
Bab 57. Seperti melihatmu
^^^"Adat pasang berturung naik.^^^
^^^Nasib seseorang tidak akan selalu sama, senang dan susah silih berganti."^^^
.
.
.
...πππ...
Serafina
Ia masih sibuk melamun saat ketukan beruntun dari mama membuyarkan lamunannya. Ada apa lagi pikirnya.
"Fin ini mamah!"
" Keluar bentar itu kamu ada yang nyari di depan!"
Ucap mama yang sontak membuatnya beranjak dari aktifitas duduknya yang masih terpekur. Nyalang menatap ke arah jendela yang masih terbuka, padahal hari sudah mulai gelap.
Ceklek.
Pintu mengayun dan menampilkan sosok mama yang berwajah muram. Ada apalagi pikirnya.
" Siapa ma?" Rasa penasaran kini menjalari otaknya.
" Tau tuh, papa kamu yang kenal. Kamu sama papa disuruh kesana!" Sahut mama ketus.
Ia tertegun demi mendengar penuturan sang Mama. Kenapa mama bisa tidak mengenali tamunya?
" Udah cepetan kesana, biar cepat balik orangnya!"
Ia dengan langkah ragu mulai menuju ruang tamu. Terdengar gelak tawa yang renyah dari sana. Tawa para pria yang salah satu suaranya berasal dari suara papa.
Lantang dan menggelegar.
" Nah itu Fina, sini Fin. Kata Rizal kalian sudah saling kenal ya?" ucap papa menyambutnya.
Dan demi segala bangsa setan yang ada di seluruh pelosok negeri ini, Fina ingin mengumpat demi melihat Om Kemal bersama putranya Rizal, yang sudah duduk dengan akrabnya bersama papa.
Tersenyum memamerkan keramahan.
Damned!!
Pantas saja mama tidak kenal. Secara Om Kemal kan teman papa waktu di desa. Haish!! mau tak mau ia akhirnya berjalan dan bersalaman dengan kedua pria yang sama sekali tak ia harapkan kedatangannya itu.
" Kamu kok gak cerita sama papa kalau pas kamu kecelakaan kemaren Rizal sama Om Kemal nengokin kamu?" Papa justru menanyakan hal itu saat ia tengah malas membahas apapun.
Ia hanya mengulum senyum kikuk. Benar-benar tak tahu harus menjawab apa.
" Tidak papa Gun. Mungkin anak kamu lupa, ya soalnya....!"
" Sudah lama om?" potong Fina cepat sebelum pria bernama Kemal itu mengatakan soal Pandu. Ia bahkan sudah bisa menebaknya.
" Oh, saya disini rencananya tiga hari. Biasalah ngantar Rizal. Semenjak naik jabatan dia main sibuk!" ucap Kemal dengan sombongnya, sembari tergelak. Namun anehnya, papa selalu ikut tertawa saat pria dengan tubuh gendut itu tertawa.
Benar-benar memuakkan.
" Jadi Papa sama Om Kemal ini teman sewaktu kami kecil di desa Fin. Kakek kamu sama papanya om Kemal sudah berteman lama juga, jadi mereka ini sudah seperti keluarga!" terang papa yang sama sekali tak ingin ia dengar. Sungguh.
" Benar, sayangnya papa kamu lebih betah hidup di kota. Tapi justru jadi pengusaha sukses dia!" terdengar gelak tawa dari mulut dua pria tua itu. Ia melirik Rizal yang sedari tadi tak lekang menatapnya. Membuatnya risih.
Entah mengapa mereka selalu tertawa. Padahal baginya kesemua yang di obrolkan adalah hal garing.
Cih , bolehkah dia pergi saja dari sana?
" Fin, ajak Rizal ngobrol sana. Papa sama Om Kemal ada kepentingan!" tukas papa yang membuatnya membulatkan matanya.
" Apa? kepentingan? kepentingan apa? kenapa harus aku yang ngajak ngobrol?
" Emmm, sebenarnya saya mau ngajak Fina keluar Om. Kalau boleh. Mumpung masih disini, sekalian mau nyari oleh-oleh buat teman-teman!" terang Rizal penuh kesopanan.
What the hell??
Keluar? Tidak, ini jelas bukan ide bagus. No!
" Ide yang bagus, Fin kamu bisa pergi temani Rizal sebentar ke Pelangi Sari ( nama pusat oleh-oleh milik keluarga mereka)!"
" Zal, kamu bisa diantar Fina ke pusat oleh-oleh milik Om. Kamu ambil aja mana yang mama kamu biasanya suka ya. Jangan sungkan!"
'Emm, Fina...!"
" Kalau gitu aku tunggu di depan ya Fin!" sahut Rizal. Membuat ucapannya menguap percuma ke udara.
" Apa-apaan sih. CK!" Mendecak dalam dalam hati penuh rasa sebal saat Rizal memotong ucapannya.
Benar-benar brengsek.
" Sudah Fin siap-siap sana, nanti biar gak kemalaman!"
.
.
Dengan berengut dan dengan berdandan ala kadarnya, Fina terpaksa mau mengantar Rizal menuju tempat usaha papanya.
" Mau kemana?" tanya Nyonya Lidia yang penasaran, kenapa anaknya mengganti bajunya.
" Papa nih kenapa sih ma. Kok aku jadi curiga sama Om Kemal. Ngapain juga kesini. Terus juga aku disuruh nganterin Rizal ke Pelangi Sari lagi sekarang!" Fina mendengus sepanjang mengucapkan kalimat penuh kekesalan itu.
