Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 69. Di kamar mandi



Bab 69. Di kamar mandi


^^^" Berani konsekuen pertanda jantan!"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Serafina


Sumpah serapah ia layangkan kepada mantan kekasihnya itu. Benar-benar setan. Bagaimana bisa Riko melenggang pergi tanpa rasa berdosa usia menyakiti papanya.


Pria brengsek!


" Pah?" Fina kini terlihat muram. Ia dan mama terlihat bergotong royong membawa papa ke kamar.


" Papa tidak apa-apa, tapi... bagiamana bisa kamu kenal dan pernah menjalin hubungan dengan pria seperti itu Fin. Ini yang papa takutkan dari dulu!" Ia nampak menangkap sorot mata kecewa di wajah Papa.


"Papa berharap kamu sama dia benar-benar sudah putus!"


Dengan suara sedikit meringis akibat menahan nyeri di perutnya, Guntoro berucap kepada putrinya. Ada rasa khawatir pada hidup putrinya beberapa waktu kedepan.


Jelas Riko merupakan sebuah ancaman.


" Kita lapor polisi saja pa. Mama gak tenang kalau begini!" Mama terlihat cemas dan panik. Apalagi dirinya.


CK!


" Sssttt, sudah- sudah! Nanti papa pikirkan caranya!"


" Kita tidak akan bisa melawan keluarga Hartadi dengan mudah ma. Mereka punya kuasa!"


" Fin! Riko orang yang berbahaya buat kamu!"


" Sebaiknya kita semua harus hati-hati mulai sekarang!"


Fina tertegun mendengar ucapan papa. Ia takut jika Riko akan mengungkapkan kenyataan jika mereka pernah menggulung hasrat bersama.


Apa yang harus dia lakukan?


.


.


Pandu


Ia tengah membuka ranselnya kala Bayu masuk ke ruangannya. Ruangan berupa sebuah kamar dengan ukuran lumayan dan bersih.


" Ini peralatan mandi, dan kau bisa gunakan baju ini dulu!" Bayu meletakkan paper bag berisikan personal effect ( kebutuhan pribadi) ke atas meja sofa di ruangan itu.


Pakaian yang terlihat mahal dan bagus.


" Aku pergi dulu!" Ucap Bayu sejurus kemudian. Bayu tahu, jika Pandu masih bersikap dingin kepadanya.


" Tunggu!" Sahut Pandu yang berhasil membuat langkah Bayu terhenti. Pandu berjalan mendekati Bayu yang kini membalikkan badannya.


" Kenapa kau begitu baik kepadaku?" Suasana senyap. Bayu menatap wajah Pandu dengan tekun. Pembicaraan pria dewasa lintas usia.


" Kau mengingatkanku pada seseorang!"


" Seseorang yang sudah pergi ke tempat yang abadi. Dan tak akan pernah terjangkau!"


Membuat Pandu terlihat berpikir seraya tak lekang menatap Bayu yang tersenyum kecut. Apa maksudnya?


" Mandilah, kita makan siang setelah ini!"


Bayu menelan ludahnya usai mengatakan hal itu. Kini dengan air mata yang hampir tumpah, ia membalikkan badannya dan mengayunkan pintu itu untuk keluar.


Sesak dan nyeri.


Pandu tercenung mendengar ucapan Bayu. Apa dia mirip dengan seseorang yang berharga dalam hidup Bayu?


.


.


Pandu berjalan melewati sebuah koridor menuju bath room besar khusus untuk para karyawan disana. Wajahnya masih menyisakan beberapa luka di sana-sini. Tapi ia bukan pria ingusan yang harus merengek-rengek meratapi luka itu bukan?


" Mas Pandu?" Mansur rupanya ada di tempat mandi juga siang itu. Ia melihat tubuh tambun Mansur yang terlihat segar usai mandi.


" Sur, kamu disini?"


" Oalah mas, saya baru tahu info tadi. Mas Pandu keren, bisa ngalahin Si Doni!" Mansur terkikik geli saat berucap.


Bukannya menjawab pertanyaan, malah mengulas hal lain. Dasar Mansur!


Pandu tersenyum, pria jenaka dari segi penampilan dan perkataannya itu sukses membuat tawa Pandu seketika kembali.


" Oh ya, memangnya tahu dari mana?"


" CK, kita semua udah nonton mas. Kenapa mas Pandu gak jadi kayak Mas Rendy dan yang lainnya. Keren tahu mas!"


Pandu tersenyum.


" Oh iya, mas Pandu kok ..!" Mansur terus nyerocos hingga lupa mengapa Pandu bisa berada di sana. Ia juga mengernyitkan dahinya demi melihat wajah Pandu yang masih menyisakan lebam.


" Aku mau numpang mandi, kata Bayu .. maksudku Pak Bayu, aku bisa memakai kamar mandi yang disini!" Pandu tersenyum.


Mansur hanya mengangguk paham. Sepertinya Pandu memang orang yang ramah. Pikir Mansur.


.


.


Mungkin banyak para anak buah Bayu yang membersihkan dirinya usai berolahraga di sana.


Punggung liat, keras, kekar yang terpahatkan tatto itu kini terekspos tanpa halangan. Ia terlihat hanya mengenakan boxer ketat yang menutupi MR. **** miliknya yang tertidur pulas. Akan sangat ngeri jika bangun. Ihaaa!


