Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 157. Sebuah warna hidup



Bab 157. Sebuah warna hidup


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Hangat senja berganti dengan dinginnya nila malam yang pekat. Pria dengan rambut lurus itu terlihat workout sendiri di kamar kosong yang berada di rumahnya.


Melatih otot-otot kekarnya yang mungkin saja akan sering ia gunakan beberapa waktu kedepan. Ehem!


Dalam hati ia senang. Hari ini ia benar-benar merasa bahagia setelah sekian purnama hatinya beku.


Pria itu terlihat meraih handuk putih kecil lalu mengelapkan pada seluruh tubuhnya yang mengkilat karena keringat. Terlihat benar-benar hot.


Aji meraih sebotol air mineral dan meneguknya dengan tekun. Memuaskan dahaganya usai membakar kalorinya.


Ah segar!


Pria dewasa manapun, pasti sudah tak menganggap tabu ranah percumbuan macam itu. Apalagi, jika dilakukan dengan wanita yang dicintainya. Asoy geboy deh pokoknya.


Tak di sangka, rasa yang pernah ia nikmati dan ia peroleh dari tubuh Wida yang di suguhkan dalam moment tak sengaja itu, justru membuat rasa dihatinya kian membara.


Ia mau hidup dan di temani oleh wanita tegar macam Wida. Wanita yang sudah sering di tempa kegetiran hidup itu, jelas seorang petarung betina yang pasti kuat. Yeah!


DRRRT!


Ponselnya bergetar. Pria itu meraih benda pipihnya dengan wajah datar.


" Ya?"


" Woy Asu!"


" Aku tunggu di kedai Cak Juned. Seharian nungguin ga ada datang ke kantor! Jadi enggak?"


Suara Yudha yang memekak di seberang teleponnya membuat Aji seketika menjauhkan ponsel dari telinganya. Terdengar menggerutu.


Astaga, dia lupa jika akan menemui Yudha. Sial.


" Sory Yud, sory. Tunggu ya. Habis ini langsung kesana!" Aji meringis karena merasa bersalah.


Aji mendecak kesal dengan dirinya sendiri. Bisa-bisanya pria itu lupa jika ia ada urusan dengan Yudha. Tanpa menunggu lagi, pria itu melesat menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


.


.


Yudhasoka


" Nih!" Yudha menyerahkan selembar kwitansi atau nota yang menerangkan jika pinjaman atas nama Pak Atmojo telah lunas.


Ya, Aji menutup pinjaman Wida. Pria itu sedikit demi sedikit ingin membuat Wida tahu, jika ia serius kepada wanita beranak satu itu.


" Suwun Yud!"


" Sory ya, tadi aku ada urusan penting!"


" Eleh... lagak lu penting!" Yudha mencibir.


" Penting taik! Aku tadi ketemu si Sukron bawa motor ya dipakai Bu Wida tempo hari. Elu tu ya, giliran udah tau rasanya aja minta nambah terosss!" Yudha menonyor jidat Aji. Membuat mereka berdua kini tergelak.


Yudha merupakan playboy ulung meski memiliki sikap yang paling cuek. Pria itu kerap menjadi incaran cewe- cewe hits jaman now.


Aji terkekeh, untuk kali ini ia kalah telak. Hatinya terlalu berbunga-bunga saat ini. Membuat aura dan moodnya berada pada level baik.


" Lu kenapa sih, manyun aja terus. Perasaan dari kemarin-kemarin deh!" Ucap Aji seraya mengantongi selembar benda penting itu.


" Si Hesti telat!" Sahutnya dengan wajah berengut. Memijat keningnya yang terasa mumet.


Aji mendelik " elu cr*ot di dalam?" Aji mencondongkan tubuhnya seraya menatap Yudha dengan dakwaan ngawur.


"Tahu, udah lupa" Yudha kesal menatap Aji.


" CK, elu tuh ya...!" Aji kini ganti mendecak kesal.


" Biasanya emang gak normal haidnya. Tapi, seingatku aku sama dia begitu pas kita belum nyusul si Pandu kok!"


" Artinya udah lama banget!"


Obrolan pengeretan itu terinterupsi dengan kehadiran Cak Jun, yang membawa nampan berisikan dua cangkir kopi.


" Tumben berdua aja mas. Mas Sakti sama Mas Pandu kemana?" Ucap pria kurus itu seraya meletakkan dua pesanan Yudha.


" Pandu sibuk kayaknya, kalau Sakti lagi ngantar ibunya!" Sahut Yudha. Membuat Aji mengangguk. Sibuk dengan Wida, ia bahkan tidak tahu soal aktivitas dua sahabatnya itu.


" Santai man! Kalau emang jadi, ya nikahin aja. Beres kan. Elu kan udah lumayan lama sama si Hesti ketimbang dengan yang lain!" Aji berucap seraya meraih cangkir hijau itu, lalu menyeruput kopi hitam itu. Ah mantap!


