Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 222. Yang sebenarnya



Bab 222. Yang sebenarnya


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sakti


Ia kini terlihat memindahkan beberapa pakainya meski dengan berat hati dan dengan wajah yang tak ikhlas. Anjana terlihat bersikap biasa saja bahkan saat ia memindahkan barang-barangnya sembari menggerutu.


" Kau ini wanita macam apa sih? Enggak ada manis-manisnya sama sekali jadi perempuan!" Cibir Sakti yang kini mengambil bantal miliknya di kasur yang telah di duduki oleh Anjana dengan wajah sewot.


Wanita itu hanya diam. Sama sekali tak memperhatikan Sakti yang mengomel. Bahkan merasa tak terganggu dengan sikap Sakti yang brak brok saat meletakkan apapun.


Anjana yang bersikap sat set dan terlihat cuek sekali kini terlihat hendak melepaskan pakaian yang ia kenakan.


" Ehhh wedokan gendeng tenan, mbukak klambi Nang kene! ( Wanita gila betul, buka baju di sini!)" Sakti mendelik dengan perasaan was-was demi melihat sikap Anjana yang biasa saja.


Kok bisa?


Biasanya wanita yang takut kepada pria, nah ini?


Anjana bergeming dan kini terlihat meraih sebuah kaos putih yang baru ia tata kedalam lemarinya. Mengabaikan Sakti yang terkejut demi melihat tubuh Anjana yang benar-benar bagus. Terlihat sekali jika wanita itu rajin berolahraga.


Tinggi Anjana sebahu Sakti, tergolong tinggi untuk ukuran perempuan sebab tinggi Sakti yang mencapai 187 cm. Wanita itu memiliki sorot mata tajam meski kelopak matanya sipit. Kulitnya coklat dan eksotis. Benar-benar tipikal Asia yang sempurna.


" Kau ini pria atau apa? Cerewet sekali!" Ucap Anjana menabrak pundak Sakti dengan keras, seraya pergi menyandang tas olahraganya, dan hendak menuju ruang fitnes di rumah besar itu.


" Astaga!" Sakti mengusap dadanya karena terkejut. Mimpi ada dia bisa sekamar dengan wanita seperti itu.


.


.


" Apa?" Sakti yang alih-alih ingin mengajukan protes kepada Tuan Liem terkait mengapa ia memindahkan James dan membuat ia bekerja bersama wanita gila itu, kini malah mendapat pernyataan yang sangat mengejutkan.


" Belajarlah bersama Anjana, kalau kau ingin menjadi pebisnis, selain kau harus cerdas, kau juga harus bisa membela dirimu sendiri!"


Tuan Liem terlihat menatap Sakti yang kini berwajah bingung. " Tapi tidak tidur dengan seorang wanita kan?" Sakti masih gencar mengajukan banding.


Tuan Liem menutup laptopnya. Sejurus kemudian ia menatap Sakti yang masih bersungut-sungut. " Kau hanya sekamar, bukannya tidur bersama!"


" Belajarlah mengelola diri, dia wanita tangguh. Kau juga harus belajar bela diri dengan Anjana!"


Sakti makin mengernyit. " Aku bekerja disini untuk menjadi tukang promosi, kenal jadi begini sih?"


Tuan Liem menatap Sakti lekat-lekat. " Kau harus bisa menguasai semuanya. Kau sangat berpotensi nak. Jika kau ingin mau, kau juga harus keluar dari zona nyaman!"


Pernyataan Tuan Liem terang saja membuat Sakti sebal. Tak ada gunanya mendebat. Oh astaga. Sejurus kemudian Sakti memilih meninggalkan tuan Liem dan melesat pergi meninggalkan pria tua itu dengan hati kesal.


BRAK!!!


.


.


...Flashback on...


Tuan Liem


Tuan Liem merupakan pemilik perkebunan anggur di sebuah pulau yang sudah terkenal akan kualitas produk wine terbaiknya. Pria kaya itu bersama James yang merupakan tangan kanannya , beberapa waktu lalu sengaja datang ke sebuah desa untuk mengunjungi orang yang sangat ia butuhkan sebagai sumber informan.


Pria berusia 60 tahun itu sebenarnya memiliki seroang anak tunggal yang melarikan diri dari rumahnya sebab hamil dan frustasi lantaran kekasihnya Lukas yang hendak menikahinya, di paksa menikahi wanita lain oleh keluarganya.


Tuan Liem tak bisa berbuat apapun sebab sebenarnya ia juga tak menyukai tabiat Lukas yang tidak mempunyai pendirian.


Ia pernah berupaya mencari jejak keberadaan anaknya namun tak membuahkan hasil. Hingga di suatu masa, ia yang telah menerjunkan orang-orang suruhannya berhasil mengendus keberadaan Fenny anaknya.


Namun terlambat, wanita itu di temukan meregang nyawa usai menyerahkan seorang bayi ke panti asuhan. Beruntung, tiada satupun keluarga calon istri Lukas yang mengetahui jika Feny mendatangi sebuah panti asuhan itu.


