Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 141. Perhatian itu



Bab 141. Perhatian itu


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Pria itu sedari touch down di Kalianyar kemaren, langsung tepar. Lelah tiada terkira. Bahkan saat Lik Sarip dan beberapa tetangga datang untuk berkunjung, ia tak bisa menahan kantuk yang menyerangnya.


Ia juga manusia biasa yang juga memiliki batasan daya untuk terjaga.


Pagi itu ia ingin membuat kejutan bagi ketiga sahabatnya. Pandu ingin lebih dulu mengunjungi Yudha, sebab pria itu ibarat belut yang sangat lincah pergerakannya, sedari fajar menyingsing.


Bagaimana tidak, keluarga Yudha yang kesemuanya merupakan pekerja produksi tahu rumahan, tentu saja terbiasa bergeliat sedari pagi buta.


Namun, ia agak sedikit merasa aneh kala melihat rumah Yudha yang telah dipenuhi banyak orang. Beberapa terlihat asing dan bukan dari lingkungannya tinggal.


Benar-benar tak seperti biasanya.


"Ada masalah apa ini?" Ucapnya sesaat setelah ia menyandarkan motornya. Menepikan raut sumringah penuh kerinduan dari manik mata Sakti dan Yudha.


" Oh astaga, kau ini pulang dan tidak memberitahu kita?" Sakti tak menjawab kebingungan Pandu, ia justru mengepalkan tangannya untuk ber- high five bersama Pandu.


Pandu maklum, mungkin sebentar lagi ia akan mendapatkan jawabannya. Ia kini tersenyum sembari memeluk sahabatnya.


Yudha melakukan hal yang sama persis dengan yang di lakukan Sakti, ber- high five lalu memeluk erat. Definisi dari sahabat sejati


" Ada apa Yud, Sak?" Ia mengulang pertanyaannya kembali demi membunuh rasa penasarannya sembari menatap dua pria itu secara bergantian.


Terlihat tak sabar.


Yudha mengembuskan napasnya " Kau masih berhutang penjelasan kepadaku, mengapa kamu pulang mendadak seperti ini!"


" Tapi...Maaf jika hari ini, kau harus ikut kami terlebih dahulu untuk mencari Aji dan anak Pak Atmo!"


Pandu mendelik.


" Aji?"


" Anaknya Pak Atmo?"


" Si Aji lagi nyari keka...!" Yudha yang menyadari mulut slong Sakti seketika membekap bibir sialan pria sableng itu. Jangan sampai pria itu berbicara aneh-aneh saat Pak Atmojo berada di sana.


Pandu sedikit terkekeh, inilah yang ia rindukan dari kekonyolan sahabatnya. Tapi tunggu dulu, Aji bersama wanita? Sepertinya banyak hal yang terlewatkan dan tidak ia ketahui.


.


.


Ajisaka


Ia menebak jika Wida pasti mengira dirinya bermimpi dicium oleh Aji. Sedikit menggelitik dan membuat Ajisaka tergelak dalam hatinya. Tapi...ya sudahlah. Toh yang penting ia masih bisa mengingat manisnya rasa bibir Wida.


Uhuyyy!


Sepanjang perjalanan baik Aji maupun Wida terlihat saling mengobrol demi memburu waktu. Entah akan tiba sampai kapan, yang jelas mereka kini berjalan bermodalkan petunjuk kompas dari ponsel Aji yang masa hidupnya tinggal beberapa persen lagi.


Apapun itu, ia masih budak sebuah kata-kata bijak, Everything gonna be alright!


" Awas pelan!" Aji mengulurkan tangannya kala mereka melewati jalan menanjak dengan semak belukar yang begitu tebal.


Wida terlihat tidak se kaku saat awal mereka bertemu. Survive selama sehari semalam di hutan nyatanya bisa membuat dinding kecanggungan dua anak manusia itu runtuh.


" Capek mas!" Wida ngos-ngosan, jalan itu sangat menanjak. Tak mengira jurang itu benar-benar curam.


Aji tersenyum " Istirahat dulu!" Aji mematahkan daun talas lebar dengan sekali tarikan saja. Meletakkannya ke atas tanah, untuk di jadikan alas bokong Wida.


So sweet!


