
Bab 242. Aku mencintaimu
.
.
.
...πππ...
Rendy berhasil menginformasikan keberadaan nomor Pieter yang ia dapat dari Pandu, kala Sakti meminta Pandu untuk meminta bantuannya.
Ya, kepiawaian punggawa Kijang Kencana benar-benar tak bisa di ragukan lagi.
" Sak, elu masuk dulu aja dulu. Ini biar kita bertiga yang beresin!" Ucap Aji yang memetakan keadaan dengan cepat, manakala matanya menangkap banyak sosok yang telah menghadang kedatangan mereka.
" Tapi..." Sakti menjawab dengan wajah ragu sebab tak tega dengan ketiga sahabatnya.
" Udah cepat!" Ucap Pandu yang melihat anak buah Pieter semakin banyak. Tatapannya menyiratkan makna untuk tidak mengkhawatirkan soal ia dan dua sahabatnya.
" Cepat!" Teriak Yudha yang takut jika Anjana dalam bahaya. Berhasil membuat Sakti mendecak seraya melesat dengan hati bercabang.
BUG
Seseorang melayangkan tendangan dan tepat mengenai perut Ajisaka yang tidak fokus karena menatap Sakti. Membuat suami Widaninggar itu kini meringis kesakitan.
" Pergi!" Aji berteriak seolah menegaskan jika ia akan baik-baik saja kepada Sakti. Pria-pria itu kini saling melawan, menendang, meninjau dan memukuli para anak buah Pieter dengan brutal.
Sama sekali tak mentoleransi semua rival yang menghadang mereka.
Para anak buah Ajisaka dan Pandu juga terlihat berjibaku dengan kemarahan yang kentara. Mereka semua fokus dengan orang-orang yang ada diluar rumah besar itu.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa memukul lebih dari satu pria asing yang menjadi rival mereka.
BUG
" Anjing!" Pandu yang merasa kesakitan kini melayangkan tinju bertubi-tubi ke arah wajah pria berkumis yang baru saja memukulkan sebuah balok panjang ke arahnya.
Aji terlihat menghujani wajah seorang pria dengan kepalan tinjunya, dengan posisi rivalnya yang kini terlentang. Jelas pria itu tak akan memberi ampun bagi mereka.
BUG
KROMPYANG
Di tempat yang juga tak jauh, Yudha kini terlihat membanting tubuh pria itu ke atas meja kaca hingga membuat meja itu porak poranda tak berbentuk.
Sakti hanya bisa mendecak kesal sebab rumah itu terlihat besar dan banyak sekali koridor. Entah rumah siapa yang di tempati oleh Pieter saat ini guna menyekap Anjana.
Ia berkali-kali membuka pintu kamar namun kosong, dan saat ia hendak membuka pintu terakhir sebuah kamar yang berada di ujung lorong, pintu itu terkunci dan membuatnya menaruh curiga.
Merasa tak beres , Sakti seketika melayangkan tendangan beberapa kali dan berhasil membuat pintu itu terjeblak.
BRAK
Laju darahnya seketika mendidih dan dadanya bagai terbakar bara api yang membakar seluruh kesadarannya, manakala melihat wanitanya kini di lecehkan seperti itu.
" Kurang ajar!"
Ia seketika menghajar Pieter lantaran pria itu beraninya hendak memperkosa Anjana. Sakti merasa sakit hati manakala melihat hal menjijikkan itu.
" Anjing!" Pieter membalas apa yang baru ia terima dengan menuju wajah Sakti. Membuat pria berkulit putih itu terjengkang ke belakang dan menabrak perkakas.
BRUAK
" Sini Lo, elo cuma pria yang enggak tahu apa-apa yang beruntung sebab menjadi cucu orang kaya!"
" Beraninya merebut Anajaku!" Pieter meluapkan kekesalannya, ia juga tak sungkan mengutarakan apa yang menjadi unek-uneknya selama ini. Persetan dengan urusannya nanti.
" Bacot!"
Sakti merasa tak sungkan lagi kepada pria yang dulu sempat baik kepadanya itu. Persetan, yang jelas ia sangat tidak suka dengan sikap pria pecundang macam Pieter.
BUG
Sakti menendang perut Pieter dengan sangat keras dan membuat pria itu kini terjerembab ke lantai. Ia tak mahir berkelahi, namun jika sudah man to man, apapun tentu akan ia upayakan.