" Ya kali Ji!" Yudha terlihat mengerutkan keningnya.


" Loh bener kan?" Jawab Aji yang mulai 'Pyar' usai menyeruput kopi.


Ajisaka mengeluarkan sebungkus cigaret bermerek ternama, dan menawarkannya kepada Yudha.


Ia menolak karena merasa tak mood sama sekali.


" Aku begitu sama dia buat happy- happy aja kali Ji. Mamakku pasti juga ogah punya mantu kayak Hesti yang ngalem begitu!" Yudha mumet. Harap-harap cemas kalau apa yang di takutkan akan terjadi.


Aji terkekeh, sekilas ia ingat dengan Wida. Wida sosok yang serba bisa. Apalagi, rasa yang masih ia ingat itu kini membuat Aji senyam-senyum sendiri. Jelas Hesti tak selevel dengan Wida pikirnya. Aji tersenyum jumawa.


" Raimu! ada orang susah malah senyam-senyum lu!"


Aji justru terkekeh, sama sekali tak marah kesal apalagi merajuk.


"Wajah-wajah yang baru tahu rasa pertempean begini nih?" Yudha mengarahkan telapak tangannya untuk menyapu wajah Aji yang terlihat mesum itu.


Yudha kesal. Ia tengah mumet namun si Aji malah menyunggingkan senyum khas orang kasmaran.


Damned!


...🌺🌺🌺...


Widaninggar


Pagi kembali menyapa. Pertiwi kembali benderang dan membuat penghuninya kembali bergeliat. Memecah peruntungan, mencari kesempatan baru. Bertarung diantara nasib mujur dan sial.


Suara parut yang beradu dengan kelapa tua terdengar mendominasi ruangan dapur berdinding tepas itu. Wida terlihat akan memasak kari ayam yang di tangkap bapak dari kandang subuh tadi.


" Masak apa Buk?" Damar yang baru membasuh mukanya itu terlihat mendekat ke arah ibunya..Matanya masih sembab sebab bocah itu baru bangun.


" Kare, habis ini kita sarapan bareng-bareng ya?" Wida menjawab pertanyaan anaknya dengan tersenyum.


Namun, saat ia dan Damar masih saling melempar senyum. Suara gaduh di depan sukses menginterupsi kegiatan penuh kasih antara ibu dan anak itu.


"Minta dia keluar!"


" Saya bakar juga rumah kamu nanti!"


" Astaga Buk, sabar. Ini ada apa ya?"


Bapak sedang pergi, sementara itu? Itu sudah jelas merupakan suara ibu yang mencoba meredam suara seseorang yang beroktaf tinggi. Ada apa itu?


Siapa yang marah-marah dirumahnya sepagi ini?


Tanpa menunda lagi, Wida langsung mencampakkan parutan kelapa itu dan mencelupkan tangannya ke bak berisikan air, meninggalkan Damar yang melongo karena kebingungan.


Sejurus kemudian , Wida bergegas menuju ke ruang depan. Perempuan itu bahkan menggunakan celana baju tidur tidy nya untuk mengelap tangannya yang basah.


Matanya membulat saat melihat Bibi dari mas Aji yang kini adu mulut dengan Ibu.


" Ada apa ini?" tanya Wida yang langsung melepas cekalan tangan Bu Arning kepada Ibunya. Tak membiarkan jika wanita Judas itu hendak menyakiti Ibunya.


" Nah keluar juga si Lon te! Habis ngapain aja kamu di rumah Dadapan hah?" Bu Arning terlihat berang sekali. Wanita itu kini mencengkeram lengannya dengan begitu kencang.


" Kamu udah berani ngerayu keponakan saya ya?"


" Lon te murahan!"


Ia merasa kesakitan kala rambutnya di tarik oleh Bu Arning. Rumah Orang tua Wida yang baru itu berada agak jauh dari tetangganya, membuat mereka kini kesulitan untuk mencari bala bantuan.


" Lepas Buk, jangan sakiti anak saya. Ya Allah!" Ibu kini panik, pasalnya wanita bernama Arninggara itu benar-benar terlihat membabi-buta.


Ibu kesulitan melepaskan cengkeraman tangan Bu Arning yang kini menjambak rambutnya. Rambut itu kini bahkan telah rontok karena tarikan yang begitu kuat.


" Saya udah peringatkan kamu ya. Aji itu enggak cocok sama kamu. Wanita sialan!"


" Kamu nantangin saya ya!" Ucap Bu Arning yang makin tak terkendali.


" Sakit Buk, lepas!" Wida dengan segenap kekuatannya mencoba melepaskan tangan sialan itu. Namun sia-sia. Wanita itu rupanya kuat juga.


PLAK


PLAK


Arninggara menampar pipi Wida sebanyak dua kali.


" Arghh!" Wida menjerit saat pipinya benar-benar terasa sakit.


PLAK


Ia bahkan sempat menghitung, jika tamparan itu sudah mendarat di pipinya sebanyak tiga kali. Pedih dan terasa kebas. Panas dan sakit.


