
Bab 66. Become a Bodyguard?
^^^" Sebab orang yang mendua hati tidak akan pernah tenang hidupnya!"^^^
^^^.^^^
.
.
...πππ...
Kalianyar
Ambarwati
PRANG!!!
Piring yang baru saja akan ia tiriskan mendadak terperucut dari tangannya dan langsung jatuh ke lantai. Pecah berkeping-keping. Hancur, luluh lantak tak berbentuk.
" Astaga, kenapa Mbar?" Ucap Suri istri Sarip yang terkaget begitu mendengar suara gaduh sewaktu ia tengah sibuk membuat tusukan dari lidi, hendak membuat pepes. Hem lezat.
" Enggak tahu, tiba- tiba merusut dari tanganku Sur!" Wajahnya mendadak pias. Ia segera menunju ke dapur bersih dan menuang segelas air.
Entah mengapa mendadak perasaannya menjadi tidak enak. Ia juga tak hentinya memikirkan Pandu.
" Kamu kenapa sih sebenarnya?" Suri tahu jika Ambarwati sedang tidak baik-baik saja. Ia menangkap aura kegelisahan dari raut kakak sepupunya itu.
" Aku sebenarnya dari tadi kepikiran Pandu terus Sur waktu nyuci, gak taunya kok piringnya tiba-tiba jatuh!"
" Maaf ya, mungkin karena aku gak fokus!"
" Nanti ku ganti piringmu dengan punyaku dirumah!" Tukas Ambar dengan wajahnya masih gelisah.
Suri menatapnya iba. Jelas kakaknya itu tengah dirundung rasa rindu. Apalagi, hanya Pandu yang tersisa dalam hidupnya. Ia juga tak mungkin mempersoalkan piring yang telah muspro ( musnah itu).
" Udah kamu duduk dulu aja, nanti kita telpon dia setelah ini. Biar aku beresin itu dulu!"
Untung saja istri si Sarip itu benar-benar pengertian dan baik hati. Kini Ambarwati memijat keningnya yang terasa pusing. Raganya di Kalianyar, namun pikirannya selalu berkelana pada putranya.
Mugo tansah selamet Yo le ! ( Semoga senantiasa selamat ya nak!) Doanya dalam hati yang tak terucap.
.
.
Pandu
Ia berada diantara sadar dan tak sadar. Ia masih bisa mendengar suara orang yang kini meroyongnya entah menuju kemana. Apakah ini sudah kiamat?
" Lebih cepat Ren!" Jika ia tak salah dengar, suara yang baru saja di tangkap oleh Indera pendengarannya adalah suara dari orang yang tadi sempat ia lawan.
Suara Pak Direktur.
Pandu merasa tak bisa membuka matanya saat ini. Wajahnya terasa menebal dan pedih. Nyut-nyutan tidak karuan.
" Pandu?"
" Apa kau dengar aku?" Bayu menepuk pipinya pekan sedari tadi. Tapi mata Pandu kian terasa berat.
Ia di tidurkan dengan posisi kepala yang berbantalkan paha Bayu. Pandu benar-benar terlihat kacau.
Sejurus kemudian ia merasa pandangnya gelap. Hey, apakah ini yang dinamakan semaput ( pingsan) ?
.
.
Bayu
Ia masih ingat betul empat digit plat nomor yang sempat di tunggangi oleh pengeroyok Pandu. Jelas plat nomor eksklusif.
" Koordinasi dengan pihak kepolisian, cari pemilik kendaraan ini!" Bayu menyerahkan secarik kertas bertuliskan kombinasi angka dan huruf yang terpahat di plat kendaraan Riko.
Rendy mengangguk, sejurus kemudian pria itu undur diri guna menjalankan titahnya
" Andhika!" Panggilannya dengan wajah serius kepada leadernya.
" Ya bos?" Pria itu dengan sigap berdiri di hadapan Bayu. Meski dengan tubuh yang sebenarnya masih nyeri usai bergulat kembali dengan Pandu. Dan tentu saja kalah lagi.
Sialan sialan!
" Kita libatkan Pandu dalam misi kita!" Bayu menatap lekat dua netra Andhika.
" Tapi bos, dia kan?" Satya menolak. Apalagi ia masih sangat kesal kepada pria yang membuatnya babak belur itu.
Apa dia sudah gila melibatkan orang asing dalam mitigasi pencarian Raditya?
" Kita butuh orang seperti Pandu!" Bayu menatap kedua leader itu dengan mata tajam.
" Lagipula, semenjak Raditya dan timnya keluar, kita juga tengah merekrut orang baru kan?"
" Sudah dapat belum kalian?"
" Terlebih, apa kalian tidak lihat jika kemampuannya sangat bisa diperhitungkan?"
Baik Andhika maupun Satya kini hanya dima tercenung. Sungguh mereka tiada mengerti dengan maksud serta tujuan bosnya itu.
