Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 199. Mendamaikan diri



Bab 199. Mendamaikan diri


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Kota X


***


Kediaman Guntoro


Dentang bel membuat mbak Waroh tergopoh-gopoh , lantaran sudah berbunyi lebih dari dua kali. Definisi dari ia harus lebih cepat lagi.


Malam itu semua orang masih berada di kamar mereka masing-masing. Pun dengan dirinya


CEKLEK!


" Selamat malam?" Sapa Ambarwati kepada wanita yang usianya hampir sama dengan dirinya itu.


Wanita yang sudah mengabdikan dirinya sangat lama itu terlihat mengingat- ingat wajah wanita yang kini berdiri bersama pria gagah itu.


Tak asing sekali.


" Selamat malam Bu...Ibu ini...!" Mbak Waroh sebenarnya ingat, tapi lupa dengan nama Ambar.


" Saya Bu Ambar. Ibunya Pandu!" Terang wanita itu dengan suara kalem. Mencoba memulihkan ingatan Waroh yang mendadak beku.


" Ya ampun...iya iya...astaga maafkan saya Bu. Maklum!" Wanita itu meringis seraya membuka pintu itu lebar-lebar.


" Monggo- Monggo! Ibu di dalam masih nyuapin bapak !"


Bayu dan Ambar saling menatap. Apakah kondisi calon besannya itu baik-baik saja?


.


.


Lidia


Ia tengah mengelap sudut mulut suaminya, saat Waroh datang sembari membungkuk hormat.


" Ada ibunya mas Pandu Buk, sama pria yang dulu pernah kemari itu!" Ucap Waroh senang dan heboh.


" Apa?" Lidia sangat terkejut namun senang. Tapi kenapa tidak bilang-bilang kalau mau datang.


" Aduh Pah....Kok enggak ada bilang-bilang kalau mau sambang kesini. Mama jadi enggak ada persiapan ini!"


" Gimana dong?" Ucapnya yang kini buru-buru membereskan piring dan gelas.


" Astaga roh. Yang kedatangan calon besan gupuh begitu!" Ucap Tuan Guntoro terkekeh.


.


.


Suasana yang tercipta antara empat manusia dewasa itu terbilang karib dan sangat hangat. Tuan Guntoro meskipun belum bisa berjalan normal dan tangannya sebelah masih sulit di gerakkan, namun pria itu bisa berbicara dengan normal.


" Kenapa enggak bilang to mbak... mas...aduh saya jadi enggak ada persiapan ini!" Lidia lagi-lagi merasa sungkan.


Ambar tersenyum, " Sudah jangan begitu... kami kemari niatnya mau silaturahmi dulu. Sekaligus mau nengok keadaan Pak Guntoro. Saya juga...baru ada di kota ini beberapa hari yang lalu!" Ucap Ambar sungkan.


Membuat Lidia dan sang suami saling menatap. Manten baru coy!


" Aduh ..akhirnya Mbak Ambar sama Mas Bayu bisa jadi satu keluarga ya. Saya turut senang" Ucap Lidia tulus.


" Jadi bagaimana Mas? Nyonya di kota ini.. anak-anak disana semua?" Tanya Tuan Guntoro mulai berkelakar. Merasa sangat senang dengan titian kehidupannya saat ini.


” Aman kalau itu. Jadi begini...niat kami malam ini selain silaturahmi, kami juga berniat ingin menyampaikan keseriusan kami yang mewakili Putra kami Pandu, untuk ke tahap yang lebih serius dengan Fina, putri Mas Gun!"


Tutur Bayu ramah dalam mengambil sikap.


" Ini maaf... kalau saya tidak bisa terlalu formal ini!" Disertai gelak tawa seluruh peserta obrolan itu. " Tapi intinya, beberapa waktu dekat, kami akan melamar Fina. Jadi gimana baiknya, kita bisa bicarakan bersama-sama nanti!"


Tuan Guntoro terlihat tersenyum senang. Pun dengan dirinya. Harapannya kedepan semakin terang benderang. Pandu pria baik, dan berbesan dengan Ambarwati yang kini telah di peristri Bayu, jelas merupakan keseimbangan yang pas.


" Saya tidak setuju!" Ucap Rama yang mendadak muncul dari bibir pintu belakang.


Membuat ke empat manusia itu tersentak dan mengernyit. Apa-apaan ini?


" Saya tidak setuju kalau sampai acaranya ditunda lagi!" Ucap Rama dengan senyum yang merekah. Membuat Tuan Guntoro gemas kepada putra sulungnya itu.


"Astaga..bikin spot jantung saja Ma..ma kamu ini!" Ucap Lidia mengelus dada.


