
Bab 219. Sugeng mirsani gesang enggal Aji & Wida ( Selamat menempuh hidup baru Aji & Wida)
.
.
.
Widaninggar
Ia sedari tadi memperhatikan satu persatu tamu yang datang melalui kaca jendela kamar yang berasa di rumah Ajisaka, saat orang tua Yudha bertindak sebagai penerima tamu di gelaran ijab kabul dirinya bersama Aji di kediaman Ajisaka, menyalami satu persatu tamu yang hadir.
Halaman rumah Ajisaka disulap bak gedung ballroom, yang di dalamnya telah tertata barusan kursi bermeja bundar, dengan warna elegan yang menyejukkan mata.
Di sisi kanan juga sudah terlihat stand- stand berisikan masakan Nusantara yang beraneka ragam, kue dan juga minuman yang sudah tak terhitung lagi macamnya.
Kesibukan bagi para pelayan catering yang sudah berkolaborasi dengan karyawan event organizer yang Ajisaka booking, menjadi pemandangan lazim yang ada di jam jelang siang itu.
Singkat kata, dirumah Wida tidak mengadakan apapun alias Pati Geni. Semua itu dilakukan karena orang tua Wida yang merupakan orang Jawa tulen, menginformasikan hal itu sebagai salah satu syarat pernikahan mereka, berdasarkan weton dan arah tempat tinggal yang ngalor ngulon ( arah Utara bertemu arah Barat daya).
Aji manut saja, toh tujuannya demi keselamatan. Tidak ada masalah untuk hal itu. Ia tidak tahu menahu tentang pitungan Jawa berserta teteekbengeknya. Namun yang jelas , ia mempercayai jika semua hal itu demi keselamatan dan kelancaran semua acaranya.
" Duh mbk Wida sampean mangklingi tenan!" Ujar perias manten senior yang kini terlihat memasangkan cunduk mentul ke atas sanggul Wida yang sudah menggunakan paes solo dengan cantiknya itu.
Wida yang duduk menghadap ke arah kaca di depannya bahkan sampai tak mengenali dirinya. Benarkah jika itu dirinya? Cantik sekali?
" Sebentar ya mbak"
Saat perias wanita berkacamata itu pergi meninggalkan Wida seorang diri, ia tersenyum menatap pantulan dirinya dalam cermin besar. Mengucap syukur atas apa yang saat ini ia dapatkan. Calon suami yang begitu baik meski caranya yang kerap sedikit memaksa, juga bersyukur karena nyatanya pria itu juga mau menerima sang putra melebihi dirinya.
Ia melihat seorang wanita cantik berbalut kain brokat peach yang akhirnya menjadi pilihannya sebagai busana ijabannya pagi ini.
" Loh..mbak Wida nangis ya...aduh sini saya tutul dulu, jangan sedih mbak...wes to jadi manten itu memang selalu bikin haru, tapi di tahan ya... ini makeup-nya udah paripurna soalnya!"
Wida tersenyum di sela tangisnya saat perias itu menotolkan tissue guna menghapus air mata Wida yang tak jua berhenti mengalir. Ya...dia harus menahan semua ini, karena hanya ada rasa senyum bahagia yang musti tersuguh.
.
.
Ajisaka
Ia sudah duduk dengan beskap hitam yang membalut tubuh gagahnya dengan perasaan campur aduk. Senang, semangat, deg-degan, risau, dan resah manakala menjelang detik-detik ikrar suci yang akan ia ucapkan, Sakti tiada jua memunculkan batang hidungnya.
Membuatnya hopeless akan kehadiran pria sableng itu.
Orang tua Sakti bahkan tak jua terlihat. Benar-benar menorehkan rasa sedih di hati Aji. Kemana perginya mereka?
" Kakimu bisa diem enggak sih Ji!" Yudha menonyor bahu Ajisaka dengan wajah sebal, pria itu kesal sebab sedari tadi , aji tak mau diam dan terus membuat gerakan menggetarkan, saat kakinya menggejik tanah. Membuat Yudha kesal karena menambah kegugupannya saja.
" Eh Paijo, elu enggak tau aja rasanya duduk disini itu kayak gimana. Grogi tahu!" Sahut Aji yang jujur sebab ia kini tengah menanti Widaninggar dan juga petugas dari kantor urusan agama yang menikahkan mereka.
Haish, benar-benar memacu adrenalin.
Pandu tergelak saat melihat dua sahabatnya ribut. Ya benar... Yudha belum tahu saja rasanya duduk di posisi itu. Sejurus kemudian, mendadak senyumnya memudar demi mengingat satu hal. Andai saja Sakti ada diantara mereka.
