberikan sebuah kode. Ia benar-benar sudah kehilangan kesabaran serta kewarasannya.


BUG


" Pa!"


BUG


Joni melayangkan tinju ke arah perut Guntoro. Membuat Lidia dan Fina kini saling menjerit.


" Papa!" Teriak Fina yang melihat papanya menahan sakit.


" Argggggghhh!"


" Kurang ajar kamu!" Ucap Guntoro di sela-sela rasa sakitnya. Anak buah Riko meninju perutnya dengan begitu keras


" Brengsek kamu Riko!" Maki Fina yang tak di pedulikan oleh Riko yang kepalang marah akibat ucapan Guntoro


" Ingat dan pikirkan baik-baik ucapan saya...calon mertua!" Dengan nada penuh kemarahan ia menunjuk wajah Guntoro penuh penekanan.


Sejurus kemudian Riko melenggang pergi saat Guntoro masih di kerubungi oleh anak dan juga istrinya.


Benar-benar tidak waras.


Pria itu melesat pergi tanpa permisi kepada keluarga Fina. Entahlah. Pikirannya sudah gelap. Sepertinya ia telah melakukan cara yang salah.


" Mbak, mbak Waroh!" Teriak Fina. Ia kesal mengapa pembantunya itu juga tak cepat kembali sedari tadi.


Membuat ART- nya yang masih dirundung oleh ketakutan itu, kini berlari ke depan demi memenuhi panggilan Fina. Padahal, ia sengaja berlama-lama di belakang karena takut dengan Riko.


" Cepat panggil dokter mbak!"


Fina tak bisa berpikir kala melihat papanya yang terlihat kesakitan saat itu akibat ulah Riko.


Benar-benar brengsek!


.


.


.


.


.


Konflik sudah dimulai, siap-siap buat manage hati ya bueboπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