Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 14. Kesempatan lama hilang, kesempatan baru datang



Bab 14. Kesempatan lama hilang, kesempatan baru datang


^^^"Seringnya, berdamai dengan kekecewaan itu membutuhkan waktu yang tak sebentar. Ia kerap menghabiskan banyak waktu, bahkan mungkin seumur hidup!"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Keadaan Serafina yang sebenarnya tengah baik-baik saja, nyatanya malah menjadi kecemasan sendiri untuk Nyonya Lidia. Wanita itu semenjak di tinggalkan oleh anak bungsunya, kini menjadi irit bicara.


Merasa kesepian menyerang hari-harinya.


Tuan Guntoro yang hampir empat hari melihat Istrinya bersikap seperti itu, tentu menjadi tak tenang hati.


" Mama ini kenapa sih, tiap pagi papa perhatikan begini terus. Ngilangin selera makan papa aja tau gak ma!" ucap pria yang menggunakan kacamata itu, dengan wajah mendengus.


Nyonya Lidia menatap suaminya sebal, bagaimana bisa suaminya itu tak merasakan apapun bahkan saat mereka kini tinggal berdua dirumah sebesar itu.


" Papa ini apa sama sekali gak merasa bersalah sih Pa? anak semua gak ada dirumah tapi gak ngerasa gimana - gimana sama sekali!" Nyonya Lidia bersungut-sungut saat mengatakan hal itu.


Tuan Guntoro mengembuskan napasnya pelan, " Papa begini bukannya tega sama anak Ma, tapi ini justru demi kebaikan Fina. Mama mau jika kita nanti udah pada tua terus mati, tapi anak kita terus hidup seperti itu. Mabuk, kelayaban di club'. Mau jadi apa ma!"


" Sampai kapan dia gak bisa jaga dirinya sendiri kayak gitu!"


Pria itu berucap dengan nada sedikit geram.


Lidia tertegun. Ucapan suaminya terlalu telak. Membuatnya tak bisa menjawab.


" Papa berangkat dulu, gak selera makan kalau tiap hati begini!" Tuan Guntoro berdiri, ia meninggalkan meja makan begitu saja. Suami istri itu sedari dulu sering tak sepaham untuk urusan anak.


Nyonya Lidia yang begitu mengasihi Fina, tentu merasa kesepian. Apalagi putrinya selama di desa belum menghubunginya sama sekali.


.


.


Riko


Pria itu dirundung rasa bersalah kepada Fina. Nomernya di blokir, segala akses portal media sosial Fina yang ia miliki juga telah berstatus memblokade dirinya. Membuatnya tak bisa menjalin komunikasi.


Ia tak berani untuk bertandang ke rumah Fina. Jelas, sedari dulu Papa Fina melarang keras hubungannya dengan gadis berambut coklat itu.


Sory Ko, gue benar-benar gak tahu Fina dimana. Gue mau tugas keluar daerah. Gak bisa bantu masalah elo.


Balasan dari Dita agaknya juga tak bisa membantunya lebih. Kini ia tertegun di sebuah cafe di daerah jalan Karimata. Merenung seorang diri.


He felt like a loser.


Sebuah getaran yang berasal dari ponselnya menginterupsi lamunannya. Ia melihat sekilas nama yang tertera pada layar ponselnya.


Shila Calling...


" CK!" ia hanya mendecak lalu menekan tombol merah untuk mereject panggilan dari kekasih gelapnya itu.


" Gue gak mau putus dari elo Fin. Gue nyesel banget, gue nyesel!" ucap Riko frustasi Serua mengacak rambutnya kesal. Kesal dengan dirinya.


Kemana perginya wanita itu.


Sejenak Riko mumet dengan hidupnya. Kebodohannya yang tergoda oleh Shila justru meluluhlantakkan percintaannya dengan Fina.


Apalagi, ia dan Fina sudah pernah bercumbu. Jelas membuat pria itu sulit melupakan Fina. Terutama rasa saat berkeringat bersama.


.


.


Shila


Pasca kejadian terbongkarnya perselingkuhan Riko dengan dirinya, pria yang ia sukai sejak jaman kuliah itu malah kerap mangkir dari acara jadwal pertemuannya.


