Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 6. Bertemu lagi



Bab 6. Bertemu lagi


^^^"Tak usah di sangkal, hidup tinggal hidup. Karena orang yang sering protes itu malah cepat kiamat dulu!"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Serafina


Petang menjelang, Serafina agaknya memang benar-benar lelah. Baik fisik, maupun hatinya. Gadis itu bahkan masih tertidur dengan posisi menelungkup diatas kasurnya.


" Fin...Fina!" Ketukan dari luar membuatnya terganggu.


" CK, siapa sih!" Fina menggerutu, ia tak suka jika tidurnya terganggu. " Astaga!" agaknya ia kini tersadar bila ia telah berada di belahan bumi lain. Bukan di rumah mamanya.


" Fina, udah malam kamu belum mandi?" Oma membuka pintu karena merasa tak mendapat sahutan apalagi jawaban dari dalam.


Perempuan tua yang terbiasa mengenakan kacamata itu , menggelengkan kepalanya. Cucunya benar-benar pemalas.


" Oma kira tadi kamu langsung mandi, cepat mandi. Perawan kok jam segini masih begitu. Jorok banget kamu Fin!" Oma mencecar dirinya dengan ocehan. Bagaimana tidak, lawong sudah malam ia malah masih mengenakan pakaian yang ia kenakan sejak tadi siang.


Seketika Fina tertegun mendengar kata 'perawan' yang di ucapkan oleh Oma nya. Ia tersenyum kecut saat mengingat Riko yang telah mengambil keperawanannya.


" Iya..." dengusnya seraya mengambil sandal rumah, yang berada di kolong kasurnya.


" Mandi cepat!!! Nanti Oma tunggu di meja makan. Bocah kok ora njowo blas ( gak mengerti sama sekali)" Oma menggerutu seraya berlalu dari kamarnya. Suaranya pun kian tak terdengar, seiring dengan kepergiannya.


Fina menghela napas, ia melihat jam di ponselnya.


18.47


Fina meneteskan air matanya. Wanita itu sejenak teringat dengan penggalan kisah hidupnya itu.


...Satu Tahun yang lalu...


" Tuh lihat Fin, si Riko ganteng banget!" Dita as the best shoulder rest , ia selalu menemani Fina.


Malam ini, mereka merayakan ulang tahun Riko yang ke 25 Tahun. Menyelenggarakan selebrasi besar-besaran di sebuah diskotik yang cukup besar dan terkenal di kota itu.


Fina malam itu terlihat sangat cantik, sejumlah teman-teman mereka meliuk- liuk dibawah pendaran lampu kelap-kelip yang memusingkan mata.


" Selamat ulang tahun sayang!" Fina datang dan langsung mengecup pipi Riko. Kekasihnya itu sontak merasa bahagia.


" Thanks Darling!"


Peserta disana kebanyakan dihadiri oleh anak muda yang berasal dari golongan berada. Menikmati suguhan musik yang membuat kendang telinga nyaris jebol. Tapi anehnya, mereka begitu menikmati.


" Enjoy the party all!" pekik Riko seraya mengangkat gelas. Sorak sorai turut menyambut ucapan yang mengundang riuh rendah itu.


Semua orang tenggelam dalam indahnya pesta berbaur kenikmatan duniawi.


Beberapa saat kemudian,


" Sayang follow me!" Riko menggeret tangan Fina. Ia sempat terkejut, akan dibawa kemana dia.


Dita dan Shila sudah pergi dan tenggelam dalam alunan musik yang memekakkan telinga. Entahlah, semua orang sudah hilang kendali. Apalagi, mereka sudah terbuai dengan minuman yang memusingkan kepala.


" Riko, kita mau...!"


" Sssttt, ikut saja!" Riko adalah pria yang Fina sukai sejak dulu. Pria itu kerap membuat Fina susah tidur, ia bahkan tak percaya jika most wanted di kampusnya itu dulu kini menjadi kekasihnya.


Dahi Fina berkerut " Riko, kita?" Fina mendadak terkejut saat Riko mengajaknya kedalam sebuah room, yang sudah di pesona Riko secara eksklusif.


Pria itu sudah mengunci kamar kedap suara itu. Memiliki uang banyak, membuat mereka tak akan susah lagi untuk sekedar mencari kesenangan yang bersifat fana itu.


Kamar itu berdesain klasik. Pendaran cahaya lampu bernuansa hangat, juga kasur dengan seprei gelap menjadi penegas keromantisan.


" Riko kit..."


Ucapan Fina menguap dan tak memiliki arti, saat Riko menyumpal bibir ranum Fina dengan bibirnya. Pria itu menangkup wajah Fina lalu mengecupnya degan penuh gairah.


Riko Melu*mat serta menyesap bibir Fina tanpa jeda. Membuat wanita itu terbuai.


Fina yang mendadak mendapat serangan itu, seketika mematung. Namun beberapa detik kemudian, tangannya yang menganggur itu kini mulai meraba dada Riko.


Mereka tersulut gairah yang belum seharusnya. Melewati batasan yang ada, sebagai anak manusia yang tidak tahan di dera gelombang paling melenakan, yang pernah ada.


" Fin, bolehkah?" tatapan mata yang menuntut, serta gejolak dalam dirinya membuat ia mengangguk tanpa berpikir panjang. Yang ia inginkan hanyalah, bersama Riko.


Fina merasakan sakit, perih dan nyeri di pangkal pahanya. Riko benar-benar membenamkan benda penting miliknya dengan tanpa ampun.


Fina merasa dirinya bak di hujam benda yang menyesakkan. Membuat dirinya seolah tercabik- cabik.


