
Bab 11. Kecoa
^^^" Jangan salah. Benci itu biasanya awal dari rasa cinta!"^^^
...πππ...
.
.
.
Serafina
Ia terperanjat saat Oma-nya tetiba membuka pintu kamarnya. " Oma ?" tukasnya dengan ponsel yang masih menempel.
" Dit, udah dulu ya. Nanti di sambung lagi!" ucapnya memungkasi sambungan teleponnya, bersama sahabatnya.
Fina merasa, Oma-nya ingin menyampaikan sesuatu.
" Di panggil dari tadi kok ya gak njawab!" Wanita cantik dengan uban sebagai perhiasan usianya itu, menggelengkan kepalanya.
" Ya kan aku lagi teleponan Oma!" ia mendengus seraya mengerucutkan bibirnya.
" Cepat ganti baju, ikut Oma ke rumahnya Bu Mariana!!"
" Ngapain? males ah!!" bibir Fina berengut mendengar ajakan Oma-nya.
" Ikut, kamu mau ngapain dirumah. Biar kenal tetangga, biar ada gunanya sedikit kamu disini. Oma tunggu diluar!" tukas Bu Asmah dengan nada mengintimidasi.
" CK ,bier ede genenye sedeket kemu desene?" ia mendecak kesal lalu menirukan ucapan Oma-nya dengan logat menye-menye.
Benar-benar tidak sesuai hatinya.
Ia memilih memakai celana jeans. Pakaian multifungsi sejuta umat, yang ia padu padankan dengan singlet hitam, yang ia rangkapi dengan kemeja kotak-kotak warna navy.
Tampilan casual yang membuatnya cantik.
Fina menyapukan bedak tipis ke wajahnya, ia juga menyisir alisnya yang memang sudah tersulam dengan cantik. Bibirnya ia olesi dengan lipstick warna nude.
Sempurna.
Ia menguncir rambut coklat bergelombangnya dengan satu ikatan. Terkahir sebagai pamungkas, ia menyemprotkan parfum wangi vanilla ke ceruk leher, dan pergelangan tangannya.
Wangi semerbak tiada tara.
" Begini aja lah, kalau Oma bilang masih kurang sopan aku mau ganti pakai sarung aja!" kesal Fina karena ia pasti tahu, Oma-nya itu kerap rempong dalam hal pakaian.
.
.
Kekhawatirannya tidak terbukti, Bu Asmah no comment dengan penampilan cucunya. Itu artinya, Fina aman. Tak ada yang perlu di khawatirkan.
Fina cantik, namun wajahnya ia tekuk sedari tadi. Jarak rumah Bu Asmah dengan sang juragan tahu yang tidak lain ibu dari Yudhasoka, berkisar satu kilometer.
Akhirnya setelah sekian lama, mobil milik Bu Asmah berguna juga. Fina mengemudikan mobil itu, dengan santai.
" Acara apa sih Oma?" Fina bertanya dengan posisi di depan kemudi bundarnya. Terlihat lihai mengemudi.
" Tiap tahun Len Voli di dekat rumah kita itu dijadikan tempat untuk turnamen. Opa kamu dulu kan pendiri lapangan itu, Oma hanya meneruskan saja. Kasih dukungan dana biar acaranya terselenggara dengan baik. Anak-anak muda jadi rukun, desa kita juga bisa terkenal!" tutur Bu Asmah.
Fina mengangguk, ia tak menyangka bila neneknya itu merupakan salah satu orang penting di desa ini.
" Acaranya sederhana, maklum di desa. Tapi kalau kegiatan itu tergelar, warga banyak yang suka. Mereka terhibur pas nonton pertandingan. Generasi muda banyak yang ikut. Banyak lagi Fin atlet dari desa kita yang ikut Pekan Olahraga Nasional" terang Bu Asmah dengan penuh semangat.
Fina hanya mengimbangi, meski ia sama sekali tidak tertarik dengan voli, namun entah mengapa ini lebih baik dari pada harus melamun di kamar dan memikirkan Riko.
.
.
" Aku ngapain terus Oma?" tanya Fina saat mereka sudah sampai di sebuah rumah warga, yang terlihat ramai dan mayoritas di isi oleh pria.
" Ya gak ada, kamu diem aja!"
Fina menyebikkan mulutnya demi mendengar jawaban Oma-nya yang tidak pro.
" Oh Bu Asmah selamat datang, mari!" Ketua Rukun Tetangga itu menyambut hangat kedatangan salah satu donatur kegiatan itu. Banyak pasang mata yang menatap Fina, namun yang di tatap cuek dan bersikap acuh tak acuh.
Dari tempatnya bersila, ia melihat sekumpulan pria menyebalkan yang membuat ia kesal tempo hari. " Kenapa mereka ada dimana-mana?"
.
.
