Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 98. Dendam ku terbayarkan



Bab 98. Dendam ku terbayarkan


^^^" Sebab keadilan, hanya untuk anjing si tuan Poland!"^^^


^^^( Iwan Fals)^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Riko


Belum habis ia menelan kepahitan karena dua anak buahnya kini dilumpuhkan oleh Pandu, matanya malah menangkap objek yang kian membuat dadanya bergemuruh. Anjing!


" Fina!!" Teriaknya memekikkan nama wanita yang kini justru mendekap erat musuhnya. Ia bahkan merasa kepalanya berdenyut dan pening dalam waktu bersamaan.


" Sudah gue katakan sama elo Ko, Pandu bakal nyari gue!" Fina menatap geram kearah Riko. Hatinya tenang sekaligus senang lantaran bertemu dengan sosok yang jelas akan melindunginya itu.


" Wanita sundal!" Riko menyambar Pistol yang awalnya ia letakkan tadi di lantai di depannya. Berniat ingin membalaskan rasa sakit hatinya. Jika tidak dirinya, maka orang lain juga tak bisa memiliki Fina. Begitu pikirnya.


DOR!


Sebuah proyektil kini melesat menuju ke arah Pandu. " Awas!" Ucap Kadek yang membaca pergerakan Riko dengan cepat.


Kadek mendorong tubuh Pandu bersama Fina. Membuatnya kini malah terkena tembakan dari Pistol Riko. Kadek tertembak dan tepat mengenai bahu lengan kanannya.


" Argggggghhh!!!" Ringis Kadek menahan nyeri dan jalaran rasa panas di dalam dagingnya. Pedih dan teramat menusuk.


" Kadek!" Willy seketika melepaskan cekalan tangannya dari pembantu Riko itu, sudah tak lagi menghiraukannya. Ia lebih mementingkan rekannya yang kini terluka


Membuat pembantu wanita itu berlari terbirit-birit seketika usia bebas.


Pandu bersama Fina kini terjerembab ke lantai akibat dorongan Kadek. Suasana mendadak berubah menjadi mencekam dan menegangkan.


.


.


Bayu


Kini ia bergerak bersama Andreas, Abimana dan Harimurti. Sementara Andhika dan Satya bersama beberapa anak buahnya yang lain tengah mengurus Zack beserta komplotannya. Tamat sudah riwayat mereka.


Theodor telah kembali ke kantor sejak semalam. Pria itu bertanggung jawab untuk memasok peluru dan senjata di saat-saat genting seperti ini.


Yang jelas, dalam menjalankan tugasnya mereka dilarang sampai membunuh. Mereka hanya diperbolehkan untuk melumpuhkan musuhnya dengan menembak di bagian yang jauh dari nyawa.


" Lebih cepat!" Bayu meminta Abimana untuk menaikkan kecepatan laju kendaraannya.


" Baik bos!" Sahut Abimana dengan kedua alis tebal yang tak berhenti saling bertautan. Menandakan jika pria itu tengah tegang dan serius.


Ya, mereka kini menuju kediaman Hartadi. Meski mereka belum mendapatkan kabar apapun seputar kepastian dimana Raditya, maupun Pandu berada. Namun instingnya sebagai direktur selalu bekerja dengan tepat.


Bayu pria matang yang sudah banyak makan asam garam kehidupan dengan kenyang.


.


.


Ajisaka


Yudha membelokkan mobilnya ke gedung besar bertuliskan Kijang Kencana Safety Group. Nama yang jelas menerangkan jika ia berada di tempat yang benar.


Lagi-lagi mereka harus berterimakasih kepada aplikasi penunjuk jalan itu. Lantaran mengantarkan mereka ke tujuannya tanpa tersasar.


Sakti terlihat mengiringi langkah Bu Ambar " Pelan-pelan Buk!" Ucapnya saat Bu Ambar baru saja membuka pintu mobil Aji.


Yudha terlihat memarkirkan mobil ke tempat yang sudah di sediakan. Membiarkan dirinya bersama sakti dan Bu Ambar untuk masuk lebih dulu.


Sementara dirinya, kini bergegas berjalan menuju meja resepsionis. Lebih cepat lebih baik.


" Selamat Pagi, ada yang bisa di bantu?" Wanita cantik berpotongan rambut polwan dengan name tag Arimbi itu menyapa dengan lugas dan ramah kedatangan mereka. Jelas menandakan jika perusahaan itu benar-benar mengimplementasikan service excellent.


