Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 236. Akhir cerita Mr. Cuek & Mrs. Ketus



Bab 236. Akhir cerita Mr. Cuek & Mrs. Ketus


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Kalianyar


***


Yudhasoka


Satu pekan kemudian,


"Di hadapan imam dan para saksi saya, Yudhasoka Andromeda, menyatakan dengan tulus ikhlas, bahwa Rarasati Pancarilangkir yang hadir di sini ,mulai sekarang ini menjadi istri saya. Saya berjanji setia kepadanya dalam untung dan malang, dalam susah maupun senang, dalam sehat maupun sakit, dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin dan saya mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup saya hingga maut memisahkan kami. Sebab apa yang telah di persatukan oleh Tuhan, tidak dapat di ceraikan oleh manusia !"


Mata Rara penuh dengan kristal bening yang mengembun di pelupuk matanya. Pun dengan Yudha yang dadanya lega, usai mengucapkan sederet kalimat pengukuhan itu. Ya, Rara kini telah sah menjadi istri pria pencemburu yang dulu menjadi musuhnya.


Suara tepuk tangan semua hadirin yang berada disana, seketika menggema memenuhi tiap sudut ruangan, saat dengan lancarnya kedua mempelai saling mengucapkan janji suci yang di akhiri dengan ciuman Kudus di hadapan para penyaksi.


Membuat kesemuanya baper. Pun dengan Sukron yang masih menjadi the jomblo of the year.


Mamak Mariana dan pak Agus yang menjadi biang penyelenggara pernikahan anaknya itu, kini duduk menemani Pak Hari yang menangis harus diatas kursi roda dengan hati mengharu biru.


Hanya tangis kebahagiaan yang tersuguh disana.


Bersyukur lantaran Yudha menemukan Jodoh , tak berselang lama dari kedua sahabatnya yang lebih dulu membina mahligai rumah tangga.


Terimakasih banyak Tuhan!


Didepan sebuah mimbar yang berada di altar suci itu, terlihat pria berjubah merentangkan, lalu meletakkan kedua tangannya keatas kepala dua mempelai, yang kini berlutut seraya memejamkan matanya, usai mengucapkan janji suci pernikahan.


"Diberkatilah engkau...."


Semua tangan menengadah saat pria yang berada di depan sana mengucapkan doa-doa dengan suara lantang, penuh kasih pengharapan dan makna pada dua pasangan yang berbahagia itu.


Membuat siapa saja yang mendengarnya tak kuasa untuk menahan laju air matanya.


Rara dan Yudha saling melirik, merasa bahagia sebab ia kini telah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah di mata Tuhan juga negara.


Sebuah kertas yang mirip akta kelahiran kini mereka pegang saat fotografer handal membidik mereka dengan lensa besar yang mereka bawa.


Menjadi penegas jika mereka memiliki legalitas yang sama sebagai warga penduduk yang telah resmi menikah.


.


.


Rarasati


Ia menuju ke hotel yang malam nanti akan mereka gunakan untuk resepsi acaranya. Siang ini ia bersama Yudha ingin beristirahat dulu, sebelum mereka akan berlelah-lelah demi menghadapi para tamu.


Namun wanita itu agaknya lupa jika Yudha merupakan pria yang jelas memiliki gelora yang tinggi. Apalagi manten baru. Jelas tak bisa lagi di hadang oleh alasan apapun.


Pria oriental itu terlihat mendekap tubuh Rara yang baru saja mandi. Terasa segar sebab aroma sabun lavender yang masih tertinggal itu, kini membuat jiwa Yudha makin resah.


Sudah sah, tunggu apa lagi?


" Yud?" Ucap Rara geli dan setengah terperanjat saat beda keras menempel di bokongnya, saat tubuh tegap dan kekar itu memeluknya.


" Yad Yud Yad Yud, panggil aku mas atau yang lain. Enggak sopan!" Yudha menggigit kecil dengan gemas pundak terbuka Rara ,yang kini hanya mengenakan tangtop. Membuat Rara terkekeh. " Marah perdana setelah jadi Pak Su nih ceritanya?" Goda Rara yang mengetahui jika Yudha nesu.


Yudha kembali memeluk tubuh istrinya dari belakang, dan tak menyahut jawaban istrinya yang sebenarnya ingin membuatnya tertawa. Keduanya menatap pantulan diri mereka ke cermin lebar yang ada di kamar mereka.


Rara tersenyum sembari menikmati pelukan hangat suaminya yang menenangkan. Aroma maskulin pria itu mampu membuatnya merinding berkali-kali.


" Makasih ya, udah mau nerima aku yang brengsek ini" Yudha menciumi pundak wanita luar biasa yang sangat ia cintai itu.


