
Bab 33. Mengantar Oma
.
^^^" Hati-hati, pandangan pertama bisa jadi ancaman yang tak boleh di ragukan!"^^^
...☘️☘️☘️...
.
.
.
Waktu Fina untuk mendatangi juragan gabah agaknya lebih cepat dari yang di jadwalkan. Dengan bersama Bu Asmah, Fina kini mengendarai mobilnya dengan hati riang.
" Kamu kenapa Fin, tumben ceria sekali?" Bu Asmah nampak tak bisa menutupi rasa ingin tahunya. Penyebabnya ialah wajah sumringah Fina yang terlalu kentara.
Fina langsung mengulum bibirnya sendiri, " Enggak, biasa aja sih Oma. Ya, mungkin karena Fina udah makin terbiasa hidup disini!" jawabnya beralibi. Ia sebenarnya amat sangat senang karena ia bisa menyentuh bibir Pandu. Definisi dari kesempatan di dalam kesempitan.
Bu Asmah senang, meski cucunya itu masih sulit untuk diarahkan, tapi setidaknya gadis itu sudah tidak seperti dulu.
" Baguslah, kalau kamu begini terus nanti papa kamu pasti senang. Kamu sebenarnya memang anak yang baik Fin!" ucap Bu Asmah dengan tatapan menerawang ke depan. Entah mengapa, ia kini menjadi tidak rela bila Fina nnti akan pergi.
Fina yang mengetahui perubahan wajah neneknya itu, seketika terdiam.
" Jujur Oma senang kamu disini, meski kamu nakal dan bandel. Sejak kapan kamu merokok?" tanya wanita berkacamata itu, tanpa menoleh.
Glek
Ludah licin Fina mendadak sulit ia teguk. Sejak kapan Oma-nya itu tahu pikirnya. Sedangkan, ia sama sekali tak pernah merokok saat wanita tua itu dirumah.
" O-Oma kok?" menjadi tergagap- gagap.
"Oma nemu bungkusan rokok di keranjang baju kotormu, masih ada satu batang!"
" Hah? astaga, pasti pas gue salah paham sama si Pandu kapan hari itu!" menggerutu dalam hati, seraya menyesali kebodohan.
Seketika suasana hening. Fina menautkan kedua alisnya seraya fokus dengan kemudinya.
" Kalau gak bisa langsung berhenti setidaknya pelan-pelan kurangi!"
.
.
Serafina
Tepat pukul dua belas siang mereka sampai di sebuah gudang gabah besar. Di samping bangunan itu terdapat Ba'an yang sangat luas, dengan kegunaan untuk menjemur padi, serta sebuah bangunan lain.
Fina mengedarkan pandangannya seraya menyipitkan matanya. " Panas banget, lupa gak bawa kacamata lagi!" Fina kini harus menangkupkan penutup kepala di Hoodie yang ia kenakan, guna menghalau panas yang menggempurnya.
" Oma kok gak bilang sih kalau tempatnya terik begini!" Fina ngremon ( ngomel) karena kepanasan.
" Kan Oma udah bilang tadi, bawa topi!"
Mereka berdua kini berjalan kedalam, terlihat seorang pria se usia papa Fina, datang menyambut kedatangan mereka.
Oma tak menjawab, beliau terus berjalan dan Fina hanya diam mengikuti. Tak mengira Oma-nya benar-benar mengelola semuanya sendirian.
Adalah kemal. Pria duda yang menjadi pemborong gabah dalam skala besar maupun kecil termasuk milik Bu Asmah itu, terlihat begitu menghormati kedatangan Fina dan neneknya.
" Silahkan Bu!" pria itu membuka sebuah ruangan. Udara sejuk AC langsung menyambut Fina. Membuatnya mengembuskan napas lega.
" Silahkan duduk Bu!" pria itu mempersilahkan Fina dan neneknya untuk duduk.
Ruangan itu lumayan luas, bersih dan wangi. Padahal bila ditilik dari luar, tempat itu mirip dengan gudang Bulog milik pemerintah.
" Apa kabar Bu?" pria itu menjabat tangan Oma, kemudian beralih kepada Fina.
" Baik, kenalkan ini cucuku. Nanti dia yang bakal bantu!" ucap Oma.
Pria itu mengangguk seraya menjabat tangan Fina " Saya kemal!'
" Fina!" ucapnya singkat sembari meraih uluran tangan kemal.
Ia hanya tekun mendengar obrolan serius yang dilakukan boleh Bu Asmah dan pria yang baru ia ketahui bernama Kemal itu.
" Salam kenal ya mbak Fina, jadi padi dari sawahnya neneknya mbak Fina ini biasanya saya yang beli, dulu almarhum kakeknya mbak Fina sahabat Bapak saya, jadi sama-sama petani besar lah dulu ceritanya!" pria itu menerangkan dengan lugas.
Fina manggut-manggut saja, meski agak membosankan namun ya, kini ia jadi tadi bila neneknya memang sudah berduit baru dulu meskipun tarafnya di desa
" Kebetulan anak saya yang pertama juga sudah ada disini Bu, nanti sekali waktu dia yang bakal ngurus juga. Kalau gak di biasakan, nanti takutnya dia gak mau meneruskan!" Kemal terkekeh.
" Syukur kalau mau. Anak saya semua gak ada yang mau. Mereka semua gak ada yang mau melanjutkan usaha suami saya di bidang pertanian!" tukas Bu Asmah.
" Silahkan diminum dulu Bu, sambil ngobrol!" Kemal mengeluarkan dua botol air mineral dan juga dua botol minuman isotonik merk terkenal, dari dalam mini water showcase yang ada di pojokan.
Tak berselang lama, terlihat seorang pemuda seusia Pandu masuk ke ruangan itu sembari masih mengobrol.
Fina cuek saja, sembari membuka seal botol itu, dan meneguk minuman isotonik itu. Terasa melegakan.
" Ah!!!" Fina ber-ah ria saking leganya. Membuat pria yang baru datang itu menatap Fina dengan lekat.
" Nah ini anak saya. Zal kenalkan, ini Bu Asmah yang papa ceritakan tadi. Beliau ini partner terbesar kita di desa ini!"
" Bu Asmah, mbak Fina kenalkan ini anak saya Rizal. Nanti masalah pembayaran dan lain-lain akan melalui dia!"
Baik Bu Asmah maupun Fina bersalaman wajar, tak ada rasa lain. Namun tidak dengan pria bernama Rizal itu. Pria itu kini terpana menatap Fina yang sangat cantik.
" Rizal!" ucapnya seraya terus menatap Fina tak lekang.
" Fina!" ucapnya seraya memasang wajah B aja.
.
.
.
.
.