
Bab 159. Karena aku lelaki
.
.
.
...πππ...
Arninggara
Orang akan tahu arti jahat, karena ada orang baik. Sama halnya dengan siang dan malam. Mungkin sifat angkara seperti itu akan terus ada hingga jaman ini pupus.
Tiada terbantahkan.
Niat hati ingin memberikan pelajaran agar wanita itu tak berani mendekati keponakannya, namun yang di dapat malah bencana.
Ia sebenernya sudah janjian dengan sekutunya, Desinta. Namun, entah karena tak sabar atau Karena apa, ia akhirnya berangkat lebih dulu.
Pucuk dicita ulam pun tiba, ia yang benar-benar ketakutan akhirnya bertemu Desinta. Sebab ia tadi berangkat seorang diri melalui perantara Ojek.
Ia merentangkan tangannya saat mobil yang dikemudikan Desinta hendak melintas. Ketakutan karena sudah pasti saat ini Aji mengetahui kejadian yang menimpa anak wanita sialan itu.
" Des putar balik cepat!" Tubuhnya sudah sangat gemetar. Benar-benar takut.
" Tante?"
.
.
Desinta
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meski ia belum tahu menahu soal hal yang telah dilakukan oleh perempuan di sampingnya itu, namun dari wajahnya jelas sekutunya itu tengah ketakutan.
" Apa yang sebenarnya terjadi Tan?" Ia juga penasaran soal sebab musabab Tante Arning benar-benar ketakutan seperti itu.
" Aduh Des gawat! Gawat!"
Ia semakin mengerutkan keningnya demi melihat kepanikan yang begitu kentara itu.
" Aku enggak sengaja membuat anak wanita sialan itu bocor Des. Sialnya lagi, tadi mobil Aji mengarah ke sana. Pasti mereka lagi nyari aku sekarang!" Tante Arninggara terlihat gusar, cemas dan panik dalam waktu bersamaan.
Desinta seketika tertegun dan terlihat seperti memikirkan sesuatu.
" Lagian, Tante ngapain duluan sih tadi?" Ia benar-benar menyesalkan sikap grusa- grusu wanita itu.
Tante Arning menatapnya tajam.
" Aku cuman mau semuanya cepetan dan beres. Kamu juga, udah dibilang pagi-pagi kita harus kesana?"
" Semua ini gara-gara kamu!"
Desinta mengernyit tak percaya, apa wanita di sampingnya itu turut menyalahkannya? Ia merasa kesal kepada wanita itu.
Dengan tanpa menunggu lagi, Desinta langsung menyalakan lampu sen dan menepikan mobilnya saat itu juga. Ia tersulut emosi.
Tante Arninggara merasa bingung kala ia menepikan mobilnya ke bahu jalan detik itu juga.
" Des, kenapa kamu berhenti disini?"
" Mereka pasti ngejar kita nanti!" Raut cemas tersaji di wajah wanita itu, sesekali wanita itu menoleh ke belakang demi memastikan anak buah Aji terlihat atau tidak. Namun, Desinta justru memasang wajah datar.
"Kita?" Desinta menyeringai menatap wanita itu.
Tante Arning menatap Desinta yang tersenyum smirk dengan tatapan tak mengerti.
" Turun!" Ucap Desinta yang membuat bibi dari Aji itu tercenung.
" Kubilang turun!" Desinta makin menaikkan intonasinya demi melihat Tante Arning yang bergeming.
Desinta kesal karena ia di salahkan bahkan saat ia tidak campur tangan akan apapun. Selain itu, ia merasa harus menyelamatkan dirinya dan tidak perlu melibatkan diri untuk turut menanggung kesalahan Tante Arning.
Benar-benar licik bukan.
" Apa yang kau bicarakan?" wanita itu masih tak percaya dengan yang di dengarnya.
" Ini salahmu sendiri. Jadi jangan bawa-bawa aku!" Desinta mengalihkan pandangannya. Benar-benar licik.
Tante Arning menggeleng tak percaya akan apa yang di terimanya. Desinta tak peduli, ia tentu juga mau cari aman. Jelas Aji akan menjebloskan mereka jika terjadi sesuatu kepada anak wanita itu.
KLAK
Suara automatic lock door yang telah di buka Desinta membuat Tante Arning semakin mengeraskan rahangnya karena kecewa.
" Aku melakukan ini agar kamu bisa bersama Aji, tapi ini yang aku dapat?"
Desinta menarik sudut bibirnya sebelah, " Yakin untukku saja? Bukan untuk ambisimu yang ingin menguasai harta mas Aji?"
Membuat Tante Arning bak di tampar. Sebab itulah kenyataannya.
" Jangan membuang waktuku, aku tidak ingin membusuk di dalam penjara sepertimu!"
Tante Arning masih bergeming. Terlihat menahan emosi karena giginya terdengar gemelutuk.
