
Bab 194. Secuil rasa
.
.
.
...πππ...
Rarasati
Ia tak lagi mempedulikan Yudha yang sedari tadi menatapnya dengan sejuta tanya, kala ia kini lebih memilih beranjak dengan terburu-buru , usai menerima info terkait kondisi Bapak.
" Loh Ra, elu mau kemana?" Ucap Yudha yang dilanda kebingungan. Masih dengan rasa biji telornya yang terasa sedikit ngilu dan kebas.
Semoga si ucok enggak kenapa-kenapa.
Ia bergeming. Sama sekali tak mendengarkan ucapan Yudha. Ia hanya terfokus dengan ucapan perawat di ujung telepon tadi, yang kini mensugesti dirinya untuk cepat melesatkan diri menuju rumah sakit.
" Mbak, Bapak anda kondisinya menurun, anda dimana?"
Entahlah. Segala kesesakan di hatinya perihal Yudha dan Raffi yang ngerasai dirinya tadi, seketika menguap. Terganti dengan pikiran cemas kepada sang Bapak.
" Ra!!" Pria itu bahkan kini turut mengejarnya. Membuat wanita di depan itu melongo karena bingung.
Mengapa atasannya terlihat panik saat mengejar seorang calon nasabah?
" Ra!" Yudha berhasil mencekal tangan Rara setibanya merasa di depan parkiran kantor besar dua lantai itu. Membuat wanita itu menoleh kesal.
" Apaan Sih? Gue buru-buru sialan!" Maki Rara yang benar-benar tak bisa berpikir tenang. Pria itu terus saja menginterupsinya.
" Ada apa? Ada masalah?" Yudha masih keukuh ingin tahu persoalan Rara.
Wanita itu memilih diam sambil menahan sesak di dadanya. Bukan sifatnya menunjukkan kesedihan pada orang lain. Ia kini terlihat mengenakan helm, dan menaiki motor yang mirip dengan yang dimiliki Pandu. Memburu waktu yang seakan cepat saat berpacu.
" Ra! Rara!! CK!" Yudha menjambak rambutnya frustasi demi melihat Rara yang kini melesatkan motornya.
Wanita itu benar-benar kaku sekali pikirnya.
Yudha cemas, khawatir dan entah mengapa sangat merasa bersalah. Dari tempatnya berdiri yang sudah mirip dengan orang gila itu, ia kini menatap beberapa juniornya yang mengulitinya dengan tatapan penuh selidik dari desain pintu masuk kantor terkemuka itu.
" Apa lihat-lihat? Masuk sana!" Yudha berkacak pinggang seraya mendamprat empat orang yang terdiri dari dua wanita, satu pria gentle dan satu pria kemayu berambut licin yang kini bergidik takut.
Astaga, dasar Yudha!
.
.
...πΊπΊπΊ...
Kota X
***
Ambarwati
Ia beberapa hari ini sangat merasa kelelahan berkali-kali lipat. Bukan karena bekerja seperti di Kalianyar dulu. Melainkan karena mengimbangi gelora Bayu yang semakin hari semakin besar saja.
Ia tahu, ia tak akan mungkin bisa memberikan keturunan bagi suaminya itu. Namun ucapan Bayu, lagi-lagi selalu bisa membuatnya merasa bersyukur karena memiliki pria itu.
" Mbar, kalau aku ingin anak tentu aku tidak akan menikahi kamu. Kita ini udah bukan waktunya mikir itu. Kita harus mikir gimana biar cepat punya cucu, dan main sama cucu tiap hari!"
" Aku udah bisa memiliki kamu aja udah bersyukur banget. Jadi berhenti memikirkan hal yang kurang perlu. Sebab setelah ini, kita harus memikirkan Pandu!"
Dan hal itu benar adanya, Bayu yang pagi ini sudah terlihat rapi dan segar usai mandi, terlihat memeluk Ambar dari belakang, seraya mencium leher istrinya itu. Benar-benar pasangan yang tidak mau kalah dengan yang muda.
" Mas! Nanti ada mbok lho!" Ucap Ambar yang setengah terkejut dengan kemunculan suaminya.
Hari-hari yang berjalan terasa begitu membahagiakan. Bayu tak menyangka, di usianya yang memasuki renjana senja justru menemukan arti dirinya yang sebenarnya.
