
Bab 154. Satu pembuktian
.
.
.
...πππ...
...Jika kau buka isi dadaku ini, kau pasti akan tertawa karena melihat ribuan percikan kembang api yang meledak-ledak....
...Aku bahkan mengira jika aku masih bermimpi saat ini....
...Usia kita mungkin sudah paruh baya, namun untung saja kita sudah tidak hidup di jaman Siti Nurbaya....
...Aku menyukaimu sejak dadaku terasa tak beres saat menatap wajahmu yang kaku namun syahdu. Oh Ibu Pandu, terimakasih karena sudah mau menerimaku....
...Kau akan jadi istriku...
...Dan aku akan jadi suamimu...
...Benar-benar tidak sabar untuk to be continue...
...~Bayu Arsyanendra...
.
.
" Apa?" Suara geram dari bibir seorang wanita menggetarkan tubuh pria yang kini tertuduk lesu di hadapan wanita itu.
" Benar Buk, saya dengar sendiri malam itu Mas Habibi di telepon sama Pak Aji!"
Arninggara geram. Kenapa dia bisa kecolongan seperti ini. Sejurus kemudian ia menghubungi Desinta, berniat mencari rumah Pak Atmojo yang baru.
" Aku sudah tidak bisa bersabar lagi!"
Ini tidak bisa dibiarkan, jika Ajisaka sampai menikah dengan wanita lain yang bukan berasal dari referensinya, jelas ia tak akan mendapatkan apa-apa setelah ini.
.
.
Widaninggar
" Terimakasih banyak Buk, jadi Damar masuknya lusa?" Tanya Wida kepada guru yang terlihat sabar itu.
" Nggih Bu, kebetulan besok kami meliburkan anak-anak dulu karena kami ada rapat ke kantor Dinas. Nanti kami akan hubungi Bu Wida lagi nggeh!"
Wida mengangguk paham. Sekolah ini memiliki guru yang begitu ramah.
Wida berpamitan pulang usai menyerap segenap penjelasan yang begitu baik dari guru tadi. Kini, Wida berniat membelikan sesuatu untuk Damar.
Makanan enak mungkin.
" Buk, itu kayaknya om yang punya kebun naga!"
" Kenapa ada disini ya Buk?"
Damar menunjuk ke arah pria yang kini sibuk berbicara dengan kepala sekolah TK baru Damar. Pria yang jelas ia kenali.
Wida mendesis demi melihat Ajisaka yang terlihat ngobrol serius dengan guru TK tersebut. Pria itu memakai sepatu semi boots, celana jeans denim, kemeja flanel warna biru yang menutupi kaos putihnya. Aji terlihat gagah sekali.
Tapi, untuk apa pria itu datang kesana?
" Om itu ganteng ya Buk?"
" Aku kalau lebaran besok pingin beli baju kayak om itu!" Tukas Damar yang berjalan sambil menggenggam erat tangan Ibunya.
" Damar!" Ia menatap putranya yang mulai ceriwis.
" Ah, Wid kamu sudah selesai?" tanya Aji yang melihat Wida berjalan menuju parkiran motornya.
Wida tersenyum menatap kepala sekolah TK tersebut. Namun sedikit mengabadikan Aji yang riang menatapnya.
" Baik Pak Aji, saya permisi dulu ya. Besok kami harus rapat dulu ke Diknas, jadi Damar bisa mulai belajar lusa!"
" Hah? Memangnya apa yang mereka bicarakan tadi?"
" Terimakasih banyak Bu!" Aji dan guru berhijab dengan tubuh sedikit tambun itu terlihat saling berjabat tangan. Membuat Wida memicingkan matanya.
Jelas ada sesuatu.
" Halo Damar? Masih ingat Om?" Sapa Aji kepada bocah Lima tahun itu.
Damar mengangguk, tersenyum memperlihatkan giginya yang gigis dan menghitam.
" Ingat Om, Om yang punya pabrik sama kebun buah naga kan?" Ucap Damar jujur. Lebih beraura luwes ketimbang ibunya.
Aji tersenyum ramah sambil mengusap lembut kepala Damar.
" Mas kok bisa disini?" Tanya Wida yang sebenarnya canggung. Ya..walau semalam mereka larut dalam dosa terindah.
" Sengaja nyari kamu!"
" Kron!" Ucap Aji memanggil nama antek setianya itu.
Wida mendelik, mau apa mereka berdua.
" Kunci motor kamu mana?" Tanya Aji membuat Wida melongo. Untuk apa menanyakan kunci motor.
" Mau apa mas? Aku sama Damar mau pulang!"
" Mana sini!" Aji mengatungkan tangannya meminta benda itu. Mengabaikan wajah Wida yang terlihat keberatan.
" Mau om ajak jalan-jalan nggak? Ke tempat yang ada mandi bolanya!" Ucap Aji kepada Damar. Memberikan sebuah penawaran dengan yang jelas akan mendatangkan keuntungan untuk dirinya. Benar-benar pria licik.
