Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 233. Selangkah lebih dekat



Bab 233. Selangkah lebih dekat


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Arjuna


Ia masih ingat betul saat pria putih yang kerap ia lihat berkunjung kerumahnya, demi membersamai bang Yudha maupun sekedar main itu mengajaknya keluar secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang lain.


Pria yang ia nilai sebagai pria lucu itu memang terlihat berbeda dari kedua sahabat bang Yudha yang lain. bang Pandu dan bang Aji.


" Kamu bisa jaga rahasia?"


Ucapan dari mulut bang Sakti beberapa waktu yang lalu itulah , yang menjadi cikal bakal generasi menunduk itu menjadi mata-mata rahasia si pria sableng.


" Rahasia apa bang?" Tanya Arju dengan wajah polosnya. Sebab sepanjang ia bernapas di muka bumi ini, ia selalu bermain rahasia sendiri agar tak mendapat amukan dari mamak. Pembelian voucher game.


Suatu malam sebelum bang Sakti meninggalkan Kalianyar, ia diberikan upeti berupa sekotak mafia gedang yang terasa menggiurkan, serta beberapa rupiah yang membuatnya merasa menjadi orang paling kaya malam itu. Ahay!


" Berikan nomer mu, tapi..." Bang Sakti malam itu meminta dirinya untuk tak memberikan informasi apapun soal perihal nomernya. Arju mengangguk saja. Terlalu cincai jika ia hanya diam membisu, lalu mendapat sebuah makanan lezat yang kini tengah trending di kalangan milenial itu.


Sebab tanpa upeti pun, ia sudah terbiasa membisu. Bahkan ketika mamak berang dan suaranya sudah naik hingga oktaf tertinggi.


" Tolong berikan kotak itu ke acaranya bang Aji besok ya. Ingat, jangan sampai ada yang tahu!"


Arju melakukan tugas itu dengan mudah. Ia tinggal memanfaatkan waktu sibuk para manusia berbatik yang tengah rempong itu, untuk meletakkan sebuah kotak yang entah isinya apa, ke meja buku hadir manakala Ajisaka tengah mengadakan proses ijab kabul.


Namun nyaris saja ia apes, sebab tanpa ia sadari, bang Yudha sudah berdiri di belakangnya dan entah sejak kapan.


" Itu kurir obat bisul mamak bang!"


Akhirnya ia bisa menemukan alasan yang relevan guna memupus kecurigaan bang Yudha, atas kelakuannya malam ini.


" Ya sudah bang, aku ngantok. Tedor dulu lah!" Ucapnya ngeloyor meninggalkan abangnya yang masih diam mematung.


" Huft untung saja!"


" Ada yang tidak beres!" Batin Yudha seraya menatap punggung adiknya yang menghilang di balik pintu kamar.


.


.


Yudhasoka


Restu sudah berada di kantong, cinta juga sudah menggebu tak tertolong. Singkat cerita, ia dan Rara juga memiliki perasaan yang sama. Lalu, tunggu apa lagi?


Niat baik harus di segerakan bukan?"


Ia juga ingin segera mereguk rasa indahnya hidup bersama wanita yang ia cintai. Ingin juga merasakan bagaimana riwehnya hidup berdua. Terlebih, ia juga ingin menjadi bahagia seperti Pandu, yang mengabarkan jika ia sudah otewe menjadi bapak. Ya, sebuah embrio tengah tumbuh dalam rahim Fina. Membaut semua orang bahagia.


Sebulan terakhir ia habiskan untuk membahas mekanisme pernikahan bersama mamaknya. Meski dalam hati, ia masih diselimuti kesedihan lantaran tak mengetahui dimana keberadaan Sakti.


Namun bagaimanapun juga, hidup terus berjalan bukan?


Sebab Yudha tidak mau menunda-nunda lagi niat baiknya untuk mempersunting Rara. Pria itu kini kenal arti cemburu, dana rasa tak enak yang timbul karenanya. Jelas membuat dirinya ogah kehilangan Rara.


Alasannya cukup menggelitik. Singkat cerita, beberapa waktu yang lalu Rara diantar oleh rekan yang posisinya sebagai supervisor di departemen store, tempatnya bekerja.


Motor Rara bocor dan sore itu Yudha sedang ada briefing dan tak bisa di hubungi sama sekali. Membuat wanita tegas itu, akhirnya mau menerimanya tawaran rekan kerjanya, karena kepikiran dengan Bapak.


Membuat mereka bertengkar kecil. Dan sejak saat itu, Yudha memutuskan untuk segera melamar Rara agar wanita itu mau resign dan semua tanggung jawab bisa ia ambil alih. Termasuk pengobatan pak Hari.


Ia malam ini ingin bertanya dengan Aji. Pria itu semenjak menikah sangat susah diajak ngobrol berdua. Alasannya masih klasik.


" Namanya juga pengantin baru!" Begitu ucap Aji seringnya.


Dasar Aji!


" Halo Ji?" Ucapnya saat indikator angkat detik di layar ponsel itu kini berjalan.


" Sshhhh ah!" Yudha menjauhkan ponselnya manakala mendengar suara tak lazim dari benda pipih yang ia pegang itu dengan wajah mendelik.


"Sialan ni anak!"


" Yud?" Ucap Aji dengan suara menjijikkan.


" Ji, aku kesitu habis ini!" Ucapnya tak mempedulikan suara edyan , yang jelas memang Aji sengaja untuk membuatnya ngiler.


Asu asu!


Dan hal itu benar adanya. Tepat di jam 10 malam, ia mendatangi kediaman Ajisaka karena mereka telah berjanjian. Setelah Aji i'ok i'ok tentunya. Hihihi.


" Lu yang bener aja! Lagi ***** malah jawab telpon!" Yudha mendengus seraya kesal melirik bapaknya Damar itu.


Aji terkekeh-kekeh. " Mumpung lagi posisi di bawah, jadi bisa nyambi ngangkat telepon!" Aji terkikik geli.


" Wong edyan!" Ucap Yudha semakin sebal. Membuat Ajisaka tergelak kencang.


" Jangan biarin istri terlalu lama diatas. Enggak baik buat si Ucok!" Ucap Yudha yang kini mengambil rokok.


" Aman! Punyaku udah pengalaman. Jadi, bisa saling eksplorasi!" Aji tergelak.


" Gak waras nih orang!" Yudha menggeleng dengan wajah tak percaya.


" Jadi gimana?" Tanya Aji yang kini mulai serius. Ia tahu pasti sahabatnya itu pasti akan mencari dirinya, sebab memang Pandu saat ini tengah berada di kota.


Mereka mengobrol banyak. Yang jelas, Yudha akan menyewa sebuah ballroom hotel yang biasa di sewa oleh beberapa pejabat setempat maupun artis-artis lokal.


" Elu harus siap satu hal Yud!" Ucap Aji menghisap rokoknya dalam-dalam.


" Apa?"


" Sikap Sakti kepadamu!"


.


.


.


.