Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 92. Ready to action



Bab 92. Ready to action


^^^" Kesulitan mengajarkan kita untuk kuat dan bertahan!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Bayu


Ia bersama Abimana berlari sekencang mungkin kala mengetahui Pandu yang mengejar Radit seorang diri. Khawatir terjadi sesuatu terhadap anggota baru Kijang Kencana itu.


Jelas itu tak boleh terjadi.


" Sebelah sini bos, saya yakin jika Radit pasti mau kabur!" Abimana menjadi navigator bagi Bayu. Mereka mampu berlari sekencang mungkin demi mencari Pandu dan Radit.


Terlihat sama jantannya. Wow!


Dan benar saja, dari arah berlawanan mereka nyaris tertabrak oleh Radit yang tersenyum mengejek sembari berada di depan kemudi. Melesatkan kendaraannya dengan kecepatan maksimal. Bangsat!


" Minggir pecundang!" Ejek Radit seraya menekan klakson beberapa kali. Radit tersenyum penuh kelicikan.


" Sial!" Umpat Abimanyu dengan napas memburu sembari menata mobil Radit yang melesat cepat.


" All unit, Target lolos!" Ucap Bayu menekan earpiece yang bertengger di telinganya. Beberapa detik kemudian, ia melihat Pandu yang membawa mobil sport milik salah satu anak buah Raditya.


" Itu Pandu Pak!" Sahut Abimana sedikit terperanjat. Entah dari mana Pandu bisa mendapatkan kendaraan itu. Daebak! ( luar biasa)


CIT!!!


Pandu menginjak pedal rem nya dengan kasar kala melihat Bayu dan Abimana yang berdiri dengan dahi berlumuran keringat. Membuat cetakan ban mobil itu kini terpahat diatas paving itu.


Habis ngapain saja mereka?


" Pandu!" Bayu seketika cemas kala melihat Pandu yang sesekali meringis kala ia membuka pintu mobil itu. Jelas ia masih merasakan sakit di area hidungnya.


" Aku tidak apa-apa!" Ucap Pandu meyakinkan. Meski rasanya makin berdenyut-denyut.


" Berikan ruang kemudi itu pada Abimana. Dia ahli dalam hal ini, kita kejar Radit secepatnya!"


Dengan sigap Pandu mengangguk setuju, sejurus kemudian Abimana berjalan cepat dan masuk ke ruang kemudi itu. Kini baik Bayu maupun Pandu turut masuk. Bayu berada di kursi penumpang belakang, sementara Pandu berada di lajur kiri sebelah Abimana.


Ready to action, ready to revenge!


.


.


BUG


BUG


Dua pukulan terakhir yang di sertai napas yang kembang kempis itu kini di rampungkan oleh Andhika. Sudut bibirnya sedikit terluka akibat perkelahian yang ia lakukan.


Membuat anak buah Radit kini terkapar tak berdaya dengan wajah babak belur. Mampus.


" Are you ok?" Satya menepuk pundak rekannya. Mereka sama-sama telah memungkasi para kutu sialan itu.


Andhika mengangguk dengan sisa napas yang masih memburu " Markus, telpon polisi dan tunggu mereka datang. Yusuf! Kamu geledah dan sisir tempat disini!"


" Yang lainnya ikut saya turun ke bawah!" Titah Andhika dengan wajah serius.


" Di copy pak!" Sahut Markus dan Yusuf secara bersamaan. Benar-benar Badas!


" Alpha satu monitor!"


" Alpha satu monitor!"


Suara Ben terlihat memanggil dari HT yang ada di balik punggung Andhika. Dengan cepat pria berkumis tipis itu meraih alat komunikasi itu.


" Gohet gohet ( Go Ahead / lanjut)!" Jawab Andhika sembari menekan tombol indikator jawab.


" Pak Bayu bersama Charlie satu tengah mengejar target!" Sahut Ben dari ujung HT. Membuat kesemuanya yang disana kini saling menatap. Oh sh*it!


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Ajisaka kini tengah berada di salah satu tempat. Berbekal dari aplikasi penunjuk jalan, Ajisaka kini telah berada di kota X dengan selamat.


Meski masih banyak PR yang akan ia rampungkan beberapa jam kedepan. Soal Pandu jelasnya.


...Terminal Rajegwesi...


Partisi besar bertuliskan nama sebuah terminal di kawasan Argopuro itu menjadi penanda bila Ajisaka semakin dekat tujuannya. Merek jelas susah berada di kota X.


" Kita sudah sampai nak?" Bu Ambar terbangun dari tidurnya. Beratnya dengan suara parau sembari membetulkan ikat rambutnya.


Membuat Sakti juga turut mengerjapkan matanya saat merasa mobil yang dilajukan Ajisaka telah berhenti bergerak.


" Kita makan dulu ya Bu. Itu ada tempat makan yang buka, Aji laper banget!" Ucap Ajisaka menatap rear vission mirror yang memantulkan wajah Bu Ambar.


