
Bab 227. Silaturahmi bibir
.
.
.
...πππ...
Anjana
Mengobrol sepanjang malam bersama Sakti ternyata membuatnya menghabiskan waktu yang begitu banyak. Selain itu, banyak hal yang ia dapat dari pria yang baru ia kenal secara pribadi malam ini.
Sakti merupakan pribadi yang jenaka, sederhana dan apa adanya. Ia sangat senang dengan hal baru yang ia ketahui itu.
" Jadi kamu pernah jadi sales di toko elektronik?" Tanya Anjana mengulang pernyataan pria berkulit putih di depannya itu.
Sakti mengangguk dengan wajah yang sudah menunjukkan kengelanturan. " Apa aja pernah ku kerjain, asal enggak nyolong. Macem-macem deh pokoknya!" Jawab Sakti sesaat setelah meneguk wine untuk kesekian kalinya.
Sakti minum terlalu banyak malam ini, sepertinya pria itu terbawa suasana.
Anjana sedikit merasa takjub kepada pria itu, pasalnya selain Sakti memiliki sikap yang super kocak, pria itu sepertinya selama ini hidup di lingkungan yang menyenangkan.
" Terus...kenapa kamu mau kerja disini?" Anjana ingin tahu secara langsung alasan Sakti dalam menerima tawaran pria tua, yang sebenarnya merupakan kakek kandungnya itu.
Sebab yang ia dengar, pria itu mau menerima tawaran Tuan Liem karena dirumah menganggur. Itu saja. Selebihnya ia tidak tahu secara detail.
Sakti yang sebenarnya sudah agak mabuk dan mulai kehilangan kendali itu, terlihat larut dalam pertanyaan yang membuatnya kembali ke titik sendu. " Aku ingin bisa dicintai wanita, seperti para sahabatku!" Jawab Sakti kini menatap Anjana dengan mata sayu sebab agaknya alkohol telah menguasai dirinya. Membuat Jantung Anjana berdetak lebih cepat dari biasanya.
Wanita tegas itu masih wanita normal, yang tentu saja bernaluri wajar manakala di tatap lekat oleh lawan jenisnya.
" Kau tahu, sebaik apapun pria, ia tetap akan merasa kerdil jika secara finansial ia kalah di hadapan wanita" Sakti tersenyum kecut. Teringat akan hidupnya selama ini. " Simplenya, sebagai pria kita ini memang harus bertindak sebagai pemberi, bukan diberi!" Sakti tersenyum kosong, ia sadar akan hal itu.
Anjana merasakan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, manakala biji mata Sakti menatapnya sendu. Membuat desiran aneh kini menyeruak memenuhi rongga hatinya.
" Apa kau punya pacar?" Tanya Sakti mendadak seraya menatap Anjana lekat-lekat. Pria itu sudah mulai mabuk namun masih bisa menyeimbangkan posisi duduknya.
Anjana menelan ludahnya dengan mata melebar, pertanyaan apa itu. Tentu saja ia belum pernah. " Aku...!" Anjana mendadak menjadi gagap. Merasa grogi dalam waktu sepersekian detik.
Sakti terkekeh demi melihat ekspresi Anjana yang kaku " Wanita sepertimu pasti tidak pernah pacaran, iya kan?" Sakti mulai mabuk, apa yang ia ucapkan beberapa persennya terlontar dari alam bawah sadarnya.
" Sialan, kenapa tebakannya bisa benar begitu!"
" Jangan-jangan..kau juga tidak pernah berciuman ya!" Sakti mulai ngelantur. Dan sialnya itu merupakan kebenarannya.
" Apa dia dukun? Mengapa bisa tahu?"
" Kau mabuk, sudah ayo kita masuk!" Anjana memutuskan untuk membereskan minuman yang baru mereka tenggak bersama. Kesadaran pria di depannya itu sepertinya mulai menyusut.
" Astaga.. sudah jam satu rupanya!" Gumam Anjana tak percaya saat ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia kini dengan sigap cenderung buru-buru, membereskan gelas dan botol minuman yang ada di dekatnya.
" Hey!! kenapa malah kau bereskan, aku masih mau!" Ucap Sakti yang sudah lenyat - lenyot sebab pria itu telah mabuk.
" Payah sekali, begitu saja sudah mabuk!" Anjana berdecak sebal. Akibat asik mengobrol, mereka sampai minum terlalu banyak. Jelas pria itu akan membuatnya kerepotan setelah ini.
