Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 133. Hutan Antaboga



Bab 133. Hutan Antaboga


^^^" Pijakan kaki yang terasa layu, saat aku tak bersamamu. Jadi... tolong kembalilah kepadaku!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Widaninggar


Ia meronta sekuat tenaga meski ia tengah berada di bawah ancaman pisau Mas Pram. Ia juga masih sempat menoleh ke arah Bapak yang terseok-seok kala mengejarnya. Wida menitikan air matanya kala melihat wajah Bapak yang kini terlihat bengkak usai di hajar oleh menantu durhakanya itu. Benar-benar biadab!


" Mas lepas mas!" Wida memberanikan diri untuk melawan.


" Sakit!" Ia meronta karena cekalan tangan Pram yang terlalu kuat.


" Ikut! Atau kamu aku beleh ( gorok) disini!" Wida mendelik mendengar ancaman mas Pram. Pria itu benar-benar bukan manusia!


" Sini kamu layani aku dulu, kurang ajar kamu ya! Gara-gara kamu kabur aku di cari anak buahnya si Joni!"


Mas Pram terlihat masuk ke mobil terlebih dahulu, sejurus kemudian pria itu menarik paksa Wida agar turut serta masuk. Ucapnya ngelantur, jelas efek dari alkohol yang selalu pria itu tenggak tanpa aturan waktu.


BRAK!!!


KLEK!!!


Suara pintu yang di tarik Mas Pram terbanting keras, lalu sejurus kemudian pria itu terlihat menekan tombol indikator lock door autimatic. Praktis kini Wida tak akan bisa keluar lagi dari mobil itu.


Wida bahkan bisa menghirup aroma alkohol yang membuatnya mual, pria yang terlihat berwajah merah , saat pria itu membungkuk kala menarik pintu itu.


" Kau memang binatang mas!" Umpat Wida yang sudah geram dengan tingkah buruk suaminya itu. Wanita itu benar-benar berada di ujung lelahnya.


" Ngomong apa kamu hah?"


PLAK!


Pipi tanpa nodanya itu terasa berdenyut dan kebas dalam waktu bersamaan. Tangan kekar itu telah berkali-kali mendarat kasar di wajahnya, namun kali ini ia seolah tak bisa merasakan apa-apa. Hanya ada rasa pedih dan kekecewaan yang terlalu dalam.


Bersamaan itu pula, ia melihat Bapak yang menggedor kaca mobil dengan panik, di susul beberapa orang tetangga pria yang terlihat bangun dengan wajah pias. Sebab baru melek mereka mendapatkan suguhan yang begitu tidak wajar.


Wida menangis. Ia malu dengan semuanya.


" Wida!!" Bapak terlihat berwajah cemas dari luar. Keriput di wajah pria itu makin membuat dadanya sesak. Harusnya ia bisa memberikan kebahagiaan untuk orang tuanya itu.


" Minggir goblok!" Maki Mas Pram kepada para orang yang sudah mengerubungi mobilnya. Pria itu kini terlihat memasukkan perseneling dengan kasar. Sejurus kemudian pria itu menginjak gas tanpa memperdulikan teriakan para pria dan orang-orang yang berjuang menghentikan laju mobil itu.


Mas Pram melakukan mobilnya dengan ngawur.


" Hey!!! Pria gila!!" Umpat salah seorang pria dengan motor besar yang nyaris saja tertabrak oleh mobil.


.


.


Yudhasoka


As usually, ia tiap pagi pasti mengantarkan pesanan tahu ke pelanggan mamaknya. Definisi dari anak berbakti. Pria cuek itu lebih memilih mengantarkan pesanan tahu ke warung-warung kelontong di kawasan perkampungan, ketimbang mengantarkan ke pasar dimana Bapaknya berjualan sejak subuh.


Alasannya, ia gengsi jika terlihat oleh cewek-cewek yang biasa ia kencani.


