
Bab 205. Step menuju hari bahagia
.
.
.
...πππ...
Widaninggar
Terik di rajut mega, udara di siang bolong itu membuat dirinya menepi di bawah pohon trembesi besar yang berada di depan rumahnya.
Sebuah bangku dari jalinan bambu yang di pak rapih, kini menjadi tempatnya duduk. Terasa nyaman, sebab semilir angin sedari tadi genit menyapa kulitnya yang bersih.
Wanita itu terlihat membuka sebuah paket, yang barusaja ia terima dari kurir ekspedisi si kilat. Ia dibuat bingung, pasalnya ia tak memesan apapun dalam waktu dekat ini , dan... tidak mungkin salinan akta cerainya akan tiba secepat itu.
" Apa itu Wid?" Ibu datang sembari membawa kacang panjang, yang berniat beliau siangi. Menyusul dirinya yang kini duduk santai diatas lincak.
" Enggak tahu Buk, sebentar Wida buka. Perasaan Wida enggak ada beli apa-apa. Tapi... alamatnya bener ini...!" Ucap Wida yang sibuk membuka satu persatu selotip bening yang mmebebat sebuah kotak berukuran lima belas sentimeter itu.
Semakin membuatnya penasaran.
Suprise!!!
Betapa bahagianya dia tatkala membaca nama Fina dan Pandu dalam undangan yang mirip sebuah buku itu. Undangan yang di lembar pertamanya berisikan foto Pandu bersama Fina dalam pose yang begitu intim. So sweet!
" Astaga Buk, ini dari Fina!" Ucap Wida memperlihatkan undangan itu kepada wanita tua di depannya, dengan mata berbinar.
" Fina yang dulu nolongin kamu itu?" Tanya Ibu turut antusias. Membuat ia seketika mengangguk mengiyakan.
" Acara di kota?" Tanya ibu lagi.
" Sepertinya iya Buk!"
" Tapi....kalau jauh sepertinya aku tidak bisa datang Buk!" Ucap Wida mendadak murung.
" Enggak bisa datang kenapa? " Tanya kang Darman yang mendadak muncul dari dalam rumah. Membuat ia dan Ibu langsung menoleh.
" Nih!" Tunjuk Wida kepada pria yang kini bekerja sebagai security di Departement store terkemuka di daerah itu.
TIN TIN
Suara klakson mobil membuat kang Darman batal untuk membuka bibirnya. " Nah, baru aja mau aku omongin, panjang umur dia!"
" Wida!!!"
.
.
Ajisaka
Pria itu telah berhasil memaksa Sukron, untuk membeli kain yang akan ia jadikan pakaian formal untuk ia gunakan di pesta pernikahan Fina dan Pandu nanti. Siapa lagi yang ia tuju setelahnya, tentu saja Wida.
" Wida!" Seru Aji dengan semangat yang membara, membuat Sukron menggelengkan kepalanya.
" Hadehhh bos bos, pirus kok jatuh cinta, angel wes angel!" Sukron menggerutu seraya membuka pintu mobil bosnya.
" Mas Aji?" Sapa Wida yang terlihat senang dengan kedatangannya. Membuat kang Darman kini bersidekap.
" Buk!" Ajisaka meraih tangan calon ibu mertuanya dan menciumnya takzim. " Kang!" Sapa Aji mengangguk sungkan.
Astaga, kalau bukan kakangnya Wida, udah abis lu!
" Baru aja kemarin datang kesini, udah mau nanya selesai apa belum seragamnya?" Cibir kang Darman yang sebal dengan Ajisaka yang pandai ngeles.
Aji meringis, " Oh enggak kang, ini...saya sama Sukron...mau jahitin baju buat acaranya si Pandu. Kamu...dapat undangan juga kan? Emmm...ini aku beliin kain buat kamu sama Damar!"
Ibu tersenyum senang, Aji terlampau baik. Pria itu tak hanya memikirkan Wida, tapi selalu mengutamakan Damar. Membuat Ibu Wida yakin dengan keputusannya.
Sedangkan Sukron dan kang Darman sama-sama memutar bola matanya malas. Mereka berdua kalau kasmaran ngalah-ngalahin ABG aja!
" Yang kemaren belum selesai mas, terus ini...!"
" Udah yang itu belakangan juga enggak apa-apa, yang penting ini di jadiin dulu. Pokoknya beresin yang ini dulu ya!" Aji senyam-senyum saat menatap Wida. Pun dengan wanita itu yang hanya membalas dengan anggukan kecil.
Sukron mencibir, " Turutin aja Bu...dari pada saya yang kena omel!" Membuat Wida terkekeh.
" Ya udah, aku ukur dulu yuk!"
