
Bab 138. Ngobrol bersamamu
^^^"Dalam lautan, masih bisa terukur. Dalamnya hati, tiada dapat terukur!'"^^^
^^^.^^^
.
.
...πππ...
Dahulu memang terasa indah, rasanya Wida tak ingin melupakan. Namun senyum kecut yang di suguhkan Wida, jelas menyiratkan jika saat ini hatinya benar-benar telah mati. Kecewa dan merasa segala sesuatunya telah sirna.
" Jadi kalian dulu sempat pacaran?" Ajisaka yang duduk di hadapan Wida benar-benar seakan merasa tak tahan untuk diam saja.
Ya, mereka kini saling mengobrol sambil beristirahat dari kejaran nasib busuk yang melempar mereka di tengah hutan itu.
Wida mengangguk " Aku dulu bekerja di sebuah perusahaan konveksi di kota. Aku mengenal mas Pram karena dia dulu kerja dan jadi manager di sana!"
Wida akhirnya menceritakan awal mula ia bersama Pram. Meski rasanya Aji sangat cemburu tiap Wida menceritakan kisah manis yang tercipta sewaktu dulu.
Dasar Aji!
" Mas Pram mulai berubah sejak aku hamil Damar. Aku udah enggak kerja lagi dan waktu itu Mas Pram kena PHK massal!"
Pandangan Wida menerawang jauh ke depan. Aji bisa melihat wajah teduh Wida yang terlihat sendu sekali dari samping. Terasa memilukan.
" Saat usia Damar menginjak 3 tahun, semua makin terasa berubah. Sering telat pulang kerumah karena alasannya kerjaannya lembur. Atau ada kerjaan sampingan lain yang aku enggak tahu mas Pram kerja apa dan dimana. Hubungan kami benar-benar bukan seperti seorang suami-istri!" Wida terlihat menahan dadanya yang sesak. Lagi-lagi sambil tersenyum kecut.
Jakun Aji terlihat naik turun, pria itu berkali-kali menelan ludahnya saking terbawa oleh cerita menyedihkan Wida. Ingin sekali rasanya pria itu merengkuh Wida kedalam pelukannya. Namun, jelas itu terlalu cepat jika ia melakukannya saat ini.
Tentu ia tak ingin membuat Wida menghindarinya kembali hanya karena ketergesaannya yang tak bisa ia tahan. No way!
" Sampai mas Pram sering mukul aku, mukul Damar. Katanya aku sama dia cuma beban. Karena aku enggak kerja!" Wida tersenyum kecut namun kali ini ia menatap wajah Aji.
Pandangan yang bertemu itu, terkunci selama beberapa detik. Ada desiran aneh di dada Aji kala melihat sorot mata sendu itu. Dadanya pun juga kian berdebar.
" Mungkin benar kata mas Pram. Aku sudah enggak secantik dulu! " Wida menghapus air matanya yang lolos kala ia terus bercerita.
Ajisaka masih diam dan tekun menjadi pendengar yang baik, ia ingin isi hati wanita itu merasa lega dengan mengeluarkan semua unek-unek yang bersarang di dalam dada Wida.
" Apa itu salahku?" Wida lagi menggeleng seraya menahan sesak. Bibirnya bahkan bergetar dan hatinya penuh.
" Karena cantik juga butuh pengeluaran, apa dia kira wanita- wanita cantik yang kerap di tiduri mas Pram juga gak perlu modal?" Wida terlihat menggebu-gebu kala berucap. Jelas batin Wanita itu sangat tertekan selama ini.
" Mas Pram selama ini bahkan jarang memberiku uang. Dan jika aku ingin bekerja diluar aku di tuduh yang bukan-bukan, dan puncaknya dia selalu melampiaskan kemarahannya saat kalah judi dengan memukuliku!"
Tangis Wida pecah. Ia menangis saat ini. Mahligai yang ia harapkan menjadi sebuah kebahagiaan, nyatanya tak lebih dari sebuah fatamorgana penderitaan yang tiada bertepi.
