
Bab 102. Kehancuran Musuh
^^^" Jika semua tak sama, aku dan kamu jelas berbeda!"^^^
.
.
.
...πππ...
Serafina
Ia terus mengikuti langkah panjang Pandu yang semakin tak terkejar. Dihatinya masih terselip beberapa pertanyaan. Terutama soal Om Hartadi dan Pandu. Oh ya ampun. Hidup ini benar-benar panggung sandiwara.
Ia menuruni anak tangga menuju lantai dasar rumah Riko dengan langkah cepat. Ia bahkan tak memikirkan bagaimana kondisi papanya saat ini. Kemarahan Pandu jelas menyedot semua perhatiannya.
Ia membulatkan matanya kala melihat beberapa orang yang masih baku hantam di rumah tengah rumah Riko. Pecahan benda-benda mahal terlihat menjadi penghias disana. Rumah keluarga Hartadi porak poranda akibat aksi saling serang itu.
Tak mau kehilangan Pandu, ia berlari mengikuti langkah pria yang mengusik hatinya itu. Mana cepat banget lagi jalannya!
" Pandu... dengerin aku dulu!"
" Ndu!"
" CK, cepet banget sih jalannya!" Fina mendecak sekaligus menggerutu. Kaki jenjang Pandu benar-benar memudahkan pria itu untuk melesat.
Sementara dirinya? Oh astaga. Seketika ia bahkan merasa menjadi Gerry, siput peliharaan sponge kuning yang berada di lautan bikini bottom.
Tanpa mereka duga dan tanpa mereka sangka, Rizal bersama Kemal berjalan menuju rumah itu. Terlambat banget kayak inspektur Vijay!
" Fina...kamu!" Rizal yang berwajah cemas langsung memegangi tangan Fina tanpa mempedulikan Pandu. Bahkan saat berpapasan.
Pandu juga terlihat tak peduli, pria itu terlihat terus berjalan menuju sebuah mobil. Rizal tidak tahu saja, jika Pandu merupakan anak orang berada sebenarnya. Kita lihat saja setelah ini, apa sikapnya masih bisa mencemooh kala mengetahui jika Pandu memiliki hak atas harta yang dimiliki oleh pria konglomerat itu. Dasar!
" Lepas!" Fina menarik paksa tangannya. Dan kini ia memilih mengejar Pandu yang sudah akan membuka pintu mobil itu. Membiarkan Rizal dengan keadaan bingung.
Kini, Rizal dan Kemal saling menatap dan tak tahu harus apa. Jelas sesuatu terlah terjadi.
.
.
Pandu
Rasa runyam di hatinya tak terdefinisikan. Sesak, sedih, marah , kesal, bingung. Semua bertangkup menjadi satu. Ia menuju mobil milik ekspedisi yang tadi ia gunakan untuk menuju ke rumah Hartadi itu.
Ia juga sama sekali tak memperdulikan tatapan sinis dari Rizal dan Om Kemal. Persetan dengan hal itu.
BRAK
Ia terlonjak saat Fina dengan cepat masuk lalu duduk di kursi penumpang yang berada di sampingnya. Membuatnya terperanjat.
Ia bahkan melupakan Fina. Oh sial!
" Ndu! Kamu mau kemana sih?" Fina terus mencecar pertanyaan kepadanya, namun ia benar-benar tak memiliki hasrat untuk menjawab. Pandu benar-benar tengah dikuasai amarah.
" Pakai sabuk pengamanmu!" Ucapnya dengan alis yang masih berkerut juga wajah yang memerah.
" Apa?"
Merasa Pandu benar-benar sedang tidak mood, membuat Fina takut. Ia segera memasang sabuk pengaman. Tanpa di duga, mobil itu seketika melesat secara kasar. Oh my God!
Pandu benar-benar dikuasai oleh emosi.
Di persimpangan jalan di depan jalan besar, mereka berpapasan dengan beberapa mobil polisi juga sebuah mobil berlogo KJ yang tengah di kendarai Rendy. Namun Pandu masih bergeming, sama sekali ogah-ogahan untuk mau tahu akan hal itu.
Fina diam, ia melirik Pandu menggunakan ekor matanya. Pria itu mengemudi dengan wajah kesal. Tapi, masih ganteng sih. Ah Fina, bisa-bisanya otaknya itu loh!
Huft! Astaga!
.
.
" Kita mau kemana Ndu?" Fina tak bisa lebih lama lagi menahan dirinya untuk tidak bertanya.
" Pandu!" Ucapnya kesal.
CIT!!!!
Ban mobil yang di kendarai oleh Pandu itu pasti sudah meninggalkan stempel kasar di aspal jalanan sepi itu.
Pandu memberhentikan mobilnya di bahu jalan dekat sebuah ruang terbuka hijau. Sejenak pria itu terlihat menarik napasnya dalam-dalam. Ia mendudukkan wajahnya ke atas setir bundarnya.
Ia menangis disana. Merasa hancur demi mengetahui sebuah kenyataan yang seperti itu. Kenyataan jika bapak biologisnya masih ada.
