
Bab118. Wajahmu mengalihkan duniaku
^^^"Jangan mabuk dulu, sebab efek cinta punya banyak reaksi yang kaya!"^^^
^^^.^^^
.
.
...πππ...
Widaninggar
Hari pertamanya mengantarkan Damar terbilang lancar. Damar juga terlihat sangat senang karena mendapat teman baru. Definisi dari keberuntungan selalu menyertai orang-orang sabar.
Tepat pukul sembilan lebih tiga puluh menit, ia bersama Damar sudah pulang. Kata Bu guru, hari pertama ini hanya di isi perkenalan dan sedikit materi sekolah yang ringan.
Wida lega, pasalnya meski ia kini pasti menjadi bahan pergunjingan orang lantaran kembali ke desa tanpa suami, namun anaknya sudah bisa tersenyum normal meski tanpa trauma healing yang berarti.
Yang penting kebahagiaan Damar, untuk dirinya cincailah! Ia kini harus memiliki bahu setegar karang.
" Langsung pulang Buk?" Tanya Damar yang kini berdiri di depannya. Motor matic itu sedikit bisa membuatnya mudah memposisikan Damar.
" Iya..kasihan Kakung sendirian. Mbah itu lagi rewang ( bantu-bantu di rumah tetangganya yang sedang menyelenggarakan hajatan)"
" Ibuk mau buat warung?" Perjalanan pulang mereka disisi oleh tanya jawab sang anak yang makin komunikatif.
" Iya, Damar gak boleh nakal kalau ibuk kerja dirumah ya. Damar nanti bantu ibuk nyusun jajan yang ibuk jual "
Damar terlihat girang. Padahal hanya hal sederhana seperti itu.
Kilasan ingatannya kembali saat ia masih bersama mas Pram di kota. Ia nyaris tak memiliki kesempatan untuk mengobrol dengan tetangga. Apalagi bekerja. Terbelenggu di dalam rumah karena tabiat buruk suaminya yang suka mabuk dan berjudi.
Ia sempat kepo dengan mobil hitam yang gagah itu. Mobil itu terparkir di bahu jalan dekat dengan rumahnya.
" Mobilnya bagus Buk, siapa yang datang?"
Sepertinya isi kepala Damar sama dengan isi kepalanya. Siapa yang datang kerumah bapaknya pagi jelang siang itu?
" Enggak tahu, tamunya Kakung mungkin!"
Ia menyandarkan motornya di sisi barat rumah Bapak. Motor itu bersuara lirih sekali. Damar langsung melesat masuk saat mesin motor itu telah mati dan terparkir sempurna. Mungkin sudah tidak tahan untuk bercerita kepada kakungnya tentang keseruannya pagi tadi.
" Kakung!" ia medengar suara riang Damar yang memanggil bapak.
Ia sempat memandang sepatu boots keren yang memiliki jalinan tali rumit, dan sepasang sepatu sneaker hitam yang berada di depan rumahnya. Menjadi penegas jika pemilik mobil bagus tadi tengah bertamu kerumah bapak.
Saat menoleh kedalam, ia memindai satu persatu wajah dua pria asing yang duduk disana.
" Sepertinya orang penting!"
Ia mendadak risih saat matanya tanpa sengaja saling bersitatap dengan pria yang mengenakan kemeja biru, yang lengannya di gulung sebatas siku itu.
.
.
Ajisaka
Kesialan macam apa ini? Jadi sedari tadi ia memarahi orang tua dari wanita yang mengusik hatinya itu? Oh ya ampun!
Mendadak rasa sesal menguasai dirinya. Kenapa bisa kecolongan begini sih?
Wanita itu terlihat mengangguk sopan kepada Aji dan Sukron. Membuatnya tersenyum meski ia menangkap aura ketidaknyamanan dari wajah wanita itu kala ia menatap.
"Psssttt Damar sini!"
Matanya lekat menatap wanita itu saat memanggil bocah, yang tengah asik bergelayut manja di pangkuan Pak Atmojo. Terlihat sangat sungkan dengan kehadirannya.
" Loh, kemaren kan kamu yang jatuh di kebun buah naga kan? Masih ingat Om?" Sukron dengan wajah antusias bertanya kepada Damar.
