Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 73. One night love



Dengan membaca ini, berarti pembaca telah mengerti dan menyetujui bahwa novel bertajuk romansa dewasa ini hanya bertujuan untuk hiburan semata.


Mohon untuk tidak mengaitkan hal ini dengan suatu kejadian , ras, dan juga golongan tertentu.


Karena akan ada banyak sekali adegan yang memerlukan kebijaksanaan dari pembaca, dalam membersamai kisah Squad PYAS ini.


Be a smart reader 😘


...----------------...


Bab 73. One night love


^^^" Rasanya ingin malam ini, menciumu hingga lemas...!"^^^


^^^( Diambil dari lirik lagu Ada band ~Dosa terindah)^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Dua sejoli yang belum berstatus apapun selain saling kenal itu , akhirnya saling menatap. Adalah Fina, ia yang sedari tadi terlihat paling gugup.


Jantungnya berdegup tak karuan.


Malam yang dingin, gelenyar aneh yang kian mengusik. Jelas perpaduan yang tepat bagi dua anak manusia biasa itu untuk menyelami pikiran masing-masing.


Pikiran yang abu-abu.


Pandu terhanyut oleh suasana. Ia larut dan keramahan juga sikap Fina yang kini lebih terbuka kepadanya.


Benar-benar godaan. Oh Gosh!


Fina diam saat tangan kekar Pandu mulai meraba pipinya. Ia kini mensugesti Fina untuk duduk di sebelahnya. Kini, mereka berdua sudah saling berhadapan. Menatap sendu satu sama lain.


" Fin!" Bisik Pandu mendekatkan wajahnya ke wajah Fina. Membuat jantung kurang ajar itu makin dag dig dug saja. Sialan!


" Emm?" Jawab Fina dari posisi yang tak berjarak. Hembusan harum nafas Pandu kian mengusik pikiran Fina.


Oh Gosh! ( Ya ampun!)


Pandu sepertinya memang sudah menyukai Fina meski tak terucap. Reaksi, jawaban, sikap dan semua perbuatan Fina terhadapnya membuat Pandu jatuh cinta kepada wanita itu.


Lebih tepatnya they fell in love with each other.


Namun persolaanya sudah jelas. Julangan kasta yang terpaut bahkan nyaris tak tergapai. Terlebih mereka kini memiliki persoalan masing-masing.


Apalagi Pandu tidak tahu, jika papa Fina berencana akan mendekatkan Fina dengan Rizal.


" Apa tidak ada seseorang yang marah jika aku bersamamu seperti ini?" Ucap Pandu dengan suara lirih.


Fina kini mengeryit. Ia pikir Pandu akan menciumnya, tapi malah mengajukan pertanyaan seperti itu. Membuatnya kesal dan kini langsung duduk seraya bersidekap sebal.


Membuat Pandu terkekeh. Ciumannya gak jadi?


" Siapa yang marah? Riko maksdtumu?"


" Jangan bahas dia lagi, sudah aku katakan jika aku sama sekali sudah tidak memiliki hubungan dengan dia Ndu!" Fina benar-benar kesal. Pandu ih!


Pandu masih terlihat santai kala melihat Fina yang marah-marah. Hey, mengapa harus ngambek girls!


" Aku hanya bertanya, kenapa harus marah hm?" Pandu menyenderkan sebelah lengannya ke sandaran sofa itu. Menatap lekat Fina yang cemberut manyun.


" Fin?" Tanya Pandu lagi.


" Apa?" Sahut Fina kesal. Pasti dia di prank lagi. Dasar Pandu!"


Pandu terus terkekeh. Gemesin banget sih kalau lagi ngambek. Fina tak menyahuti, ia masih kesal.


" Maaf!" Ucapnya sejurus kemudian.


Fina menatap heran ke arah Pandu. " Buat?"


" Buat semuanya!"


" Buat kelancanganku sama kamu. Waktu di gubuk kapan hari, terus gak ngubungin kamu!"


Membuat Fina tertegun.


" Jujur Fin. Aku ngerasa aku sama kamu itu jauh. Bagai berpijak di bumi yang berbeda!" Ucap Pandu masih dengan logat jenaka.


" CK!" Fina mendecak. Lagi-lagi Pandu mencibir dirinya.


" Ya, kamu pasti tahu kan maksudku!"


" Walaupun.... sebenarnya kamu emang menarik!" Ucap Pandu menatap Fina jujur.


Apa? Pandu barusan bilang kalau Fina menarik? ceileee.


" Tapi aku sadar, kalau aku hanyalah..."


CUP


Fina mencium bibir Pandu detik itu juga. Menyumpal bibir Pandu sebelum pria itu kembali mencibirnya.


Membuat pria itu membulatkan matanya. Sungguh Fina ini benar-benar!


Ya ampun!


Pandu yang awalnya terkejut kini mulai melibatkan tangannya yang menganggur untuk menyusuri leher Fina. Pandu kini menyambut ciuman Fina dengan lembut.