" Argghh!!!" Pieter mengerang kesakitan kala tubuhnya terlempar ke lantai. Benar-benar membuat tubuhnya remuk redam.
" Anjana!" Sakti langsung menghampiri wanita itu dengan wajah penuh kekhawatiran.
" Kau tidak apa-apa,hm?" Tanya Sakti demi melihat keadaan Anjana yang sangat kacau. Ia sangat khawatir. Andai ia datang terlambat, tentu akan berbeda lagi ceritanya.
Namun hal yang tak meraka duga, kini mulai mengancam mereka. Pieter yang saat ini menatap benci kearah Sakti terlihat mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah pisau lipat.
" Kalau aku tidak bisa memiliki anjana, maka seorangpun juga tidak boleh!" Gumam Pieter dengan wajah geram.
Dengan gerakan cepat dan tak mereka sadari, Pieter kini berlari dan menuju kearah Sakti berdiri.
SLURK
" Argggggghhh!" Sakti meringis dan merintih manakala merasakan sesuatu yang tajam kini menghunus dan terasa menusuk daging di area perutnya. Terasa ngilu, nyeri dan pedih dalam waktu bersamaan.
" Sakti!" Ucap Aji, Pandu dan Yudha berteriak secara bersamaan, manakala mereka baru tiba, dan mini melihat sahabatnya di tikam oleh Pieter.
" Arghh, Anjana!" Rintih Sakti yang kini berwajah merah demi menahan sakit yang teramat biasa. Pria itu memejamkan matanya guna menghalau rasa panas dan pedih yang membuatnya lemas secara perlahan.
Membuat tubuh Anjana kini menegang demi melihat simbahan darah yang banyak dari perut pria yang membuatnya jatuh hati itu.
" Pria biadab!" Yudha seketika naik pitam demi melihat keadaan sahabatnya yang kini diujung nyawa.
" Sakti!!" Anjana menepuk pipi pria itu dengan wajah kalut. Wanita itu bahkan tak mempedulikan Pieter yang saat ini menjadi bulan bulanan kemarahan Yudha.
" Tolong bawa dia secepatnya kerumah sakit!" Pinta Anjana kepada Aji dan Pandu yang saat itu juga panik bukan kepalang.
BUG
Yudha yang terbakar kemarahan kini melayangkan tendangan ke wajah Pieter berkali. " Bangun Lo anjing!"
BUG
Yudha kini mengepalkan tangannya, manten baru itu benar-benar dirundung emosi yang tiada terkira. Sahabatnya yang ia kasihi, yang baru saja kembali beberapa waktu yang lalu kini terluka akibat pria bajingan itu.
" Brengsek!!!"
BUG
BUG
BUG
Yudha kalap, buku-buku tangan pria itu bahkan kini memerah. Bersamaan dengan darah di hidung Pieter yang muncrat.
" Mati Lo, anjing!"
Wajah Pieter kini hancur, tulang hidungnya bisa dipastikan telah remuk, hancur karena perbuatan Yudha.
Oh andai para istri mereka melihat kejadian ini, pasti mereka akan merasa ngeri.
" Berhenti! " Ucapan Aji yang kini melihat pria itu hampir saja mati.
" Biar ! Biar dia mati sekalian!" Ucap Yudha dengan kemarahan yang benar-benar on fire.
" Jangan gila Yud, polisi sedang menuju kemari, elu jangan buat Rara sedih. Ingat, kalian bahkan belum tidur bersama. Kalau elu masuk penjara karena udah bunuh dia, abis Rara!"
" Argggggghhh!" Yudha akhirnya menuju kaca meja rias yang berada di sana demi meluapkan emosi yang belum tuntas itu.
Membuat suasana gaduh dan keadaan makin kacau.
" Pandu sama Anjana udah bawa Sakti kerumah sakit, kita sebaiknya juga nyusul, jangan sia-siakan waktu cuman buat pria sialan ini!" Ucap Aji dengan napas memburu demi menyadarkan Yudha yang kalap.
" Anjing!" Yudha menendang tubuh Pieter yang saat ini mengerang kesakitan tak berdaya dengan posisi terkulai diatas lantai.
.
.
Para wanita kini terlihat tergopoh-gopoh saat menuju ke sebuah rumah sakit, manakala mendapat kabar jika Sakti kini berada di ruang penangan.
" Sakti tertusuk, kami berada dirumah sakit. Tolong bawakan pakaian ganti untuk Anjana!"