Ada banyak orang rupanya yang telah bertelanjang dada, dan berdiri di deretan shower. Memandang sengit saat Pandu datang dan mulai menyalakan kran air.


Pandu tak mau tahu, ia cuek dan tak memperdulikan para anak buah Bayu yang menatapnya penuh dendam. Jelas mereka dendam, Pandu sudah dua kali membuat mereka babak belur.


" Hey!" Ucap Seseorang dari sisi kanan Pandu. Terlihat juga beberapa orang tengah bersiap untuk mengeroyok Pandu.


Pandu menoleh sekilas, lalu kembali fokus menggosok rambutnya yang sudah terbasahi oleh air dan juga shampo. Ia dengan santai menggosok tubuh kekarnya seraya bersikap acuh tak acuh.


Dari ekor matanya, ia melihat beberapa orang itu mengerubunginya. Sepertinya benar-benar hendak mengeroyok Pandu.


BUG


KLAk


Pandu mampu membaca gerakan salah seorang anak buah Bayu yang hendak menyerangnya dari belakang. Kini, dengan sigap dan gerakan cepat Pandu menarik lengan salah seorang pria lalu menariknya keras .


KRAK!


" Sialan!" Umpat pria yang tangannya baru saja dipelintir oleh Pandu. Merasakan sakit yang membuatnya meringis.


Lagi dan lagi.


" CK, kenapa kalian selalu saja mengganggu? Aku hanya numpang mandi!" Jawab Pandu dengan tersenyum simpul.


" Banyak bacot!" Orang tersebut berang. Ia meradang lantaran mengapa bisa Pandu dengan santainya menghajar mereka. Apa Pandu seorang guru taekwondo?


" Ayo! Kita selesaikan dia disini!" Ucap pria dengan tubuh tegap kepada rekannya yang lain. Mencoba menjadi orator ulung guna menggerakkan masa yang akan mengeroyok Pandu.


" Hey, awas lantainya licin!" Ejek Pandu yang merasa orang di depannya itu akan menyerangnya. Pandu telah menuangkan sebotol shampo ke lantai itu. Membuat kesemuanya nampak saling pandang.


" Yak!!!!!" Seorang pria lain kini hendak menyerang Pandu namun dengan sigap Pandu menghindar. Membuat pria itu terjongor lantaran tergelincir.


Pandu sengaja' membuat lantai kamar mandi itu menjadi sangat licin, dengan menumpahkan semua shampoo dalam botol.


DUG


" Argghhhh!" Ringis salah seorang pria yang kemalu*annya terjaduk pintu. Rasain loh!


Membuat Pandu terkekeh. " Sudah aku bilang lantainya licin!"


" Kalian tidak percaya sekali denganku?" Ucap Pandu tersenyum penuh kelicikan.


Merasa geram degan Pandu yang seolah menantang mereka, kini mereka mengeroyok Pandu.


" Keparat!" Ucap pria lainnya dan langsung berjalan ke arah Pandu seraya mengeraskan rahangnya.


Pandu meletakkan handuk putih miliknya ke lantai untuk di jadikan pijakan, kini ia terlihat memasang kuda-kuda. Bersiap siaga, karena jelas ia akan di keroyok oleh para bodyguard itu.


Namun, lantai yang licin itu agaknya membuat para bodyguard itu kesulitan.


BUG


Pandu menendang tulang kering pria yang kini sudah berada sekitar satu meter darinya hingga membuat pria itu terpelanting ke lantai.


JEGRUG!


BUG


" Argghhhh!!!"


Mereka akhirnya secra estafet jatuh karena rekan mereka yang paling depan menimpa tubuh gerombolan manusia setengah telanjang itu.


Mereka sudah mirip kartu runtuh yang di susun para bocah.


Ya, dengan hanya mengenakan celana bagian dalam, dan dengan bertelanjang dada mereka saling berkelahi.


.


.


Ruang Pemantau


" Hahahaha!" Bayu tertawa nyaring di ruangan pemantau miliknya. Rendy kini menatap bingung kepada bosnya itu. Lepas sekali bosnya itu kala tertawa.


" Kau lihat Ren? Lihat bagiamana dia dengan mudahnya melumpuhkan semua anak-anak!"


Bayu masih tertawa. Ia sangat senang dengan kehadiran Pandu. " Katakan kepada Theodor untuk melatih dia menggunakan senjata secara kilat Ren. Ada banyak pengusaha, artis dan beberapa orang kaya yang sudah meminta jasa bodyguard kepada kita!"


Rendy turut menarik seulas senyum. Sudah lama ia tak melihat bosnya tertawa lepas. Jadi? Siapa sebenarnya pria bernama Pandu itu?


.


.


Pandu terlihat sangat fresh siang itu. Baju yang diberikan Bayu juga nampak pas. Sebuah kaos pollo hitam dengan celana warna krem. Membungkus tubuh tegap Pandu dengan fit.


Deretan angka asing nampak terpajang di layar ponselnya yang tiba-tiba menyala. Menandakan jika ponselnya tengah di hubungi oleh seseorang.


+6281723432xxx calling....


Dengan menyipitkan matanya dan dengan kening yang sudah berkerut, Pandu menatap layar ponselnya yang terus berkedip.


Siapa?


.


.