
Bab 37. Sikap yang kentara
^^^" Bisa jadi, kecemasan kita yang mendadak kepada seseorang ,merupakan bukti kasih yang nyata, terhadap orang tersebut!"^^^
...☘️☘️☘️...
.
.
.
Serafina
Matanya mengerjap sesaat setelah ia mencium aroma tak menyenangkan dari minyak angin. Rupanya minyak yang di oleskan ke hidung Fina oleh Bu Asmah manjur juga. Fina mencoba Bagun meski kepalanya terasa pusing dan berat.
" Loh Oma, kok aku ..!" ia hendak bangun namun mendadak kepalanya sakit.
" Fin, kamu udah sadar?" tanya Bu Asmah yang berwajah panik. Wanita itu kini bernapas lega lantaran cucunya telah siuman.
" Oma kita dimana ini?" tanya Fina sambil memejamkan matanya lantaran ia merasa pusing saat membuka matanya.
Namun belum sempat Bu Asmah menjawab, Dita datang dengan tergopoh-gopoh. " Oma, Fina! Rupanya kalian, kenapa bisa sampai begini?" Dita baru tiba karena ia baru saja pergi dengan rekannya untuk makan siang di luar.
Ia mengetahui bila Fina dan Bu Asmah berada di sana, lantaran kaget begitu ada petugas kepolisian yang berada di sana.
" Tadi ada korban kecelakaan, berhubung fasilitas kesehatan yang terdekat adalah Puskesmas Karanganyar, maka dari itu kami bawa dua orang wanita korban kecelakaan kemari !" tukas polantas yang mengantar Fina kepada Dita.
" Dita!" jawab Bu Asmah senang melihat sahabat cucunya itu datang.
Mendengar suara Dita, Fina perlahan membuka kembali kedua netranya. Ia ingat saat dirinya berusaha mengendalikan laju mobilnya yang kian mengancam keselamatan orang lain itu.
" Dit elu tahu dari siapa kita disini?" tanya Fina sembari memercingkan matanya , karena kepalanya terasa pusing.
" Elu baring aja dulu lagi Fin! aku tadi di kasih tahu pak polisi itu di depan. Mereka masih ada disana!" Dita berucap seraya menidurkan kembali posisi Fina.
Fina tertegun mendengar jawaban Dita. Ia telah menjadi biang kerok dari kecelakaan tadi. Oh sila!
" Oma mobilnya?" ucap Fina yang kini merasa bersalah. Ia ingat jika karena dirinya yang kesal akibat mengobrol soal Rizal bersama neneknya, berakibat fatal begini jadinya.
" Udah kamu ga usah pikirkan mobil. Yang penting kamu selamat Fin!" Bu Asmah memegang tangan cucunya itu.
" Sebenarnya apa yang terjadi sih Fin?" Dita tak tahan untuk tak bertanya.
Bu Asmah sudah menghubungi Yayuk, ia juga meminta pembantunya itu untuk menghubungi papa dan mama Fina. Ia melakukan hal itu lantaran takut jika terjadi sesuatu, mengingat Fina yang tak sadarkan diri dan hidung Fina mengeluarkan darah.
Lagipula, ini bukanlah hal yang patut untuk di sembunyikan.
.
.
Di TKP kecelakaan.
" Ndu, kita ke Puskesmas sekarang ya!" Aji datang sesaat setelah ia selesai memberikan keterangan di TKP.
Sementara Sukron diminta polisi untuk datang ke kantor guna memberikan keterangan tambahan. Praktis, kini Aji harus mendatangi Fina dan Bu Asmah karena bagaimanapun juga, mereka celaka karena menabrak mobilnya.
Ya, meski jika di tarik benang merah, jelas besar kemungkinan Fina lah yang bersalah dalam kejadian tersebut.
" Ayo, tadi polisi itu bilang salah satu dari mereka kehilangan kesadaran!" tukas Pandu dengan wajah panik lalu pergi tanpa permisi menuju mobil Ajisaka yang sudah terparkir di bahu jalan itu .
Membuat Aji dan Sakti saling menatap melihat reaksi Pandu yang tak seperti biasanya.
" Kenapa tu anak Sak?" tanya Ajisaka.
Sakti mengendikkan bahunya " Tau, gak biasanya cemas begitu. Atau jangan-jangan....!"
" Woy buruan!" ucap Pandu yang sudah berada di ruang kemudinya. Membuat ucapan Sakti menguap percuma ke udara.
Di perjalanan Pandu diam sambil fokus mengemudi, sementara Aji terlihat sibuk dengan ponselnya menghubungi para distributor dan agennya serta menginformasikan keterlambatan pengiriman.
Sakti mengamati wajah Pandu yang tegang dan terlihat cenderung mencemaskan sesuatu.
" Lu panik amat Ndu. Panik buat siapa tuh?" Ucap Sakti, pria itu mana bisa diam. Rugi bila harus menahan diri untuk tak bertanya.
Menyadari jika ia memang tengah cemas, kini Pandu seketika melihat Sakti dari rear vision mirror mobil Aji.
" Emmmm, Bu Asmah kan sudah tua Sak, takutnya dia...!"
" Bu Asmah apa cucunya?" cibir Sakti dengan ucapan menggoda seraya menyebikkan bibirnya.
.
.