" Kami ingin bertemu Pandu!" Ucapnya tanpa basa-basi.


Ajisaka ingat betul saat terkahir ia menghubungi Pandu, sahabatnya itu berkata jika ia akan bergabung sementara dengan group itu.


Dan karena atas dasar itulah, ia membawa mobilnya menuju kantor Kijang Kencana.


Sebenarnya Bu Ambar belum tahu, bila anaknya saat ini terlihat keren karena menjadi salah satu dari pajangan foto yang ada di dinding sebelah kanan.


" Wih, keren banget!" Sakti berdecak kagum kala melihat barusan foto personel guard yang berada di sana, matanya tak lekang memindai seluruh sudut ruangan berdesain western itu.


" Maaf anda siapa?" Ucap Arimbi sopan


" Saya Ibunya, saya ingin bertemu dengan putra saya!" Sahu Bu Ambar yang kini turut maju dan menyamai langkahnya.


" Benar, kami keluarganya. Ada hal penting yang harus kami bicarakan!" Imbuh Ajisaka usai tertegun melihat raut cemas dari wajah Bu Ambar.


" Apa dia belum datang?" Sakti turut berucap kepada Arimbi. Benar-benar tak sabar.


Melihat seorang wanita yang mirip dengan Pandu membuat Arimbi yakin, jika mereka tak berbohong soal keluarga.


" Pandu dan yang lainnya sedang dalam tugas. Info terakhir yang kami dapat mereka sedang..."


" Ar, Theodor ada dimana?" Ucap seseorang membuat kalimat Arimbi menjadi terjeda.


Aksa rupanya kembali ke kantor KJ pagi itu atas perintah leadernya. Meminta pria itu untuk mencari Theodor setelah semalam Bayu menugaskan pria dengan skill menembak itu untuk menambah persenjataan.


Membuat kesemuanya yang ada di sana menoleh kepada Aksa. Siapa dia?


" Emm mas, ini ada Ibunya Pandu nyari..!" Ucap Arimbi, membuat Aksa kini menatap tiga orang yang ada di depannya.


" Ibunya Pandu?"


.


.


Ia sempat tercenung di mobilnya saat sampai di kediaman Guntoro. Ia pernah mencintai seseorang namun gagal untuk menjaganya karena posisinya yang memang sudah salah.


" Maafkan aku!" Gumamnya lirih.


Sekelebat bayangan wajah wanita kini mengganggu pikirannya. Bagiamana dan seperti apa rupanya kini tidak tahu. Hidupkah atau matikah ia juga tidak tahu.


Ia hanya ingin mewujudkan harapan putranya yang mencintai seorang wanita. Meski ia sendiri tak bisa memastikan jika caranya ini benar. Ya, selama ini ia hanya ingin menjadi bapak yang baik dengan menuruti semua kemauan Riko.


Tak mau merasa bersalah untuk kedua kalinya karena keegoisan Rengganis.


Ia menyimpan sepucuk senjata di balik punggungnya. Sepasang sepatu mengkilat itu kini membawa langkahnya mengarah ke kediaman Guntoro. Rumah orang tua wanita yang sangat dicintai anaknya.


Ia menekan Bel degan wajah datar, namun tak di sangka seorang bodyguard wanita membuka pintu itu dengan tatapan terkejut.


" Saya ingin berbicara dengan Guntoro!"


.


.


Pandu


Dengan sigap ia menendang senjata yang tengah di pegang oleh Riko usai melukai rekannya itu. Kini habis sudah batas kesabaran anak Ambarwati itu.


" Brengsek!" Umpat Riko geram saat senjata itu kini terpelanting agak jauh dari tempatnya bersimpuh.


" Ada apa ini?" Rengganis yang baru pulang dari suatu tempat malah dibuat terkejut dengan kegaduhan yang terjadi dirumahnya. Wanita itu baru saja mengurus hal yang berkaitan dengan pencalonan suaminya menuju kursi nomer satu di kota itu.


" Mama pergi dari sini!" Riko meneriaki mamanya karena takut jika wanita itu akan terluka nanti.


Namun Rengganis tak bergeming, ia justru terkejut saat melihat Raditya yang meringis kesakitan dengan sepasang kakinya yang di hadiahi timah panas oleh Pandu.


Ia juga melihat Basuni yang mengerang kesakitan. Rumahnya bahkan terlihat seperti hendak di serang masa. Aroma kegaduhan jelas masih tersisa di sana.


