
Bab 49. Di Gubuk
^^^" Hanya insan biasa yang tak mampu menahan sulutan gelora!"^^^
.
.
.
...πππ...
Serafina
Ketika para anggota keluarganya telah lelap, ia mencukit jendela kamarnya lalu berjalan keluar seorang diri. Entahlah, ia memang suka kesendirian kala hatinya gundah.
Dita sulit sekali di hubungi. Ya mungkin saja sahabatnya itu juga sudah tidur, dan sengaja ingin meningkatkan kualitas tidurnya dengan jalan men-silent ponselnya.
Ia menemukan dudukan dari cor semen yang berjarak agak jauh dari kediaman neneknya, tempat itu menghadap ke persawahan. Ia menatap hamparan kelap-kelip lampu perumahan warga desa seberang, yang terlihat dari sana sembari mengisap rokok.
Topografi wilayah Kalianyar yang cukup tinggi, jelas membuat dataran yang lebih rendah dari daerah itu, terlihat dengan mudah lewat mata telanjang.
Kelap-kelip indah namun kontras dengan hatinya yang beku.
" Sebaiknya kita pulang saja. Nanti papa pikirkan cara biar kamu punya kesibukan!"
" Papa gak mau kamu makin buat masalah lagi di desa!"
Sebenarnya bukan itu yang terjadi. Sungguh, apa yang terjadi kepada ayu diluar kendalinya. Lagipula ia hanya berusaha menghindari Riko itu saja. Meski ia tak menampik jika menyesal telah menggunakan Pandu sebagai alat.
Namun, dari lubuk hati yang paling dalam. Fina merasa aman dan nyaman di dekat Pandu.
Ia tahu, semua itu hanyalah Alibi papa saja. Ia kadang heran dengan dirinya sendiri. Apa sebenarnya yang di mau oleh Papa. Mengapa hari ini A, besok B.
Entahlah, menjadi anak bungsu seolah menyulitkan gerak langkahnya.
Ia nanar menatap hamparan persawahan yang membentang sejauh mata memandang. Air matanya lolos kala mengingat Pandu yang kesal kepadanya. Ia membuang puntung rokok yang telah habis ia hisap.
Jujur, ada rasa yang tak bisa ia jelaskan saat bersama Pandu. Suka?
Atau sekedar simpati?
Atau bahkan empati?
Pandu pria baik. Dan dia?
Oh no! Bahkan hal paling berharga darinya pun sudah di renggut oleh Riko. Jadi pertanyaannya, kenapa sekarang ia begitu memikirkan Pandu. Dan kenapa mendadak musti insecure kala Pandu membuat bentangan jarak dengannya?
Fina menangis, terus menangis. Hidupnya tak seperti yang dia inginkan. Terhampar begitu banyak warna kelam sisi dirinya.
Merasa di sudutkan kenyataan? Pasti!
Menuntut dirinya dan parahnya ia tak sanggup melawan. Ia membutuhkan Pandu saat ini.
Dan saat ia terus larut dalam tangisnya, suara berat seseorang terdengar.
"Sudah malam kenapa kamu disini?"
.
.
Pandu
Ia masih memiliki hati nurani rupanya kepada Fina. Bagaimana tidak, lagi-lagi wanita itu kembali bertindak impulsif. Untuk apa malam-malam berada di tempat itu. Pikir Pandu tak habis-habisnya.
Sialnya, ia malah salah fokus kala menatap pakaian dalam Fina yang tercetak ketat kala air hujan mengenai tubuh sintal wanita itu.
Ia adalah pria dewasa yang normal bukan. Dan melihat hati tersebut, jelas tak baik untuk adrenalinnya.
Hujan benar-benar seperti di tumpahkan dari langit. Angin juga berhembus begitu kencangnya. Seolah semua mahluk di muka bumi saat itu pasti tidak akan ada yang berani untuk keluar rumah.
" AAAAAAAAA!"
Suara Fina yang menjerit membuat Pandu kembali ke dalam. Ia menatap Fina yang telah mengenakan kaosnya yang terlihat kebesaran di tubuhnya dengan wajah ketakutan. Seekor kalajengking kecil rupanya turut berteduh di tempat itu.
Pandu mengusir hewan itu keluar dengan menggunakan sebatang kayu milik petani yang tersimpan di dalam gubuk itu. Fina hanya menatapnya bingung, mengapa Pandu tak melenyapkan hewan itu saja.
" Kenapa tidak di matikan saja, itu kan bahaya?" Fina masih celingak-celinguk melihat hewan beracun itu.
" Sama-sama makhluk hidup yang cari hidup, cari makan!"
" Kita tidak tahu, kebaikan mana yang bakal di ganti menolong kita kala kesulitan datang!" ucap Pandu seraya melempar kayu ke pojokan gubuk.
Fina tertegun mendengar ucapan Pandu. Pria bertato di depannya itu mengapa terlihat begitu penuh kasih.
.
.
Mereka berdua kini duduk bersila beralaskan sebuah tikar usang yang terbuat dari anyaman serabut tanaman yang sudah usang. Berdua menatap pintu yang tertutup dengan perasaan canggung.