Bocah itu terlihat mendelik dan raut wajahnya seketika berubah usai melihat wajah ibunya yang menatapnya penuh selidik.
" Jadi ini cucu anda Pak?" Sukron bertanya dengan wajah semringah.
" Enggeh mas, ini Damar cucu saya. memangnya ketemu dimana?" Tanya Pak Atmojo.
" Kung, Damar ganti baju dulu ya..Buk Damar mau pakai baju Ultraman yang kemaren beli, sudah kering kan?" Damar mencoba mengalihkan perhatian kedua orang dewasa yang akan membahas dirinya itu.
" Ya sudah sana, sama ibuk ya!" Membuat pria itu lupa dengan pertanyaannya barusan kepada Sukron.
Well, percakapan yang mengandung ketegangan tadi seketika memudar karena kehadiran anak kecil beserta ibunya itu.
Damar menghanbru ke kaki ibunya. Masih menatap wajah pria yang memberinya sekresek buah naga itu dengan kesal.
"Cucu saya ini baru pulang dari kota. Itu sebabnya saya sudah tidak bisa lagi kerja di tempat Pak Aji!"
Ajisaka merutuki dirinya sendiri. Saat Sukron masih sibuk berbicara dengan Pak Atmojo, ia malah sibuk saling tatap dengan Widaninggar yang kini mulai mengajak anaknya masuk. Terselip rasa sesal karena telah memarahi pria tua itu. Sialan sialan!
Ia tersenyum tipis kepada wanita itu sebelum ibu dari Damar itu masuk ke dalam, namun wanita itu tetap berwajah datar sembari terlihat rikuh dan risih. "Apa wajahku aneh?" Ajisaka sempat tak percaya diri.
" Ehh Wid, buatin kopi atau teh buat Pak Aji dan mas Sukron!" Pinta Pak Atmojo kepada anaknya. Membuat langkah wanita itu terhenti.
" Enggeh Pak!" Astaga lembut sekali suaranya.
Wanita itu mengangguk patuh. Membuatnya sedikit menarik senyuman kembali. Wajahnya benar-benar mengalihkan dunianya.
" Barusan sudah ngopi kok Pak!" Sahut Sukron yang langsung di tatap tajam Ajisaka.
" Ka..kalau begitu teh saja pak..iya teh saja!" Sukron meralat ucapannya sambil meringis. Dengan tanpa curiga Pak Atmojo tersenyum.
Ia masih menatap Wida yang sekarang menuju dapur. Entah mengapa tatapan sengit dari Widaninggar justru membuatnya makin penasaran dengan wanita itu. Tapi..dimana suaminya?
Sejenak ia tersadar. Jangan sampai ia menyukai istri orang. Tidak, itu tidak boleh terjadi. No way!!!!
" Ya sudah kedalam dulu sama ibuk ya. Habis ini main sama Kakung!" Pak Atmojo masih memerhatikan cucunya yang hendak masuk kedalam bersama Widaninggar.
Ajisaka memperhatikan interaksi cucu dan kakung itu dengan hati menghangat. Emosi di dadanya sudah berkurang kala melihat bocah kecil itu.
Bocah itu masih saja menatap sengit Sukron. Entah menyiratkan maksud apa.
" Jadi cucu saya tadi lah Pak yang menjadi alasan saya berhenti bekerja di tempat Pak Aji!"
Ajisaka terlihat tak sabar menunggu kalimat selanjutnya, jelas pernyataan Pak Atmojo itu pasti mengandung jawaban dari rasa penasarannya.
" Anak sama cucu saya pulang kemarin, jadi saya belakangan ini sibuk. Rencananya mau buka warung. Saya enggak enak tiap hati izin sama mas Dino. Jadi lebih baik saya berhenti saja!"
Aji geram pada Dino, kenapa dia tadi tidak mengutarakan kepada dirinya kalau alasannya begini. Sekarang dia malah malu.
" Memangnya selama ini anak Bapak tinggal dimana?"
Sukron bertanya, membuat dirinya senang. Itu yang ingin ia ketahui.
" Dan maaf, apa suaminya tidak ikut. Maaf ya pak, kok jadi bapak yang...!"
