Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 75. Kenyataan Mengejutkan



Bab 75. Kenyataan Mengejutkan


^^^" Tak ada gading yang tak retak. Tiada sesuatu yang tak cela di dunia ini!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Dengan masih mengenakan singlet tak berlengan yang menampilkan tatto di punggung hingga lengan kanan atasnya itu, ia berjalan dengan wajah datar menuju ruangan Bayu.


Pandu harus berjalan melewati beberapa pintu ruangan sebelum menuju ruangan Bayu. Para bodyguard yang tengah free itu, terlihat menatap Pandu.


Ia terlihat sangar.


CEKLEK


Anak Ambarwati itu mengangguk memberikan salam sopan meski dengan bibir yang masih terkunci. Diam seribu bahasa.


" Duduklah!" Tukas Bayu mempersilahkan begitu menyadari kedatangan Pandu.


" Kudengar dari Theo kamu belajar dengan baik cepat!"


Pandu masih berdiam. Menunggu kalimat berikutnya yang akan terlontar dari mulut Bayu.


"Satya dan tim-nya tengah mengendus keberadaan Radit. Jika kau terus concern berlatih. Maka kita bisa segera bergerak bersama nanti!"


Bayu menunjukkan beberapa foto saat Raditya tertangkap kamera pengawas tengah berada di salah satu airport.


" Dia berkeliaran?" Tanya Pandu dengan alis berkerut dan rahang yang mengeras. Bayu bahkan bisa melihat jilatan api kemarahan di mata Pandu.


Bayu mengangguk. " Orang seperti Raditya itu ibarat anjing!"


"Anjing yang selalu setia kepada tuannya!"


" Dalam artian , yang bisa memberinya makan, itulah yang dia anggap sebagai Tuan. Jangan bicara kesetiaan dengan pria semacam itu!"


Pandu tertegun dan sedikit berpikir. Sepertinya keputusannya yang menerima tawaran Bayu telah benar. Jelas ia akan kesulitan jika seorang diri.


" Maksdtumu, bisa saja dia tidak hanya bergabung dengan Tuan Hartadi?" Pandu menatap lekat wajah Bayu.


" Sepertinya instingmu sangat bisa diajak bekerjasama!" Bayu tersenyum menatap Pandu.


.


.


Seminggu berlalu. Dari kabar yang dikirimkan oleh Ajisaka, ibunya kini terlihat lebih baik karena memiliki kesibukan lain dirumah Lik Sarip. Berjualan makanan.


Kabarnya rasa masakan ibunya cocok di lidah masyarakat kaum ogah bangun pagi. Alias mereka sengaja membeli sayur dan lauk jadi di tempat Ambarwati.


Sedikit lega lantaran setidaknya ibunya tak harus melulu memikirkan dirinya.


Kabar bagus lainnya, ia kini juga telah lebih mahir dalam mengenal beberapa senjata api dengan segala keragamannya. Bullet also magazen.


Theodor bahkan telah menerbitkan sertifikasi keahlian juga secarik kertas resmi kepemilikan senjata untuk Pandu. Benar-benar tiada terpikir dalam hidupnya, bila ia ada di posisi seperti itu.


Kini, sebuah revolver telah legal menjadi miliknya.


All team, kita briefing di tempat biasa!


Instruksi dari Rendy jelas terbaca oleh Pandu di group intern Kijang Kencana yang ada di dalam ponselnya.


Sungguh, nasib orang memang tiada yang tahu.


" Wah mas Pandu. Lama gak ketemu kok ya jadi beda banget!" Mansur dengan mata berbinar menatap Pandu yang kini mengenakan setelan jas hitam, lengkap dengan dasi dan juga pantofel.


Ya, Mansur tak sengaja berpapasan dengan Pandu saat pria itu usai kembali dari ruangan housekeeping.


Sungguh tak akan ada yang mengira jika ia merupakan pemuda dari desa, yang lekat dengan kearifan lokalnya.


" Nanti akan ku traktir jika aku menerima gaji pertamaku Sur!" Pandu menepuk pundak pria gembul itu dengan terkekeh.


" Asiiiap mas!"


.


.


Seminggu ini Pandu benar-benar sibuk berlatih. Baik ia dan Fina juga tak saling berkabar. Ia berniat menemui Fina setelah briefing. Ia sudah memutuskan untuk terus bersama wanita itu. Pandu telah jatuh cinta dengan pesona Fina.