Mendadak tubuh wanita itu limbung. Kepalanya sakit. Pandangannya menjadi gelap. Bayangan akan wartawan yang akan menyerangnya karena rumahnya di jadikan ajang pertengkaran jelas membuat tekanan darahnya naik.


Reputasi keluarganya jelas di pertaruhkan. Tidak, ini tidak boleh terjadi!


Rengganis pingsan.


" Mama!


Sejurus kemudian Riko terlihat berlari menuju tempat dimana mamanya tergelak tak berdaya. Tak lagi mempedulikan Pandu, bahkan Raditya yang tengah menderita.


" Aku tidak apa-apa!" Kadek berucap seraya meringis saat wajah cemas Willy terus menatapnya. Berusaha menampilkan wajah kuat dan tegar.


Pandu langsung menuju tempat dimana pria licik dan licin itu kini meringis kesakitan. Meninggalkan Fina sementara yang ia rasa aman.


" Sini Lo pria sialan!" Pandu menarik rambut Raditya lalu menyeretnya tanpa ampun. Membuat Fina membulatkan matanya.


" Lepasin gue brengsek!" Maki Radit seraya memegangi tangan kekar Pandu yang menjambak rambutnya. Sakit sekali.


" Hey!" Seorang pria anak buah Radit kini mencoba menghalangi Pandu. Oh tentulah kini menjadi urusan Willy.


" Hey, urusanmu denganku!"


BUG!


perkelahian lagi-lagi tak terelakkan. Fina kini beringsut mundur karena sidikit takut.


Pandu membiarkan Willy menunaikan tugasnya. Kini, Pandu benar-benar telah menangkap target yang selama ini ia cari.


BUG!


" Ini untuk rasa sakit adikku!" Pandu meninju rahang Radit hingga membuat wajah pria itu terlempar ke kanan. Radit bahkan merasa kepalanya kini berputar.


BUG!


" Ini untuk air mata ibuku yang tak rela anaknya mati!" Pandu berteriak, dadanya bergemuruh, emosinya membuncah. Fina bahkan bisa melihat otot lengan Pandu yang mengeras saat melayangkan pukulan ke wajah Raditya. Benar-benar terlihat jantan.


BUG!


" Dan ini, untuk bajingan sepertimu yang malah justru berumur panjang. Anjing!" Pandu meluapkan dendam yang selama ini bersarang di relung hatinya.


BUG!


Pandu meninju wajah Radit hingga darah segar itu keluar dari hidung dan mulutnya. Hancur tak berbentuk. Pandu kini benar-benar telah membalaskan dendam.


" Pandu Uda Ndu!" Kamu bisa buat dia mati nanti!" Fina menangis demi melihat Pandu yang kini kalap. Berusaha mengingatkan Pandu jika pria itu harus hidup agar bisa digunakan sebagi saksi.


" Adikku mati Fin, biar aku kirim dia ke neraka sekarang juga!" Dengan napas memburu Pandu berucap menatap bengis ke arah Raditya yang bahkan tak sanggup untuk sekedar menjawab.


Raditya terlihat tak memiliki daya, dengan nafas yang kian melemah Radit pasrah akan hidupnya.


" Jangan Ndu, kamu gak boleh bunuh dia!" Fina menarik lengan Pandu yang masih kalap itu.


Dengan napas ngos-ngosan dan keringat yang kini membuat tubuh Pandu mengkilat, membuatnya merasa lelah. Pandu menjatuhkan pistolnya seraya menutup matanya. Menarik nafasnya dalam-dalam, meresapi semua yang telah terjadi.


" Lihat yuk, mas udah buat orang yang bikin kamu celaka babak belur yuk!" Dengan senyum sumbang dan air mata yang bercucuran, Pandu bermonolog. Ia menangis. Mengapa segala sesuatunya harus berakhir seperti ini.


Dosa, ambisi, dendam, ketidakterimaan. Nyatanya tak mengembalikan apapun selain penyesalan.


" Udah cukup Ndu...Udah!" Fina menangis mengusap bahu kekar Pandu yang kini basah oleh keringat. Fina memeluk Pandu yang masih berusaha mengatur napasnya.


" Apa-apaan ini!" Suara berat seseorang membuat kesemuanya menoleh. Termasuk Fina yang kini mengusap lembut lengan kekar Pandu.


" Orang itu!" Ucap Pandu geram.


.


.


.