" TURUN!!!" Desinta berteriak dengan nada paling tinggi, membuat wanita di sampingnya itu berjingkat dan langsung membuka pintu mobil, lalu membantingnya kasar.
BRAK!
" Aku bersumpah akan membalasmu wanita licik!"
Ia tak mempedulikan sumpah serapah yang di layangkan oleh wanita itu. Yang jelas, ia ingin cuci tangan dari masalah ini. Tak mau sampai ia turut kena getahnya. Meski awalnya ini memang rencana mereka berdua.
Licik? Tentu saja.
Jadi, apa jaminannya berteman dengan orang jahat? Suatu saat ia juga akan menjahatimu bukan?
.
.
Yudhasoka
Ia telah menghubungi Sukron untuk terus menyisir jalan, ia sempat mendatangi rumah Widiantoro guna memastikan keterlibatan Desinta. Ia tahu, dia wanita itu pasti menjadi biang kerok petaka ini.
" Mbak Desinta pergi mas, tadi mbawak mobile!"
Jawaban dari ART di rumah Widiantoro jelas membuat dirinya mau tak mau harus mencari wanita itu ke tempat lain.
" Yudh, mending kita ambil mobil si Aji. Kalau Desinta bawa mobil, mustahil kita bisa ngejar pakai motor. Aku yakin, mereka pasti belum jauh!"
Saran Sakti kali ini tok cer juga. Usai meminta kunci mobil kepada Buk Esi, ia kembali menuju kawasan jalan menuju rumah Wida namun melalu arah lain.
Mobil itu ia lajukan dengan kecepatan tinggi. Mata tajam Sakti tak hentinya memindai satu persatu mobil yang berlawanan arah, pun dengan semua kendaraan.
"Itu mobil Desinta Yud!"
" Mana?" Ucap Yudha yang tak melihat apapun.
" CK, itu yang kaca belakanganya ada stikernya itu loh!"
Dan ucapan Sakti memang benar. Sahabatnya itu tumben berguna sekali kali ini. Merasa melihat apa yang di katakan oleh si sableng itu, ia kini menginjak pedal gasnya seraya menyeringai.
Dapat kau!
Mereka kini melintasi jalanan persawahan yang di sampingnya terdapat pohon kapas yang berjajar rapi sepanjang bahu jalan itu.
CIT
Yudha tersenyum licik kala mendengar decitan mobil Desinta yang jelas berhenti mendadak akibat ulahnya.
Tanpa menunggu komando, Sakti dengan gerakan cepat membuat pintu mobil Aji dan langsung menuju ke mobil Desinta, pun dengan dirinya.
TOK
TOK
TOK
CEKLEK
Sakti langsung membuka pintu mobil Desinta, dan menjengukkan kepalanya ke dalam. Kosong melompong tak ada siapa-siapa kecuali supirnya.
" Turun!" Ucap Sakti dengan wajah datar.
" Apaan sih?" Desinta terlihat bingung dan ketakutan.
" Dimana Bi Arning?" Yudha dengan gaya cool-nya kini bersidekap seraya mengintimidasi Desinta dengan pertanyaannya.
"Astaga, bahkan mas Aji sampai mengerahkan semua anggotanya!" Desinta makin yakin jika ia tak salah mengambil keputusan untuk tak mau ikut campur persolan ini.
Ia tak bisa membayangkan nasibnya jika ia tadi ikut-ikutan. Tidak!
" Mana aku tahu, ngapain kalian tanya orang itu ke aku?" Masih memberanikan diri untuk menjawab ketus.
Sakti kesal. Terlalu membuang-buang waktu kalau begini.
" Jangan bohong, lu sama dia selalu sama-sama kan!" Sergah Sakti. Terbiasa adu mulut jadi gatal banget kalau tidak mendebat.
" Eh setan, periksa aja nih mobil gue. Gue itu mau ke salon, aku enggak tahu dimana Tante Arning!"
Yudha dan Aji saling melirik, mobil itu memang hanya di kemudikan oleh Desinta sendiri memang. Bagiamana ini?
DRRRT
Ponsel milik Yudha bergetar saat ia masih sibuk mengintimidasi Desinta. Membuat kegiatan adu mulut itu terjeda sementara waktu.
" Ya Kron?"
Sakti menatap Yudha yang terlihat memasang wajah serius. Menyiratkan jika hal ini benar-benar genting. What's wrong?
" ........"
" OK kirim lokasimu!"
Sejurus kemudian Yudha terlihat memungkasi sambungan teleponnya. Jelas menandakan jika sesuatu telah terjadi.
" Cabut Sak!" Ucap Yudha sambil membalikkan tubuhnya tanpa mempedulikan Desinta.
BRAK!
Sakti menutup pintu mobil Desinta dengan kasar.
" Pria brengsek!"
Sakti sempat mendengar Desinta yang mengumpat ke arah mereka namun tak ia pedulikan.