" Engg..!" Ucapan Wida menguap dan tersahut oleh ucapan Damar yang penuh kadar kegirangan tinggi.
" Mau..mau!" Ucap Damar antusias.
" Buk mau ya? Damar enggak pernah mandi bola. Om ada game yang naik mobil-mobilan juga om?" Damar seperti mendapat jackpot cuma-cuma pagi itu. Terlihat gembira.
Aji mengangguk penuh semangat. Sejurus kemudian ia menatap Wida yang terlihat keberatan.
" Tapi...!" Damar terlihat menundukkan kepalanya muram. Membuat Aji mengerutkan keningnya.
" Kenapa?" Tanya Aji cemas.
" Ibuk bilang Damar mau diajak pergi kalau yang jahit baju ke Ibuk udah bayar ongkosnya. Lain kali aja ya Om!"
" Damar nggak punya sangu!"
Hati Aji bagai teriris sembilu. Nyeri demi melihat Damar yang sebegitu pengertiannya kepada ibunya.
Aji berjongkok, menyamakan tingginya dengan tinggi bocah TK itu.
" Hari ini Om mau traktir Damar sama Ibuk!" Aji tersenyum menatap Damar. Mengusap lembut pipi gembul itu.
" Nraktir itu apa Om?" Tanya Damar dengan wajah bingung.
" Nraktir itu, Damar jalan-jalan gratis. Alias enggak bayar gimana?" Tawar Aji yang membuat Wida merasa resah karena malu dengan Sukron.
" Om yang bayarin?" Tanya Damar polos.
Aji mengangguk seraya tersenyum. Membuat bocah itu sangat tergiur akan penawaran menguntungkan dari pria keren di depannya itu.
" Mau ya Bu? Sekali ini aja. Damar kepingin!" Rengek Damar menarik ujung baju Ibunya. Merasa tak mau menolak rezeki yang sudah di depan mata.
Hati Wida bimbang. Di satu sisi ia memang belum pernah membawa putranya ke pusat permainan anak-anak seperti pada umumnya. Namun, ia takut jika banyak pasang mata yang melihat dirinya bersama Aji nanti, akan membuat semuanya makin runyam.
" Boleh ya Buk?" Wajah Damar begitu mengiba, oh astaga. Wida terlihat menimbang-nimbang. Ah sudahlah, demi Damar. Lagipula, ia memang belum pernah mengajak anaknya itu ke play zone.
Ajisaka seketika langsung mengangkat tubuh bocah itu, lalu menggendongnya.
" Ayo boy! Kita kemon!" Ajisaka mengangkat tubuh Damar tinggi-tinggi, membuat bocah itu tergelak bahagia. Sungguh dari kesemua itu, membuat Wida menarik senyuman. Jelas ia bahagia jika melihat Damar bahagia seperti itu.
" Kron, ambil kuncinya ke Bu Wida. Bawa motornya pulang ya. Kamu pulangnya terserah gimana caranya!"
Sukron mendelik. Tuh kan bener, jelas bosnya itu ada- ada kalau sudah mengajaknya ke tempat asing. Ujung-ujungnya, pasti si Sukron yang kena getahnya.
Sekarang terbukti kan?
Dasar si bos!
" Beres bos!" Sahut Sukron yang ogah mendebat pria sak karepe dewe itu.
" Maaf ya mas Sukron, saya terimakasih banyak sudah mau bawa motor saya!" Wida menyentuh pundak Sukron karena tak enak hati.
" Oh, enggak apa-apa buk. Sudah tugas saya?" Sukron tersenyum ramah.
" Saya setuju deh kalau si bos dapat Bu Wida. Kayaknya orangnya sabar banget. Biar bisa ngeredam si bos kalau nesu- nesu!" Sukron terkikik dalam hati.
" Kuncinya Bu?" Ucap Sukron pada Wida yang melamun demi melihat interaksi dia laki-laki lintas usia itu.
.
.
Ajisaka
Persetan dengan orang lain. Asal tidak mengganggu, itu urusan perut masing-masing. Ia berniat mengantar Wida tadi. Semalam ia ingat jika pagi ini, pujaan hatinya itu akan mengantar Damar daftar sekolah.
Tak mau kehilangan kesempatan lagi.
Namun, ucapan Pak Atmojo yang mengatakan jika Wida telah pergi sendiri ke TK seketika mematahkan semangatnya.
" Loh Wida sudah berangkat ngantar Damar ke TK Mutiara Hati Pak!"
Tanpa membuang waktunya lagi, ia meminta Sukron untuk ikut dengannya. Diam-diam, Aji sudah menyusun mitigasi serta siasat untuk mengajak Wida dan anaknya jalan-jalan.
Training menjadi bapak yang baik buat Damar, biar ibunya luluh. Ahay!
Benar-benar licik.