" Boleh... Widsi Damar mana? Dia harus pakai sepatu yang sama kayak punya aku besok.
Mar... Damar!" Ucap Aji seraya berlalu. Meninggalkan Wida dan Ibu yang kini tertawa senang akibat ulah Aji.
" Sabar Yo Kron!" Ucap kang Darman menepuk pundak pria dengan rambut kuning itu.
.
.
Widaninggar
" Kenapa nggak beli yang udah jadi aja?" Tanya Wida seraya mengukur panjang lengan Ajisaka.
" Punya istri...eh maksudnya calon istri jago jahit kok beli. Baju buatan kamu bagus lagi Wid. Aku makin pede makainya!" Ucap Aji seraya tekun menatap wajah Wida yang kini lebih beraura cerah.
Wida menyebikkan bibirnya, " Gombal!"
" Serius, aku itu tipikal orang sulit loh Wid. Beli baju bagian ketiak aja enggak pas, enggak aku pakek biarpun mahal!"
" Lagian mana aja baju mahal kok ketiaknya enggak pas!" Dengus Wida. Membuat Aji meringis.
" Jangan marah lah Wid. Aku kangen sama kamu, aduh pingin peluk kamu..tapi kakang sama ibuk ada di depan, belum aman kalau ada mereka!" Ucap Aji resah.
" CK, Mas...!" Ucap Wida menatap tajam Aji yang sudah hendak merentangkan tangannya.
" Dikit aja Wid!" Aji memanyunkan bibirnya.
CUP
Aji mengecup sekilas bibir Wida dan membuat wanita itu langsung mendelik. Astaga, kalau Damar ngelihat gimana?
" Aman! Damar lagi sibuk main game itu!" Ucap Aji tersenyum dan seolah tahu, dengan apa yang dipikirkan oleh Wida.
Wida tersenyum. Astaga orang ini!
Kini ia beralih mengukur pinggang pria yang masih menatapnya penuh arti itu. " Aku mungkin enggak ikut mas!" Ucap Wida yang masih sibuk mencatat hasil pengukurannya.
" Enggak ikut? Kenapa?" Tanya Ajisaka dengan wajah tak setuju.
" Jauh! Lagian Damar...!"
" Enggak! Kamu harus ikut, nanti berangkat sama aku sama anak-anak. Ajak Damar, pokonya aku pingin pamer ke orang-orang kalau setelah ini, kau juga bakal jadi manten!"
" Tapi aku...!"
" Enggak ada tapi-tapian! Ini perintah!"
.
.
...πππ...
Kota X
***
Serafina
" Iya...pokonya dia sering ngisi lagu pas satnight di La Amor Cafe!..Iya..iya rambutnya pendek. Anaknya manis. Aku mau dia yang jadi wedding song nanti ya...Ok bye!"
Fina nampak antusias mempersiapkan segala sesuatunya. Ia kini terlihat memasukkan ponselnya kembali ke tasnya, sesaat setelah ia menelpon event organizer.
Fina jatuh cinta dengan suara Rara, ia ingin meminta EO yang ia sewa untuk mencomot penyanyi itu, dan membawanya ke kota. Ia akan membayar berapapun yang EO itu minta.
" Fin! Semua undangannya udah kamu kirim?" Tanya Mama yang pagi ini baru saja selesai menyuapi papa. Terlihat berjalan menghampiri Fina yang baru pulang dari mengurus administrasi.
" Beres ma, punya temen-temen Fina di desa sebagian Fina kirim lewat ekspedisi. Kalau Dita mah enggak usah di undang, dia udah aku minta standby dua hari sebelum acara!" Fina terkekeh geli. Semua nampak bahagia, pun dengan Rama.
" Gaya..udah mau jadi manten lu!" Rama datang seraya mencubit hidung adiknya. Merasa gemas.
" Ihhh, sakit tahu!!!" Fina memanyunkan bibirnya saat Rama datang menjahilinya.
" Cari yang baru sana makanya, cari yang bener-bener biar jadi manten beneran!" Ucap Fina setengah mencibir ke arah kakaknya.
" Cariin deh, tapi jangan yang kayak kamu. Cerewet , bandel, aku heran sama Pandu, kok dia mau ya sama elu. Jangan-jangan....!" Rama menjahili adiknya. Membuat hati Nyonya Lidia berbunga-bunga.
" Ihh mama! Kak Rama ih dasar?" Fina berlari mengejar kakaknya yang baru saja mencubit pipinya hingga linu.
Nyoya Lidia bahagia sekali, meski suaminya belum di karuniai kesembuhan, namun melihat dua anaknya ceria seperti itu, membuat hatinya limpah dengan syukur.
.
.
.
.