Tubuhnya bergetar hebat, pria itu menangis tanpa suara. Fina kini menatap iba Pandu yang benar-benar terlihat berada di titik terendah dalam hidupnya.
" Ndu, aku tahu kamu sedih, kamu kecewa!" Ia mengusap punggung terbuka milik Pandu yang masih berguncang itu dengan usapan lembut.
" Tapi seperti yang pernah kamu bilang ke aku, bahwa semua manusia pasti berperang melawan ujiannya masing-masing!"
Suasana senyap beberapa detik. Pandu terlihat menghela napas sembari menatap ke arah jalanan itu dengan tatapan hampa.
" Aku gak nyangka Fin..Ibuk tega nyembunyiin hal sebesar ini dari aku!" Suara khas yang menyiratkan kesedihan itu, kini terlontar dari bibir Pandu.
Fina menatap Pandu yang terlihat sangat hancur. Pria itu benar-benar menangis.
Fina melepas sabuk pengamannya. Sejurus kemudian ia menangkup wajah Pandu yang terlihat kacau.
" Bu Ambar pasti punya alasan!" Ia menatap wajah Pandu yang terlihat muram dengan seksama.
"Ibu kamu orang baik, gak mungkin dia melakukan semua ini tanpa sebab!" Fina mengusap lembut pipi Pandu penuh rasa cinta yang tulus.
Mata mereka saling bertemu. Untuk pertama kalinya, Fina turut merasa hancur saat melihat pria yang ia cintai itu bersedih.
" Tapi kenapa harus Hartadi Fin, kenapa?" Pandu seolah tidak terima akan hal itu.
" Dia yang udah nusuk adik gue Fin. Ayu mati kareanaa diaaaa!!" Pandu berteriak histeris.
Dengan gerakan cepat, Fina langsung mencium bibir Pandu. Membuat Pandu seketika terdiam dan gak lagi terbawa emosi. Sungguh, Fina turut merasakan sakit di hatinya.
Ia ingin memberikan ketenangan. Ia ingin mengatakan bahwa ia mau menemani Pandu meski berada dalam keadaan susah, ia ingin memberitahu kepada Pandu jika ia adalah wanita yang mencintai Pandu dengan segala kondisinya yang ada.
Fina melepaskan ciumannya secara perlahan. Kini, mata mereka saling menatap. " Kamu tahu alasan Bu Ambar menyembunyikan kamu dari kejaran mamanya Riko? Fina menatap sendu ke arah Pandu.
" Karena Tuhan ingin kamu menjagaku!" Fina berucap dengan suara bergetar dan air matanya yang sudah tak terbendung lagi.
" Kita hadapi sama-sama ya!"
Pandu mengangguk lalu mencium tangan Fina yang awalnya menempel di pipinya. Ia merasa beruntung karena di pertemukan dengan Fina. Gadis nakal yang membuat Pandu merasa berbeda.
Sejurus kemudian Fina memeluk tubuh tegap nan kekar itu. Tangan mungil Fina mengusap perlahan punggung Pandu. Mencoba memberikan ketenangan.
" Udah ya!"
" Apapun yang terjadi, aku janji akan selalu ada buat kamu!" Ucap Fina seraya memejamkan matanya. Menghirup aroma tubuh Pandu yang membuatnya candu.
Pandu membalas pelukan Fina dengan erat. Ia memang butuh bahu seseorang untuk bersandar saat ini. Thanks Fin!
Andai Fina berada di posisi Pandu, apakah ia juga sanggup?
...πππ...
" Wati...maafk...!"
" Jangan mendekat!" Ambarwati terlihat menaikkan tangannya. Membuat langkah Hartadi tercekat. Ia sudah muak dengan apa yang terjadi selama ini.
" Jangan pernah temui kami lagi. Sudah cukup!" Dengan air mata yang masih meluncur tanpa ijin, Ambarwati berucap dengan suara penuh penekanan.
" Wati.. kita harus bicara!" Hartadi bahkan sudah terlihat sangat kacau. Sama sekali tak memperdulikan Rengganis maupun Riko disana. Ia hanya ingin meminta kesempatan kepada wanita yang masih bersemayam di hatinya itu, untuk berbicara baik-baik.
" Jangan sentuh aku!" Ambarwati meninggikan intonasi suaranya kala tangan Hartadi hendak memegangnya. Tak mau lagi mendengar apapun dari bibir pria itu. Sudah cukup.
" Tidak, kita harus bica...!"
" Singkirkan tanganmu!" Kini Bayu yang maju. Ia tak bisa berdiam diri saat melihat Hartadi yang sedikit memaksa.
Dua pria dewasa itu kini saling menatap dengan tatapan sengit.
Rengganis langsung meletakkan kepala anaknya ke lantai untuk sementara saat melihat pertengkaran yang terjadi itu.
Wanita itu bangun dan langsung menuju tempat dimana Ambarwati berdiri. Emosinya benar-benar sudah tak bisa lagi ia tahan.
" Wanita penggoda, kurang aja....!" Rengganis hendak menyerang Ambarwati dengan membabi-buta.
" Hey! Hentikan!" Bayu dengan suara tingginya membentak Rengganis yang sudah akan mencakar wajah Ibu Pandu. Berdiri tepat di depan tubuh lemah Ibu dari Pandu itu.