Ia sedari tadi berkali- kali menghubungi Riko namun panggilannya selalu di tolak.


The number you have dialed is busy, please try again later. ( Nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan coba beberapa saat lagi).


" Sialan!"


Alih-alih suara Riko yang ia harap untuk menjawab, justru suara customer service dari operator seluler yang ia dengar.


" CK, brengsek! kemana sih si Riko!" Shila mendengus kesal. Ia bahkan sudah mengendarai mobilnya berkeliling tempat yang biasa dikunjungi Riko, namun hasilnya nihil.


Ia benar-benar frustasi saat ini.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Siang menjelang, Fina terlihat bolak balik membalas chat dari Dita yang rempong karena takut kebablasan stasiun.


"Pokonya berhenti di stasiun Kalianyar Dit, minta Polsuska ( Polisi khusus kereta) buat ngingetin nanti. Ribet amat dah!"


"Estimasi kamu nyampek itu entar jam dua. Masih dua jam lagi, santai"


Fina berkali- kali merasa gemas kepada sahabatnya itu. Ia melempar ponselnya ke ranjang sampingnya usai memberitahu Dita.


Sahabatnya itu benar-benar rempong bin rebyek.


Tok Tok Tok


" Fin, udah siang kamu kok belum makan!" Bu Asmah mengetuk pintu kamar cucunya.


" Belum laper!" sahutnya sambil bangkit dari tempat tidur itu.


Fina mengangguk " Sementara tinggal disini dulu boleh kan Oma. Entar dia cari kontrakan dekat-dekat sini!" Ucap Fina seraya menguncir rambutnya.


" Boleh, banyak kamar kosong. Oma malah seneng kalau makin banyak orang disini. Makin rame!"


Fina melihat pancaran ketulusan dari sorot mata neneknya. Sejenak ia teringat dengan mamanya. Tapi, dalam hatinya ia masih belum terima dengan keputusan papanya yang seolah menganaktirikan dirinya.


.


.


Terlalu menyepelekan apapun agaknya masih menjadi tajuk hidup Fina. Ia ketiduran dan jelas saat ini pasti Dita sudah tiba di stasiun.


Getaran ponselnya ia abaikan karena jika dia mengangkatnya sekarang. Sudah pasti Dita akan memberikan siraman kalbu kepadanya.


" CK, gimana nih. Masa iya gue enggak touch up. Mana bibir pucat!" ucapnya seraya dengan cepat mengganti bajunya dengan serampangan, dan secepat kilat men-thouch Up wajahnya agar tak terlihat kusam.


Dengan terburu-buru ia memoleskan lipstik warna nude favoritnya. Ia berpakaian casual siang ini. Toh hanya sekedar menjemput. Begitu pikirnya.


" Oma kunci mobilnya mana?" tanya Fina seraya memakai sepatu karena sudah terburu-buru.


" Lah, Oma gak tau Fin. Apa belum di kembalikan sama Pandu?" jawab Bu Asmah yang sebenarnya lupa.


" Hah, astaga!" Fina kian mumet dibuat. Kini apa dia harus mencari pria bernama Pandu itu dulu.


" Coba aku telpon ibunya si Pandu dulu, barangkali ada dia. Soalnya Oma ga ada punya nomenya Pandu Fin!" Wanita tua itu terlihat mencari nomer penjual lontong langganannya.


" Halo Ambar, Pandunya ada?" ucap Bu Asmah sesaat setelah sambungan telepon itu terjalin.


Fina terlihat memandang raut wajah neneknya itu lekat. Seolah menanti jawaban yang pasti ia harapkan kejelasannya.


" Oh ya sudah kalau begitu. Ini tadi kunci mobilnya apa sudah Pandu kembalikan ya. Solanya Fina mau bawa mobilnya!"


Fina mendecak, dari perbincangan Oma-nya itu biasa ia simpulkan jika pria itu tidak ada dirumah.


Ponselnya berdering berkali-kali, membuat Fina mau tidak mau harus segera menjawab panggilan dari Dita.


Definisi dari rasa bersalah yang membuncah.


" Hal.."