" Ibuk!"


" Ibuk!"


Damar yang melihat ibunya di serang, seketika langsung berlari menuju dia wanita yang terlibat pertengkaran itu. Naluri ingin melindungi otomatis on dari diri bocah itu. Naluri ingin membela, saat induknya dalam bahaya.


" AAAAAAA!" Bu Arning berteriak. Entah apa yang terjadi.


Rupanya Damar menggigit paha Bu Arning dengan sekuat-kuatnya. Membuat wanita itu berang lantaran merasa benar-benar kesakitan.


" Anak setan!" Tutur Bu Arning dengan napas memburu dan mata memerah.


BRUK


Bu Arninggara yang kalap karena merasa kesakitan, mendorong tubuh kecil Damar hingga membuat anak itu terjengkang ke belakang.


Naas, halaman rumah Wida yang berbatu itu jelas membuat Damar kian tak di untungkan. Tubuh bocah cilik itu jelas tak mampu mengimbangi dorongan dari tubuh wanita dewasa macam Bu Arning.


" AAAAAAA!" Damar menjerit saat kepalanya menghantam tumpukan batu prejeng yang beberapa hari ini di pecahkan oleh Pak Atmojo, untuk membuat pondasi dapur mereka.


" Damar!!" Ibu memekik keras saat melihat darah yang Keluar dari kepala cucunya. Damar menangis dan lambat laun terdengar melemah.


Seketika, tubuh Wida mendadak lemas demi melihat Damar yang tergeletak dengan kepala yang bersimbah darah, usai menghantam batu dengan kerasnya akibat di dorong oleh Arninggara.


" Wanita gila kamu!" Ibu terlihat memaki ke arah Bu Arning.


Merasa semua berjalan tidak sesuai harapannya, Bu Arning lantas kabur. Dan dari arah berlawanan, datang sebuah mobil hitam.


" Hah, sial itu Aji?" Ucap Arninggara yang terlihat ketakutan setengah mati.


.


.


Ajisaka


Ia mengajak serta Dino dan Sukron untuk mengecek lokasi pabriknya yang baru. Pria itu sepertinya dalam waktu dekat ingin membuka cabang pabrik yang baru.


Lebih bersemangat karena hatinya sedang berbunga-bunga. Ia juga makin bersemangat menunggu status baru wanita itu. Ahay!


Produk buah naga buatannya rupanya mendapat sambutan baik dari masyarakat. Terbukti, setelah ia menciptakan inovasi dodol buah naga, keripik, buah naga, juga beberapa produk minuman, banyak sekali pengusaha toko oleh-oleh yang mengajukan kerjasama dengan perusahaan skala sedang milik Aji.


Definisi hasil tak mengkhianati proses. Untuk itulah, Aji kemarin mengatakan kepada Wida jika hari ini ia akan sangat sibuk.


" Kron, belok dulu ke kiri. Mampir sebentar kerumah Pak Atmo!" Titahnya saat mereka akan melalui sebuah perempatan sebelum menuju jalan besar.


" Beres bos!" Sahut Sukron mantap. Ya, meski ia tidak tahu ada urusan apa lagi.


Mereka kini telah melintasi jalan berbatu dan hendak menuju rumah Wida. Rumah yang jauh dari tetangganya itu benar-benar membuat Sukron khawatir.


" Bu Wida kenapa mau tinggal disini ya Bos. Kalau ada apa-apa ini, agak riskan juga sebenarnya!" Tukas Sukron yang kini berkutat dengan kemudi bundarnya.


" Iya juga sih bis. Kalau malam, pasti sepi!" Imbuh Dino seraya memindai pemandangan sekeliling yang hanya berisikan hamparan kebun rambutan milik saudagar kaya.


Aji tertegun. Kenapa ia tak berpikir ke arah sana ya. Ah sudahlah. Toh jika ia jadi menikah dengan Wida nanti, ia berniat ingin memboyong seluruh anggota keluarga Wida kerumahnya yang besar.


Aji tersenyum- senyum sendiri saat pikirannya berkelana. Oh manisnya.


Namun, tanpa mereka nyana, dari kejauhan mereka melihat sosok yang sepertinya ia kenal tengah berlari dan kini terlihat berbalik arah.


" Bos, itu seperti Bu Arning!" Ucap Dino yang berada di samping Sukron yang sibuk mengemudi.


Sukron bahkan turut menajamkan penglihatannya guna menangkap objek yang ada di depan mereka.


" Apa katamu?" Aji kini turut menjulurkan lehernya demi memastikan ucapan Dino.


" Benar bos, itu Bik Arning. Tapi...kenapa dia lari?" Sukron makin menajamkan penglihatannya. Tak percaya jika wanita itu tengah ada di sana.


" Cepetan Kron!" Aji menepuk pundak Sukron demi merasa jika sesuatu yang tidak beres tengah terjadi di rumah Wida.


.


.