
Bab 113. Seperti pernah melihat
^^^" Ujian hanya untuk orang-orang yang akan naik kelas saja. Jadi, tak usah cemas akan hal apapun. Karena saat kita berada di bawah, niscaya sebentar lagi kita pasti akan berada di atas. Roda kehidupan itu pasti!"^^^
...πππ...
.
.
.
Kota X
***
Hartadi Wijaya
Hari telah berganti dengan pasti. Bersamaan dengan sebuah kenyataan pahit yang harus ia hadapi dan juga ia jalani. Sebuah petaka akibat perbuatannya sendiri.
Ia meminta waktu untuk menemui Riko kepada petugas. Ia mendapat persetujuan namun dengan catatan tetap dikawal oleh anggota. It's Ok.
" Puas kamu udah bikin hidup kita sekarang seperti ini mas?" Rengganis murka. Hancur sudah semua yang ia bangun dengan susah payah.
Pencitraan, penipuan publik. Luluh lantak tak bersisa. Rengganis frustasi.
" Diam kamu!" Hartadi berang demi mengingat perbuatan Rengganis yang rupanya merupakan dalang dari menghilangkannya Ambarwati bertahun-tahun yang lalu.
Riko hanya diam dengan rahang yang terlihat mengeras kala mendengar orang tuanya bertengkar. Tapi mau menerima kenyataan jika pria yang ia benci rupanya merupakan saudara sedarah. Oh sh*it!!
" Kenapa kalian menyembunyikan semua ini?" Riko bertanya dengan tatapan lurus dan kosong. Membuat kedua orangtua yang berada di sampingnya kini menatap muram Riko yang masih berselanjar di atas ranjang rumah sakit itu.
" Riko!" Rengganis menyebut nama putranya dengan wajah muram sambil berjalan menuju ranjang anaknya.
" K E N A P A!!!!" Riko berteriak kencang. Ia benar-benar frustasi saat ini. Aroma kemarahan jelas menguat di ruangan itu.
Membuat Rengganis menangis pilu. Dadanya benar-benar terasa sesak.
Fina jelas tengah bersama seorang pria yang ia benci, yang mau tidak mau harus ia akui jika pria itu adalah kakaknya. Ia telah kalah telak.
Riko menangis penuh rasa pasrah dan kecewa. " Kenapa kalian tidak memberitahu ku soal ini!" Riko berucap lirih sekali, tak memiliki semangat juang bahkan ia tak tau bagiamana ia akan menghadapi hari esok.
Ia malu dan tentu saja benci dengan dirinya sendiri.
Hartadi merasa dirinya hancur. Jantungnya bak diiris sembilu. Kesalahannya di masa lalu yang tak segera membereskan, kini perlahan menggerogoti dirinya. Membuat kehidupannya hancur.
" Maafkan papa Riko!" Hartadi merasa bersalah kepada Riko karena dia tidak memberitahu jika anaknya itu sebenarnya memiliki saudara lain ibu.
" Harusnya aku bunuh saja anak itu dari dulu. Argggggghhh!" Rengganis terlihat mengacak rambutnya frustasi. Wanita itu kini benar-benar terlihat depresi.
Hartadi benar-benar tengah berada di titik terendah dalam hidupnya.
.
.
Pandu
Ia pagi ini tengah bersama dengan para leader KJ juga bersama Bayu untuk memenuhi panggilan polisi. Keterangan dari Pandu sangat penting untuk bukti di pengadilan nanti. Raditya kini sudah di tahan oleh polisi dan statusnya sudah naik menjadi tersangka.
Pria itu mengaku melakukan hal itu tak sengaja. " Bukan niat saya untuk membunuh Pak. Saya hanya di tugaskan oleh Tuan Hartadi untuk memberikan peringatan kepada keluarga Pandu waktu itu!"
" Saya tidak sengaja menusuk wanita itu!"
Pandu melihat secara saksama video yang memperlihatkan pengakuan Raditya. Ada rasa marah di hatinya. Pria yang meminta Radit untuk memberi pelajaran kepada dirinya, dengan dalih bukti kasihnya yang nyata kepada Riko, tak lain dan tak bukan adalah bapak kandungnya.
Cih, kenyataan macam apa ini?
Namun ia sadar, meskipun ia membunuh pria itu sekarang juga, Ayu tetap tidak akan pernah kembali lagi.
