
Bab 95. Menyelesaikan Misi (3)
^^^" Racun diri adalah kesombongan!"^^^
.
.
.
Jika di dunia ini tidak ada kejahatan, tentu saja semua orang akan hidup aman. Namun, bukankah kesemuanya itu ada agar segala sesuatunya menjadi seimbang? Hey, dengar dulu! Bukan berarti kita memihak kejahatan. Namun, agar kita bisa tahu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Bayu bersikap menunggu, karena Willy dan Kadek belum juga memberikan update terbaru terkait keberadaan mereka. Bayu tidak tahu saja, jika Kadek dan Radit tengah kejar- kejaran. Benar-benar aneh.
Tapi itu kenyataannya.
Adalah Zack. Pria dengan keturunan barat itu kini terlihat melongo sewaktu datang ke bangunan terselubung milik Riko. What the hell?
" What' wrong?" ucapnya sewaktu pria itu terkejut lantaran melihat gedung yang pintunya terjeblak dan tanpa penjagaan. Membuatnya merasa janggal.
" Let's check first bos!' Ucap assiten Zack yang sebenarnya mulai merasa curiga. Tak seperti biasanya.
Dan benar saja. Saat mereka masuk kedalam,Andhika dan Satya menyambut mereka dengan todongan pistol. Membuat dua pria sialan itu terkaget.
" Raise you're hand!" Titah Andhika. Membuat dua pria itu saling memandang.
" I say, raise your hand!" Andhika menaikkan intonasi suaranya. Kini, kedua partner Riko itu melakukan apa yang di perintahkan oleh leader team Alpha itu. Sial!
Aksi saling hajar tadi membuat para anak buah Bayu juga mengalami luka dan memar di beberapa bagian tubuh mereka. Termasuk Satya dan Andhika.
" Ada apa ini?" Ucap Zain kepada Andhika.
Zain merupakan anak buah Zack. Ia berucap seraya mengangkat kedua tangannya. Tentu saja ia bertanya, ini jelas diluar rencana mereka.
Bangunan disana merupakan bangunan panjang dengan beberapa ruangan dengan berbagai macam kegunaan. Secara kasat mata, ruangan itu mirip gedung terbengkalai. Namun siapa sangka di dalamnya memuat banyak sekali wanita yang bertaruh nasib.
" Masuk dan mari bicara!'' Andhika mencengkeram leher belakang Zack. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Yeah!
Saat para leader mengurus dua antek Riko itu, anak buah leader yang lain kini tengah mengurus para kancrut Zack yang berada di luar. Ketidaktahuan Zack akan hal ini membuatnya terancam akan kehilangan segalanya.
Tamat sudah riwayatmu!
Meski Bayu beserta team bukanlah polisi, namun mereka bisa membawa persoalan ini ke ranah hukum. Tentu lewat orang yang benar-benar memegang peranan sebagai penegak hukum yang adil dan beradab pastinya.
.
.
Bayu
" Pandu! Dengar dulu!' Bayu mencegah Pandu untuk bersikap impulsif. Ia tahu, anak buahnya itu pasti sudah tak sabar, dan mungkin saja tengah mengkhawatirkan seseorang.
Sampai sekarang mereka masih menunggu info dari Kadek dan Willy terkait akurasi posisi mereka.
" Aku tidak bisa menunggu lagi, jika kalian tidak berkenan. Biarkan aku sendiri!" Pandu memasang rompi anti peluru dengan tergesa, ia juga terlihat kesal dengan Bayu yang menurutnya lelet.
Sebenarnya bukan itu, semua harus sesuai mitigasi. Jika Bayu tiba-tiba menyerang keluarga Hartadi, jelas mereka akan di salahkan secara hukum. Belum lagi, ada segelintir oknum yang pasti membentengi mereka.
Apalagi, mereka juga tengah menanti kabar dari dua anak buah KJ yang mengejar Radit.
" Kenapa kau selalu bersikap gegabah?" Bayu berucap di belakang Pandu yang sibuk membetulkan tali safety shoes-nya. Benar-benar tak habis pikir.
Pandu terdiam, ia memang tidak sepenuhnya terlahir sebagai orang berpengetahuan seperti Andhika dan Satya, atau memiliki strategi apik seperti Abimana, Andreas dan Harimurti. Ia hanyalah pria biasa yang terjebak dalam situasi rumit yang mengalir begitu saja.
Tapi instingnya selalu tajam dan tepat.
" Musuh sudah ada di depan mata. Tujuanku hanya Radit, apalagi yang ku tunggu!" Pandu kini memasukkan rovolver miliknya. Menjawab sekenanya lantaran sebenarnya saat ini pikirannya juga terbagi kepada Fina.
" Tunggu, kau tidak bisa pergi seperti ini!" Bayu masih berusaha menghalangi Pandu.
" Kau tidak tahu siapa Hartadi Wijaya!"
" Untuk itulah aku akan mencari tahu!" Pandu menatap Bayu beberapa detik. Membuat keduanya saling menatap.
Pria itu benar tidak ada takutnya kepada Bayu.
