
Bab 156. Kau dan segala pesonamu
...Perasaan syahdu bernama rindu, kerap menyerangku....
...Yang jelas, sejak pertama bertemu denganmu....
...Hiduplah bersamaku!...
...Tenang saja, si brengsek ini pasti mampu untuk melindungimu!...
...~Ajisaka...
.
.
.
...πΊπΊπΊ...
Widaninggar
Ia merasa perlu segera menghentikan laju ucapan Mas Aji yang sepertinya sudah terkontaminasi gaya bicara Sakti yang nge-slong.
" Astaga Wid, kamu kalau nyubit sakit banget sih!" Aji mengusap perutnya yang masih pedih akibat di cubit oleh Wida.
Mereka berdua kini menunggu Damar di sebuah bangku yang berada di luar arena bermain itu. Wida tak menyahut, ia kini terlihat membuka tasnya dan hendak mengambil ponselnya yang bergetar. Jelas ada panggilan yang masuk ke ponselnya.
" Halo?"
Aji seketika menoleh dengan alis bertaut. Siapa yang nelpon?
" Oh enggeh Bu.. Hari ini ya?" Wida terlihat menatap ke arah Aji. Wajah Wida yang nampak serius saat menjawab sambungan telepon itu membuat Aji terpesona.
Wida sangat manis sekali.
" Oh nggeh, nggeh matur nuwun!"
Santun dan lemah lembut. Benar-benar membuat Aji makin terpukau. Ya...walau wanita itu sedikit jahat kepada Aji. Terkekeh dalam hati.
" Siapa?" Tanya Aji yang sudah di ujung penasarannya. Menepiskan rasa nyeri akibat cubitan maut Wida.
" Orang yang jahitin baju ke aku, minta di selesaikan hari ini karena besok malam mau di pakai katanya!" Tukas Wida seraya menatap layar ponselnya.
Aji mengangguk, ia melihat ponsel Wida yang sudah sedikit retak di ujung atasnya. Membuat hati Aji nyeri.
" Wid?" Tanya Aji saat Wida masih sibuk menutup resleting pouch-nya usai memasukkan kembali ponselnya.
" Ya?"
" Kayaknya saran dari ibu-ibu tadi masuk deh Wid. Mumpung kita muda, kayaknya nanti setelah nikah kita harus cepet-cepet kasih adek buat Damar!" Aji meringis. Sungguh, jika ada Sakti disana pasti pria itu akan kenyang bully-an.
Wida speechless menatap Aji.
Astaga pria itu, apa tidak ada topik pembicaraan lain yang lebih relevan saat mereka berada di tempat ramai seperti itu.
Dasar Aji!
.
.
Ajisaka
Ia happy sekali siang ini. Membuat Damar senang, sekaligus bisa berduaan dengan ibunya. Laksana keluarga utuh yang berbahagia. Amin, dalam hati ia mengaminkan hal itu.
" Mar Damar!" Wida terlihat membangunkan anaknya yang lelap di kursi belakang.
Ya, mereka kini sudah sampai di kediaman Wida. Damar kelelahan usai melampiaskan diri, bermain sepuasnya di area play zone.
" Le! Bangun nak, udah sampai!"
Namun Damar masih bergeming. Bocah itu sepertinya benar-benar lelah.
Sejurus kemudian, Wida terlihat membuka sabuk pengamannya dan berniat turun lalu membangunkan Damar.
" Wid?"
Aji yang mengetahui jika Wida akan segera keluar , seketika memegangi tangan Wida dan membuat wanita itu menoleh.
" Ya?"
Aji mencium bibir Wida saat merasa situasi tengah mendukung. Sepi dan tak ada yang lewat. Pria itu sedikit menyapukan lidahnya pada bibir Wida. Sedikit saja buat sangu pulang pikirnya.
Terkekeh dalam hati.
" Mas!" Wida langsung mendorong Aji karena terperanjat dan membuat ciuman mereka terlepas sebelum waktunya. Oh astaga, benar-benar pria agresif.
Aji terkekeh " Dikit aja Wid. Besok aku bakal sibuk. Dikit lagi ya, buat bekal besok!" Wajah pria itu merengek minta dicium kembali. Bermuram durja.
" Dikit aja dikit aja!" Wida mendorong bibir Aji yang sudah maju dan monyong itu dengan wajah kesal. Membuat Pria itu terdorong kebelakang.