Ia lantas membeberkan duduk perkaranya. Dari cerita yang ia sampaikan, polisi akhirnya meminta Fina untuk turut di hadirkan.
Dengan agenda ganda, Fina akan di hadirkan sebagai saksi kasus penculikan, juga sebagai informan terkait Riko yang waktu itu berseteru dengan pria itu sewaktu dirumah Bu Asmah.
Sepertinya, rentetan birokrasi njelimet ( rumit)itu masih harus ia lakoni dalam waktu yang panjang. Huft!
...πππ...
Kalianyar
***
Ajisaka
Seperti pagi yang sudah-sudah, ia selalu bangun siang dan mencampakkan selimut begitu saja. Tak pernah mengurus rumahnya.
Toh nanti siang ibunya Sukron akan datang untuk membersihkan rumahnya. Begitu pikirnya. Uang selalu bisa saja membuat segala sesuatunya lebih mudah bukan?
Tinggal seorang diri mau gimana lagi?
Ia melenggang menuju dapur , membuka kulkas lalu meraih botol air mineral, menuangkannya kedalam gelas bening dan meminumnya dalam sekali tegukan.
Ah lega!
DRRRRRTTT
Sukron Calling...
Ia lantas menarik kursi kayu dengan plitur mengkilat itu, mendudukkan tubuhnya seraya menggeser tombol hijau ada layar ponselnya.
" Ya Kron?" Alis Ajisaka terlihat bertaut. Selalu serius jika hendak berbicara dengan seseorang.
" Bos saya sudah di lokasi, sampean dimana?"
Astaga, ia langsung memijat keningnya, ia lupa jika pagi ini dia harus mengecek lokasi. Ia malah bangun kesiangan. Perjalanan jauh terang saja membuatnya lelah.
" Kamu tunggu situ dulu, saya sebentar lagi meluncur!"
Haish, sibuk mencari uang banyak setiap hari tapi untuk ia berikan kepada siapa coba? Jangan di tanya, karena ia sendiri juga tak tahu. Dasar Aji.
Empat puluh menit kemudian ia sudah siap, waktu yang ia katakan sebentar lagi kepada Sukron jelas hanya merupakan omong kosong belaka.
Dan satu lagi, pria itu tak pernah absen menyemprotkan parfum maskulin ke tubuhnya.
Aji wangi.
Perjalanannya hanya memakan waktu 20 menit saja dengan mobilnya. Sebuah tanah kapling bekas garapan sawah yang akan dijual oleh seseorang yang sedang butuh uang.
Lebih untungnya, tanah itu tepat bersebelahan dengan lokasi kebun buah naga miliknya yang luas. Ok sip!
Ia melihat Sukron yang terkantuk-kantuk di bawah pohon cengkeh seorang. Jelas itu salahnya.
" Kron!" Sapanya. Membuat pria itu tersentak.
" Bos, udah datang?" Sukron terlihat menyongsong kedatangannya dengan sigap. Tak boleh sedikitpun terlihat loyo, meski ia sendiri sangat merasa kesal karena menunggu bos-nya itu.
" Kok kamu sendiri?"
" Itu Pak Hadi sedang kedalam buatin saya kopi!"
.
.
Widaninggar
Ia bersama bapak saat ini. Berada di sebuah gedung berdinding kaca gelap yang luas, dengan plakat bertuliskan BPR Agung Wilis di depannya. Ia meninggalkan Damar bersama ibu sebentar.
Ia terlihat gelisah karena menunggu antrian untuk di panggil. Untung saja udara sejuk AC itu membuatnya sedikit nyaman . Ia membawa sertifikat rumah orang tuanya sebagai agunan agar bisa mendapatkan pinjaman modal usaha lebih banyak.
Berniat akan memilih tenor angsuran yang agak panjang, agar jumlah angsuran yang dibayarkan lebih ringan. Karena jika hanya menggunakan BPKB motor tua milik bapak, tak akan mampu mendapatkan pinjaman yang cukup.
Bapak yang memaksanya. " Kamu nanti buka warung kecil-kecilan saja. Biar ada pemasukan tiap hari. Kamu pakai ini saja gak apa-apa!" Kilasan ingatannya kembali saat Bapak memberikan sertifikat rumah itu. Satu-satunya harta peninggalan nenek moyang yang mereka miliki.