Fenny hanya takut jika mereka semua membunuh anaknya. Dan jalan satu-satunya saat itu yang bisa ia lakukan, adalah menyerahkan anaknya kepada wanita yang kebetulan berada di halaman di panti asuhan itu.


" Tolong rawat anak ini. Kami sedang dalam bahaya!"


Seorang wanita menerima bayi itu dengan tubuh bergetar. Sejurus kemudian ia melihat ibu dari sang bayi yang berlari sambil menangis.


Fenny di duga dibunuh oleh keluarga wanita yang merebut Lukas, agar di masa mendatang tak menimbulkan permasalahan lagi.


Tuan Liem merasa dunianya runtuh begitu mengetahui jika Feny telah meninggal dengan cara tak wajar. Yakni di paksa menenggak racun. Detik itulah, menjadi titik balik dia yang bersumpah untuk menemukan anak Feny bagiamanapun caranya. Garis keturunan yang harus ia selamatkan.


Ia juga tidak tahu, dimana Feni tinggal semasa hamil selama ini. Hingga orang-orang kepercayaannya berhasil mengorek informasi jika Feni dibunuh usai melahirkan seorang bayi.


Selama 28 tahun ini, pria itu percaya jika cucunya masih hidup. Dengan segala yang ia miliki, ia tak pernah lelah mencari dan mengumpulkan informasi meski belum juga membuahkan hasil.


Dan belakangan ini, bagai mendapat angin segar, orang suruhannya berhasil menelusuri rekam jejak Ibu panti yang dulu menerima seorang bayi dalam keadaan mengenaskan karena baru saja dilahirkan, dengan tali pusat yang masih melilit tubuhnya.


" Peter mengatakan jika beliau mau bertemu dengan anda Tuan!" Ucap James, pria berkebangsaan Inggris yang ia angkat sebagai tangan kanannya.


Mereka menuju kesebuah rumah tua yang di dalamnya terpanjang foto anak-anak kecil yang ia pungut dari panti asuhan yang sudah tutup sebab tak lagi sanggup membiayai ratusan anak malang itu.


" Kami kehilangan para donatur, tidak ada pilihan lagi selain menutup panti asuhan itu!" Ucap Bu Maria yang usianya kini sudah lanjut.


" Apa anda mengingat perempuan ini?" James menunjukkan foto mendiang Fenny ke arah wanita itu. Membuat wanita itu melebarkan matanya.


" Wanita ini..."


Tuan Liem sangat tidak sabar untuk mendengar kalimat selanjutnya yang hendak di utarakan wanita tua itu.


" Dia menitipkannya bayi laki-laki kepadaku!"


Hati tuan Liem menghangat demi mendengar kata ' bayi laki-laki' yang terucap dari bibir wanita tua itu.


" Dua hari setelah anak itu di serahkan kepadaku, datang pasangan mandul yang berniat mengadopsi bayi"


" Mereka memutuskan merawat anak itu, dan kau tidak bisa menahan!"


DEG


Tuan Liem memejamkan matanya sejenak. Jelas akan menjadi pencarian yang panjang lagi jika begitu keadaannya. Tapi dalam relung hatinya, ia bersyukur setidaknya cucunya selamat dan bisa hidup dengan layak.


" Bisa aku tahu orang yang mengadopsi bayi itu?"


Tuan Liem akhirnya menceritakan semuanya dan tanpa tanggung-tanggung kepada Maria. Wanita itu bahkan terkejut demi mendengar jika wanita cantik itu rupanya sudah meninggalkan dunia ini.


Wanita itu juga menceritakan tentang apa yang ia ingat. Tengah wajah pucat dan penampilan lusuh ibu bayi yang mendatanginya itu.


Maria terlihat membuka sebuah buku yang berdebu, wanita itu terlihat menggunakan kacamata demi melihat susuan tulisan yang pernah menjadi santapan hari-harinya dulu. Sejurus kemudian ia terlihat tersenyum saat menemukan sebuah catatan. Wanita itu terlihat menulis sesuatu dengan kondisi tangannya yang sudah buyutan. Sejurus kemudian, ia menyerahkan secarik kertas itu kepada Tuan Liem.


" Semoga ini bisa membantu!"


Tuan Liem beserta Peter dan James meninggalkan wanita itu dengan beberapa uang sebagai tanda terimakasih. Uang yang sangat lebih dari cukup untuk ukuran wanita jompo yang tinggal bersama suaminya yang sakit.


Namun, perjuangan mencari nama pasangan yang diduga mengadopsi cucunya terbilang sulit. Pasangan itu rupanya telah berpindah. Membuatnya harus bertanya secara estafet dan tinggal lebih lama lagi di Kalianyar, demi mencari tahu kebenaran.


Hingga suatu hari, Peter melaporkan kepada James jika dua pasangan suami istri yang diduga mengadopsi anak dari Fenny, merupakan warga yang berada di kawasan padat penduduk desa Kalianyar barat.


Mereka berhari-hari mengamati rumah dua orang yang mengadopsi cucunya itu. Tak di sangka, begitu seorang pemuda berkulit putih keluar dari kediamannya, sekujur tubuh Tuan Liem mendadak bergetar.