" Jangan ngawur kamu mas!" Wida menggerutu sambil membuka pintu mobil Aji. Benar-benar tak habis pikir.
Aji hanya tersenyum-senyum sendiri saat Wida ngomel karena kesal. Entahlah, Aji suka menjahili wanita itu.
Dengan cepat Aji membuka pintu mobilnya, lalu menuju ke pintu belakang. Gerakan yang sama saat Wida juga membuka pintu itu dari sisi kiri.
" Biar aku aja. Jangan di bangunin, nanti dia pusing!" Pelan namun pasti, Aji terlihat merengkuh tubuh Damar yang lelap, lalu menggendong bocah itu. Aji menggunakan punggungnya untuk menutup pintu mobil itu, sesaat setelah ia berhasil menggendong Damar.
" Tutup pintu yang depan Wid!" Pinta Aji sambil berlalu saat menggendong Damar untuk masuk.
Wida tertegun melihat Aji. Entah mengapa melihat Damar yang di gendong begitu, membuat hati Wida menghangat. Tak mengira jika Aji mau melakukan serentetan hak untuk Damar.
" Loh tidur, astaga. Bawa masuk sini Pak!" Ibunya Wida yang menyongsong kedatangan mereka terperanjat saat melihat Damar yang berada dalam gendongan Aji.
Aji mengangguk sambil terus berjalan mengikuti wanita berumur itu, ia harus menundukkan kepalanya lantaran gawang kamar yang di tempati Wida itu sangat rendah.
Aji dengan perlahan meletakkan Damar yang masih lelah keatas kasur yang tidak empuk sama sekali itu. Membaut hati Aji lagi-lagi dibuat miris.
Sungguh anak itu jelas kelelahan. Pria itu terlihat melepas sepatu yang di kenakan Damar. Dan hal itu lagi-lagi membuat Wida tertegun.
Aji melakukan hal itu sambil memindai tampilan kamar Wida yang sangat sederhana. Hatinya lagi-lagi nyeri saat melihat pemandangan pas-pasan seperti itu.
" Ibuk buatin minum buat Pak Aji dulu Wid, suruh orangnya singgah sebentar!"
Ia bisa mendengar jika istri dari Pak Atmojo itu berlalu usai mengatakan hal itu kepada Wida. Kamar berukuran 4 meter itu sangat sesak kala Wida turut masuk.
Aji melirik Wida yang meletakkan tasnya di sebuah meja kuno yang berasa di sisi kasur kapuk itu. Tanpa Wida duga, Aji langsung menarik tangan Wida dan menempelkan tubuh wanita itu ke dinding. Pria itu dengan cepat mencium bibir Wida kembali. Entahlah, Aji sudah mulai candu dengan wanita itu. Seolah tak ingin melepaskan.
Lengan Aji terlihat mengetat saat mengunci kedua tangan Wida. Pria itu benar-benar menyerang Wida tanpa ampun.
" Emmmm!" Wida memukul- mukul lengan atas Aji. Apa pria itu gila? Kalau ibu tahu bagaimana?
Oh ya ampun!
Aji melepaskan ciumannya saat ia merasa cukup. Masih sempat tersenyum menyeringai sebelum ia keluar dari kamar Wida.
" Belum-belum aku udah kangen Wid. Aku tunggu diluar!" Aji mengusap lembut pipi Wida. Meninggalkan wanita yang kini menatapnya sebal tiada terkira.
.
.
Widaninggar
Jantungnya seakan mau copot saja, saat pria itu dengan impulsifnya menarik tubuhnya lalu mencium bibirnya dengan ngawur , saat dentingan sendok dan gelas yang digunakan Ibu untuk membuat minuman terdengar.
Benar-benar pria ngawur.
Wida seketika mengunci pintunya dari dalam saat Aji keluar. Ia masih saja deg-degan dengan kejadian barusan. Pria itu!
" Orang itu!" Dengusnya kesal.
Ia menatap Damar yang terlelap diatas kasur kapuknya itu. Dan entah karena dorongan apa, Wida meraba bibirnya yang beberapa detik yang lalu di sambar oleh Aji.
Wida tersenyum demi merasakan getaran cinta yang ditanamkan oleh pria ngawur tadi. Entahlah, sesuatu yang membuat perutnya di penuhi oleh jutaan kupu-kupu yang berterbangan itu sepertinya berasal dari sikap Aji yang sudah sembrono dan kerap memaksa itu.
Sikap yang kini mulai terbiasa ia hadapi.
.
.
.
.