" Mas jadi ke tempat Tuan Guntoro nanti malam? Apa enggak keburu-buru?" Tanya Ambar sembari menuangkan susu tinggi kalsium untuk suaminya ke dalam gelas.
Di usia emas saat ini, mereka perlu memerlukan asupan nutrisi dan zat besi yang lebih bukan? Tentu mereka mau terus sehat agar bisa menemani anak cucu lebih lama lagi.
" Keburu-buru gimana sih Bu Bayu ini...mereka udah sama-sama mencintai. Orang tua juga udah setuju, ya kita sebagai pihak pria ,wajib hukumnya dong untuk silaturahmi terlebih dulu!"
Bayu tersenyum saat menerima segala susu dari istrinya seraya mengedipkan matanya dengan genit.
" CK!" Ambar mendecak sebal demi melihat suaminya yang selalu bertingkah penuh gombalan maut.
Bayu terkekeh, " Nanti kita hubungi anak-anak kalau kita udah ready. Pokoknya aku mau menyelenggarakan pesta yang meriah buat Pandu nanti. Sekaligus...aku ingin menunjukkan kalau Kijang Kencana sudah memiliki ibu suri yang baru!" Ucap Bayu dengan jumawa. Merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia.
.
.
Kediaman Guntoro
Kakak satu-satunya Fina kini telah kembali ke kota X semenjak berita penculikan yang di alami Fina, tersiar hingga ke telinganya.
Rama, ia meninggalkan kota X dengan kemarahan karena ia kesal kepada keluarganya. Singkat cerita, pernikahannya bersama pacarnya tak di restui oleh kedua orangtuanya.
Tuan Guntoro menolak lantaran ia memiliki penilaian lain, terhadap wanita yang sering di bawa Rama kerumahnya itu.
Rama memutuskan untu kawin lari setelah itu. Dan naasnya, wanita yang ia pilih justru mengkhianati dirinya saat kondisi keuangan mereka tengah tidak baik-baik saja.
Kini ia sadar, jika restu orang tua memang sangatlah penting bagi keberlangsungan kebahagiaan mahligai rumah tangga yang hendak dibina.
Rama pulang lantaran ia mendengar kabar jika papanya sakit keras. Dalam keharuan yang mendominasi, pria itu bersujud meminta ampunan karena tak mendengar ucapan kedua orang tuanya yang akhirnya membuatnya kini berteman dengan sesal yang tiada bertepi.
Namun orang tua tetaplah orang tua, sebesar apapun kesalahan seorang anak. Maaf selalu tersedia dengan stok yang berlimpah untuk anak-anak mereka.
Terhitung dua bulan sejak ia datang, ia kini sibuk mengurus pekerjaan papa disana. Semua ia jalani dari awal. Mengelola mall dan beberapa usaha kuliner yang dirintis oleh Tuan Guntoro.
" Kamu tumben berangkat Ram?" Tanya Nyonya Lidia yang kini mendorong suaminya untuk turut menikmati sarapan.
" Aku mau ke pelangi sari pusat dulu Ma. Fina barusan telpon, minta beberapa salinan data karyawan yang dimutasi kesana!"
Tuan Guntoro kini sudah berkondisi lebih baik dari pada sebelum Rama datang. Kehadiran anak laki-lakinya itu benar-benar membuat angin segar bagi kesehatannya.
" Papa kangen sama Fina Ram !" Ucap Tuan Guntoro menatap Rama dengan masygul.
Pria berusia 35 tahun itu tersenyum." Papa sendiri yang mengijinkan dia ke tempat Oma. Sekarang jangan bilang papa menyesal dengan keputusan yang papa buat!" Tutur Rama lembut.
" Papa enggak nyesel. Cuman...kangen. Kangen bawelnya dia. Kemaren Pandu sempat nelpon dan nanyain kabar Papa!"
" Papa senang. Wanita manja seperti Fina, bisa dapat pria seperti Pandu yang bisa ngemong dia!"
Rama turut tersenyum demi melihat kebahagiaan papa. Benar kata orang, masalah itu sebaik-baiknya menjadi pembelajaran dakam hidup.
" Papa jadi ingat mamamu dulu!" Ucap tuan Guntoro terkekeh. Membuat Nyonya Lidia menyebikkan bibirnya dan mencibir.
" Ram! Nanti kalau Fina menikah, Papa minta kamu yang jadi wali nikahnya nanti!"
Membuat Rama tersedak.
" Memangnya Fina akan menikah kapan?"
.
.
.