Ajisaka memang tak bohong soal rasa laparnya. Lambungnya perih dan minta diisi sesuatu. Ia terpaksa memarkirkan mobilnya di depan sebuah tempat makan yang buka 24 jam.


Jelas 24 jam, lawong lokasinya berada di areal terminal.


" Udah sampai Ji?" Sakti nampak linglung sewaktu bangun. Pria dengan kadar keceriwisan tinggi itu, kini meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


" Enak ya njing, molor. Bangun-bangun congormu ( mulutmu) bakal kemasukan nasi dan kawan-kawannya!" Dengus Yudha sembari melepas seatbeltnya.


Selalu saja geger berdua dengan Sakti.


Sakti terkekeh " Nanti gantian aku deh yang bawa mobilnya!" Sahutnya seraya tergelak.


" Ogah, aku belum kawin. Gak mau mati dulu. Ya kali..elu!" Yudha mencibir seraya bergidik ngeri. Membayangkan jika mobil itu sampai di kendarai oleh Sakti. Modyar cak!


Terang saja Yudha tidak mau, lawong Sakti belum terlalu mahir mengemudikan mobil. Amati lebih tepatnya.


Membuat Bu Ambar tergelak. Ada saja hal lucu jika bersama Sakti.


" Ya sudah kita bisa istirahat dulu, Ibu juga mau ke kamar kecil!" Ucap Bu Ambar dengan suara yang selalu menentramkan.


" Mari Bu saya kawal. Ibu harus tetap aman!"Sakti menggamit lengan Bu Ambar dengan manja. Membuat wanita itu kini makin terkekeh. Sakti memang bar-bar.


" Awas sampai Bu Ambar nyasar Sak!" Teriak Yudha.


" Aman!" Sahut Sakti dengan tangannya yang membentuk tanda OK πŸ‘Œ.


" Aku parkiran dulu kesana Yud!" Tukas Ajisaka.


" Yok!" Sahut Yudha tanpa menoleh.


Ajisaka kini terlihat membetulkan posisi parkir yang lebih strategis usai ketiga penumpangnya turun. Yudha terlihat sibuk dengan ponselnya.


Saat mobil itu sudah terparkir dengan startegis, dan membuatnya yakin untuk turun, Ajisaka tak melihat jika ada pejalan kaki yang melintas di samping mobilnya. Terlalu fokus dengan rasa lapar yang kian menyiksa.


BRUK!


Yudha yang melihat ada suara mengaduh, kini terlihat memandang ke arah mobil Ajisaka. Mungkin hanya kesalahpahaman kecil. Yudha kembali menyibukkan dirinya menghubungi nomor Pandu.


" Astaga! Maaf Maaf!" Ajisaka bahkan harus keluar lewat pintu sebelahnya lagi, demi menghindari kesalahan untuk kedua kalinya. Ia terlihat sangat merasa bersalah.


Dua netra Ajisaka membulat kala melihat seroang wanita yang terjatuh sembari memeluk bocah laki-laki berusia lima tahun yang terkantuk-kantuk.


Astaga!


" Anda tidak apa-apa mbak?"


.


.


Widaninggar


Nyaris satu jam ia terus berjalan kaki sembari menggandeng Damar yang sebenarnya sudah sangat ngantuk. Tentu saja, jam yang menunjukkan pukul satu dini hari lewat jelas bukan jam untuk manusia berjalan-jalan. Itu adalah jam untuk beristirahat.


Ya ampun.


Namun, ia masih bisa bersyukur, meski kakinya terasa pegal, namun ia kini melihat kendaraan yang berseliweran dengan jumlah banyak. Menandakan jika ia kini sudah sampai di tempat ramai.


Terminal Rajegwesi, itulah tulisan yang membuatnya meras lega. Ia telah berada di terminal yang seolah menjadi impiannya.


Namun, perutnya terasa lapar, tenggorokannya juga kering dan haus.


" Kita makan disana dulu ya nak?'' Widaninggar menunjukkan sebuah warung makan dengan lampu ber-watt tinggi yang memancarkan cahaya terang benderang kepada Damar.


" Boleh makan sama Ayam Buk?" Ucap Damar mencoba bernegosiasi dengan ibunya.


Widaninggar tersenyum sembari mengangguk, uang yang diberikan Fina tadi jelas lebih dari cukup untuk membayar sepiring Ayam goreng lezat yang hangat.


" Boleh, makan sepuasnya ya!"


Dan benar saja. Senyum tulus kini merekah di wajah Damar, ludah beningnya terproduksi dengan cepat kala beberapa paha ayam telah tersaji di depan meja mereka. Emmm yummy!


Teh hangat sengaja dipilih lantaran cuaca sangat dingin malam itu. Apalagi, semua yang mereka alami jelas membuat mereka berdua letih dan lesu.


" Monggo Bu!" Ucap pelayan rumah makan itu dengan ramah, sembari mengangsurkan dua gelas teh hangat ke meja bersih itu.


" Matur nuwun ( terimakasih) mbak!" Jawab Widaninggar mengangguk sopan.


