
Bab 232. Mata-mata kecil
.
.
.
...πππ...
Anjana
Ia menunduk malu saat mereka telah melepaskan pagutan itu satu sama lain. Sakti tersenyum penuh arti dan entah mengapa ia merasa senang kala mengetahui jika wanita itu ternyata memperhatikan dirinya.
Anjana tak menolak ciumannya, ya walau cara berciuman wanita itu agak kaku. Hihihi.
" Sepertinya aku benar-benar yang pertama untukmu!" Ucap Sakti tersenyum jumawa.
PLETAK!!!
" Auwh!!" Sakti menggosok jidatnya yang sakit akibat di sentil oleh wanita di depannya itu. Astaga, tangannya bahkan juga sangat kaku.
" Kenapa marah? Aku bener kan?" Sakti berengut. Jidatnya sangat sakit sekali.
Anjana terlihat tersenyum penuh arti manakala Sakti kini juga menatapnya serius. Meski mendadak canggung, namun ia juga paham arti tatapan dalam dari manik mata pria pecicilan itu.
" Terimakasih Ja!"
Sejak kejadian dirinya yang berciuman dengan Sakti kemarin, ia merasa seperti menemukan sesuatu yang baru. ini aneh, tapi begitulah kenyataannya. Sepertinya Anjana juga menyukai pria berkulit putih itu.
Pria lucu yang nyatanya bisa membuat hatinya berdebar dan berdesir, kala pria edan itu menggodanya ataupun melakukan hal-hal untuk yang membuatnya sakit perut karena tertawa.
Sikapnya yang rame cenderung bar-bar, kepolosan yang kadang membuat tawa hadir tanpa di undang, serta sikap apa adanya yang selalu membuat dirinya berdecak kagum itu, nyatanya menjadi magnet tersendiri bagi Anjana.
Namun dari hal itu juga, ia merasa jika Sakti beberapa hari ini juga telah berubah. Pria itu menjadi lebih pendiam dan sering termenung, pasca kejadian yang menyatakan jika Sakti memanglah cucu dari pemilik perkebunan itu.
Seperti siang ini misalnya. Anjana yang merasa pria itu menjadi lebih pendiam merasa tak tahan untuk tak menegur.
" Apa kau ingin makan sesuatu?" Tawarnya manakala melihat Sakti yang melamun usai membaca beberapa email dari para client.
" Atau kau marah kepadaku?" Tanya Anjana yang gak tahan.
Sakti mengernyitkan keningnya. Kenapa dengan wanita itu?
" Apa menurutmu kepergian Pieter mendadak ada hubungannya dengan kita tempo hari?"
Tanya Sakti langsung dan seolah menebak. Membuat Anjana malu demi mengingat dirinya yang dicium oleh pria konyol itu dan rasanya benar-benar memabukkan.
Anjana menyukai Sakti dengan segala sikap konyolnya.
"Kau ini sering aneh. Kenapa harus itu yang kau bicarakan!" Anjana pura-pura menyibukkan dirinya membereskan kasur yang sedikit berantakan itu. Sama sekali tak minat jika membicarakan Pieter.
" Aku tahu jika Pieter menyukaimu!" Ucap Sakti.
DEG
Anjana seketika mematung. Tubuhnya tegang. Dari mana Sakti tahu hal ini? Apa pria di sampingnya itu pernah menguping pembicaraannya bersama pria berkacamata itu?
Anjana menatap Sakti lekat-lekat. " Jika dia menyukaiku itu urusannya, tapi yang jelas aku tidak menyukai Pieter!" Ucapnya yang hendak keluar. Tak tahan jika harus membicarakan hal lain.
" Lalu pria seperti apa yang membuatmu suka?"
Langkah Anjana terhenti saat Sakti mengajukan pertanyaan itu kepada dirinya. Membuat Anjana kini menatap tajam ke arah Sakti.
" Aku tidak punya kriteria khusus. Yang jelas, seseorang sudah mulai mengisi hatiku saat ini!" Ucapnya jujur dengan sorot mata muram manakala menatap Sakti.
Mendengar ucapan abu-abu itu ,Sakti kini bangun dan berjalan mendekati Anjana. Satu tangannya menyender ke dinding seraya wajahnya ia dekatkan ke wajah wanita itu lekat-lekat.
" Apa dia menyukai seseorang bahkan setelah aku cium?"
" Awas saja!"
Anjana bagai terhipnotis sorot mata Sakti yang sendu, pun dengan deru napas pria itu. Astaga, Sakti terlihat jantan sekali jika dari dekat begini.
Sakti tak pernah terlihat menyuguhkan sorot mata tegas dengan intensitas tatapan yang kuat, seperti saat ini . Jelas menandakan jika pria itu sedang tak suka akan jawaban dari Anjana yang sebenarnya membuatnya cemburu, sekaligus ingin tahu siapa pria yang di maksud.
" Kau pria pertama yang membuatku takjub dengan ukuran benda ini!" Anjana meremas kelelakian Sakti hingga membuat pria sableng itu mendelik.
Sial, mau ngerjain malah di kerjain. Membuat Anjana menahan tawanya demi melihat wajah Sakti yang mendadak berubah menjadi pias.
πΆ Racun....
πΆRacun....
Raungan lagu dari band The Changcuters, berjudul wanita racun dunia ,yang menjadi nada dering ponselnya itu membuat ketegangan seketika buyar.
Membikin Sakti mendadak mumet karena ada mahkluk yang bangkit dari persemayamannya, melalui cara independen.
Asu!
" Halo, ada apa Ju?" Jawabnya sesaat setelah menggeser tombol hijau pada benda pipih warna silver miliknya. Menepikan rasa hamsyong yang kini mulai menyiksanya.
" Bang, dua pekan lagi abangku menikah, cemana? Ada misi paket lagi kah?"
Sakti terperanjat sambil melirik Anjana yang sebenarnya takut setengah mati usai menyentuh benda keramat yang ukurannya mantap itu.
" Dua pekan lagi?"
.
.
Kalianyar
***
Arjuna
Ia terperanjat betul manakala melihat Yudha yang berada di balik punggungnya, menatapnya penuh selidik seraya menaikkan sebelah alisnya.
" Astaga, bang Yudha tau enggak ya kalau aku baru nelpon Bang Sakti!"
Membuat Arju meringis demi melihat wajah kaku abangnya.
" Siapa yang kau telepon malam-malam begini Arju?" Tanya Yudha dengan wajah datarnya seraya menatap Arjuna yang kini berwajah pucat.
"Bocah ini mencurigakan sekali!"
Arju gelagapan dan otak mungilnya di tuntut untuk berpikir taktis untuk mencari jawaban ciamik, dalam waktu sepersekian detik.
" Itu kurir obat bisul mamak bang!"
.
.
.
.
.