" Riko, ahhhh" sakit sekali. Hentakan pria itu bahkan tak mempedulikan saat celah sempitnya terasa robek.


Riko menyumpal bibir Fina agar wanita itu tak berbicara lagi.


Fina telah kehilangan mahkotanya yang paling berharga. Ketidakmampuan dirinya dalam menahan laju serta hempasan gelombang ternikmat itu, membuatnya akan menyesali perbuatannya kelak.


Ia sempat melihat benda besar milik Riko yang memuntahkan lahar putih keatas perutnya.


" Maaf Fin, aku.." Riko menciumi ceruk lehernya. Fina memiringkan tubuhnya seraya menangis.


" Aku janji bakal terus sama kamu. I love you Fina. Am promise!"


...Masa sekarang...


Tapi promise tinggallah promise. Ia kini bahkan merasa dirinya kotor. Bayangan akan tubuh Riko yang pernah menindihnya itu juga membuat Fina merasa sakit.


Pria itu bahkan berciuman degan Shila saat mata kepalanya sendiri menyaksikan.


" Brengsek!!!!"


Fina menangis, ia merasa tak memiliki harga. Ia minder, kecil, takut dan sunyi. Ia pikir Riko akan menemaninya hingga nanti, ia juga bermimpi pria yang mengambil keperawanannya itu akan menjadi suaminya. Namun, so fucking about Riko.


.


.


Mata Fina sembab, wanita itu menangis dibawah guyuran shower di kamar mandinya. Menyesali kecerobohan serta kebodohannya.


"Gimana nanti kalau aku menikah? tapi, aku gak mau ketemu sama Riko lagi"


Ia sempat mematut dirinya ke cermin meja rias kamarnya. Entahlah, ia memendam semuanya sendirian.


Fina merasa lapar, ia hendak menuju meja makan. Ia bahkan tak memperdulikan keberadaan supirnya. Pria bernama Budi itu sudah tidak memperlihatkan batang hidungnya.


Mungkin sudah enyah dari sana.


Rupanya rumah Oma-nya memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Meski, beberapa furniture rumahnya masih ada yang jadul. Hanya saja, kamarnya terasa panas.


" Besok saja kamu pasang ya. Fina kebiasaan pakai AC, takutnya dia gak nyaman!" sayup-sayup terdengar Oma-nya berbicara dengan seseorang saat ini baru melangkah.


Fina menajamkan telinganya. Ia menguping di balik dinding. " Besok saya minta di bantu dia saja Bu!" ucap seorang pria.


" Mbak Fina kenapa nempel- nempel ke dinding begitu?" Yayuk menepuk punggung Fina yang seperti orang mengendap- endap.


" Duh ngagetin aja sih mbak!" dengus Fina.


Tiga orang yang berada di ruang tamu itu, seketika menoleh ke sumber suara Yayuk. Membuat Fina melirik tajam Yayuk yang melongo karena tak menyadari kesalahannya.


" Fina!" Panggil Bu Asmah.


Fina mengembuskan napas malas. " Iya!" ucapnya malas.


" Sini sebentar!"


Fina malam itu menggunakan hotpant jeans, dan hanya mengenakan tangtop warna hitam. Rambutnya ia biarkan basah. Dengan mata sembab ia berjalan malas menuju ruang tamu.


" Ada ap..." Fina membulatkan matanya demi melihat dua pria yang tadi sore sempat terlibat adu mulut dengannya.


" Kamu!" Fina menunjuk ke arah Pandu yang memasang wajah biasa.


" Kalian sudah saling kenal?" Bu Asmah menatap Fina dan Pandu secara bergantian dengan tersenyum.


" Belum!" ucap Pandu dengan suara sopan.


" Enggak!" Jawab Fina ketus.


Sakti yang berada di samping Pandu bahkan tidak mingkem( menutup mulut) sedari tadi. Ia terlalu terpesona dengan kecantikan Fina malam itu.


Bu Asmah tersenyum " Sama tapi beda!"


Ketiga anak muda disana menatap Bu Asmah dengan kening berkerut.


" Yang satu bilang belum. Itu artinya akan mengenal?" ucap Bu Asmah memandang Pandu yang nampak tenang.


" Yang satu bilang enggak. Berarti..." Bu Asmah melirik cucunya.


" CK, Oma. Udah deh!! mau apa sih?" Fina kesal. Kegeramannya tadi sore saja kepada pria di depannya itu belum tersalurkan, kini malah ia harus bertemu lagi dengan pria menyebalkan itu.


" Katanya kamu pingin di pasangi AC kamarnya. Besok biar Sakti sama Pandu yang pasang. Kamu besok tolong tunggui, Oma sama Ajiz mau ke sawah besok!"


" Hah? ngapain di tungguin. Yang penting di bayar kan beres!" Fina mendengus berkali- kali. Wanita itu benar-benar kesal.


" Ndu, galak amat sih. Cantik tapi galak bener!" bisik Sakti kepada Pandu.


" Diem, entar elu di terkam. Tuh lihat galak kan!" Pandu menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. Menginstruksikan bila Sakti harus diam saja.


Fina merasa dia pria itu sibuk menggunjingkan dirinya " Ngomongin apa kalian?" ucap di Fina dengan rahang mengeras.


" Enggak kok, cuma mau bilang itu resletingnya belum di tutupi!" Sakti yang bar-bar langsung menemukan alibi yang tepat. Ia memang melihat resleting Fina yang ternganga.


Fina menunduk seraya mendelik, " Oma!!!!"


.


.


.


.