Rara membalikkan tubuhnya, kini menatap sedikit mendongak sebab Yudha lebih tinggi darinya." Semua orang brengsek di tiap sisi perbuatan mereka. No body's perfect in the world!" Rara menatap lekat manik mata Yudha yang terlihat sendu.


CUP


Yudha meraih yang Rara lalu mengecup tangan yang masih dingin itu, dengan sangat dalam. Betapa pria itu sangat mencintai Rara segenap jiwa dan raganya .


Otot punggung Yudha terlihat berkeliat manakala ia mengangkat tubuh Rara, menggendongnya dengan posisi saling berhadapan. Membuat Rara tertawa karena sangat bahagia di perlakukan manis oleh Yudha.


" I love you!" ucap Yudha menatap istrinya yang ia gendong saat ini.


" Love you too Mr. cuek!" Ucap Rara yang membuat Yudha senyam-senyum. Oh inikah rasanya menikah?


Sejurus kemudian ia mencium bibir lembab istrinya yang benar-benar menggoda itu. Masih dalam posisi di gendong dan kaki yang melingkar di punggung telanjang suaminya, dengan kepala menunduk, Rara kini berciuman dengan Yudha dengan penuh minat.


Tangan dengan jari-jari lentik itu kini menyusuri otot liat punggung Yudha yang kini bersuhu panas. Jelas menegaskan jika pria itu kini tersulut gelora yang membuncah.


Oh yeahπŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Yudha meletakkan perlahan tubuh istrinya keatas ranjang, yang dipenuhi oleh taburan kelopak mawar merah beraroma wangi. Sepasang mata sendu yang menyiratkan tuntutan hasrat itu, membuat Rara hanyut dalam alunan cinta.


Tubuh Yudha yang bermasa otot mengerikan itu, membuat sekujur tubuhnya meremang. Yudha terlihat hot sekali. Cocok menjadi model pakaian dalam.


Bibir yang kembali berkelit itu, membuat Yudha leluasa untuk memelorotkan pakaian tipis yang dikenakan Rara. Jelas menandakan jika Yudha akan memangsa istrinya siang itu juga.


Doktrin yang mengisyaratkan untuk beristirahat nyatanya hanya menjadi isapan jempol belaka. Yudha mana tahan!


Yudha terlihat lihai karena ia memang sudah menjadi pakar pencumbu Numero Uno diantara para sahabatnya yang ia nilai alim. Dulu, but not today!


Dan entah sejak kapan, keduanya kini sudah sama-sama polos, dengan pakaian yang teronggok secara semrawut. Rara yang tak sengaja melihat benda mengerikan lain milik suaminya itu, seketika menelan ludahnya dengan perasaan was-was. What?


" Kalau orangnya tinggi besar, dijamin itunya juga besar!" Ucapan gendeng Ratna beberapa waktu lalu kini melintas di pikirnya. Oh sial.


Yudha kembali mencium bibir istrinya demi mengetahui jika celah sempit itu benar-benar belum pernah di satroni siapapun kecuali dirinya. Yudha benar-benar beruntung.


Thanks God!


" Emmmmm!" Rara menggeliat , dengan dada membusungkan saat sesuatu yang dibawah sana benar-benar menyesakkan dan membuat miliknya nyeri dan sakit.


Apa Yudha mau membunuhnya? Kenapa rasanya sakit sekali?


" Tahan sayang, nanti perlahan enak kok!" Yudha berbisik dengan raut wajah yang susah diartikan . Ini sudah setengah perjalanan, dan mustahil jika Yudha akan menghentikannya. Tapi...gimana pas resepsi nanti jika Rara kesakitan?


Rintihan kecil kini keluar dari bibir Rara, saat mulut Yudha kini menyambar kuncup dada istrinya, demi mengurangi rasa sakit akibat kegiatan belah duren itu.


" Tahan sayang sedikit lagi!" Yudha masih menghentak dengan perlahan, masih mencoba menghujam celah yang benar-benar sempit itu.


Yudha mengecup buliran air mata yang keluar dan netra Rara, saat bagian penting dari dirinya berhasil menembus lapisan tipis yang rasanya benar-benar ciamik itu.


Rara mencengkeram kuat bahkan kukunya tertancap di punggung kekar Yudha, saat ia merasa terhujam dengan sakitnya manakala benda besar dan panjang kini berhasil memasuki dirinya.


Yudha membiarkan miliknya terbenam beberapa saat , dan membiarkan Rara merasakan penyatuan nikmat mereka. Sebelum hentakan sesungguhnya akan gencar ia layangkan.


Yudha kasihan demi melihat wajah Rara yang terlihat sangat kesakitan. " Maafkan aku sayang!" Bisik Yudha karena ia tahu telah menyakiti kesayangannya itu.


Astaga! Apa miliknya benar sebesar itu?


.


.


.


.