" Bahkan dia melakukan semua itu di hadapan Damar!" Tubuh Wida bergetar hebat, Rahang Aji terlihat mengeras, matanya turut berkaca-kaca. Seolah ia turut merasakan apa yang di rasakan oleh Wida. Bahkan hanya mendengar ceritanya saja, sudah membuat dada pria itu bergemuruh.
Aji beringsut ke depan seraya meringis alu mengusap punggung Wida. Berusaha memberikan dukungan moril pada wanita itu. Sungguh, ia dapat merasakan beban yang di emban Wida selama ini.
Wida sesegukan, dan ia kini terlihat menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Menatap Aji sembari membuang napasnya.
" Maaf mas, aku... terlalu banyak bicara!" Ucap Wida yang menyadari jika mungkin Aji merasa illfeel dengan ceritanya.
" It's Ok!" Aji bahkan tak sanggup untuk berkata.
Wida menatap tangan Aji yang kini masih menempel di punggungnya, membuat Aji seketika menarik tangan itu kala menyadari Wida yang terlihat kurang nyaman.
" Maaf!" Ucap Aji sembari menarik tangannya.
Kecanggungan mendadak mendominasi saat itu.
" Aku yang minta maaf!" Wida kini membenarkan posisi duduknya, dengan sedikit menghadap ke Utara. Posisi yang agak dekat dengan wajah Aji.
" Jadi...malam itu?"
Wida mengangguk " Mungkin hutang mas Pram udah banyak dan enggak keitung. Sampai dia mau jual aku sama Damar!"
" Binatang saja tidak ada yang tega menelan anaknya sendiri, tapi dia...!" Wida kembali geram kala mengingat mas Pram yang malah hendak menjual Damar juga.
" Dia benar-benar lebih buruk dari binatang!" Wida mengeraskan rahangnya. Sungguh, tidak ada lagi yang tersisa bagi pria macam Pram.
Aji terlihat membuang napasnya. Ia sangat kasihan dengan Wida. Entahlah, ia memang juga pernah hidup sengsara dan tanpa kehadiran orang tua. Namun, melihat cerita Wida yang begitu menyayat hati itu, membuat dia berpikir jika penderitaannya selama ini tak bisa di samaratakan dengan orang lain.
Jelas, semua orang memikul bebannya masing-masing.
" Kamu wanita kuat yang pernah aku temui!" Ucap Aji menatap Wida tak lekang. Membuat Wida tertegun barang sejenak.
" Aku jadi makin beruntung kenal sama kamu Wid!" Aji yang kini duduk ngelempos itu terlihat memandangi wajah Wida dengan senyum yang tak luntur. Membuat Wida canggung.
" Aku cuma wanita pembawa sial mas!" Ucap Wida yang teringat dengan perkataan Pram, yang kerap mengatainya seperti itu.
Aji mengernyitkan dahinya.
" Itu yang mas Pram sering bilang ke aku!" Wida tersenyum sekilas menatap Aji.
" CK! Udah aku bilang Ojo di gebyok uyah podo asinne!" Sahut Aji tak mau kalah.
" Jaman sekarang jarang istri yang bisa semuanya kayak kamu. Masakan kamu enak, kamu cekatan banget ngerjain segala sesuatunya. Kamu juga pinter ngejahit.."
" Jadi aku bisa sering kamu buatin ba..." Ia mengehentikan ucapannya kala tatapan Wida mengintimidasi ucapannya yang mulai ngelantur.
Dasar Aji!
Aji meringis. Selow Aji, Selow!
.
.
Dua insan yang sama-sama terdampar di tengah hutan itu kini duduk dengan beralaskan daun pisang Tanduk. Wida yang mencari. Pohon itu kebetulan berada di dekat mereka.
Aji bukanlah superhero yang selalu bisa dan berhasil menumpas kejahatan dengan sekali cling, atau dia juga bukan golongan orang ajaib yang dengan mudah membumihanguskan orang dalam sekali ucapan.
Dia tetaplah manusia biasa yang penuh kekurangan. Namun, tentu ia bukanlah pria lemah. Tentu saja ia tak ingin terlihat lemah di hadapan Wida.
