Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 195. Pelukan tulus



Bab 195. Pelukan tulus


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Kalianyar


***


Rarasati


Lututnya seketika lemas begitu melihat bapaknya di geledek menuju ruang ICU. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan keadaan bapaknya semakin memburuk.


" Pak! Bapak!" Teriaknya memanggil sesosok yang bergeming dengan oksigen tambahan yang kini terpasang.


"Dokter, Bapak saya kenapa dok?" Ucapnya cemas karena saat ia datang, ia dikejutkan dengan bapaknya sudah hendak di pindahkan ke ruang lain.


" Anda siapa?" Tanya pria muda yang kini terlihat mengambil alih penanganan Pak Hari.


" Saya anaknya!" Jawab Rara dengan napas terengah-engah dan rambut yang berantakan. Membuat dokter muda itu menatapnya iba.


" Pasien mengalami kesulitan napas dan detak jantung yang tidak normal. Anda sebaiknya tenang dulu!" Sahut dokter itu yang dengan segera meminta para perawat untuk memindahkan Pak Hari ke ruangan lain, yang peralatannya lebih mumpuni.


Rara menatap nanar raga bapaknya yang kini semakin menjauh dari pandangannya itu. Bapak!!! Lirihnya penuh kesedihan.


Ia menyeret langkahnya menyusuri koridor yang serasa menatapnya sinis itu. Pikirannya buntu dan raganya juga lelah.


Rara menangis sesenggukan dengan posisi membungkukkan tubuhnya. menyandarkan wajahnya diatas pahanya.


Dalam sepi ia menangis seorang diri. Tanpa teman maupun orang terdekat yang menemani.


" Berjanjilah untuk baik-baik saja Pak! Rara cuman punya bapak!" Ucapnya dengan suara bergetar. Rara terlihat hancur sekali saat itu.


Sepasang mata yang mendengar Rara bermonolog seketika mematung. Ia menunda langkahnya yang ingin menemui Rara.


" Rara enggak mau sendirian di dunia ini pak! Bapak harus sembuh. Rara bakal cari pinjaman lain setelah ini, kalau perlu motor itu biar Rara jual!"


Wanita itu terus saja tekun berbicara kepada debu yang berada di depannya. Ia tak kuasa menahan kesesakan yang selama ini bersarang di benaknya. Rara berada di titik terendah dalam hidupnya.


Dalam keadaan kacau, ia terus berbicara dan terus mengeluarkan semua hal yang membuat dadanya penuh dan sesak.


Kenyataan hidup.


.


.


Kali ini ia lebih mengikuti kata hati ketimbang logikanya. Entahlah, Rara berhasil membuatnya menjadi merasa menyesal demi semua ucapannya yang terlontar bersama si brengsek rafii, yang jelas melukai Rara.


" Bilang sama Pak Buyung saya ada urusan sebentar. Kalau mau briefing duluan, kalian bisa lanjut dulu tanpa saya!"


Keempat manusia yang sempat ia damprat tadi, kini mengangguk kompak tanpa banyak bertanya lagi. Raut wajah Yudha yang keruh jelas membuat nyali mereka semakin menciut.


Yudha terlihat menakutkan.


Semoga ia belum terlambat. Jelas sesuatu yang gawat telah terjadi. Meski wanita jutek itu tak mau membuka mulutnya, namun dari kejadian yang terjadi, jelas ia bisa menguraikan jika situasi saat ini benar-benar genting.


Ia berlari menuju ruangan dimana Pak Heru di rawat. Namun kosong melompong tak berpenghuni. Pria itu sejurus kemudian terlihat berlari dan hendak bertanya ke meja petugas, namun tanpa sengaja ia justru melihat seorang wanita yang duduk dengan membungkuk dan terlihat menangis seorang diri.


" Rara?"


" Berjanjilah untuk baik-baik saja Pak! Rara cuman punya bapak!"


Kalimat yang keluar dari mulut Rara terdengar jelas dan amat membuat hatinya pilu. Kasihan sekali wanita itu!


" Rara enggak mau sendirian di dunia ini pak! Bapak harus sembuh. Rara bakal cari pinjaman lain setelah ini, kalau perlu motor itu biar Rara jual!"


Yudha berdiam diri seraya tekun menyimak kalimat yang merupakan manifestasi dari luapan isi hati seorang Rara. Dari kebisuannya, ia bisa merasakan jika Rara sangat terpukul.


Sejenak ia merasa bersalah karena sempat melontarkan kata-kata yang pasti melukai hati Rara. Astaga!


Dengan segenap keberanian. Ia kini menyeret langkahnya perlahan. Yudha merasa kasihan dengan Rara. Wanita itu berhasil menggugah sisi laki-lakinya, yang ingin melindungi.


" Ra?" Ia mengusap perlahan punggung Rara yang bergetar. Membuat wanita itu menoleh dengan lelehan air mata yang sudah tak bisa lagi ia tahan.


" Yud!!" Ucap Rara dengan suara serak dan langsung memeluk Yudha. Membuat pria itu terkejut demi merasakan reaksi yang sama sekali tak pernah ia sangka.


Rara memeluknya?


" Bapak gue Yud!" Rara memeluk pria itu dengan spontan. Ia hanya membutuhkan bahu seseorang orang saat ini. Sungguh tak ada maksud sama sekali, ia hanya tak bisa lagi menahan segala beban yang mendera hidupnya.


Yudha yang awalnya ragu karena takut dikira aji mumpung itu, kini dengan segenap keyakinan yang ada, ia membalas pelukan Rara sembari memejamkan mata. Pelukan yang tulus. Pelukan yang belum pernah ia rasakan saat bersama para wanita yang selama ini ia kencani.


" Sabar Ra. everything gonna be alright, hm!" Yudha mengusap lembut punggung bergetar itu. Berharap mampu mengurangi kesesakan hati yang jelas meluap- luap saat ini.


Ia merasa, sekuat apapun makhluk bernama wanita, di suatu titik mereka juga pasti membutuhkan sandaran juga.


Detik itu juga, entah mengapa perasaan ingin melindungi, mendadak bergelayut di sanubarinya. Rara benar-benar mengubah cara pandangnya terhadap wanita.


.


.


.