Toh dia masih jam delapan masuk kantornya. Meski sikapnya kerap acuh tak acuh, namun baginya mamaknya tetap merupakan orang yang wajib ia taati. Lengkap beserta segala titahnya.


Namun, saat hendak pulang. Ia yang pagi itu melewati kawasan RT 05, di kejutkan dengan mobil yang ngawur dan terlihat di kerumuni oleh banyak orang.


"Hey!!! Pria gila!!" Umpatnya kepada mobil Xenia yang nyaris saja membuatnya jatuh ke parit. Anjay!


Ia sempat melihat wanita yang terlihat berwajah cemas, yang berada di samping ruang kemudi bersama pria gila pengendara mobil Xenia hitam itu.


" Itu kan?"


" Wida!!!" Belum juga ia bisa memecahkan kebingungannya, ia kini melihat pria yang tak asing.


" Wid!!!" Teriak pria itu lagi berlari ke arahnya karena mengejar mobil sialan itu.


Pria itu berwajah lebam, sedikit bengkak dan ronanya merah. Langkahnya tertatih. Suaranya juga sudah serak.


" Pak itu kan?" Ia sempat menoleh kembali ke arah mobil yang kini telah menjauh dari lokasinya berhenti. Usai pria tua itu berlari melewati dirinya.


" Pak! Ada apa pak?" Tanyanya kepada para pria yang ikut berlari mengejar pria tua itu, dengan maksud untuk menyuruhnya berhenti. Sebab laju kuda besi itu tidak akan pernah terkejar oleh sepasang kaki uzur milik Pak Atmo.


" Iku mas!" Bapak-bapak itu terlihat ngos-ngosan.


" Wida, anaknya Pak Atmo di gowo pekso bojone mas, geger geden mas. Bojone nggowo lading, kae morotuone di sampluki!"


( Wida, anaknya pak Atmo di bawa paksa suaminya mas, bertengkar besar mas. Suaminya bawa pisau, itu mertuanya di tempelengi!"


Seketika dada Yudha bergemuruh, dan entah mengapa ia langsung menstarter motornya lalu memutar motornya kasar. Ia berniat mengejar mobil itu sebisanya, tiba-tiba terlintas satu orang yang wajib ia beri info.


Ajisaka.


.


.


Ajisaka


Ia berlari sejak hari masih gelap tadi. Sejak semalam ia benar-benar tersugesti dengan ucapan Juned. Membuatnya terjaga.


"Lek pas enek masalah rasane ra enak mangan, turu ora kesirep, megawe ora pokus!"


( Kalau pas ada masalah rasanya enggak enak makan, tidur enggak nyenyak, kerja enggak fokus)"


Dan benar saja, ia malah terjaga demi menunggu balasan Wida yang sebenarnya akan mustahil terjadi. Kenapa jatuh cinta tidak semenegangkan Pandu bersama Fina? Pikir Aji dengan polosnya.


Kaos abu-abu polos yang terlapisi jaket parasut, membungkus tubuhnya yang liat dan terlihat basah oleh serapan keringat. Ia berada di sebuah jalan yang masih lengang pagi itu, dari tempatnya berdiri ia bisa melihat horizon yang mulia mengintip di celah pegunungan gunung Gaung itu.


Terasa menyejukkan.


Ia kini melakukan gerakan umum untuk pendinginan usai berlari. Berharap tubuhnya bugar dan stres dalam otaknya menghilang. Ia menghindari alkohol dulu untuk sementara. Terciduknya dirinya tempo hari oleh Wida, jelas mengindikasikan jika wanita itu tak menyukai pria peminum.


Sangat berbeda dengan Fina yang antrimainstream banget.


🎢 " Am i the payphone trying to call home...


Raungan suara Adam Levine sukses membuat gerakannya berhenti. Ia membuka tas pinggangnya, lalu mengambil benda pipih yang tengah meraung-raung itu.


" Yudha? " Ia mengerutkan keningnya kala melihat Yudha yang menelponnya sepagi ini. Ada apa lagi?


