Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 125. Keterkejutan Ajisaka



Bab 125. Keterkejutan Ajisaka


^^^" Jadi, apa benar jika kegalauan itu sering berasal dari wanita?"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Ia langsung menyahut ponsel milik wanita berpakaian pamer susu itu. Sama sekali tidak mau bermanis- manis lagi.


" Kamu kan memang PL ( Pemandu Lagu), ya jadi wajar kalau ada disitu?"


" Dan untuk ini!" Ia menunjuk ke arah foto dirinya yang terlihat memeluk wanita itu.


" Yang ada disana gak cuma aku aja. Banyak, mas Tomo sama teamnya juga ada. Lagian, wanita yang kerjaannya di dunia malam kayak kamu jangan pakai perasaan kalau kerja!"


" Aku lagi teler, dan kamu harusnya tahu orang teler dan dibawah pengaruh alkohol mana ada yang sadar?"


" Main kamu kurang jauh kalau kamu handle tamu terus baper kayak gitu!"


" Kita para pria juga mikir kali kalau mau nyari istri!"


" Nyari wanita bener lah pastinya, gak mungkin wanita kayak kalian yang jual tubuh dengan harga murah kayak gitu!"


Sakti sampai tak bisa berkata-kata lagi, pria itu jika sudah marah ngeri juga ya?


Mata Zea memanas, bibirnya bergetar menahan kegeraman akibat ucapan Ajisaka yang benar menyakiti hatinya.


Wanita itu seketika merasa harga dirinya terinjak- injak kala mendengar ucapan Ajisaka yang tanpa tedeng aling-aling itu. Begitu menyakitkan hati.


" Aji! Ngomong apa kamu? Kok begini kamu ke perempuan?" Bibi Arning pasang badan seketika, berusaha membela wanita yang sudah hendak menangis itu.


Ajisaka kini beralih menatap bibinya, geram tiada tertahankan.


" Ini peringatan pertama sekaligus terakhir buat bibik! Kalau sampai bibik berulah lagi, jangan harap Aji mau minjemin uang lagi ke bibik!"


" Ayo Sak!" Aji langsung berlalu dengan dada bergemuruh dan sisa luapan emosi yang masih kentara.


" Benerin tuh baju, nanti laler ada masuk ke susumu itu bisa mati disana nanti. Klambi bolong-bolong kok di gawe !" ( baju berlubang- lubang kok di pakai!)


Sakti sempat-sempatnya mencibir Zea. Pria itu benar-benar bermulut licin. Membuat bibi Arning menggertakkan giginya.


"Byee!" Sakti mengejek dua wanita yang kini berwajah pias itu. Rasain lo!


Dua wanita itu hanya bisa menatap Ajisaka yang bermanuver kasar di hadapan mereka. Mobil itu kini melesat pergi. Benar-benar meninggalkan dua wanita yang seolah di telanjangi oleh ucapan Ajisaka yang menohok harga diri mereka.


Kapokmu kapan!


.


.


Sakti


Ia sebenarnya ingin merelakan diri untuk mencuci dua wanita tadi jika Ajisaka diam saja. Definisi dari bela sahabat. Namun rupanya ia telah salah besar. Ajisaka lebih licin dari dirinya jika keadaannya terdesak.


" Cangkemu lunyu ( licin) juga ya Ji?" Sakti terkekeh saat mengucapkan hal itu.


" Jangan di sangka orang diam itu gak tau apa-apa. Kalau aku mau sak, tiap hari aku bisa ngelonin perempuan kayak dia tadi!" Ajisaka mengemudi dengan keadaan marah.


" Percaya deh, juragan. Tapi Ji, hati-hati loh kamu. Tadi wajah bibimu kayak gak terima waktu kita pergi!" Sakti memperingatkan sahabatnya itu.


" Aku enggak takut!" Sahutnya masih dengan alis berkerut.


Sakti mengembuskan napasnya pasrah. Sahabatnya itu kerap kerasa kepala sekali waktu. Tapi ia menyadari, semua sahabatnya memiliki kelebihan dan kekurangan. Pun dengan dirinya.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Widaninggar


Matahari telah melorot ke sisi barat, rona jingga menambah kesan hangat bagi satu keluarga sederhana yang saat ini tengah duduk bersama di halaman dapur belakang.


Damar terlihat sibuk bersama kakungnya memberi makan ayam jago dengan biji jagung. Bu Mar yang merupakan ibu dari Widaninggar terlihat sibuk menjahit kancing baju suaminya yang terlepas. Sementara dirinya kini duduk menatap hamparan sawah yang luas.


Menikmati sapuan angin sore yang menentramkan.


" Kamu jadi pergi ke rumah Pak Aji Wid?" Bapak bertanya sembari asik bersama Damar.


" Gak tau pak, Wida males sebenarnya!"