Nyonya Lidia mengembuskan napas resah. " Dulu papamu ngelarang mama buat ngenalin kamu ke temen-temen mama. Sekarang malah papamu yang jilat ludahnya sendiri. Gak tau deh Fin. Mama pusing!"
...πππ...
Pandu
Pandu menyugar rambutnya usai mandi. Terasa begitu menyegarkan. Lumayan, kamar dengan harga murah itu ternyata memiliki kamar mandi yang cukup futuristik.
Wajahnya yang tampan kini basah oleh sisa air yang sengaja tidak ia lap dengan handuk. Terlihat sexy.
Pandu masih bertelanjang dada. Tubuh pria itu terlihat seperti tanpa cacat. Ia menatap tatto yang terpahat di sepanjang bahu hingga lengan kanan atas itu, dengan wajah sendu.
Ia ingat akan sejarah pembuatan tatto itu di tubuhnya.
" Ibuk lagi apa ya?" gumamnya saat melihat aksara Jawa yang yang terpahat di bahunya. Aksara yang bertuliskan nama Ambarwati dalam huruf Jawa kuno.
Huruf kekal yang tak akan pernah lekang hingga nyawa yang di kandung badannya, lenyap ke nirwana.
" Lik bilang sama Ibuk kalau saya sudah sampai. Pandu!"
Berkirim pesan agar hati ibunya tenang. Meski ia sudah meminta Lik Sarip untuk tak memberitahu kepada siapapun, soal kepergiannya.
Usai mengirimkan pesan kepada Lik Sarip, pria itu mengambil baju di ranselnya. Tak banyak, hanya beberapa potong saja. Sebuah kaos hitam yang fit di tubuhnya, ia padukan dengan celana panjang berwarna krem. Berniat akan keluar berjalan kaki untuk keluar mencari makan malam sambil mencari sesuatu.
Pandu terlihat ganteng. Suit suit!
" Sendirian aja mas!" ucap pria wandu yang menatapnya genit. Manusia golongan tulang lunak itu kini bertugas menjadi resepsionis hotel kelas teri itu.
Pandu tersenyum " Mau keluar dulu, kuncinya aku keep ya?"
" Boleh, hatiku mas Pandu keep juga boleh!" ucap pria wandu itu seraya mengerlingkan matanya penuh kegenitan. Membuat Pandu merinding seketika. Dan darimana pria itu tahu namanya.
" Kok tahu nama...!" Pandu menyipitkan matanya menatap makhluk yang entah dar antah berantah bagian mana itu.
" Tara!!" ucapnya mengambil secarik berisikan daftar nama pengunjung hotel itu. Lengkap dengan nomer induk KTP.
Pandu tergelak, astaga. Ia bahkan sudah hampir bersuudzon kepada manusia unik satu itu.
" Los Yo mas. Gak usah buru-buru!" ucap pria unik itu dengan suara kemayu.
Hotel itu berada di kawasan keramaian yang strategis. Mungkin memang ada yang menyalahgunakan tempat menginap murah seperti itu dengan kegiatan melebur hasrat bersama.
Tapi bagi Pandu, menginap di tempat murah seperti itu merupakan sebuah alternatif penghematan demi misinya.
" Nasi goreng satu aja Cak!" ucapnya sembari berdiri di samping pedagang dengan kumis setebal serabut kelapa tua.
" Makan sene dek?" ucap pria paruh baya dengan logat Madura yang kental. Pria itu bertanya sambil terus mengaduk nasi goreng di wajan besar dengan lihainya.
Pandu mengangguk. " Iyo Cak!" sahut Pandu demi melihat jika pria itu benar orang Madura.
" Tonggo dolo ya!"
Pandu menganggu meski pria itu tak melihatnya. Ia menatap jalan raya yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit dengan kerlipan lampu yang memanjakan mata.
Ia menatap lalu lalang mobil yang melintasi. Entahlah, berada di belahan bumi lain membuat Pandu merindukan seseorang.
.
.
Fina pasti sudah gila. Matanya menangkap sosok Pandu saat ia dan Rizal melintas di kawasan jalan cendrawasih. Tapi yang benar saja. Mustahil bukan?
Jelas ia tengah tak baik-baik saja. Masa iya dia merasa melihat Pandu di kota itu. Apakah kini dia benar-benar sudah tidak waras. Otaknya benar-benar terkontaminasi dengan Pandu.
Pandu lagi, Pandu terus. Pandu terus , Pandu lagi.
" Kenapa Fin?" Rizal menangkap raut aneh dari wajah Fina.
" Em...itu ..anu, emm nggak ada kok!" mendadak terbata-bata. Mana mungkin menceritakan apa yang ia rasa kepada pria di sampingnya itu.
Rizal mengerutkan keningnya " Kamu habis lihat siapa, kok celingak-celinguk?" Rizal bisa menganalisis keadaan yang tersaji disana.
" Udah dibilang gak ada, gak lihat siapa-siapa. Udah jalan aja lah, biar gak kelamaan pulangnya!" Ketus Fina.
Rizal tersenyum di belakang kemudinya. Merasa gemas dengan wajah Fina yang memanyunkan bibirnya.
" Fin, aku boleh tanya sesuatu sama kamu gak?"
Perasaan Fina menjadi tak enak. Mengapa sangat berbeda rasanya saat ngobrol dengan Pandu dan saat mengobrol dengan Rizal.
Tuh kan Pandu lagi.
" Apa?" sahutnya malas.
" Kamu udah ada pacar?"
.
.
.