Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 211. Babak belur



Bab 211. Babak belur di pesta


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sakti


Apa yang barusan ia lihat lebih dari sekedar menyadarkan posisinya. Nyatanya, Rara juga menyukai Yudha. Betul kan?


Lantas pantaskah jika ia memasuki kehidupan dua sejoli yang sangat terlihat bahagia tadi?


Jawabannya tentu saja tidak. Meski jauh di dasar hatinya Sakti menyukai sosok bertalenta seperti Rara, namun persahabatan nampaknya masih menjadi hal utama yang ia percayai.


Terlepas dari hal itu, toh sebentar lagi Sakti memiliki tujuan lain yang mengharuskan jarak dan waktu terbentang antara ia dan para sahabatnya. Demi mimpi yang nyaris tak bisa terbeli. Meski ia sama sekali tak mengutarakan hal ini kepada siapapun. Pun dengan kedua orangtuaku.


Nyatanya, setiap orang pasti memiliki harinya untuk serius.


Kesuksesan seperti ketiga sahabatnya yang lain, tentu menjadi salah satu dasar niatnya kali ini. Ia juga ingin bisa berpijak diatas kakinya sendiri, dengan kebanggaan yang pasti.


Tak seperti dirinya yang selama ini bagai kapas yang tertiup angin. Tidak jelas kemana arahnya.


" Yo dengerin gue dulu!" Dari jarak yang agak jauh, ia yang melamun di tepi pintu masuk sisi timur mendengar suara ribut. Sialnya, tempat itu berada jauh dari jangkauan para guard yang berada di sisi barat tepat di pintu utama menuju ballroom hotel.


" Gue udah bilang, kalau elu enggak mau ngikutin apa yang gue mau, kita cukup sampai disini Dit!" Ucap pria berambut coklat yang surainya menutup kening.


" Gue janji, setelah ini gue bakal diet ketat Yo. Gue janji!" Dita terus mengiringi langkah sombong pria itu.


Sakti mendengus demi tak sengaja mendengar alasan pertengkaran yang ia nilai sangat konyol. "Jadi pria itu menuntut Dita untuk kurus? Cih, pecundang!"


" Sory Dit, tapi bukan masalah itu yang bikin gue ilfeel sama elu. Elu itu childish banget. Gue malu banget tau nggak tadi di dalem!" Pria bernama Rio itu terlihat marah. Entah apa yang membuat pria itu malu.


" Rio tunggu gue!!!" Dita menahan pria yang sudah akan pergi menuju basement tempat dimana mobilnya berada.


" Lepas!" Rio yang jengkel dengan sikap Dita seketika mendorong tubuh wanita itu, dan tanpa senagaja dorongannya rupanya begitu keras. Membuat Dita terjerembab ke atas aspal halus hotel itu.


" Jangan kasar lu sama perempuan!" Sakti tentu saja geram melihat hal itu. Bagaimanapun juga, betina bukanlah tandingan para pejantan.


Rio yang mendengar suara Sakti seketika menatap sengit, " Siapa Lo ikut- ikut, gue enggak ada urusan sama elo!"


Sakti tak menjawab dan kini melipat kedua tangannya sembari memajukan langkahnya, menatap Rio dengan tatapan geram. " Elu bencong? Beraninya sama perempuan?" Sakti mengangkat sebelah alisnya, dengan wajah menantang Rio.


Dita yang masih menggelosor di bawah, seketika menjadi tegang. Pria yang pernah ia jumpai beberapa kali di berbagai kesempatan saat ia masih bersama Fina di Kalianyar itu, mengapa kini terlihat beda sekali dari biasanya.


Rio tersulut emosi begitu ia dikatai 'bencong' oleh Sakti. Tanpa menunggu lagi, Rio seketika berjalan ke arah Sakti dan menempeleng wajah Sakti dengan begitu kerasnya.


BUG


" Rio!!!" Teriak Dita yang terkejut karena keadaan mendadak berubah menjadi tegang dalam waktu sepersekian detik.


Perasaannya sudah tidak baik-baik saja, moodnya buruk dan suasana hatinya tengah kacau, di tambah mendapat serangan dari Rio secara mendadak seperti ini, jelas membuat Sakti makin murka.


" Bangsat!" Ucapnya menggertakkan gigi dengan suara yang lirih, sembari meraba sudut bibirnya yang terasa berdenyut dan pedih.


BUG


Sakti melayangkan pukulan yang tak main-main, pria yang memiliki kulit paling bersih diantara ketiga sahabatnya itu, kini terlihat murka. Wajahnya bahkan terlihat memerah. Jelas Rio menjadi ajang pelampiasan suasana hatinya yang tengah buruk saat ini.