" Oh iya, Ibu belum tahu ya?" Bapak melirik ibu yang berwajah kepo.


Bapak akhirnya menceritakan semua yang di sampaikan Wida tadi. Tentang mas Aji yang menemukan giwangnya yang sebelah , juga pria itu yang mengantarkan Damar tadi pagi.


" Loh, Pak Aji jadi tahu?" Ibu bahkan sampai menghentikan tusukan jarumnya saat bertanya kepadanya.


" Kalau soal tahu enggaknya aku juga gak paham buk. Tapi dia waktu itu ada di kota dan gak sengaja nabrak aku sama Damar"


" Pak Aji orang berpengetahuan, gak mungkin suka bicara sembarangan ke orang lain. Buktinya kemaren waktu dia datang kesini juga gak bilang ke kita kan?" Ucap Bapak yang kini turut mendudukkan dirinya ke kursi bambu di sebelahnya.


Kilasan ingatannya kembali kepada kejadian itu. Ia memang tidak tahu dan ingat betul siapa pria malam itu. Semua karena ia yang buru-buru dan takut jika tak bisa kembali ke Kalianyar. Tak mengira jika Pria itu rupanya merupakan orang yang satu desa dengan dirinya.


" Terima aja Wid, biasanya Ibunya Mas Sukron yang beresin rumahnya. Mungkin ada kepentingan. Mas Aji gak bisa ngerjain sendiri. Maklum pria bujang yang sibuk!" Ucap Bapak lagi.


" Nanti Damar biar sama ibuk, kamu terima aja. Lumayan duitnya nanti. Mumpung kamu belum buka jahitan sama buka warung!"


" Anggap aja itu rejeki double buat kamu Wid. Jalan kerumah Pak Aji juga ramai kok, nanti habis selesai kamu langsung pulang!"


Wida tertegun menimbang saran kedua orangtuanya. Tapi ia sebenarnya kurang suka karena ia sempat melihat Aji yang tersenyum licik. Takut jika pria itu punya maksud terselubung.


" Wida takut buk. Pak Aji bujang kan? Kalau aku disana cuma berdua, gimana dong?"


Bapak terkekeh usai mendengar penuturannya.


" Kejauhan kamu mikirnya Wid. Pak Aji itu orang kaya, mapan dan ganteng. Mana mau sama kamu yang begini keadaannya. Jangan kegeeran! Bisa jadi karena dia memang perlu tenaga kerja!"


" Nah bener itu!" Ibuk turut menimpali dengan mengangguk mantap.


Wida mengangguk. Bapak benar, kenapa ia bisa sampai berpikir sejauh itu. Ia hanya wanita yang statusnya bahkan masih abu-abu. Sejenak ia menertawakan dirinya sendiri. Terlalu kepedean.


.


.


Ajisaka


Aroma kemarahan masih menyelimuti diri Ajisaka. Bahkan hingga malam ini. Pria itu kini terlihat meminum minuman beralkohol dengan wajah kusut. Seorang diri.


" Dimana? Aku sama Sakti di warungnya cak Juned nih!"


Ia mengabaikan pesan dari Yudha saat itu. Sama sekali tak mood untuk nongkrong. Entahlah, ia merasa telah memiliki segalanya tapi hatinya kosong. Tapi, Ajisaka tak pernah menunjukkan semua itu kepada para sahabatnya.


Semua itu adalah manifestasi dari hidup Aji yang keras di masa kecilnya.


Namun sejurus kemudian ia meraih benda pipih itu dan mulai mengetik sesuatu. Berniat membalas pesan Yudha.


" Bentar lagi nyusul kalau enggak malas!" Ia melempar ponselnya usai membalas Yudha.


" Galau ni anak. Lu kenapa sih? Aneh banget semenjak balik dari kota?"


Ajisaka hanya membaca sekilas balasan dari Yudha lalu melempar kembali ponselnya ke atas Sofanya. Ia mengembuskan napas pasrah.


TOK TOK TOK


" CK, siapa lagi sih?" Si Sukron ini udah dibilang besok aja ngambil duitnya!" Ia bangkit dengan malas seraya bergumam. Kesal karena Sukron datang malam-malam begini saat ia benar-benar tidak mood untuk berbicara dengan orang lain.


TOK TOK TOK


" Iya sebentar!" Teriakannya malas seraya memutar handle pintu.


" Ada apa lagi Kro...!"


" Selamat malam Pak Aji!"


Ajisaka mendelik saat itu juga bersamaan dengan ucapannya yang telah menguap. Wida tengah berdiri dengan wajah ayu yang tersenyum indah kepadanya.


Oh sial!


Ia mengutuk dirinya sendiri demi melihat dirinya yang jelas berpenampilan kacau saat itu. Oh astaga, ia bahkan belum membereskan botol bekas minumnya di meja.


Habislah kau Ajisaka!


.


.


.


.


.