" Fina elu dimana sih, aku udah kering nih di stasiun. Mana gak ada yang aku kenal lagi, orang puskesmas aku WA juga centang semua. Kami dimana sih? Sialan deh!"


Dugaanya benar dan tepat. Dita pasti sudah ngremon karena menunggu terlalu lama.


" Bentar Dit, ini udah di jalan kok. Maklum jalan desa gak bagus jadi aku nyetirnya gak bisa kencang!" Sedikit bumbu penipuan agaknya perlu ia bubuhkan.


Dalam mode kebingungan, mendadak suara sebuah motor yang tak asing terdengar masuk ke pekarangan rumah Bu Asmah.


" Nah itu Pandu!" ucap Bu Asmah tersenyum saat melihat Pandu yang datang dengan mengendarai motornya. Membuat Fina turut mengarahkan pandangannya kepada pria itu.


" Maaf Bu, saya baru datang. Tadi ibu saya bilang kalau Bu Asmah cari saya!" Pandu datang sedikit tergopoh-gopoh. Dan jika dilihat, sepertinya ia baru pergi dari suatu tempat. Pria itu masih mengenakan jaket dan celana panjang yang lengkap dengan sepatu sneaker.


Jika di lihat , penampilan Pandu bahkan lebih pantas untuk hidup di kota. Ganteng dan modis.


" Aduh maaf ya Ndu, jadi buat kamu wira- wiri begini . Jadi begini, tadi kamu udah kasih kunci ke saya belum ya? saya lupa. Udah saya cari tapi kok ga ada!" tukas Bu Asmah penuh penyesalan dan rasa sungkan.


" Tadi seingat saya, ibu langsung ambil dan ibu langsung memasukkannya ke saku sweater yang ibu kenakan tadi pagi!" tuka Pandu menjelaskan dengan penuh keyakinan.


Fina yang mendengar penuturan Pandu, membuatnya langsung berlari menuju kamar neneknya itu. Ia tak mau makin membuat Dita menunggu lama.


Dan benar saja, kunci mobil itu berada di dalam kantung sweater rajut yang kini tergantung di kamar neneknya.


" Bener Oma, ini ada!" Fina menunjukkan kunci mobil itu dengan wajah lega.


" Astaga, Pandu maafkan saya ya. Saya benar-benar lupa!" Bu Asmah merasa tak enak hati kepada Pandu.


" Tidak apa-apa Bu, yang penting sudah ketemu!" Pandu tersenyum ramah.


" Ya udah Oma aku mau pergi dulu, si Dita udah ngomel itu!" Fina terlihat terburu- buru. Ia sangat merasa bersalah kepada sahabatnya itu.


Apalagi drama terselipnya kunci mobil barusan, jelas menambah panjangnya durasi masa tunggu Dita di stasiun.


" Aku perg.."


" Fina tunggu dulu!" sergah Bu Asmah cepat. Membuat Fina menghentikan langkahnya.


" Ndu, kamu sibuk enggak?" tanya Bu Asmah. Kini Fina semakin tidak mengerti.


" Sekarang tidak Bu, urusan saya baru selesai. Ada apa ya Bu?" Pandu menautkan kedua alisnya. Mengapa wanita tua yang terhormat itu menanyakan hal itu kepadanya dengan wajah serius.


" Minta tolong antar Fina bisa? dia mau jemput temannya ke stasiun. Saya khawatir sama dia, takut ada apa-apa dijalan. Lihat tuh dia buru-buru sekali!" tukas Bu Asmah dengan wajah memohon.


Wanita tua itu tentu tak mau sesuatu terjadi kepada cucunya. Apalagi Ketergesaan sering berbuah penyesalan di ujungnya.


Bu Asmah takut jika terjadi sesuatu di jalan, jika Fina mengendarai mobil itu karena terburu-buru.


" Oma!" Fina memanyunkan bibirnya, tak perlu menyusahkan orang lain pikirnya.


Fina yang mendengar ucapan Oma-nya hanya bisa menelan ludahnya. Ini tidak perlu sebenarnya, ia bisa pergi sendiri.


" Bisa Bu, akan saya antar!" Jawab Pandu kemudian. Membuat Fina terhenyak karena jawaban Pandu yang diluar dugaannya.


.


.


.


.


.