
Bab 200. Dalam hari selalu ada kemungkinan
.
.
.
...πππ...
Yudhasoka
Pertanyaan yang susah-susah gampang untuk ia jawab itu, kini makin membuatnya bloon dalam waktu sekejap. Jika di tanya soal suka apa tidak, Yudha tak memiliki jawaban yang akurat saat ini. Lebih tepatnya belum.
Sebab wanita yang jago berkelahi itu, agaknya sudah mulai membuat dirinya tertarik. Mengusik kejujurannya sebagai pria lajang, yang mendapatkan angin segar dengan nuansa berbeda, dari seorang betina yang tangkas.
Yeah!
" Aku...!" Ia kesulitan untuk menjawab.
" Kalau elu enggak suka, berati masih ada kesempatan buat aku dong?" Tanya Sakti mengangkat sebelah alisnya.
Di kebisuan hatinya saat itulah, arti persahabatannya benar-benar di uji.
.
.
Ajisaka
" Gimana Kron udah kamu antar?" Tanya Aji tak sabar. Pria itu sedikit sungkan kepada kang Darman saat ini. Haduh, kenapa proses perceraian itu selama ini yah?
" Aman Bos!" Sahut Sukron sembari melempar tubuhnya ke atas sofa, seraya menyalakan televisi.
Ajisaka sengaja mengirimkan banyak sekali kain, agar dibuatkan baju oleh wanita itu. Baju untuk karyawannya lebih tepatnya. Ya ..Aji sengaja membuat Wida sibuk dengan pekerjaan yang dia berikan.
Ia harus mencari alasan agar bisa memberikan sedikit suntikan dana, tanpa membuat Wida maupun keluarganya sungkan. Mengingat Wida bukan merupakan orang yang silap harta.
Benar-benar pria licik.
" Tadi sempet nanya, kok mendadak?" Ucap Sukron menggerutu seraya menirukan gaya Wida saat berbicara.
" Terus, kamu jawab apa?" Tanya Aji dengan wajah tak sabar.
" Enggak saya jawab lah. Takut salah bicara, urusannya malah runyam!" Sahut Sukron seraya menguap. Ini sudah malam, dan Ajisaka malah masih tekun mengintrogasi dirinya.
Dasar sialan!
Semenjak beberapa hari terakhir, Aji meminta Sukron untuk tinggal bersamanya di rumah besarnya. Alasannya adalah, ia kerap bangun siang beberapa hari ini. Lagipula, kesibukannya kian bertambah seiring bertambahnya luas kebun, juga pabrik home made yang ia dirikan.
Sebuah pesan membuat Aji menunda percakapan. Membuat Sukron mulai memejamkan matanya dengan televisi yang mulai menatapnya muak. Ya...pria itu kini malah di tonton oleh TV yang menyala terang.
[ Aku pergi ke kota dulu. Maaf enggak sempat pamit langsung ... Buru-buru]
Pesan dari Pandu membuatnya mengernyit. Ngapain tuh anak ke kota mendadak gini?
.
.
Pandu
Nurani yang berteman dengan keheningan, senantiasa memberikan manusia petunjuk lewat suara bening yang muncul dari hati.
Ia memutuskan untuk ke kota, tanpa memberitahukan hal ini kepada Ayah dan Ibunya. Ia sudah berniat untuk menemui Hartadi. Pria yang katanya merupakan Bapaknya.
Kata orang bijak, kata hati itu bisa membawa kita kepada jalan kebenaran.
" Hati-hati ya Ndu! Kabari kalau sudah sampai!" Bu Asmah menatap muram wajah Pandu. Wanita tua itu kini sudah menjadi sekutu konspirasi dirinya dan Fina.
Pandu mengangguk lembut.
" Tolong jangan beritahu Ibu dulu ya Bu. Saya...takut jika beliau tahu, nanti malah cemas. Saya hanya ingin melakukan tugas saya, selagi belum terlambat!" Tukas Pandu saat meraih tangan Bu Asmah.
Wanita yang akan menjadi neneknya itu, mengangguk dengan senyum merekah. Ia paham bagiamana menjadi diri versi Pandu. Jelas tak semua orang akan bisa menjadi dirinya.
Sepanjang perjalanan menuju ke barat, Pandu lebih diam dan fokus. Ini pertama kalinya ia mengendarai mobil menuju perjalanan yang jauh.
" Aku bisa kok gantiin kalau kamu capek!" Ucap Fina yang manyun sebab Pandu berkali-kali menolak, meski ia gencar melakukan penawaran.
Oh ya ampun.
" Kamu meragukanku? Tanya Pandu melirik Fina.
" Ya bukan...aku tahu kok kalau calon suamiku ini pria perkasa!" Ucap Fina mengerlingkan matanya." Tapi aku juga tahu, kalau pacarku ini juga manusia biasa. Pasti punya rasa lelah!"