Kini, ia bersama Yudha melesat dengan kecepatan tinggi menuju tempat dimana Sukron mengirim lokasi.
Benar-benar akan sangat panjang urusannya.
.
.
Ajisaka
Pak Atmojo datang beberapa waktu kemudian. Entah tahu dari siapa pria itu, namun yang jelas Aji merasa lega karena bisa meninggalkan Wida untuk sementara waktu dibawah penjagaan Pak Atmojo.
" Saya harus mengurus hal penting dulu Pak. Saya akan kembali nanti. Masalah biaya jangan khawatir, saya sudah mengurusnya tadi!" Aji menepuk punggung tangan keriput yang ia pegang. Tangan milik pak Atmojo yang bergetar.
Membuat Pak Atmojo benar-benar dirundung keharuan. Pria itu benar-benar manifestasi dari sikap ksatria manusia.
Damar belum sadar dan masih dalam pengaruh obat. Membuat Pak Atmojo dan istrinya kini berada di ruangan tempat dimana Wida tadi dirawat.
" Aku pergi dulu Wid. Ingat yang aku katakan tadi, hm?" Aji menatap Wida dengan tatapan dalam. Ingin sekali memeluk wanita itu namun mustahil. Sebagai dua manusia disana jelas membuat Aji tahu diri.
Wida mengangguk.
Pak Atmojo bersama istrinya saling menatap satu sama lain. Sungguh, melihat anaknya di perlakukan sangat baik oleh Ajisaka membuat mereka kini bisa memutuskan sesuatu.
" Mas Aji!" Ucap Wida yang membuat langkah Aji terhenti.
" Ya?" Ucap Aji sesaat setelah membalikkan badannya.
" Hati-hati!" Wida menyajikan senyuman termanis yang membuat Aji meleleh saat itu juga. Oh astaga.
Aji mengangguk seraya membalas senyuman yang merekah itu. Sungguh hati Aji merasa berbunga- bunga jika Wida sudah perhatian seperti itu.
Diluar ruangan,
Pandu langsung beranjak dari duduknya saat melihat Aji yang telah keluar.
" Udah?" Tanya Pandu menyongsong kedatangannya.
Aji mengangguk.
Mereka berdua kini melangkahkan kakinya menuju parkiran kendaraan. Aji menyerahkan mobilnya kepada Pandu. Emosinya masih tidak stabil, dan ia tak mau ambil resiko akan hal itu.
" Sayang?" Suara Fina membuat Pandu dan Aji mengalihkan pandangan mereka.
" Fina? Kamu sama siapa?" Pandu yang sudah membuka pintu mobil Aji kini terlihat menutupnya kembali demi melihat kekasihnya yang ada di sana.
Pandu memang saling berkirim pesan terkait kejadian ini kepada Fina tadi.
" Itu sama Dita, kalian mau kemana?" Fina bertanya dengan wajah kepo.
" Aku pinjam Pandu sebentar Fin. Bagus kalau kamu disini, tolong temani Wida dulu ya!" Ucap Aji serius kepada Fina. Ia merasa perlu pamit kali ini. Mengingat jika Pandu sudah ada yang punya.
Fina mengangguk, " Iya mas!"
" Ya udah aku pergi dulu ya?" Pandu mengusap puncak kepala Fina dengan lembut.
" Tunggu!" Tukas Fina membuat dua pejantan itu kembali mengurungkan niat mereka untuk masuk kedalam mobil.
CUP
Fina mencium bibir Pandu, membuat Aji langsung mendelik. "Sialan si Pandu!"
Oh andai Wida se ekspresif Fina.
.
.
" Elu tu ya bener- bener!" Aji mendengus seraya tak hentinya menggerutu sedari tadi.
" Iri lu?" Pandu terkekeh senang dan sengaja menggoda Aji.
Aji juga sedikit tergelak " Beda man! Punyaku masih malu-malu!" Sahut Aji.
Pandu mengangguk, itu benar.
" Elu udah yakin?" Tanya Pandu yang sepertinya tahu akan keputusan yang bakal di cetuskan oleh Aji.
Aji mengangguk, " Tega enggak tega harus tega Ndu. Manusia kayak bibiku perlu di kasih pelajaran biar jera. Bukan aku enggak peduli, tapi biar dia bisa merenungi kesalahan!"
Pandu terdiam. Jelas itu adalah pilihan yang sulit. Melaporkan bibinya sendiri kepihak berwajib. Buntut panjang dari perkara ini jelas akan panjang. Terutama soal hubungan keluarga antara Aji dan bibinya.
" Aku udah tahu kemana arah hidupku setelah ini Ndu. Setelah sekian lama, aku sekarang baru tahu tujuan hidupku untuk apa"
Aji tersenyum dengan tatapan menerawang demi mengingat senyum yang tersungging dari bibir Wida.
Definisi dari setiap orang punya masanya.
.
.
.
.