Mereka berdua saling membelitkan lidah mereka. Kalau sudah begitu, manusia di belahan bumi mana yang bisa menahannya?


Mereka saling menyesap, melu*mat dan bertukar saliva. Persetan dengan semua, Fina jatuh cinta kepada Pandu. Yeah, she's that falling in Love with Pandu.


Fina meraba punggung kekar Pandu. Oh sial, rasa yang semakin menuntut membuat kejantanan Pandu seolah tergugah. Fina yang sangat lihai berciuman tentu membuat Pandu kini benar-benar di uji.


Uji pertahanan hasrat lebih tepatnya.


Sejenak merek saling melepas ciumannya. Saling menatap dengan tatapan menuntut. Sendu dan mengandung kadar kasih sayang. Namun Fina takut, ia sudah tak memiliki apapun yang berharga dalam dirinya. Virginity.


Ia memang bukan manusia suci yang kuat menahan tawaran gelombang kenikmatan sebagai insan biasa yang sarat akan hal biologis macam itu.


Sejenak Fina insecure bila Pandu memandangnya sebelah mata. Tapi, terlepas dari hal itu. Mereka hanya dua manusia dewasa yang sebenarnya saling membutuhkan.


Is it okay if the time is now?


Pandu hendak menempelkan bibirnya kembali.


" Tunggu!" Ucap Fina yang membuat kegiatan mereka terinterupsi. Membuat Pandu mengerutkan keningnya.


TIT


Fina menekan tombol close pada remote, untuk menutup pintu serta gorden otomatis ruangannya itu. Membuat Pandu kini menarik seulas senyuman di sudut bibirnya.


Ia pikir ia akan pusing dan konyol di waktu bersamaan. But, Fina rupanya memiliki pemikiran yang sama. Oh yeah!


Jelas akan menjadi malam yang melelahkan bagi keduanya. Peleburan hasrat atas nama cinta buta.


Dengan posisi masih diatas sofa dan dengan gairah yang kian membuncah, Pandu kembali menyesap bibir Fina dengan penuh selera. Nikmat dan penuh rasa kasih.


Pandu melepas kaosnya karena merasa panas. AC yang berada disana seolah tiada berguna. Sama sekali tak berkontribusi untuk mendinginkan suhu dari tubuh dua anak manusia itu.


Fina menatap enam cetakan otot perut Pandu dengan hati berdesir. Sungguh, malam itu meraka dibutakan dengan hasrat dan gulungan gelora yang susah untuk sekedar mereka tepikan bersama.


Menggiring mereka menuju kenikmatan tertinggi duniawi.


Cinta, kehidupan dan se ks. Tiga unsur yang saling berkolerasi selama insan mendiami bumi ini. Tak bisa dengan mudah di tepikan, dalam perjalanan hidup makhluk non suci macam Fina dan Pandu.


Hanyalah manusia biasa yang jelas tak akan tahan dengan suguhan kenikmatan macam itu. Never ever!


" Apa kau tidak menyesal jika kita terlalu dalam?" Bisik Pandu seraya menciumi leher Fina yang harum. Membuat gelenyar aneh makin terasa menuntut saja.


Meski insecure, Fina pasrah. Yang jelas, saat itu ia tak bisa mengehentikan gulungan gelora panas yang kian menuntut itu.


" Mungkin kau yang akan menyesal!" Bisik Fina seraya meraba punggung kekar Pandu yang nampak liar malam itu.


Pandu melepas kancing baju Fina dengan tak sabar, sesuatu yang dibawah sana bahkan sudah berdiri tegak. Menuntut untuk segera menyelam ke liang yang telah membangunkannya.


Meminta pertanggungjawaban.


Pandu menatap nanar dua gundukan yang terbungkus benda mirip kacamata itu dengan menelan ludah. Begitu indah dan menggoda.


Fina benar-benar sexy!


Pandu menyambar bibir Fina dengan gairah yang semakin liar. Oh astaga, sungguh nikmat mana yang harus mereka dustakan jika menyangkut urusan duniawi macam itu.


Benar-benar gila.


Pandu membuang penyangga dada milik Fina. Kini, dengan rakus Pandu menyesap puncak dada Fina. Membuat wanita itu menggelinjang karena merasa dirinya bak di aliri arus listrik tegangan tinggi.


Nikmat tiada terkira.


" Ah.. Pandu?" Fina menge rang. Wanita itu benar-benar tak mengira jika Pandu lihai dalam bercinta.


Logika dan kewarasan telah memudar. Berganti dengan dorongan hasrat yang kian menggila. Ingin segera dilepaskan dan ingin segera mereka gapai secara bersamaan.


Saling memerlukan, saling membutuhkan. Terlepas itu benar atau salah, mereka sebenarnya merupakan seorang manusia yang juga memiliki kekurangan.


" Ah!!!" Ucap Fina sesaat setelah ia merasa benda keras dan besar telah sesak terjejalkan di bagian bawah miliknya.


Di malam yang semakin berjalan larut, mereka menyatukan tubuh mereka.


.


.


.