Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 38. Bertemu di Puskesmas



Bab 38. Bertemu di Puskesmas


^^^"Ganjaran kerendahan hati adalah kehormatan!"^^^


...☘️☘️☘️...


.


.


.


Perasaan khawatirkan cenderung gelisah mendominasi relung hati Pandu. Namun, rupanya raut mukanya mampu di deteksi oleh sahabat bar-barnya itu.


" Ya khawatir pada semuanya lah Sak, gimanapun juga mereka orang baik. Jadi aku bantu apa nanti Ji?" ia kini mengalihkan topik, tak mau bila dua sahabatnya itu tahu. Ia sendiri saja masih bingung dengan perasaannya.


Apakah itu bentuk simpati ataukah perasaan lain? entahlah.


" Si Sukron udan ke kantor polisi, udah biarin aja. Yang jelas aku butuh kalian!


" Kita lihat dulu gimana nanti, yang jelas nanti mobil merek juga perlu di bawa pulang. Urusan duit lagi kalau udah begini!" Aji paling mumet kalau udah urusan hukum, ia lebih memilih menggelontorkan dana asal urusannya cepat. beres


.


.


Tekanan darah Fina mengalami kenaikan, membuat cairan bertuliskan Ringer laktat itu harus terpasang menggunakan selang di punggung tangannya.


Hal itu terjadi lantaran selain emosi yang memuncak, adrenalinnya sewaktu tegang mengemudi tadi turut menjadi sumber persoalan.


" Infus dulu aja, itu kepala elu sakit sama pusing karena tensi elu tinggi!" tukas Dita seraya membenarkan letak kepala Fina agar lebih nyaman.


" Gue masih muda mana mungkin darah tinggi!" sahut Fina seraya berbaring diatas brankar, dan memejamkan matanya. Pusing tiada terkira.


" Jangan salah Fin, tekanan darah itu bisa naik karena banyak faktor, bukan cuma menimpa para orang tua yang kebanyakan makan garam aja!!" Dengus Dita, sahabatnya itu selalu saja pandai menjawab.


" Hidungku ini kenapa lagi Dit?" ia meraba sebuah benda aneh yang bertengger di hidupnya.


"Tadi hidung kamu ngeluarin darah. Udah aku periksa tadi, untung gak patah. Cuma trauma aja makanya ngeluarin darah tadi. Udah aku kasih obat antiinflamasi juga tadi, kamu istirahat dulu aja. Nanti aku antar pulangnya!"


" Kok bisa ya?" Masih tak mau diam. Membuat Dita geram cenderung geregetan.


"Hidung tersusun oleh tulang keras dan tulang rawan. Bagian tulang rawan cenderung lebih rapuh sehingga pembuluh darah di sekitarnya lebih mudah mengalami ruptur atau sobek. Apalagi kalau Anda habis terbentur atau cedera. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan hidung bengkak !"


" Udah, paham? jangan nanya terus kamu kapan istirahatnya!" gerutu Dita mulai kesal.


" Gak diragukan lagi, untung bener dah aku punya sahabat dokter!" Fina malah tertawa sembari merem. " Oma kemana?" Fina bertanya seraya terus memejamkan matanya, kepalanya masih terasa sakit dan pusing.


" Lagi bertemu sama polisi tuh di depan, elu juga kok bisa sih Fin ampek nyosrok gitu?" kini Dita kesal namun juga penasaran.


Fina akhirnya menceritakan tentang hal yang ia alami, lagi-lagi sikapnya yang mudah emosi menjadi sebab musababnya mengalami kecelakaan.


Namun sejurus kemudian.


" Permisi!" Suara pria terdengar datang ke ruangan tempat dimana Fina masih berbaring. Membuat Dita langsung menoleh ke sumber suara.


Dita melihat tiga orang pria yang masuk ke ruangan itu, dua diantaranya asing namun ia mengenali salah satu dari mereka.


" Mas Pandu?" ucap Dita dengan tersenyum.


Fina yang mendengar Dita menyebutkan nama seseorang yang kerap mengusik pikirannya itu, seketika membuka matanya.


Pandu dan kedua orang itu terlihat tersenyum simpul ke arah Dita yang mengenakan jas putih. Membuat mereka tahu, bila Dita adalah seorang Dokter.


" Siapa Ndu, kok elu kenal wanita cantik itu sih?" Bisik Sakti yang selalu saja penasaran. Membuat Aji mendengus sebal demi mendengar ucapan Sakti kepada Pandu.


" Kami dari lokasi tadi, kebetulan yang terlibat kecelakaan itu mobil saya yang di kemudikan anak buah saya. Apa keadaan anda baik-baik saja?"


Ajisaka bertindak sebagai pria wajar yang ingin pasang badan karena mungkin saja semua itu kesalahan dari Sukron. Bagaimanapun juga, Fina menabrak pickup dengan tonase muatan yang lumayan.