Pesan dari suaminya membuat Rara kini berganti baju dengan cepat dan membuat Fina dan Wida turut menyusul meraka di jam selarut itu.
" Mas!" Rara kini mendatangi Yudha yang duduk seraya memijat keningnya. Terlihat tak bisa menerima keadaan.
Wida pun juga datang dan langsung berpelukan dengan suaminya yang kini telah melepas jasnya dan hanya mengenakan kemeja yang sudah di gulung sebatas siku.
" Mas!" Aji memeluk istrinya yang malam itu sepertinya terlihat lelah.
" Anjana!" Fina memeluk wanita yang baru ia kenali itu. Wanita itu menoleh dengan raut lelah dan terkejut karena ada yang memanggilnya.
" Ganti bajumu dulu, mari kuantar!" Pandu tersenyum, istrinya selalu saja bisa dengan mudah akrab dengan orang baru.
Wanita itu mengangguk, meski wajahnya terkejut karena jelas ia teringat jika ia tadi sempat membuat Pandu kesal manakala Anjana tak senagaja menabrak mereka.
Sejurus kemudian Anjana pergi bersama Fina . Membuat manusia yang tersisa di sana mini menghela napas.
" Bagiamana keadaan Sakti?" Tanya Rara kepada suaminya yang jelas sangat letih itu.
" Dia tertusuk, kita masih sama-sama menunggu!" Jawab Yudha yang kini memangku istrinya. Semuanya berwajah muram dan lelah.
" Keluarga pasien!"
.
.
Sofa beser dan panjang kini di tempati oleh para wanita yang lelah kecuali Anjana. Anjana yang saat ini mengenakan pakaian yang sebenarnya tak nyaman itu, kini hanya diam. Ia mengenakan dress yang biasa di pakai Rara, dan itu agak aneh untuknya.
" Sudah dijahit dan kami berikan antibiotik agar tidak infeksi!" Terang dokter yang saat ini menerangkan kondisi terkini Sakti yang masih terbaring lemah.
" Saya permisi dulu, jika pasien sudah sadar nanti bisa panggil kami dengan menekan tombol ini!"
" Terimakasih banyak dok!" Ucap Anjana yang kini kembali ke mode datar.
Sakti kini lelap dengan cairan infus yang terpasang di pergelangan tangannya. Membuat hatinya sesak karena dipenuhi rasa sesa. "Maafkan aku tuan muda, aku gagal menjagamu..." Anjana menangis sesenggukan.
Semua orang yang di sana tertegun saat melihat Anjana yang bermonolog seraya mengusap surai Sakti yang masih belum membuka matanya.
" Tuan muda, bangunlah. Tolong bangunlah!"
Anjana menangis dan membuat Widaninggar kini bangun dan mengusap punggung Anjana. Ia tahu rasanya menjadi Anjana. Sebagai sesama wanita, ia tentu paham akan diri tiap wanita yang bersedih.
Sehebat dan sekuat apapun seorang wanita, ia tetap manusia rapuh.
" Tenanglah, dokter sudah memberikan yang terbaik. Sebaiknya kamu istirahat sambil nunggu Sakti siuman!"
Anjana merasa wanita yang mengusap punggungnya kini begitu lembut dan mengayomi. Sejenak ia merasa bagai memiliki saudara. Ya, Widaninggar memang memiliki sikap keibuan yang paling menonjol.
" Kami semua sahabat Sakti, tenang saja kamu tidak akan tinggal diam jika sesuatu terjadi kepada Sakti!" Ucap Yudha menatap Anjana. Mereka berdua sama-sama memiliki sikap yang datar.
Anjana kini di dudukan di sebelah Rara oleh Wida dengan tatapan kosong, membuat ke enam orang itu kini turut menatap kasihan ke arah Anjana.
" Maaf, kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang tejadi. Kenapa kau memanggil Sakti dengan sebutan tuan muda?" Pandu kini tak tahan lagi untuk tak bertanya. Membuat kesemuanya mengangguk karena juga penasaran dengan apa yang dialami oleh Sahabatnya itu.
Anjana menatap Sakti dengan tatapan menerawang. Sejurus kemudian wanita itu menarik napasnya dalam-dalam, sebelum memulai berbicara.
" Sakti adalah cucu dari pemilik The Soebardjo Vineyards yang hilang berpuluh-puluh tahun yang lalu!"