Sukron terlalu bermulut licin. Tapi jujur ia harus berterimakasih kepada abdinya akan hal itu.
" Ada, kebetulan tidak ikut kemari!"
" Masih ada urusan!"
Tukas Pak Atmojo yang membuat hatinya mencelos kala mendengarnya. Tunggu dulu, apa dia sudah tak waras karena ingi mengetahui info sampai sejauh ini?
sejurus kemudian Widaninggar datang dengan membawa nampan berisikan tiga cangkir teh.
Aji memperhatikan jari lentik dengan kulit kuning Langsat yang membuatnya resah. Rambut wanita itu juga terlihat hitam berkilau meski tampilannya terbilang sederhana.
Ia menatap lekat alis tebal dan bulu mata yang sudah lentik tanpa maskara itu. Tapi, benarkah jika ia kini tengah menyukai istri orang?
Wajah Wida kini juga terlihat sangat manis, bibirnya lembab, ranum dan berwarna pink alami. Pikiran jantannya lekas bereaksi, akan seperti apa rasanya jika ia sesap? Haish, otaknya tiba-tiba menjadi kotor sekali.
Ah beginikah rasanya jatuh cintrong?
Wajah yang ia lihat saat ini, jelaa berbeda saat ia melihat wajah Wida tempo hari. Ia tak berani menanyakan hal itu kepada Wida apalagi Pak Atmojo.
Mungkin ada rahasia yang perlu ia gali sendiri. Lagipula, disini ada Sukron, tak mungkin ia menanyakan hal itu sekarang.
" Monggo Pak!" Ucap Wida sembari meletakkan cangkir ke hadapannya.
Wanita itu bahkan menyebut dirinya ' Pak'.
Ah ,mungkin karena Pak Atmojo juga memanggilnya begitu, pegawai yang lain juga memanggilnya begitu kan?
.
.
Widaninggar
" Kamu disini dulu ya, ibuk mau buatin minum buat tamu Kakung!" Wida meninggalkan Damar di kamar, dan berniat akan menginterogasi putranya itu soal dimana ia pernah bertemu dengan pria rambut jagung tadi.
" Iya Buk!" jawab Damar muram.
Ia masih bisa mendengar semua percakapan bapak dan tamunya tadi. Tapi pertanyaan dari pria berambut jagung tadi kepada anaknya mmbuatnya penasaran. Jadi Damar sudah bertemu dengan mereka sebelumnya?
"Jadi cucu saya tadi Pak yang menjadi alasan saya berhenti bekerja di tempat Pak Aji!"
Ia tengah tekun mengaduk gula yang belum larut di dalam cangkir yang baru saja ia tuangi air panas beserta teh kantong itu. Kuat dugaan, kedua pria di depan tadi merupakan bos bapaknya.
Setahu Wida, bapaknya memang mengundurkan diri sejak mereka akan membuat sebuah toko dan tempat jahit.
"Memangnya selama ini anak Bapak tinggal dimana?" .
" Dan maaf, apa suaminya tidak ikut. Maaf ya pak, kok jadi bapak yang...!"
Ia mendecak kala mendengar tamu Bapak mengajukan hal itu. Ia bahkan terus mengaduk minuman itu, meski gula dalam cangkirnya telah larut sedari tadi. Hatinya was-was.
"Ada, kebetulan tidak ikut kemari!"
"Masih ada urusan!"
Ia bernapas lega kala bapak mengatakan hal itu. Sungguh, bapak merupakan pelindung sejati untuknya.
Ia lantas menyajikan minuman itu kepada tamu dan bapaknya saat merasa lega. Lagian, ngapain juga sih orang itu kepo banget. Begitu pikir Widaninggar.
" Monggo Pak?" Ia menyajikan satu persatu cangkir berisikan teh melati yang barusan ia buat.
Agak risih karena pria dengan rambut tersisir rapih dan terlihat basah senantiasa itu terus menatapnya. Ia sempat menundukkan kepalanya, benar-benar tak nyaman.
Tapi harus ia akui, pria di depannya itu sangat wangi sekali. Dan terlalu muda untuk di sebut 'Pak' oleh Bapaknya.
.
.
.