BUG


" Rio!!!" Dita kini bangkit dan mencoba melerai dua pria yang gelut di depannya secara terang-terangan. Ia panik demi melihat hidung Rio yang mengeluarkan darah, sebab Sakti tak hanya sekali memukul wajah pria itu, tapi sudah berkali-kali.


BUG


BUG


" Anjing!" Rio sempat menyikut wajah Sakti yang berada tepat di belakangnya,karena berpindah posisi.


"Berhenti! Apa yang kalian lakukan!" Ucap Rendy yang menjadi penanggung jawab keamanan disana. Kini, baik Rio maupun Sakti sama-sama di pegangi oleh anak buah Rendy dan saling melempar tatapan permusuhan.


" Elu gila ya!" Dita menunjuk ke arah Sakti karena kesal, mengapa pria itu malah memukuli pria yang menjadi dambaannya selama ini.


Mata Sakti melebar manakala menatap Dita yang justru memarahinya. Are u crazy?


" Elu enggak apa-apa kan Yo?" Tanya Dita dengan wajah khawatir mengusap lengan Rio yang masih menghujani Sakti dengan tatapan bengis. Membuat Sakti mengeraskan rahangnya. Cukup, sekarang dia tahu. Saat engkau ada dibawah, bahkan niat baikpun tidak akan pernah terlihat.


" Lepas!" Ucap Rio kesal kepada dua pria yang memegangnya sedari tadi. " Awas lu!" Rio menunjuk Sakti dengan tatapan benci. Sejurus kemudian pria itu melesat pergi dengan dada bergemuruh, dan meninggalkan Dita yang terus memanggil- manggil namaya.


Sakti tersenyum getir. Sebaik apapun dirimu, dunia tidak akan pernah mengakui jika materi tak melekat pada hidupmu.


.


.


Empat sekawan kini berkumpul meski dalam suasana yang berbeda, canggung dan masih tekun memandangi Sakti yang masih membisu.


Acara masih berlangsung . Namun Fina dan Pandu kini menyempatkan waktu barang sejenak untuk melihat kondisi Sakti di ruangan khusus.


Rendy membawa Sakti ke sebuah ruangan atas permintaan pria itu. Sakti tidak mau kalau sampai kedua orangtuanya tahu.


" Elu kenapa sih bisa terlibat hal kayak gini lagi?" Fina menatap Dita yang tertunduk murung.


Sakti masih diam sambil menyeka sendiri bibirnya yang masih nyeri akibat hantaman Rio.


" Gue enggak mau di putusin Rio Fin, gue cinta sama dia!" Dita memanyunkan bibirnya dan ingin menangis. Membuat Sakti melirik lalu menggelengkan kepalanya.


Pandu, Yudha, Aji, Wida dan Rara kini saling melempar tatapan dan tidak berani berkomentar apapun. Sama sekali belum bisa memetakan keadaan yang ada.


" Dari semua wanita di dunia ini yang pernah aku jumpai, cuma elu yang bodoh!" Ucap Sakti tidak tahan lagi. Membuat mata Dita melebar karena ucapan Sakti.


" Ngomong apa lu?" Dita naik pitam karena dikatai bodoh oleh Sakti.


Para manusia disana hanya diam dan saling melirik demi melihat keadaan yang makin tegang. Untuk kali pertamanya, mereka semua melihat raut Sakti yang serius.


" Dia..(yang di maksud Rio) jelas-jelas udah nolak elu, bahkan memperlakukan elu kayak tadi...gue enggak nyangka ya, orang berpendidikan kayak elu ternyata bodohnya enggak ketulungan!"


Sakti benar-benar kesal. Ia sudah babak belur demi menolong Dita, tidak tahunya wanita itu malah masih meratapi kepergian Rio dengan bego'nya. Astaga!!


" Elu tuh ya...!"


" Udah-udah, Dit Sakti itu bener. Orang kalau cinta sama elu enggak akan ngelakuin hal itu!" Fina yang kini sudah kesal makin tak bisa mengendalikan diri.


Ia bahkan sampai rela meninggalkan para tamu di hari besarnya demi hal sialan macam ini.


" Gue pergi. Nyesel gue nolongin dia!" Ucap Sakti yang ngeloyor pergi dengan sisa kekecewaan yang semakin tak bisa ia sembunyikan.


.


.


.


.


Tolong baca dulu baru like nggeh saudara. Biar tidak membuat retensi anjlok πŸ€—πŸ€—πŸ€—