DEG
Keenam orang yang ada disana seketika membulatkan matanya demi mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Anjana.
Cucu?
The Soebardjo Vineyards?
Wanita itu sejurus kemudian menceritakan semua yang tejadi secara gamblang dan tak tanggung-tanggung. Pun dengan Sakti yang sering murung karena rindu dengan mereka semua.
Membuat ke-enam manusia itu merasa bersalah.
" Kalian beruntung, Sakti sangatlah sayang kepada kalian!"
" Dia pernah mabuk saat kuajak minum. Dan,...detik itu aku menjadi tahu jika Sakti sebenarnya minder dengan keberhasilan kalian!" Anjana tersenyum secara bergantian demi menatap satu persatu wajah yang kini terlihat sendu.
" Aku tak menyangka jika ibunya sakti bukan ibu kandungnya, pantas saja Sakti putih dan mereka..."
PLAK!
Wida memukul lengan suaminya yang malah menjurus ke arah pembulian, disaat serius seperti ini. Membuat Kesemuanya terkikik. Pun dengan Anjana.
Mereka semua kini terdiam, merasa lega akhirnya mengetahui semua yang selama ini tak mereka ketahui meski terbilang terlambat.
" Lalu, pria tadi?" Tanya Rara yang masih penasaran dengan Pieter.
Anjana menghela napas panjang. " Dia dulu rekanku!" Jawab Anjana menerawang. Semua yang disana bisa melihat wajah tegas Anjana. Sama sekali tak mengira jika wanita tegas itu justru menyukai Sakti yang sifat serta sikapnya kontras dengan dirinya.
Anjana lalu menceritakan kenapa pria tadi menculiknya. Dan penuturan Anjana membuat mereka semau tercengang.
" Sakti!" Fina yang melihat jari-jari bergerak seketika berteriak. " Sakti sadar itu lihat!"
" Anjana seketika beringsut dan kini berlari menuju ke arah Sakti yang kini mulai membuka matanya. Mereka semua lelah, namun melihat Sakti yang siuman, seketika membuat mereka semua tersenyum senang.
" Sakti!" Ucap Anjana yang tak bisa menyembunyikan raut kebahagiaan manakala melihat pria konyol itu mulai membuka matanya.
" Hey, jangan menangis!" Ucap Sakti dengan suara lirih dan di saksikan semua sahabatnya. Pria itu meraba pipi basah wanita kaku yang rupanya cengeng.
Anjana tak suka melihat Sakti begini, ia tak tahan dan seketika menangis. " Kau ini bodoh atau bagaimana, lihat dirimu sekarang!" Omel Anjana menutupi dirinya yang menyedihkan.
Sakti tersenyum saat Anjana mengomeli dirinya. " Maafkan aku!" Ucap Sakti tersenyum dan kini merasa senang sebab wanita itu terlihat mencemaskan dirinya.
" Anjana, aku sangat mencintaimu" Ucap Sakti dengan posisi berbaring dan suara yang lemah. " Apa kau juga mencintaiku?" Tanya Sakti yang kini tangannya saling meremas dengan tangan Anja.
Kesemua yang ada disana turut mengharu biru, kini menatap Sakti yang tengah berjuang menyatakan cintanya.
" Maukah kamu mewujudkan mimpiku agar aku bisa seperti para sahabatku?" Tanya Sakti menatap lekat Anjana yang masih menahan laju air matanya.
Mata Anjana mengkristal. Hatinya diliputi kebahagiaan yang membuatnya membuncah dengan rasa sukacita. Ia mengangguk dengan air mata yang kini berjatuhan.
" Ya, aku mau..aku mau!" Jawab Anjana tercekat dan kini memeluk sakti yang terbaring. Membuat Sakti bagai melayang karena bahagia.
Yes
Nyatanya apa yang dulu ia dambaan kini terwujudkan sudah. Ia bahagia. Ia tahu, baik dirinya dan Anjana merupakan insan yang tak sempurna, oleh karena hakekatnya orang saling mencintai adalah untuk saling melengkapi.
" Yee!!" Fina kini bertepuk tangan seraya menyusut air matanya karena tak kuasa menahan haru akibat kebahagiaan.
Membuat Aji dan Wida, Yudha dan Rara, serta Pandu kini tersenyum bahagia demi melihat dua sejoli yang kini baru merajut tali asmara itu.
Semoga akan tetap abadi, malam ini, malam esok, esok hari hari nanti.
.
.
.
.
.