Kecanggungan menyeruak, tak seorangpun berniat untuk angkat bicara. Hanya terdengar riuh suara hujan yang semakin deras. Sayup-sayup juga terdengar Guntur yang disertai kilatan cahaya dari langit menjadi pengiring cuaca malam itu.
Fina melirik Pandu yang berwajah tanpa ekspresi. Entah apa yang di pikirkan oleh pria yang rambutnya basah karena hujan itu.
" Kamu gak dingin?" Fina akhirnya memecah kesunyian itu dengan satu pertanyaan bodoh.
" Dingin!" Sahut Pandu datar.
Tentu saja dingin, pertanyaan macam apa itu. Pandu baru saja kehujanan. Tak ada api atau barang sejenis untuk menghangatkan tubuhnya, di tambah bajunya juga sudah ia kenakan dan sekarang dia malah mengajukan pertanyaan yang tentu saja ia sudah tahu jawabannya.
Damned!
" Kau masih marah kepa...?"
" Sudahlah Fin, aku tidak sedang ingin membahas hal itu!" sahut Pandu.
Fina menelan ludahnya dengan canggung. Ada kilatan kekecewaan di mata Pandu.
Seketika suasana kembali hening.
" Maaf!" ucap Pandu merasa telah melontarkan kata dengan nada tinggi.
Fina tersenyum " Aku yang minta maaf!"
"Kamu tahu Ndu, aku banyak belajar kehidupan dari kamu.... dari Ayu....dan dari ibu kamu!"
Pandu masih duduk berselanjar sembari menempelkan punggung polosnya ke dinding kayu persis di sebelah Fina. Diam mendengarkan ucapan Fina.
" Hidup yang aku kira penuh kebosanan, nyatanya adalah hidup yang diinginkan beberapa orang. Termasuk Ayu!" Fina menatap Pandu yang masih menatap nanar pintu gubuk yang lusuh itu.
" Baguslah kalau kamu sudah menyadari!"
Fina mengangguk setuju.
" Nyatanya kekayaan, tak selalu memberikan kita kebahagiaan!" Fina tersenyum kecut. Ia ingat jika hidupnya saat ini sama sekali tak memiliki tujuan. Kosong tak terarah. Apalagi ia yang mendengar saran gila dari Oma.
Jelas membuatnya hidupnya bak kiamat.
" Aku benar-benar minta maaf sama kamu Ndu. Aku ingin perpisahan kita tak meninggalkan jejak buruk, meski aku tahu semua yang terjadi karena..."
" Hidup hanya soal takdir!" sela Pandu membuat Fina tertegun.
" Sudah jalannya Ayu seperti itu...!" kini Pandu yang tersenyum kecut. Menatap Fina dengan tatapan sendu.
" Sebenarnya aku sudah tidak mau berurusan denganmu lagi. Circle pertemanan kita sudah berbeda. Dan persetan untuk mantan pacarmu itu. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan dari orang-orang macam mereka!" Pandu mengarahkan pandangannya kembali ke arah Pintu usang yang tertutup itu.
Fina tertegun demi mendengar apa yang di utarakan Pandu. Jelas kalimat itu mengandung kadar kemarahan
" Aku ingin hidup seperti saat belum mengenalmu dengan segala persoalanmu!"
Fina tercekat, apa Pandu benar-benar semarah itu?
" Itu artinya kau masih marah!"
" Marah atau tidak biarlah menjadi sesuatu yang kusimpan sendiri!"
Entah mengapa Fina dibuat tertunda muram oleh kalimat itu. Fina menangis oleh ucapan Pandu itu. Fina tak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Pandu terlihat mengeraskan rahangnya sembari menelan ludahnya.
DUUUAAAAAR!
Petir tiba-tiba menggelegar membelah angkasa. Membuat Fina terlonjak kaget dan langsung menutup telinganya. Fina begitu ketakutan.
Tubuh Fina bahkan sampai bergetar.
DUUUAAAAAR!!!
Petir yang menyambar sesuatu itu jelas terdengar sangat keras. Suaranya begitu memekakkan telinga.
" Fin, kamu kenapa?" Pandu menangkap gelagat aneh Fina, pria itu kini cemas demi melihat Fina yang ketakutan.
Fina menggelengkan kepalanya sembari terlihat begitu ketakutan. Fina bahkan menangis, tubuhnya gemetar.
" Fina, kamu kenapa jawab aku Fin?" Pandu mengguncang tubuh Fina.
" Aku takut petir Ndu!" Fina begitu gemetaran. Wajahnya bahkan pias.
Cuaca malam itu benar-benar buruk sekali. Pandu dengan gerakan cepat langsung memeluk Fina yang terlihat begitu ketakutan. Ia teringat dengan Ayu yang juga takut kala mendengar suara Sambaran petir yang menggelegar.
Sial!
" Sudah tenanglah!" Pandu merengkuh Fina kedalam dekapannya. Rasa khawatirnya lebih besar dari pada rasa kecewanya kepada Fina.
Dan itu nyata adanya.
Fina bahkan bisa menghirup aroma tubuh Pandu yang khas. Terasa mengusik dirinya. Tak menyangka jika pria yang baru saja melontarkan nada kemarahan kepadanya, kini justru terlihat begitu mencemaskan dirinya.
Ya, Pandu memeluk Fina bahkan saat ia baru saja mengucapkan kalimat sengit kepada wanita itu.
Sialan!