" Kalau kau masih menghalangiku, aku pergi atas nama seorang kakak yang ingin membalaskan dendam untuk adiknya!"
" Bukan sebagai anak buah seorang pria yang prosedural macam anda!"
Oh tidak, Pandu tengah kesal rupanya. Bayu kini bisa apa? Usia Pandu yang muda memang selalu berapi-api dan cenderung impulsif. Tak seperti dirinya yang matang dan mantap dalam mempertimbangkan segala sesuatu.
Ya,mereka benar-benar bertengkar. Keadaan terdesak seringkali membuat seseorang menjadi orang lain.
" Aku pergi!"Sahut Pandu cepat membuat ucapan Bayu menguap. Pandu benar-benar mencoba menjadi dirinya sendiri. Sudah cukup Radit mempermainkan dirinya. Cukup.
BRAK!
.
.
Pandu
Ia membawa sendiri mobil yang sebenarnya milik musuhnya itu. Mobil yang ia bawa dari kantor ekspedisi beberapa jam yang lalu.
Meski tatapan heran dari para rekanannya begitu menuntut, namun Pandu mengabaikannya. Ia akan mencari tahu sendiri kediaman Riko. Meski ia tak yakin jika Radit ada disana.
Pandu juga tak menghiraukan suara bentakan dari bibir Andhika kepada dua orang asing yang terlihat sedang dalam masalah. Ia tak peduli. Ia hanya fokus untuk mencari Radit dan juga seseorang yang kini mengganggu pikirannya. Fina
Ia mulai mencari kata kunci di mesin pencarian ponselnya.
Hartadi Wijaya. Itulah nama yang ia ketik.
Hartadi Wijaya seorang dermawan yang membuat panti asuhan untuk tuna wisma dan gelandang.
Berikut sosok Hartadi Wijaya yang bakal maju ke pemilihan kepala daerah kota tahun 20xx.
Dirikan sekolah dan panti asuhan, keluarga Wijaya semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat.
" Cih, benar-benar busuk!" Ia bahkan mencibir berita yang memuat artikel tentang pria biadab itu. Benar-benar tak sesuai dengan realita. Begitulah hidup, yang berkilau seringkali bukanlah emas.
Berbekal sebuah alamat rumah yang tertera di mesin pencarian ponselnya itu, ia kini meminta penunjuk jalan dari aplikasi di ponselnya itu sebagai navigator. Tak memiliki pilihan lain.
Ia benar-benar tak bisa menunggu lagi, rasanya geram betul. Musuh di depan mata namun sangat susah untuk di tangkap.
.
.
Serafina
Ia diam dan tak mau makan meski pembantu Riko telah menyediakan semua makanan lezat dan beraneka ragam.
PRANG!
Fina membanting makanan yang baru saja di berikan oleh ART yang bekerja di kediaman Riko. Membuat Rengganis kini turut mendatangi kamar yang digunakan untuk menyekap Fina.
" Kurang ajar!" Umpat Rengganis yang geram melihat tumpahan susu serta sarapan untuk Fina yang sudah tak berbentuk itu.
" Masih untung Riko milih kamu! Gak tau diri!" Rengganis yang sebenarnya tak suka dengan Fina lantaran mereka tidak sederajat itu menjadi geram. Keluarga Fina hanyalah pengusaha biasa. Sementara mereka, jelas konglomerat.
" Saya tidak minta untuk di pilih anak anda. Dan kalau anda keberatan dengan keberadaan saya, anda tinggal melepaskan saya. Gampang kan?" Fina menatap Rengganis tanpa hormat. Ia sudah muak. Tersenyum licik ke arah Rengganis.
" Kurang aj..!"
" Mama!" Riko datang dan langsung menarik tangan Rengganis yang hendak menampar pipi Fina. Membuat wanita itu makin kesal dibuat anaknya.
Fina makin mendengus, mengapa ia bisa berada di tempat terkutuk seperti itu sih. Sial sial sial.
" Mama heran sama kamu Riko, apa yang kamu lihat dari wanita kayak dia. Gara-gara dia, kita pasti sekarang dalam masalah!"
Cinta jangan di tanya. Ia kerap datang tanpa sebab yang jelas. Riko mencintai Fina dengan cara yang tak biasa memang. Dan harus ia akui, meski ia pernah bercumbu dengan Shila, tapi rasa Fina benar-benar tiada bandingnya. Ia ingin memiliki Fina.
" Mama gak usah ngajarin Riko soal itu Ma, mama tanya aja sama diri mama sendiri, kenapa mama mau pilih papa yang..."
" Riko! Tutup mulut kamu!" Biji mata Rengganis seolah hendak keluar dari tempatnya. Ia benar-benar dibuat marah oleh perkataan putranya.
" Kenapa? Mama tersinggung?"
Rengganis terlihat merapatkan giginya, tak mengira jika Riko mengetahui semuanya.
" Jika mama gak bisa jawab, maka jangan paksa Riko untuk menjawab alasan Riko mau sama Fina!"
" Karena mama lagi lebih tahu!"
Fina kini bingung, apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
.
.
.
.