Ia sempat tak enak hati demi mengingat jika kang Darman dulu juga sempat ingin meminjam sertifikat rumah namun tak diizinkan oleh Bapak. Apakah kang Darman bahkan marah jika mengetahui semua ini? Entahlah.
" Bu Widaninggar!" Panggil seorang pria dari rah depan. Membuatnya buru-buru maju dan meninggalkan Bapak di kursi panjang.
Ia sempat melirik nama yang tertera di papan akrilik itu. Pria itu berwajah datar yang mirip orang Jepang. Hanya saja pria itu sedikit berkulit gelap.
...Yudhasoka...
...Head of Credit...
" Dengan Ibu Widaninggar?"
Ia mengangguk. Jujur ini pertama kalinya ia mengajukan pinjaman pada bank. Jadi belum tahu mekanisnya akan seperti apa.
" Mau mengajukan berapa juta Bu? Dan akan digunakan untuk apa?" Pria itu terlihat memeriksa satu persatu persyaratan yang ia bawa saat mengajukan pertanyaan.
" Saya...!"
Ia lantas berbincang dengan petugas yang rupanya sangat komunikatif itu. Ya, meski sangat terlihat cuek. Wida menjelaskan tujuan serta bersaran uang yang akan ia pinjam.
Pria itu terlihat menyimak dan sesekali mengganggukan kepalanya tanda mengerti. Lebih dari lima belas menit mereka saling tanya jawab. Jujur Wida minder. Pria di depannya itu sangat wangi dan rapi.
Sejenak ia ingat malu akan penampilannya yang apa adanya. Celana jeans panjang dengan sebuah kemeja hijau botol yang sederhana.
" Kami akan menghubungi secepatnya Ibu saat akan pencairan nanti. Setelah ini kami akan melakukan survei kerumah Ibu dulu. Mohon untuk selalu mengaktifkan nomor anda!"
Wida mengangguk paham.
" Sebentar ya Bu!" Pria itu terlihat izin kepadanya karena ponselnya berdering. Membuatnya mau tak mau harus menunggu.
" Ya Ji? Oh udah di depan, ia sebentar lagi. Tunggu aja disana!"
Wida menyapukan pandangannya ke segala arah kala pria di depannya itu tengah sibuk menjawab telepon. Ruangan itu sangat bersih. Ia juga sempat melihat karyawan wanita yang berseragam cantik. Andai ia dulu tak menikah karena perjodohan, mungkin ia bisa bekerja dengan mengenakan seragam bagus seperti wanita itu.
Tapi keadaan selalu punya kenyataan bukan?
" Bu Widaninggar!" Ucapan pria itu membuatnya tersentak. Sudah selesai rupanya.
" Jadi begitu saja dulu. Nanti jadwal surveinya akan kami hubungi secepatnya!"
" Jaminannya ini di bawa pulang saja dulu, nanti akan kami ambil saat tanda tangan sewaktu pencairan!"
Usai mengucapkan terimakasih, ia menuju ketempat Bapak. Ia merasa nelangsa sekali kala melihat tubuh kurus Bapak yang setia menunggunya.
" Kapan aku bisa membahagiakan mu Pak?"
" Pie nduk? ( Gimana nak?)" Tanya bapak langsung berdiri kala ia datang. Menyambutnya dengan penuh atensi.
.
.
Ajisaka
Ia berniat menanyakan langsung kepada Yudha, terkait sertifikat milik pemilik tanah yang masih tertahan di BPR Agung Wilis sebagai jaminan pinjaman.
Sudah berjanjian dengan sahabatnya itu. Rencananya, ia akan menebus surat itu dan membayarkan sisa uang kepada pemilik tanah itu. Ajisaka merupakan orang yang cermat dalam urusan seperti itu. Tak mau sampai di tipu.
Ia menunggu di sebuah bangku panjang sambil menghisap rokoknya usai menghubungi Yudha. Pintu yang terayun menampilkan dua orang yang keluar dari kantor itu. Sempat menyita perhatiannya.
Matanya tak sengaja melihat wanita yang sepertinya tidak asing. Tapi dimana ia melihatnya.
" Ji! kita kedalam yuk!"
Belum sempat ia memastikan siapa wanita itu, kini Yudha muncul dari arah belakang. Membuat wanita bersama pria tua itu kini melesat menuju parkiran motor yang berada di ujung kanan gedung itu.
" Siapa tadi itu ya?"
.
.
.
.