" Saya sangat berterimakasih atas dedikasi kalian semua. Schedule kalian yang baru telah di buat oleh Rendy. Bagi yang besok turut keluar kota harap memberikan laporan kinerja kalian, karena semua itu perlu kita jadikan evaluasi demi kepuasan pelanggan!"


Ucapan Bayu seolah tiada yang masuk kedalam telinganya. Pandu sibuk memikirkan Fina. Dan, mengapa wanita itu juga tak menghubunginya sama sekali.


Tumben.


" Dan kamu Pandu!"


Merasa namanya di sebut, lamunannya seketika buyar. Menyebar ke segala penjuru ruangan itu. Membuat atensinya kini beralih kepada pria dengan kumis tipis itu.


" Tugas perdana kamu telah tiba. Kamu harus mengawal anak dari seorang pengusaha yang lumayan terkenal!"


.


.


Sial!


Satu kata yang mewakili perasaannya. Alih-alih ingin bertemu dengan Fina di waktu yang agak longgar, ia justru harus mengikuti Bayu menuju salah satu tempat guna bertemu dengan seseorang yang akan menyewa jasa bodyguard di Kijang Kencana.


" Sekalian kamu training. Mereka perlu pengawalan karena anak mereka dalam ancaman seseorang!"


" Beliau belum menginformasikan dengan jelas, tapi dia perlu satu orang yang kriterianya sesuai dengan kualifikasi kamu!"


Pandu diam. Hatinya kesal sebenarnya. Ia rindu dengan Fina. Bolak balik mengecek ponselnya namun tak ada pesan maupun balasan dari Fina.


Zonk!


Pandu kira mereka akan bertemu di sebuah gedung perusahaan atau di sebuah restoran mewah. Namun, rupanya mereka bertemu di sebuah rumah sakit.


Kenapa begitu?


" Beliau tengah di rawat karena struk!"


" Bisa bicara namun tak bisa berjalan!"


Semua ucapan ramah Bayu ia tepikan begitu saja. Otaknya hanya berisikan tentang Fina. Terserahlah, toh yang penting ia akan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya nanti. Berjanji dalam hati.


Ia melewati lorong-lorong panjang, lalu dari lantai dasar mereka naik ke lantai lima menggunakan lift. Pandu masih diam mengekor di belakang Bayu yang melewati lantai licin mengkilat itu.


...VIP Room...


Bayu membuka sebuah pintu kamar dengan luas sekitar enam meter lebih. Ruangan bersih dengan satu set sofa dan beberapa perabot penunjang lainnya. Jelas orang yang menggunakan itu, merupakan orang kaya.


" Selamat siang Pak Guntoro!" Sapa Bayu.


Ia mengikuti langkah Bayu yang kini mendekat ke arah Tuan Guntoro yang berbaring seraya tersenyum.


" Kau sudah datang. Kemarilah, istriku sedang keluar. Silahkan duduk!" Ucap Tuan Guntoro dengan wajah senang.


Namun, belum juga Pandu mendudukkan dirinya dengan lega, matanya tak sengaja teralihkan oleh pintu yang tiba-tiba mengayun. Matanya membulat kala melihat dua sosok manusia yang menarik pintu di depannya.


Ia melihat Fina yang berjalan dengan Rizal ke ruangan itu. Apa yang terjadi? Baik dia dan Fina sama-sama saling menatap. Seolah meminta penjelasan satu sama lain.


Rizal nampak terkejut saat melihat Pandu dengan pakaian yang membuat pria itu terlihat gagah. Apalagi, jas dan sepatu yang dikenakan Pandu hampir membuat Rizal pangling.


" Pak Bayu, dia anakku dan calon suaminya!"


DUAR!!!!


Petir seolah menyambar diri Pandu saat itu juga. Meski tak ada gerimis apalagi mendung. Pandu tak lekang menatap wajah Fina yang kini terlihat menunduk. Sama sekali tak terlihat bahagia.


" Calon suami?"


What is your problem?


Pandu dan tuan Guntoro memang belum pernah bersua sebelumnya. Justru Lidia lah yang pernah bertemu dengan Pandu sewaktu Fina kecelakaan di Kalianyar bersama mobil buah naga milik Ajisaka.


Sial!


" Oh, jadi ini putri anda yang perlu kami kawal? Tanya Bayu dengan wajah tersenyum. Terang saja dia tersenyum. Bayu tentu saja tak mengerti rekam jejak mereka semua.


" Apa?"


" Apa?"


Fina dan Pandu berucap secara bersamaan. Membuat Tuan Guntoro, Bayu juga Rizal sama sama terkaget.


.


.