Tapi harus mereka akui, pria yang kini berbaring di depan mereka itu sangat potensial.
Haruskah?
Sementara Bayu masih menatap lekat Pandu yang kini memejamkan matanya diatas ranjang di ruangan khusus kantornya itu. Bayu merupakan orang yang terarah, ia tak mungkin salah mengambil keputusan.
Pandu terlihat telah mendapatkan penanganan medis. Sengaja diberikan suntikan untuk bisa beristirahat karena kondisinya yang lumayan parah.
.
.
" Hartadi Wijaya?" Bayu terlihat mengingat-ingat nama yang tak asing di telinganya itu.
" Benar! Tapi jika saya lihat tadi bos, sepertinya yang membawa mobil itu merupakan putra sulungnya!" Imbuh Rendy. Membuat Bayu makin penasaran.
Apa hubungannya keluarga Hartadi dengan Pandu. Dan mengapa Pandu sampai di serang?
Atau jangan-jangan, Raditya?
Teka-teki itu mulai menarik bagi Bayu. Apalagi, ia dan Pandu juga mencari orang yang sama.
" Siapkan pakaian untuk Pandu Ren. Minta Theodor untuk menyiapkan dokumen penting. Aku ingin memasukkan Pandu dalam tim kita!"
" What?" Dengan wajah tak mengerti, Rendy mengutarakan hal itu dalam hati.
...πππ...
Rengganis
" Plak!"
Tamparan keras itu baru saja mendarat di rahang kokoh Riko. Rengganis kala itu benar-benar geram. Tak pernah mengerti dengan jalan pikiran dua pejantan miliknya.
" Mama benar-benar enggak habis pikir sama kamu, sama papa kamu!"
" Udah berapa kali mama ingetin, jaga sikap kamu diluar Riko! Kita ini seo....!"
" Orang penting!" Riko menyela ucapan mamanya dengan geram.
"Jaga sikap agar kehormatan kita tetap terjaga!"
" Jaga kelakuan agar masyarakat tetap teguh memegang kepercayaan bahwa keluarga kita adalah keluarga baik?"
" Iya?"
" Itu terus yang mau mama omongkan kan Riko muak ma?"
Riko mendebat Rengganis siang itu. Ia dengan napas memburu menatap sengit ke arah mamanya. Selalu saja segala sesuatunya berakhir di meja perdebatan.
Ya, Rengganis meradang kala melihat mobilnya yang di bawa Riko telah mengalami pecah kaca akibat tembakan senjata api.
Jelas ia takut jika itu akan menjadi gosip di ranah publik. Jaman sekarang orang dengan mudahnya bisa viral dan hancur hanya karena sebuah video.
Ia takut jika ada warga sipil yang merekam kejadian tersebut, lalu membuat reputasi keluarganya hancur.
" Mama ini ribut aja terus, bisa gak sih ma gak usah pakai acara begini segala. Riko ini udah tua ma, udah bisa mikir baik buruknya buat dia!" Hartadi turut tersulut emosi. Lebih tepatnya ia membela putranya.
" Papa malah nyalahin mama?" Kini ia menatap kesal dan sengit kepada suaminya.
"Papa sama Riko itu sama aja. Sudah berapa kali mama bilang, jaga kredibilitas keluarga kita!"
" Tapi kalian ini selalu saja sembrono!" Dengan napas memburu Rengganis berusaha membuat suami dan anaknya mengerti.
" Mau kemana kamu Riko!"
" Riko!"
Panggilannya kepadanya anaknya yang mendadak enyah dari ruangan yang memusingkan kepalanya itu.
BRAK
Riko membanting keras pintu itu dengan emosi yang membuncah. Benar-benar brengsek!
" Lihat! Ini karena kamu selama ini terlalu menuruti semua keinginan dia!" Kembali ia menyalahkan suaminya atas sikap kurang ajar Riko
Membuat Hartadi turut memandangi istrinya geram. Sungguh, ia sama sekali tak pernah merasa tenang dan damai saat bersama Rengganis yang begitu berambisi.
...πππ...
Serafina
Ia masuk kamarnya dengan wajah lesu. Untung saja Papa sama Mama lagi ada acara keluar. Kini ia bisa aman tanpa mendapat cecaran pertanyaan.
" Mbak! Mbak Fina!"
Suara membabi buta mbak Waroh membuatnya mendecak kesal.
" CK, apalagi sih?" Fina lelah
" Mbak Fina udah pulang, semalam ibuk nyariin. Tadi pesan ke saya kalau mbak Fina udah pul..."
" Udah tahu, suruh ke Pelangi Sari kan?" Tebak Fina malas. Sudah pasti ia harus ke toko oleh-oleh milik keluarganya itu.
Munawaroh mengangguk kikuk seraya meringis demi melihat wajah bersungut-sungut Fina.
TING TING TING TING
" Siapa itu? Masa mama udah balik?" Gumamnya.
" Biar saya buka mbak!"
.
.
.
.