" CK, enggak ada sinyal lagi!" Aji mengerutkan keningnya kala melihat ponselnya yang tak menunjukkan tanda jaringan di ponselnya.
" Ini di hutan mas, jelas enggak akan ada sinyal!" Tutur Wida.
Aji mengangguk, lalu bagiamana kini ia harus menghubungi Yudha jika ia sedang terperosok ke jurang?
" Jam berapa sekarang mas?" Wida bertanya usai menyuapkan sebuah pisang kedalam mulutnya. Dengan terpincang-pincang, Aji tadi terutusan ( berjalan mencari) ke sisi barat, dan menemukan setandan pisang Ambon liar yang tumbuh.
Ia tak memberitahu Wida jika sebenarnya kakinya benar- benar sakit. Alasannya masih sama, ia tak mau terlihat lemah.
" Jam 10 Wid, kenapa?!" Aji menunjukkan layar ponselnya ke ara Wida.
" Udah siang ya?" Wida muram. Ia merasa tubuhnya lemas.
" Sebenarnya aku mau nelpon si Yudha, tapi sinyalnya?"
" Mas Yudha?" Tanya Wida.
Aji mengangguk, ia lantas menceritakan tentang pertemuannya dengan pria penyadap Pinus yang menjadi titik bekalnya mencari Wida. Bahkan mungkin kini orang-orang kampung tengah mencari mereka.
Wida tertegun, tak mengira jika Aji benar-benar ke hutan hanya untuk mencarinya.
" Nih, mas Aji dari pagi belum sarapan kan?" Wida mengangsurkan pisang yang sudah ia buka kulitnya. Membuat Aji tersanjung.
" Makasih Wid!" Dengan senang hati, Aji menerima buah kuning itu dan langsung melahapnya. Lumayan, mereka sudah sangat lapar, dan jelas kaki mereka masih sangat sulit digunakan untuk berjalan.
" Sekarang gimana mas?" Tanya Wida menatap Aji.
" Apanya?" Sahut Aji tak meher.
" CK, ya kita... pulangnya gimana? Mas Pram pasti udah nyangka kita mati dan pasti dia sekarang kabur!" Tutur Wida mendecak sebal. Mengapa pria di depannya kini menjadi lemot.
Aji terkekeh demi menyadari ke o'onnannya itu.
" Mungkin di sisi barat itu ada sungai Wid, dari tadi aku kayak dengar aliran air. Kita nanti bisa ikuti aliran air itu biar bisa ketemu perkampungan. Aku dapat pelajaran ini sewaktu Pramuka dulu!" Aji menaikturunkan alisnya.
Wida terkekeh, pelajaran Pramuka?
" Tapi kakiku masih sakit Wid...tunggu dulu ya!" Aji tak mengatakan jika sedari tadi sebenarnya kakinya terasa perih. Dan jika di bawa untuk menyusuri air, jelas itu akan semakin memperparah keadaanya.
Wida mengerutkan keningnya terkejut " Kaki mas Aji sakit?" Nampak raut kecemasan dari wajah Wida.
" Yang mana, kok enggak bilang?"
Aji mengangguk.
" CK, kenapa gak bilang sih? Sini!" Wida dengan setengah memaksa menarik kaki Aji secara bergantian, lalu menyibak celana training Aji sampai sebatas dengkul pria itu, memeriksa dan mencari kaki sebelah mana yang luka.
" Auwh!!" Ringis Aji kala tangan Wida yang sengaja menyenggol bagian kakinya yang nyeri.
Mata Wida membulat kala betis kanan Aji tergores parah. Lakanya dalam dan darahnya sudah terlihat mengering.
" Mas!" Wida benar-benar terkejut. Luka separah ini kenapa tidak Aji katakan sedari tadi?
"Ya ampun mas, ini bisa infeksi nanti. Sini coba aku lihat!" Ucap Wida dengan panik.
Aji memang sialan, disaat Wida benar-benar mencemaskan dirinya, ia justru tersenyum-senyum sendiri kala melihat wajah serius Wida yang memindai luka di kakinya.
Inikah rasanya di perhatikan? Yihaaaaa!
.
.
.
.
.