Musyawarah itu menghasilkan mufakat yang berisi terpilihnya susunan panitia yang akan bertanggung jawab pada gelaran acara itu. Total hadiah yang fantastis, yakni mencapai lima puluh juta rupiah, jelas akan menarik banyak minat tim yang tersebar di kabupaten itu.
" Saya berharap acara ini dapat di gelar dengan sebaik-baiknya. Semoga kegiatan positif seperti ini akan terus ada ,agar generasi muda kita bisa berkegiatan yang baik!" Bu Asmah memberikan sepatah dua patah kata, di saat pembentukan panitia sudah selesai.
" Saya disini sekaligus mau memperkenalkan cucu saya, yang mungkin bisa di berdayakan juga dalam kepanitiaan turnamen!" Bu Asmah tersenyum seraya menepuk pundak Fina yang sedari tadi menunduk karena bosan.
Membuat Fina terperanjat dan grogi. Ia sama sekali tidak pernah terlibat dalam kegiatan organisasi apapun selama dia sekolah, maupun kuliah.
Tak berminat untuk menjadi organisator.
" Oma?" Fina menatap wanita tua di sampingnya itu tak percaya, bagiamana bisa ia dilibatkan dalam urusan yang ia rasa tak berkompeten untuk turut serta.
" Ternyata cucunya Bu Asmah!"
" Itu anaknya Pak Guntoro apa Pak Basuki ya?"
" Cantik banget!"
" Tapi kok baru lihat?"
Kasak kusuk riuh rendah suara peserta musyawarah itu membuat telinga Desinta panas. Ia agaknya tak suka kepada Fina. Karenarena sedari tadi, kumpulan empat pria ganteng yang Desinta tatap itu, malah fokus menatap wanita bernama Serafina itu.
" Gadis kota yang sombong!" ucap Desinta dalam hati. Seraya menatap Fina yang terlihat tertunduk malu.
.
.
" Buk Asmah silahkan, semoga tidak bosan dengan produkku ini ya Buk!" Mamak Mariana terlihat gupuh saat menyuguhkan panganan produksinya sendiri.
" Ini yang saya suka, tahu bumbu. Suami saya dulu tiap pagi pasti minta di belikan!" Bu Asmah bersahaja meski berkecukupan, itulah sebabnya ia tak merubah desain sederhana rumahnya walau ia memiliki uang banyak.
.
.
" Gila, jadi dia cucunya Pak Nyotoraharjo?" ucap Ajisaka terkejut.
" Hemmm, kemaren aku malah pasang AC di kamarnya. Kalian tahu enggak, eeeuhhh pakai bajunya sexy banget?" Ucap Sakti seraya asik mengunyah tahu.
" Otak lu Sak, itu aja!" cibir Yudha.
" Tapi galak banget, terus manja kayaknya. Aku pas sama si Pandu kemaren kesana ya, dia masih tidur tau!" Benar-benar biang gosip bermulut licin.
" Anak orang kaya, dari kota lagi. Wajar!" sahut Yudha.
" Iya bener!" Sahut Sakti sesuai manggut-manggut, dan asik menguyah tahu gurih itu.
" Eh, kok diem aja Ndu. Terpesona ya?" Sakti kembali menggoda sahabatnya itu.
" Apaan, kebelet buang urine nih!" ucapnya jujur yang merasa kandung kemihnya sesak sedari acara pemilihan ketua tadi.
.
.
" Oma!"
" Oma!"
Serafina berbisik di telinga neneknya. Malam ini dingin sekali, membuatnya merasa ingin buang air kecil.
" Ada apa, jangan rewel!" sergah Bu Asmah.
" CK, aku kebelet. Numpang ke kamar kecil boleh gak ya?"
Usai mendengar keluhan cucunya, Bu Asmah langsung membisikkan sesuatu ke telinga mamak Mariana.
" Ayok, Ikut saya! ibu dari Yudhasoka itu mengajak Fina. Membuat wanita dengan tindik lebih dari tiga di telinganya itu, membuntut di belakangnya.
" Pakai saja, tapi ya macam ini lah keadaannya, tapi mungkin itu masih ada orang. Kamu tunggu dulu ya, saya kesana dulu!" Tukas mamak Mariana, saat mereka sudah sampai di kamar mandi yang berada di dapurnya.
Fina mengangguk seraya tersenyum. Dilihat dari logatnya, sepertinya wanita itu pendatang.
" Arju, aku telan lama-lama ponsel kau itu. Kok kesel kali kutengok kau lama-lama, macam hidup di jaman batu saja kurasa kau, tak pernah mau keluar dari sarangmu itu!" Suara menggelegar mamak Mariana membuat Fina terlonjak. Wanita itu berucap tanpa merasa bersalah, bahkan saat Fina masih ada disana. Sejurus kemudian wanita gemuk itu berlalu. Mungkin kembali ke depan.