Wida merasa ada sesuatu yang aneh tiap Aji memperlakukannya dengan sangat baik. Hal yang sudah lama tidak ia rasakan tentunya. Apalagi, Pram sudah lama tidak memperlakukannya dengan baik semasa di kota.


Perhatian.


Mereka beristirahat beberapa saat. Entah akan sampai di jam berapa, yang jelas mereka yakin jika hari itu mereka akan pulang. Sabar itu setapak demi setapak, ujung akan tercapai.


"Mas lihat itu!" Wida sumringah, usai menaiki jalan menanjak dan dengan peluh yang sudah terproduksi banyak sekali, Wida melihat jalan setapak yang menandakan jika mereka kini telah sampai di kawasan yang terjamah manusia.



Aji tersenyum, itu artinya mereka sudah berada di atas. Kini, tinggal mencari arah yang benar saja agar bisa tembus hingga ke jalan Perhutani.


Jalan setapak menandakan jika kawasan ini sudah pernah di singgahi orang. Jalan bagi para penyadap Pinus untuk membawa hasil getah mereka.


" Makasih mas Aji, makasih!" Wida langsung memeluk tubuh Aji. Wanita itu terlalu bahagia sampai-sampai reflek memeluk tubuh tegap pria itu.


Membuat Aji merasa ihuyyyy banget! 😁


Dasar Aji!


Wida yang menyadari jika ia memeluk Aji langsung menjauhkan tubuhnya satu detik kemudian. Benar-benar memalukan.


Aji hanya senyam-senyum penuh arti. Boleh-boleh aja kok di peluk sampai nanti, bahkan ia sangat rela dan suka. Begitu pikir Aji yang mulai kotor dan mblarah.


" Ya udah jalan yuk, semoga kita bisa cepet Nemu jalan. Soalnya aku belum pernah menjajaki kawasan sini!" Ajak Aji.


Wida mengangguk setuju, meski kecanggungan masih melingkupi dirinya.


.


.


Widaninggar


Ia melewati jalan setapak itu, sejurus kemudian mereka bertemu dengan tanaman gerunggung. Mas Aji melihat rok yang di kenakan Wida, jelas itu menjadi persolan karena mereka akan melalui jalan berduri.


" Kamu ngapain mas?" Wida mengernyitkan keningnya kala melihat mas Aji yang berjongkok. Membuat beberapa pertanyaan mencuat.


" Naik ke punggung sekarang!" Titah Mas Aji.


Wida mendelik, tentu saja ia terkejut. Apa Mas Aji akan menggendongnya? Haishh yang benar saja!


" Lihat! Itu semua gerunggung! Kaki kamu bisa tergores nanti. Kalau kamu pakai celana sih aku enggak masalah, nah ini!"


"Kita gak ada jalan lain harus lewat ini. Jangan mikir jelek dulu, tanaman itu lebat dan rungkut sekali, aku takut jika ada ular nanti!"


Ia terlihat menimbang saran Mas Aji. Sejurus kemudian ia melihat rok bawah lututnya yang memang jelas akan menyulitkannya saat membelah belukar gerunggung itu.


Meski ragu, Wida Akhirnya naik ke punggung Mas Aji. Membuat Aji tersenyum. Ototnya liat, menggendong Wida yang berkisar berbobot 50 kg sih, doesn't matter for him.


" Pegangan!" Ucap Mas Aji saat ia telah berada di atas punggung kokoh, yang aroma khas pria itu makin mengusik hidungnya. Ya ampun!


Aji seketika merasa tegang. Sesuatu yang kenyal kini menempel erat di punggungnya. Oh sial, benda yang jelas mulai meresahkan dirinya.


Wida melingkarkan tangannya ke leher Mas Aji. Tidak berpikiran macam-macam seperti pria itu. Ia hanya berusaha menurut agar segala sesuatunya lebih mudah.


Ia bisa merasakan tubuhnya melayang diatas punggung kekar nan liat itu. Berjalan membelah belukar berduri. Entah mengapa, Wida lagi-lagi terbuai akan perhatian Mas Aji kepadanya.


Mas Aji kuat.


Telah lebih dari sepuluh menit ia berada di gendongan Mas Aji. Meski kini ia bisa mendengar deru napas pria itu yang mulai kentara.


" Capek?"