Anjana masih kuat walaupun sebenernya kepalanya sudah terasa berat. Tapi Sakti, entahlah. Mungkin karena belum terbiasa dengan alkohol.
" Ayo sebaiknya kamu tidur!" Anjana berusaha membantu Sakti berdiri dengan merangkul tangannya sebelah, membantu pria itu berjalan masuk ke kamarnya dengan tertatih-tatih.
" Astaga, kau ini berat sekali!" Ucap Anjana yang meringis saat membantu mengangkat Sakti untuk berdiri.
Mereka berjualan terseok-seok sebab Sakti beberapa kali hendak ambruk. Membaut Anjana berusaha lebih kuat lagi. " ****** ni orang. Mulutnya aja yang tajam, begini aja udah mabok!"
" Astaga, berat sekali dia jika begini!" Anjana terus menggerutu. Pria itu kalau mabuk lucu juga, terus bergumam dan berbicara ngelantur.
Anjana berusaha memposisikan Sakti agar pria itu segera berbaring ke ranjangnya. Bau alkohol dari mulut pria yang terus mengoceh itu, makin membuat Anjana pusing.
BRUK!!!
Anjana mendelik dan jantungnya seolah meledak detik itu juga manakala ia ambruk diatas dada bidang Sakti. Kakinya tak sengaja terbelit kaki Sakti, membuatnya kehilangan keseimbangan.
DUG DUG DUG
Jantung Anjana serasa meledak saat ia saling bertatapan dengan Sakti yang kini menatapnya sendu. Wanita itu tak pernah ada dalam kondisi sedekat ini dengan pria manapun.
" Astaga bagiamana ini?"
Ia bahkan menahan napasnya manakala Sakti kini memeluknya dalam posisi berada di atas tubuh pria itu. Ia yang sama sekali tak pernah berada di posisi intim seperti ini, jelas merasa meremang hebat.
" Kau tau...aku sangat menyukai Rara!" Sakti tersenyum-senyum sendiri bagai orang gila. " Tapi...dia tidak menyukaiku!" Sakti tertawa sendiri.
" Rara? Siapa dia?" Batin Anjana yang tertegun.
CUP
Mata Anjana membulat saat dengan spontannya, Sakti mengecup bibirnya tanpa pemberitahuan.
" Aaaaaa tidak!!! dia mengambil ciuman pertamaku!"
Anjana seketika meronta dan ingin pergi tapi tangan pria itu semakin erat menekan dirinya. " Jangan bergerak, jika ada sesuatu yang bangun jangan salahkan aku jika..."
" What??"
KRAK!!
Anjana mendorong lalu menjambak mulut kurang ajar pria itu , yang dengan seenaknya bersilaturahmi ke bibirnya. Membuat cekalan erat Sakti terlepas dengan seketika.
"AAAAAAA!!"
Sakti berteriak kesakitan manakala kepalanya membentur bahu dipan dengan kerasnya, saat kepalanya turut terdorong tatkala Anjana menjambak bibir Sakti yang baru saja menciumnya itu.
"Sialan! Tidur sendiri sana kau!" Ucap Anjana yang kesal atas apa yang terjadi kepadanya barusan
Anjana pergi dengan wajah bersungut-sungut dan hati dongkol. Pria itu bahkan kini terlihat tertidur pulas sesaat setelah mengaduh kesakitan. Orang mabuk memang selalunya aneh.
Anjana menarik selimutnya dengan perasaan kesal. Menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut. Malu, kesal, sebal. Bisa-bisanya pria itu menciumnya saat tidak sadar begitu.
Namun sejurus kemudian, ia membuka selimutnya karena merasa ngap dan melirik ke arah Sakti yang berada di jarak beberapa meter dari ranjangnya.
Terlihat teduh dan tampan.
Ia tersenyum saat menatap wajah lelap yang kini mulutnya setengah terbuka itu. Pria bodoh sialan yang baru saja menciumnya itu, terlihat mengeluarkan dengkuran teratur. Menegaskan jika Sakti benar-benar telah tertidur.
Anjana memegangi bibirnya sendiri seraya tersenyum belingsatan. Apa yang terjadi kepadaku? Kenapa jantungku tidak mau berhenti bergetar?
Tidaaak!!!!
.
.
.
.