" Ini kakaknya Fina!" Ucap Lidia memperkenalkan Rama kepada Bayu dan Ambar.


Dasar papa!


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


***Kalianyar


***


Sakti***


Ia hendak mengeluarkan motornya saat Yudha kini muncul di depan gerbang rumahnya. Membuat pria itu terperanjat.


" Kita perlu bicara!" Ucap Yudha dengan tatapan memohon kepada sahabatnya itu.


Membuat Sakti meneguk ludahnya sembari mengangguk keki. " Jangan disini, emakku ada di dalam!


Sebuah dudukan yang berada di sebelah Len voli tempat mereka dulu bermain, menjadi pilihan yang tepat untuk mengobrol.


Perselisihan itu, harus segera di pungkasi.


" Jadi...salah gue apa?" Yudha tak mau berbasa-basi. Ia cukup merasa resah dan hatinya tak tenang saat sahabatnya itu mendiamkan dirinya beberapa hari.


Sakti menghisap rokoknya dalam-dalam. Menatap langit kelam yang tanpa kemerlip bintang malam itu.


" Jadi alasan elu buat ngelarang gue deketin Rara karena elu juga sama dia kan?" Ucap Sakti tanpa menatap Yudha. Ia juga ingin mengeluarkan unek-uneknya.


Yudha kini menatap ke arah Sakti yang tersenyum kecut. Merasa kecewa dengan sikap Yudha.


" Tunggu dulu...elu udah salah paham ke aku Sak!" Yudha seketika menjadi resah dan gelisah.


" Salah paham?" Kini Sakti menatap Yudha dengan wajah tak sabar.


" Malam itu di mobil elu bilang jangan deketin Rara, tapi elu enggak berani bilang alasannya kan? Dan kemarin lusa, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri kalau elu berpelukan sama tuh cewek...Apa namanya hah?" Ucap Sakti mengangkat sebelah alisnya. Suaranya bahkan sudah sangat berbeda intonasinya.


Membuat Yudha menelan ludahnya. Dugaannya benar, Sakti telah salah paham dengannya.


" Oke...biar gue jelasin sekarang!" Ucap Yudha sambil melihat situasi. Ada banyak anak-anak muda yang malam ini hendak melakukan laga persahabatan voli di lapangan itu.


" Oh harus! Jelasin biar gue jelas!" Ucap Sakti terlihat marah.


Yudha terlihat menarik napasnya panjang- panjang, sebelum ia memulai berbicara.


" Saat itu, gue ngelarang elu deket dengan wanita itu karena satu hal. Dia adalah pencopet!" Ucap Yudha dengan suara penuh penekanan.


" Elu inget banget waktu iku!" Ucapnya kembali sembari mengingat saat pertama bertemu Rara.


Sakti masih bergeming dan tekun memasang telinganya betul-betul.


" Gue bahkan sempat adu jotos dengan tuh cewek. Gue sebagai sahabat elu, waktu itu enggak mau sampai elu salah milih orang Sak!"


" Kenapa elu enggak langsung bilang aja?" Sergah Sakti.


" Kalian berenam sejak di cafe udah muji-muji tuh anak terus. Kira-kira kalau gue ngomong saat itu juga, siapa yang kalah? Gue kan?"


Sakti mulai menurunkan tensi kemarahannya. Pria itu kini terlihat menghisap kembali batang sigaret kreteknya. Oh sial, ia benar-benar bertengkar dengan Yudha soal wanita.


" Gue mau ngejelasin ke elu, tapi sialnya urusan gue sama si Hesti lagi runyam- runyamnya waktu itu!"


Membuat Sakti gini bergeming. Apa dia telah salah langkah? Ia bahkan melupakan Yudha yang mumet karena di rundung persolaan dengan Hesti. Oh Shiit!


" Terus, kenapa elu bisa meluk tuh anak?"


Yudha menghembuskan napasnya panjang. Agaknya ia memang harus membeberkan semaunya agar Sakti percaya.


Ia akhirnya menceritakan semuanya kepada Sakti. Semuanya tanpa terkecuali. Bahkan soal Rara yang kini tengah berada di rumah sakit .


Membuat Sakti tercenung.


Suasana mendadak senyap. Yudha yang entah mengapa merindukan wanita itu usai menjadikannya topik perdebatan bersama Sakti. Perasaan yang seolah ingin bertemu dan ingin tahu kabar terbaru soal wanita itu semakin membara.


Juga Sakti yang menyesali dirinya yang rupanya masih belum lolos uji tentang nilai persahabatan. Ia merasa malu dengan dirinya sendiri.


" Tapi...elu sekarang enggak lagi suka sama dia kan?" Tanya Sakti polos.


Membuat Yudha salah tingkah detik itu juga.


.


.


.


.