Ia ingat sewaktu perkumpulan pembentukan panitia Voli, dirumah wanita bernama Mamak Mariana.


" Saya...!"


" Fina hanya mengalami lebam dan cedera ringan di hidung, sudah saya lakukan penanganan tadi. Hanya saja tensinya masih belum turun!" sahut Dita membantu Fina menjawab. Karena ia tahu sahabatnya itu masih kesulitan berbicara.


Aji mengangguk paham, ia kesana untuk menghaturkan maaf dan rasa simpati. Ia sungkan kepada Bu Asmah.


Pandu menatap wanita diatas ranjang itu tak lekang, begitu juga dengan Fina. Seolah menyiratkan satu hal yang tak disadari oleh Sakti, Ajisaka maupun Dita.


Pandu merasa lega karena kekhawatirannya tak terbukti, meski Fina terlihat di infus, tapi cedera yang di alami tidaklah parah. Pandu mencoba bersikap biasa saja meski hatinya ingin sekali menuju ke ranjang Fina dan menanyakan langsung kondisi wanita itu.


" Loh ada Pandu sama teman-temannya!" Bu Asmah masuk ke ruangan bersama satu anggota polisi.


Pandu yang di sebut namanya kini mengangguk seraya tersenyum, begitu juga dengan Sakti. Hanya Ajisaka yang terlihat berwajah tegang.


" Selama siang Bu, kamu turut prihatin atas kejadian ini!" jawab Pandu.


" Terimakasih ya. Tapi ngomong-ngomong tahu dari mana kami ada disini?" Bu Asmah sebenarnya belum tahu bila Ajisaka merupakan pemilik pick up yang menjadi lawan kecelakaannya.


" Mobil pickup tadi milik Aji Bu!" ucap Pandu.


" Astaga, jadi milik Aji. Ibu mohon maaf ya, tadi faktor human eror. Fina gak bisa mengendalikan mobilnya tadi!" raut penyesalan muncul dari wajah tua Bu Asmah.


" Saya kemari karena ingin meminta maaf, dan akan bertanggungjawab bila semua itu adalah kesalahan dari anak buah saya Buk!" jawab Aji


" Ibu dan Bapak mari silahkan ikut saya ke kantor, jika memang kasus ini di selesaikan dengan damai, mari kita sama-sama menandatangani surat pernyataan!" tukas petugas polisi tersebut menengahi, karena jika dilihat, baik pihak Bu Asmah maupun Ajisaka sama-sama legowo dan tidak mempersoalkan kejadian itu.


" Oh tentu saja Pak, Bu Asmah saya mohon maaf sekali lagi! Saya akan menanggung kerugian dan biaya perbaikan mobil!!" tukas Aji.


Fina mandi teridam, dia yang bersalah.


" Ehh tida....!" ucapan Bu Asmah terjeda.


" Tidak usah, saya yang salah. Kalaupun harus ada yang mengganti kerugian itu saya!" ucap Fina tiba-tiba.


Kini kesemua yang disana diam sembari menatap Fina.


" Kita ke kantor polisi saja ya Bu, kita bicarakan disana gimana baiknya!" jawab Ajisaka, jujur ia lega karena Bu Asmah sangat kooperatif. Namun karena kasus ini keburu di ketahui oleh kepolisian, tentu mereka harus menyelesaikan prosedur yang ada. Seperti menandatangani surat pernyataan persetujuan damai tentunya.


"Ndu gini aja, kamu bawa cucunya Bu Asmah pulang sama mobilku ,nanti aku yang antar Bu Asmah pakai mobil yang di bawa si Sukron tadi dari kantor polisi!"


"Terus kamu Sak, ikut aku ya. Nanti kalau semua udah beres, kamu bawa pulang mobilnya Bu Asmah, atau kita lihat dulu nanti mobilnya gimana kondisinya!"


" Gimana Bu?" tanya Ajisaka kepada Bu Asmah.


" Boleh, begitu malah lebih baik. Jadi biar gak riwa-riwi. Dit, Fina udah boleh pulang?" tanya Bu Asmah.


" Setelah ini akan saya cek, nanti jika sudah normal boleh pulang kok!"


Semua mengangguk paham. Fina masih menatap lekat Pandu yang serius menyimak pembagian tugas dari Aji. Entahlah, dia senang karena itu artinya ia akan satu mobil dengan Pandu.


Dita juga mengangguk setuju dengan ucapan Aji. Menurutnya itu jauh lebih efektif.


" Benar, setelah menyelesaikan beberapa administrasi nanti, anda bisa membawa pulang kendaraannya!" sahut bapak polisi yang ramah turut membuat hati mereka semua lega.


.


.


.


.