Selang beberapa detik kemudian, muncul bocah sepuluh tahun keluar kamar dengan wajah kusut. Jelas dialah yang di damprat oleh wanita bermata suthup ( sipit) tadi.
Dapur Mamak Mariana sebenarnya standar, tak terlalu jelek dan tak terlampau bagus pula. Dapur yang lumayan luas. Dengan berbagai perabot yang membuat sesak ruangan itu.
Dalam dapurnya, terdapat tiga motor yang terparkir rapi. Sebuah motor matic favorit ibu-ibu, sebuah motor bebek warna merah dan motor sport milik pria warna Hitam.
Sejenak Fina tertegun, ia rindu dengan mamanya di kota. Rumahnya yang bersih dan besar, serta kamar mandi di tiap kamar yang memudahkan dia.
" Lama banget sih!" Fina tak tahan, ia bahkan sampai mendesis seraya menjepit tangannya di bawah pangkal pahanya. Dan saat ingin mengetuk kamar mandi itu, pintu itu terlihat mengayun dan menampilkan sosok pria ganteng yang kemaren menanggungnya saat merokok.
Pria yang terlihat berbeda jika mengenakan pakaian rapih.
" Kamu lagi?" ucap Fina dengan dahi berkerut.
" Kenapa?" Pandu berdiri tepat di depan Fina dengan wajah datar. As usual. Pria itu terlihat santai dengan tangannya yang menutup pintu kamar mandi itu.
" Lama banget, minggir!" Fina menerobos tak tahan. Wanita itu bahkan sempat menyenggol dada pandu secara tak sengaja. Membuat tubuh pria itu sedikit terhuyung.
Pandu menggelengkan kepalanya seraya mengembuskan napas, dan saat akan beranjak dari tempat itu.
" Aaarrrgghhh!" Wanita di dalam kamar mandi itu berteriak, reflek membuat Pandu ingin membuka pintu itu namun tak bisa, sebab Fina menguncinya dari dalam.
" Hey tolong di buka, ada apa!" Pandu menggedor pintu itu. Ia cemas.
Diluar sedang ramai karena memutar musik yang cukup keras. Membuat teriakan Fina tak akan sampai hingga luar.
Sejurus kemudian pintu itu terlihat mengayun, wajah Fina pias. Dan betapa terkejutnya Pandu, saat tanpa aba-aba langsung menghambur ke tubuh Pria jangkung di depannya itu.
Pandu membulatkan matanya, saat ia mencium aroma shampo dari rambut coklat Fina. Ia bahkan meneguk ludahnya kasar, saat dua benda kenyal di dada Fina menempel ke tubuhnya. Membuat adrenalinnya tak beres.
" Ada kecoa dia dalam!" Fina membenamkan wajahnya ke tubuh Pandu. Fina takut kepada kecoa, lebih tepatnya jijik.
Pandu memutar bola matanya seraya mengembuskan napas. Ia melihat ke dalam kamar mandi yang sejatinya bersih itu. Fina bahkan masih memeluk tubuh kekar pria itu, saat Pandu bergerak untuk menengok binatang penyuka tempat lembab itu.
" Sudah pergi!" pandu berdiri dengan tetap membiarkan Fina memeluk tubuhnya. Ia tak menyambut, juga tak menolak.
Fina dengan wajah kikuk kini perlahan melepaskan pelukannya saat pria itu telah menginformasikan bila binatang kaya bakteri itu, telah enyah. Wanita itu bahkan kehilangan rasa kebeletnya seketika.
" Maaf!" Fina menunduk dan tak berani menatap Pandu saat ia kini sudah melepaskan pelukannya.
" Hemmm, biar aku lihat dulu lagi!" Pandu melewati Fina yang berdiri kikuk, usai memastikan binatang itu benar-benar tidak ada , ia kembali keluar.
" Di desa memang seperti ini, tidak se bersih tempatmu di kota!" ucap Pandu kemudian berlalu begitu saja. Meninggalkan Fina yang mematung seraya tertegun menelaah ucapan Pandu.
Fina menatap punggung lebar Pandu yang kini berlalu. " CK, Fina?!!" ia memukul kepalanya sendiri. Bodoh karena jika takut, ia kerap seperti itu.
Tapi entah mengapa harum aroma tubuh Pandu membuat Fina tersenyum kecil. Pria itu wangi sekali rupanya. Kini ia malu karena memeluk pria itu, mau dia taruh dimana mukanya setelah ini.
Setelah kerap mendampratnya dengan omelan, dengan tidak tahu malunya ia malah memeluk pria itu.
''Kecoa sialan!"
" CK, Fina Fina!!" gimana wanita itu seraya memukuli kepalanya sendiri. Merutuki kebodohannya yang tiada bertepi.
.
.
.