" Hal...!"


" Ji lu dimana...duh Ji gawat!"


" Gawat kenapa?" Ia kini memasang telinganya betul-betul dan alisnya saling bertaut. Wajahnya benar-benar tak sabar menanti info.


"..........."


" Hah?" Aji seketika merasa dirinya bak tersambar petir walau tak ada hujan apalagi mendung.


.


.


Yudha kini mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi, Aji yang berada di belakangnya terlihat sibuk menelpon beberapa anak buahnya.


" Kron, bangun kamu! Minta anak-anak buat standby di Pos gapura RT 04. Kalau ada mobil Xenia Hitam kalian cegat dulu, gimana caranya!"


Ia juga meminta Dino dan Yasir untuk melakukan hal yang sama, di wilayah RT yang berbeda. Berharap mobil itu tak akan bisa lolos dulu. Mengingat jalan menuju ke luar hanya bisa melalui dari tiga RT itu.


Lagipula, anak-anak muda disana sudah sangat akrab dengan empat sekawan itu.


"Tadi ke arah Barat Ji pas aku lihat. Kamu sih di telpon tadi nomer mu pakai acara gak aktif dulu!"


" Aku jadi nyusul kamu deh!" Yudha menggerutu karena kini mereka kehilangan jejak.


" Nyalahin aku lagi!" Aji kini tersulut. Hatinya tengah tegang dan Yudha malah memarahinya, oh astaga.


Saat mereka sibuk berdebat, Yasir menelpon bosnya itu.


" Ya Sir, gimana?" Aji bahkan harus memasang telinganya betul-betul sebab terpaan angin yang cukup kencang agaknya cukup mengganggu. Yudha mengemudi motornya dengan kecepatan edan.


" Saya udah bilang anak-anak bos. Sejak tadi pagi mereka gak ada lihat Xenia hitam lewat, tapi barusan saya lihat Xenia hitam lewat depan rumah saya menuju ke barat!"


"Apa?"


"Yakin kamu?" Tanya Aji gusar.


" Yakin bos, itu Karyo sama yang lain kan tidurnya di pos semalam. Tadi waktu bos telpon saya saya langsung telpon mereka. Kalaupun lewat sana, mobilnya jelas gak mungkin bisa cepat, lawong jalannya banyak polisi tidur!"


" Kalau jalan lain, gak mungkin lolos. Usum ( marak) maling itu linmas gak mungkin juga gak ngecek bos!"


" Ini anak-anak malah pada standby di tiap perempatan karena saya info ini. Ada apa sih bos?"


.


.


Pramono


Ia melarikan diri saat anak buah Joni hendak menangkap dirinya. Tentu saja mereka tak mau rugi, sebab Wida tengah kabur. Meski Joni kini mendekam di hotel prodeo bersama Raditya, namun para anteknya masih gencar menjalankan bisnis garam yang menggurita itu.


Ia terkejut saat mendapat kiriman surat dari kantor pos yang berisikan surat panggilan mediasi dari pengadilan tempat dimana ia dan Wida dulu melangsungkan pernikahan.


Wida menggugat cerai kepadanya.


Tempat itu ada di kabupaten dari desa Kalianyar yang berada di timur. Merasa dirinya tak aman di kota, ia lantas mencari istrinya yang kabur itu untuk melampiaskan amarahnya. Berniat akan mengambil Damar.


Ia yang kerap kalah judi terpaksa menerima pinjaman dengan bunga yang mencekik. Alhasil, ia yang tak pernah bekerja dan selalu kalah itu kerap melampiaskan kekesalannya kepada Wida. Hingga suatu saat, ia yang tak tahu lagi bagaimana cara membayar, akhirnya mau menerima tawaran Joni yang melihat body istrinya yang memenuhi kriteria untuk dijadikan budak naf su pria hidup belang.