Pandu tergelak, entahlah. Rasa-rasanya ia sangat merasa beruntung bisa di pertemukan dengan Fina. Wanita nekat yang perlakuannya suka ngawur.
" Istirahatlah dulu. Jangan lupa siapkan mental...nanti, kamu bakal ketemu mantan kamu disana!" Goda Pandu seraya terkekeh.
" Pandu!!!!" Fina mencubit kecil perut Pandu karena merasa sebal.
.
.
Rarasati
Pagi ini ia bangun dengan tubuh yang terasa remuk. Seluruh sendinya nyeri. Sepertinya ia juga sedikit kurang sehat.
Ia mengerjapkan matanya berkali-kali demi memulihkan kesadaran. Dari sofa yang ia gunakan untuk berbaring, ia melihat Bapaknya sudah bangun dan tersenyum ke arahnya.
" Bapak!" Ia langsung bangun detik itu juga. Sejak kapan Bapaknya itu bangun?
Ia kini beranjak dari sofa, dan mendekati Bapaknya yang sudah bisa membuka matanya, meski bibir pucat masih menjadi sajian utama.
Ia bersyukur, pagi ini apa yang ia harapkan menjadi sebuah kenyataan.
" A- A I R!" Ucap Bapak dengan menunjuk nakas di sebelahnya. Merasa haus sekali pagi itu.
Dengan sigap, ia mengambil botol yang diminta sang bapak. Ia senang bukan main, sebuah keajaiban terjadi di tengah-tengah harapannya yang semakin meredup.
Melihat kemajuan signifikan Bapaknya, ia segera membasuh mukanya dan berniat memanggil perawat yang berjaga.
" Tensinya sudah turun mbak, memang masih belum normal sempurna... tapi ini sudah tidak setinggi kemarin. Ini bagus..!"
Ia bahkan turut tersenyum tiada henti. Terimakasih Tuhan! Syukur tiada terhenti terucap dari relung hatinya.
Namun, saat ia masih larut dalam rasa syukur atas mukjizat yang ia dapatkan, sesosok pria dengan wajah segar dan tampilan keren datang dan membuatnya tak menyangka.
" Loh, Sakti?"
.
.
.
.
.
.
Mohon maaf just one chapter. Bang Eng sedang sakit.
.
.
Hay reader sekalian. Mommy mau bercakap-cakap nih.
Terimakasih banyak, Thankyou, kesuwun hang akeh, matur Sakalangkong buat semua pembaca yang sudah setia baca karya empat sekawan hingga bab 200 ini.
Ada beberapa yang komen ;
R : Thor, saya agak pusing kok banyak banget tokoh yang di ceritain.
A: Jadi begini ya, sinopsis di awal memang sudah jelas jika karya Mommy yang satu ini memang mengisahkan perjalanan cinta empat pria dengan karakteristik yang beraneka. Jadi...apa yang tertuang, memang sudah sesuai dengan outline nya ya readers π€
R : Thor, kok karya on goingnya dua sih?
A : Jujur, kisah Raka dan Jodhi sebenarnya masih akan launching beberapa bulan lagi, walau outlinenya sebenarnya sudah ada sejak lama.
Jadi begini...saya benar-benar menyadari jika semua karya saya tidak ada yang mencapai pop hingga M. Even banyak yang bilang jika karya Mommy itu .....( intinya layak untuk di baca π) Mommy enggak mau jumawa soalnya π.
Nah, novel "menjadi Ibu untuk anakmu" merupakan sebuah novel yang mommy ikut sertakan dalam event You are writer sessions 7. Tahu karena apa? Karena barangkali jika rejeki dan bisa menang, mommy berharap karya Mommy yang ritme, alur dan temponya slow ini bisa makin di kenal dan di baca lebih banyak lagi oleh orang lain.
Tapi, jika tidak menang setidaknya Mommy sudah menyajikan yang terbaik yang Mommy bisa. Namanya juga usaha ππ
Bukan hanya pembaca saja yang sedih manakala karya Mommy masih sepi. Me tooππππ
Jadi, bulan ini Mommy emang mau fight, biar bisa buat dua novel on going berjalan dan tidak mengurangi kualitas karya yang tersaji.
Mohon maaf jika sering telat Up. Jujur beberapa hari ini, Mommy di sibukkan urusan di dunia nyata yang benar-benar menyita waktu. Tapi...selalu mommy sempatkan untuk up, Walau hanya satu bab.
Semoga kita bisa terus berhalu ria demi menghiasi kehidupan fana kita ya gaes.
Tetaplah sableng walau hati kita tengah mbuleng π€£π€£π€£.
Big hug from me
Mommy Eng π€π€πππ
.
.
.