" Om, mobilnya bagus, wangi, dingin lagi!" Damar membuka kaca jendela mobil itu lalu menatap ke arah luar. Menikmati sensasi dingin dari angin yang menerpa wajahnya.
" Kamu suka?" Sahut Aji yang senang dengan tingkah polos Damar.
" Suka Om. Nanti Damar kalau udah besar dan udah kerja, pingin beliin ibuk. Biar kalau ada orderan jahitan banyak, Ibuk enggak usah susah-susah starter motor!"
Hati Aji lagi-lagi merasa nyeri kala bocah itu mengutarakan kalimat penuh perkataan nelangsa.
" Damar, jangan begitu. Tutup aja jendelanya!" Ucap Wida.
" Biarkan aja Wid, aku buka-nya enggak semua kok. Galak amat ibunya Damar!" Aji mengerlingkan matanya pada Wida, membuat wanita itu mendengus. Bisa-bisanya pria itu genit saat ada Damar disana.
" Damar mau kemana dulu? Makan apa jalan-jalan dulu?" Tanya Aji.
" Damar belum lapar Om, main boleh dulu aja ya?" Anak itu benar-benar antusias.
" Damar, jaga sikap nak!" Wida memperingati anaknya untuk lebih sopan lagi.
Aji terkekeh, mengabaikan Wida yang merasa tak enak hati kala Damar terlihat katrok saat menikmati mobil bagus milik Aji.
" Oke, kita main dulu ya. Nanti main sama Ayah sepuasnya ya!"
Wida langsung mendelik menatap Aji yang tersenyum tanpa dosa, saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Aji tadi.
" Ayah?"
.
.
...πππ...
Ambarwati
Ia benar-benar tak mengira jika putranya sudah mempersiapkan semuanya pagi itu. Bahkan ia juga heran, kenapa si Sarip turut berada di sana.
" Pandu sengaja ngundang Lik Sarip biar jadi saksi Buk!"
Hati Ambarwati mendadak merasa sejuk. Ia teringat mendiang Ayudya. Mungkin jika tanpa kejadian yang menewaskan putrinya itu, mungkin ia tak akan pernah bertemu dengan Bayu.
Tapi.. bukankah manusia lahir sudah di lengkapi dengan rentetan takdir yang musti di lalui?
Usai sarapan pagi bersama dengan menu hasil dari membeli tadi, mereka terlihat ngobrol ringan bersama. Sesekali menikmati makanan penutup berupa irisan semangka segar.
" Ini anak dari adiknya nenek saya Pak. Jadi..sama Ibuk jatuhnya adik sepupu. Ya meski tuaan dia sih?" Ucap Pandu berkelakar memecah suasana canggung.
Bayu senang, secepat ini Pandu bisa akrab kepada-nya. Sebuah kemajuan yang pesat bukan. Yeah!
" Nanti kita bicarakan lagi gimana baiknya. Maaf saya keburu ke kebon dulu. Udah di tunggu tadi. Maklum, orang desa kerjaannya ya. begini!" Pamit Lik Sarip kepada Bayu.
Bayu mengangguk.
" Siap! Nanti saya sama Pandu main ke tempat Mas Sarip!"
" Eh, bukan mas Sarip. Om Bayu manggilnya dek dong nanti. Kan Lik Sarip adiknya Bu Ambar!" Ucap Fina meluruskan. Membuat Pandu tersenyum.
" Ya bener, mas Bayu ngobrol dulu sama Pandu ya. Saya Pamit dulu!"
Kini tersisa mereka berempat. Terlihat begitu syahdu.
" Ehem!" Fina memberikan kode bagi Pandu untuk memberikan waktu bagi mereka berdua. Namun, pria bertato itu agaknya tak nyambung, alias disconnected.
" Pssssat!" Fina bahkan mencicit.
Pandu menatap Fina yang mengedipkan matanya.
" Apa?" Jawab Pandu nyaris tanpa suara.
Fina memerot- merotkan bibirnya dengan maksud agar Pandu beralasan untuk undur diri dari meja itu.
" Apa sih?'' Jawab Pandu lagi yang tak mengerti maksud dari Fina.
Merasa jengkel dengan Pandu, Fina menggeser letak duduknya yang kini sudah sangat mepet dengan tubuh Pandu.
" Cepat pergi!" Ucap Fina dengan bibir monyo- monyo dan suara yang tak terdengar.
" CK, apa sih?" Pandu masih saja tidak paham maksud dari Fina.
Fina memutar bola matanya malas. Mengapa pacarnya yang ganteng itu kini telinganya bolot sekali. Merasa geram dengan Pandu, Fina meremas kelelakian pria itu dengan gemas.
Kapok po ra koe?
" AAAAAAA!" Teriak Pandu saat biji dewanya merasa linu.
Membuat Ambarwati dan Bayu seketika menatap Pandu yang kesakitan. What's wrong?
Astaga Fina!!!!!
.
.
.
.
Jangan lupa bermurah hati untuk kasih like dan juga mawar berduri ππππ