Hati Pram telah dibutakan oleh hingar bingar dunia yang melenakan. Pria itu tanpa sadar tengah menggiring dirinya sendiri menuju petaka.


Pram yang otaknya sudah tidak waras itu, dengan entengnya menyetujui. Benar-benar pria gila.


" Mas, mau kemana kita?" Wida terlihat marah dan panik, pasalnya kenapa mobil Pram malah menuju ke arah antaboga. Sebuah hutan yang ada di Kalianyar.


" Mau kemana katamu? Ya mau meminta jatahku lah. Layani aku dulu disana!" Pram terlihat tertawa. Pria itu tak senagaja melihat rok Wida yang tersingkap, membuat birahinya naik seketika.


Pram tentu tidak akan berani masuk ke hotel. Sebab takut jika tertangkap oleh anak buah Joni. Singkat kata pria itu merupakan buronan.


" Biadab kamu mas!" Wida memukul lengan suaminya yang tengah menyetir, dan terlihat sudah memasuki kawasan hutan Pinus.


" Diam kamu! Aku bunuh kamu kalau berani ngelawan!" Pram terlihat melotot ke arah Wida yang terlihat ketakutan.


Wida terlihat menatap setir bundar yang tekun di pegangi oleh suaminya itu sesaat setelah dirinya di bentak. Sejurus kemudian timbul pikiran jika lebih baik ia mati bersama pria itu.


Setidaknya, jika pria itu mati Damar pasti akan bebas. Pikirnya sudah gelap, ia lelah dengan hidupnya.


" Lebih baik kamu juga mati! Laki-laki gak berguna kayak kamu memang seharusnya mati dari dulu mas!" Wida mengacaukan kemudi itu.


Kini, Pram terlihat saling berebut setir bundar itu bersama Wida. Suasana berubah menjadi kacau.


Mobil itu kini berjalan zig-zag, jalan berbatu semakin membuat mobil itu kehilangan keseimbangan.


" Lepas! Wanita gila!" Pram susah payah melepaskan tautan tangan Wida yang mencoba merusak keseimbangan mobil itu.


Salah sedikit saja, jelas mereka akan terlempar ke jurang.


BRAK!!!


" Aaaa!!"


Wida bahkan terhuyung dan tubuhnya terbanting ke arah pintu mobil dengan keras kala mobil itu telah kehilangan kendalinya.


Mobil yang kehilangan keseimbangan itu, kini menabrak sebuah pohon Flamboyan besar yang berasa di bibir jurang.


BRUUUAAAKK!!!


Melihat Pram yang bingung dan tengah memijat keningnya yang baru saja terbentur setir itu, dengan cepat ia menekan tombol unlock, lalu dengan sekali tarikan Wida membuka pintu dan langsung keluar.


Kini ia bingung harus kemana.


" Hey!! Kembali kau wanita sialan!!!" Teriak Pram yang masih menahan sakit di bagian tukang hidungnya saat melihat wanita itu telah berada di bibir pintu mobil.


Tubuh Wida bergetar hebat, namun dengan sekuat tenaga ia berlari masuk kedalam hutan dan berlari secepat mungkin.


Gelapnya hutan yang masih pagi itu, tak menggoyahkan Wida sedikitpun. Wida berlari membelah belantara tanaman pakis yang lebat. Menuju ke dalam hutan yang sama sekali belum pernah ia jajaki.


Entah hidup atau mati setelah ini, yang jelas ia harus berlari dan kabur. Ia tak akan pernah sudi untuk di setubuhi dengan pria berjiwa binatang macam Pram. Tidak akan pernah!!!


" Hey, berhenti kau wanita sialan!" Pram terlihat turun dan kini turut menapakkan kakinya ke semak tanaman pakis yang lebat. Membelah rumput tebal guna mengejar Wida yang telah kabur darinya.


.


.


.


.


.


.


Hari Selasa nih, boleh dong minta vote rekomendasi nya πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ€­πŸ€­πŸ€­