" Enggak, cuman...nanti aku minta upah!" Sahut Mas Aji yang terlihat tersenyum licik.


" Kalau tahu gitu aku jalan aja tadi!" Dengusnya yang merasa Mas Aji bisa-bisanya seperti itu.


Mas Aji terkekeh " Upahnya kamu harus masakin aku yang enak di rumahku nanti. Harus kamu!"


Wida menoleh ke wajah Mas Aji saat pria itu juga hendak menoleh kepadanya. Praktis, tanpa sengaja bibirnya dan pipi Mas Aji saling bersentuhan.


Wadiaaaww!


Saat sudah hampir terbebas dari semak belukar lebat itu, sesuatu yang tak di sangka menimpa mereka.


" Aaaargghhh!'' Ia terkejut demi mendengar suara mengaduh Mas Aji yang langsung membuatnya limbung.


BRUK


Wida terjatuh karena keseimbangan Aji goyah.


" Kenapa Mas?" Tanyanya panik saat melihat Mas Aji yang kini meringis. Tak memperdulikan dirinya sendiri yang baru saja jatuh.


" Maaf, kamu enggak papa?" Bahkan Mas Aji masih mengkhawatirkan dirinya yang baru saja terjatuh.


Ia menggeleng cepat, dan lebih mengkhawatirkan Mas Aji.


" Ada yang nusuk kakiku Wid, aduh sebentar!" Ia bisa melihat wajah kesakitan Mas Aji yang tidak bohong.


" Astaga mas, itu kalajengking!" Wida seketika merasa jantungnya berdebar kala melihat bintang beracun itu jatuh dari bagian dalam celana training Aji.


" Ya Allah mas gimana ini?" Ia panik saat melihat Mas Aji yang terlihat melepas sepatunya dan berusaha melepas tali sepatu untuk mengikat betisnya agar racun binatang itu tak menjalar.


Terasa sakit luar biasa dan panas.


" Argghhhh!" Sekuat tenaga Aji mencoba menahan racun yang mulai menjalar itu.


" Tolong!"


Ia mencoba berteriak karena benar-benar dirundung kepanikan.


" Tolong!"


Wida berteriak karena merasa wajah Mas Aji mendadak Pucat. Dan di waktu bersamaan pula, terdengar suara dari kejauhan yang membuat mereka memalingkan atensi.


" Wida!!!"


.


.


Pandu


Ia kini membawa mobil Aji untuk di bawa menuju hutan. Mobil jenis off-road yang biasa sahabatnya itu gunakan saat touring bersama kelompoknya. Aji memang paling berada kondisinya dari pada yang lain. Sehingga memiliki mobil lebih dari satu pun, bukan perkara yang sulit.


Selain mempercepat laju perjalanan mereka, memakai mobil itu juga bisa menampung banyak orang. Termasuk Pak Atmojo.


Mitigasi sederhana tersusun rapih, Pandu meminta Yudha dan Sakti untuk berpencar. Sementara dirinya dan Pak Atmojo masuk ke hutan melalui arah lain.


Lebih dari dua jam mereka berjalan. Mereka kini terlihat membawa senjata tajam untuk membabat habis tanaman liar yang menggangu perjalanan mereka.


Saat deru napas sudah mulai ngos-ngosan, dari kejauhan mereka melihat dan mendengar suara teriakan minta tolong.


" Tolong!"


Merasa mendengar suara, Pak Atmojo memasang pendengarannya betul-betul dan membuat Pandu turut menghentikan langkahnya.


" Tolong!"


" Mas, itu suara anak saya!" Ucap Pak Atmojo kepada Pandu.


" Wida!" Ucap Pak Atmojo sembari berlari tunggang langgang.


.


.


.


Keterangan :


Gerunggung : Sejenis ( Raspberry hutan) yang tumbur liar. Rasanya manis memiliki duri dan bertumbuh menjalar.


.


.


.


Hallo Readerku tersayang, terkasih, tercintah. Mommy mau mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1443H , mohon maaf lahir batin ya.


Maaf Mommy up nya lelet. Beneran sibuk banget di dunia nyata gengs. Semoga Reader sehat-sehat semua, yang lagi ngumpul keluarga makin happy pokoknya selamat merayakan hari raya ya.


Peluk cium dari mommy.


Muaaach πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—