Ya, Bayu kini pasang Badan untuk Ibu dari anak buahnya " Anda ini orang terhormat, jaga sikap anda!" Bayu benar-benar dibuat geram dengan sikap impulsif Rengganis.
" Gak usah ikut campur kamu!" Sergah Rengganis.
" Oh jelas saya harus ikut campur, ini menyangkut keselamatan Ibu dari anak buah saya!" Bayu menatap tajam wajah Rengganis. Membuat wanita itu kesal setengah mati.
" Sudah Pak ayo kita pergi. Tidak ada gunanya kita mendebat manusia jahat seperti mereka!" Ambarwati menarik lengan Bayu, membuat Hartadi di serang api kecemburuan.
Saat masih saling beradu mulut, tanpa mereka duga wartawan dan polisi datang ke kediaman Hartadi. Jilatan lampu kamera itu membuat Rengganis sangat terkejut. Oh tidak!
Tamat sudah riwayatmu Rengganis!
.
.
Rendy
Ia mengkoordinir semua tindakan yang di titahkan oleh Bayu bersama Wira, seorang polisi yang kini tengah bersama para anggotanya bekerja keras lantaran mendapatkan informasi tentang perdagangan manusia.
Selain itu, penyelundupan barang terlarang dengan modus pengiriman ekspedisi melaku kantor The Archipelago express juga menjadi delik perkara yang harus mereka bedah satu persatu.
" Bagiamana Dhik?" Wira bertanya kepada leader team Alpha yang terlihat mengatur napasnya usai terlibat aksi baku hantam dengan anak buah Riko.
" Satu orang anak buah ku tertembak, yang lainnya safe!" Ucap Dhika dengan napas kembang kempis.
" Good!" Wira menepuk lengan atas Andhika lalu pergi menuju anggota yang lain.
Para anak buah Wira kini sibuk mengumpulkan barang bukti, juga mengurus Raditya yang tak sadarkan diri bersama Basuni. Sisanya, mereka kini sibuk memborgol tangan anak buah Raditya.
" Ji, itu polisi kan. Katanya, keluarga ini kebal hukum!" Yudha berbisik kepada Ajisaka, usia menuntaskan satu orang dengan menendang bagian kepala pria itu. Modyar dia!
" Dia masih saudara Pak Bayu, baru pindah dari kota lain. Aman kalau sama dia!" Satya menjawab sembari memasukkan senjatanya ke tempat yang seharusnya. Pria itu rupanya mendengar bisik-bisik tetangga yang dilakukan oleh Yudha. Ahay!
Ya, Wira merupakan kepala kesatuan Reskrim yang baru saja dipindahkan ke kota X. Rupanya, pimpinan mereka yang lama telah tertangkap saat menerima suap dari keluarga Hartadi.
" Apa?" Tanya Ben yang kini juga penasaran.
" Semua ini berkat Rendy. Dia selalu mengirimkan info terkait kecurigaan kita kepada Raditya yang menjadi antek bagi keluarga Hartadi!" Yusuf menimpali.
" Kirim ke siapa?" Aksa yang juga sibuk membereskan senjatanya turut penasaran.
" Ke Mas Wira lah " Tukas Harimurti yang rupanya mendengar obrolan mereka.
" Baa...lalu bagaimana dia punya usaha yang kemaren kita lihat banyak wanita disana?" Ucok juga masih ingin tahu.
" Semua wanita yang di sekap sudah kami amankan, kami berterimakasih kepada kalian semua. Kerja keras kalian, dan koordinasi yang terjalin sangat baik!" Wira mendatangi segerombolan pria yang sibuk berbicara.
Membuat kesemua yang disana tersenyum senang. Badai perlahan berlalu. Good job guys!
" Ngomong- ngomong dimana Sakti?" Yudha menoleh kesana kemari mencari sahabatnya itu. Selalu saja hilang tanpa pamit.
Sementara itu di sebuah ruangan lain.
" AAA!!! kasih dia terus sampai pingsan kakak?" Markus menjadi pemandu sorak untuk Sakti yang kini mencekoki satu orang pria muda itu, menggunakan kaos kakinya yang entah kapan terakhir di cuci.
Benar-benar kurang ajar!
Membuat salah satu anak buah Riko itu ngap dan mual secara bersamaan. Ia tengah berada dalam ambang ketidakuatannya. Ampun Cak Sakti!!
" Ayo berani kamu sekarang ha?" Sakti dan Markus segera membawa pria itu lantaran tak juga pingsan saat sudah dikelitiki selama hampir 15 menit. Edan!
" Raskano Iki ( rasakan ini)!" Tukas sakti yang terus membekap wajah pria bertato di lengan itu, menggunakan kaos kakinya yang beraroma meracuni itu. Menjejalkanya tanpa ampun.
Pria itu kini huek huek dan berwajah pucat. Meminta ampun kepada dua pria gila yang hendak membunuhnya secara perlahan itu.
Markus dan Sakti benar-benar luar biasa. Definisi dari penyiksaan yang nyata dalam arti sebenarnya.
.
.
.
.
.