Terlihat rakus dan kelaparan. Damar bahkan bersendawa dua kali usai meneguk teh hangat itu. benar-benar membuat Widaninggar terharu sekaligus tertawa. Selama ini, putranya tak pernah mendapatkan kelayakan saat bersama suaminya.


Kini, hidupnya hanya tentang dirinya dan Damar saja.


Damar mengaku sangat mengantuk usai menyantap nasi hangat dan ayam goreng gurih nan lezat itu. Bocah itu berkali-kali menguap saat Widaninggar menyelesaikan sisa makanannya.


" Ngantuk Buk!" Ucap Damar bak kehilangan semangat juang.


" Ibuk bayar dulu ya, habis ini ibuk gendong!" Sahut Widaninggar sembari meletakkan gelas kosong.


Damar mengangguk dengan wajah sayu. Bocah itu benar-benar tak kuasa menahan serangan kantuk.


" Pagi-pagi mau kemana mbak. Busnya berangkat subuh. Belum ada yang jam segini!" Tukas pemilik rumah makan itu memandanginya dengan wajah kasihan.


" Kalau begitu saya numpang sebentar ya Bu!" Ucap Wida ramah.


Selepas mengantongi kembalian, Wida kini menuju tempat anaknya yang sudah meletakkan kepalanya keatas meja. Benar-benar sudah tidak tahan lagi.


Kasihan sekali Damar.


Ia mengusap lembut punggung kurus putranya. Merasa tak enak lantaran menjadi pusat perhatian pengunjung lain yang terserang lapar di jam itu, Wida memutuskan untuk keluar.


" Matur nuwun Bu!" Ucap Widaninggar saat pamit keluar kepada pemilik tempat makan itu.


Sambil masih menggendong Damar, wanita itu celingak-celinguk mencari tempat yang bisa ia gunakan untuk menunggu sementara. Ia akan menuju desa pagi itu juga. Bus, merupakan transportasi yang cukup tak rumit pikirnya. Untung saja, ia membawa uang yang cukup dini hari itu.


Namun naas, ia yang tak fokus juga lantaran kerepotan dengan bobot tubuh Damar, mendadak terjatuh karena pintu mobil yang tiba-tiba terbuka saat ia tepat melintas di depannya. Ya ampun!


BRUK


" Aduh!" Ia mengaduh dan merintih kesakitan kala ia terjerembab ke tanah bersama Damar yang sedikit kaget dan kini menjadi bingung.


Astaga! Maaf Maaf!" Ia bisa mendengar suara pria dari balik pintu mobil itu. Terdengar cemas dan panik.


" Ibuk!" Damar merengek lantaran kaget dan pusing ,karena terbangun dengan cara seperti itu.


" Anda tidak apa-apa mbak?" Belum ia sempat menjawab Damar, hembusan napas hangat pria kini menerpa telinganya. Pria itu berusaha membantunya untuk berdiri. Membuatnya merinding.


" Gak apa-apa gundulmu! Orang jatuh begini!" Umpatnya dalam hati.


Wida menoleh dan menatap wajah Ajisaka dengan terperanjat. Pria itu kini menatapnya dengan tatapan nanar. Apaan sih!


Merasa risih karena di tatap oleh pria asing. Tatap yang seperti meminta penjelasan. Kenapa dengan wajahmu?


" Saya tidak apa-apa!" Sahut Widaninggar cepat. Tak mau membuang waktunya untuk orang asing.


" Ibuk...!" Rengek Damar kembali. Membuat Widaninggar kini segera meraih tubuh bocah itu lalu menggendongnya. Huft!


Ia meninggalkan Ajisaka yang masih tertegun. Wida takut jika ia nanti tak bisa pulang ke desa jika bertemu orang lain. Insecure dengan sendirinya.


.


.


Ajisaka


Ajisaka membalikkan tubuhnya. Wanita aneh pikirnya. Sebenarnya ia sangat terperanjat kala melihat memar serta luka lebam di wajah wanita yang sepertinya usianya tak jauh darinya.


" Kenapa dia?"


Tapi, mengapa ia menangkap kilatan rasa takut di wajah wanita itu. Padahal, jelas Ajisaka yang bersalah dalam hal ini.


Ya, whatever lah. Toh wanita itu tak menuntut apapun. Bukankah itu baik?


Tapi, ia benar-benar penasaran dengan wanita itu. Wanita yang keluyuran hanya dengan anaknya. Dan dengan kondisi yang benar-benar menggugah rasa ingin tahunya.


" Eh apa ini?" Tak senagaja Ajisaka menginjak sesuatu. Ia mengambil benda yang menarik perhatiannya itu.


" Giwang?''


" Ada apa sih?" Yudha kini bertanya kepada Ajisaka lantaran tak kunjung kembali. Membuat Ajisaka segera menyembunyikan benda kecil itu ke belakang.


" Gak ada. Yuk masuk!" Ajisaka dengan cepat mengantongi giwang emas itu. Giwang yang disinyalir milik wanita yang tak sengaja terjatuh karenanya tadi.


" Ada apa sebenarnya dengan wanita itu?"


.


.


.


.


.