" Fenny!" Lirih Tuan Liem saat manik matanya melihat pria berkulit bersih yang rautnya begitu mengingatkan dirinya akan sosok yang telah tiada.


Wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Pria tua itu menangis, jadi selama 28 tahun ini, cucunya hidup sederhana dalam balutan kasih sayang dua orang asing itu?


" James, ikuti dia. Aku ingin bertemu, buat senatural mungkin!" Titah Tuan Liem yang benar-benar bahagia sebab bertemu dengan cucunya.


Di kesempatan lain, ia yang sengaja berjalan di dekat pasar sengaja menabrakkan tubuhnya ke arah pemuda yang di duga cucunya itu.


" Astaga, maaf!" Ucap Sakti dengan wajah layu sebab ia baru saja melihat Rara berpelukan dengan Yudha.


" Anak muda, apakah engkau tahu dimana penjual ikan bakar yang enak disini? Aku ingin makan ikan bakar!"


Sakti tertegun, pria tua di depannya itu terlihat parlente meskipun sudah uzur. Tapi...ia malah menanyakan warung ikan bakar di dekat pasar?


" Tahu Tuan, emmm ada di.."


" Bisakah kau mengantarkan aku?"


.


.


Sakti tak mengira jika pria tua di depannya itu makan dengan lahapnya di warung sederhana macam itu . Ia bahkan juga diminta menemani pria tua itu makan sebentar. Meski ia menolak untuk turut Menyuapkan makana lezat itu.


"Saya masih kenyang"


" Maaf saya alergi ikan!"


Ia terpaksa berbohong karena jujur saja, ia masih curiga dengan pria baik di depannya itu. Orang asing dan sikap hati-hati jelas korelasi yang pas bukan?


" Ngomong-ngomong, apa anda tidak memiliki anak? Mak- Maksud saya, kenapa orang tua seperti anda dibiarkan berjalan-jalan sendiri seperti ini?"


Tuan Liem sebenarnya ingin tergelak, cucunya itu persis seperti anaknya. Bar-bar dan sangat cerewet.


" Anak muda seringkali tidak mau menemani yang tua. Seleranya tidak sama katanya!" Sahut Tuan Liem.


" Kau..apa yang kau lakukan disini anak muda?" Tanya pria tua itu.


Sakti tertegun. Ia tengah berada di persimpangan dilema sebab ia tengah minder dengan keadaan teman-temannya. Di tambah, ia baru saja merasakan patah hati.


" Aku mengantar ibuku. Kami hendak membuka waralaba!" Ucapnya jujur dan entah mengapa tak mempedulikan jika pria di sampingnya itu hanyalah pria asing.


" Waralaba? Memangnya pekerjaaanmu apa?" Tanya pria itu sembari pura-pura menikmati daging gurame yang lembut.


Sakti menatap menerawang ke arah depan. Ia hanyalah pria menyedihkan yang beruntung karena memiliki teman-teman yang baik dan mapan. Sakti merasa ciut dan kerdil sewaktu di perhadapkan dengan pertanyaan semacam itu.


" Aku....!" Sakti tak bisa menjawab. Ia memang tak memiliki pekerjaan yang bisa ia banggakan.


" Sakti!!!" Teriak seorang wanita paruh baya gembul yang melambaikan tangannya dan berhasil membuatnya menoleh.


" Jadi namanya Sakti. Bagus juga. Dia memang Sakti karena bisa hidup hingga saat ini!" Batin tuan Liem.


" Astaga!" Sakti terperanjat manakala ibunya meneriaki dirinya dengan tatapan kesal. Oh tidak, ia bahkan sudah melupakan jika ia harus membawa catatan belanjaannya itu.


" Aku harus pergi tuan, itu ibuku..astaga..aku lupa kalau.." Sakti belingsatan. Ia benar-benar dalam masalah kali ini.


" Tunggu dulu!" Sergah tuan Liem yang menarik lengannya. Membuat kedua netra mereka saling bertemu.


" Aku Liem Soebardjo. Jika kau berminat, aku sedang membutuhkan karyawan. Kau pemuda yang terlihat baik, ini kartu namaku. Kau bisa menghubungiku nanti!"


Sakti tertegun, memiliki kartu nama jelas mengindikasikan jika orang itu bukanlah orang dari golongan darah rakyat macam dirinya.


" Terimakasih, saya pergi!" Ucapnya sesaat setelah menyambar sebuah kartu berwarna hitam yang terlihat halus dan tebal.


Dan berawal dari itulah, Sakti yang beberapa waktu terakhir merasa dirinya perlu menanyakan dirinya agar bisa mensejajari para sahabatnya, menjatuhkan pilihan menemui tuan Liem.


" James, nama cucuku ternyata Sakti!" Ucap tuan Liem yang kini sudah berada di dalam sesak mewah miliknya. Menatap ke arah Sakti yang tekun menolong wanita gemuk berkulit coklat, dan kini terlihat mengomel dengan senyum yang tak pernah pudar.


" Dia sangat mirip dengan ibunya James" Tuan Liem kembali menitikkan air matanya. Berharap pria itu mau menghubunginya.


...Flashback off...


.


.


.