Hah, dimana kamu Sak?
Pandu mengedarkan pandangannya dan mencari dimana istrinya berada, karena sejak ia sampai tadi pagi, mereka berdua langsung menuju kerumah Aji untuk membantu penyelenggaraan acara itu.
Namun senyum mendadak merekah saat manik matanya menangkap, Rara dan istrinya kini memegangi lengan Wida yang keluar dengan cantiknya. Membuat tiga pria yang duduk di meja penyaksian itu, seketika menoleh ke arah tiga wanita yang menjadi pujaan hati mereka masing-masing.
So beautiful!
Aji yang terpesona dengan Wida yang cantik sekali dengan balutan kain yang wanita itu pilih beberapa waktu yang lalu.
Bakan Pandu yang beberapa hari ini menghabiskan waktu malamnya untuk mencumbui istrinya itu, kini juga merasa bergetar saat melihat istrinya yang telah berganti pakaian dengan model berbeda namun warna senada dengan calon istri Ajisaka itu.
" Oh astaga, mereka rupanya sudah saling berkoordinasi di belakang kita man!" Ucap Yudha menyenggol lengan Pandu pelan.
" Ya...kau benar, oh astaga. Sepertinya jika kau sudah menikah nanti, mereka pasti akan mengadakan grup arisan!" Ajisaka terkekeh demi mendengar selorohan dia Sahabatnya itu.
Mereka bertiga masih mengiringi langkah tiga wanita itu dengan tatapan yang membuat mulut mereka terbuka.
" Ehem- ehem, air liur tolong di kondisikan pemirsa!" Bisik Sukron yang sukses menggagalkan imajinasi indah tiga pria ganteng itu.
Sialan!
Tiga pria itu mendengus namun Sukron tergelak dengan bebasnya. Rupanya Wida keluar bukan tanpa alasan, petugas dari KUA sudah hadir juga rupanya.
Kang Darman berserta Pak Atmo kini duduk berjajar dengan pria berpeci hitam, sementara Yudha dan Pandu menjadi saksi disana.
Aji tak hentinya menatap Wida yang benar-benar terlihat membuatnya pangling. Wanita itu terlihat menggandeng tangan Damar yang sudah menggunakan blangkon dan beskap mini yang sempat menjadi buah perdebatan mereka, beberapa waktu lalu itu, terlihat begitu memukau.
Semua orang terkekeh saat melihat Damar berpakaian rapih seperti calon bapaknya. Bocah cilik itu nampak malu-malu saat menjadi pusat perhatian.
" Kamu cantik banget Wid, ya ampun...!" Aji sempat membisikkan kata-kata itu saat Wida baru saja mendaratkan bokongnya ke kursi yang berada di samping Aji. Membuat pipi Wida memerah.
" Mas juga ganteng!" Sahut Wida malu-malu.
Ihaaaa!!! Aji bahkan menjadi klepek-klepek manakala Wida memujinya secara terang-terangan. Ini pertama kalinya Wida memujinya secara langsung. Uhuyyy!!
" Baiklah semua sudah siap?" Ucap pria berpeci yang akan menikahkan mereka , sesaat setelah memeriksa beberapa administrasi penunjang yang wajib di tanda tangani kedua mempelai.
Jantung hati Wida kini berdegup kencang, ia menatap wajah Damar yang tersenyum kepadanya guna mengurangi ketegangan.
Mengusap lembut punggung mungil Damar, yang sebentar lagi akan memiliki Ayah baru itu
Aji yang kini sudah mulai dijabat tangannya oleh pria berpeci itu, seketika menarik napasnya dalam-dalam. Benar-benar berwajah tegang.
Jilatan cahaya camera tiada hentinya terpancar, manakala fotografer profesional membidik gambar terbaik momen sakral itu.
" Saudara Ajisaka Bumirekta bin Pancasona alamrhum, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau...."
Aji terlihat menarik napasnya kembali saat untaian kalimat penentu itu mulai diucapkan oleh pria berpeci. Membuat kesemuanya turut menahan napas mereka demi melihat wajah tegang Ajisaka.
Dan saat tangan yang terjabat itu mulai di hentak,
" Saya terima nikah dan kawinnya Widaninggar Tribawati binti Atomojo Susilo dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai!"
" Bagiamana saksi?" Tanya pria berpeci ke kanan dan ke kiri.
" SAHHHH!!!!" Sukron dan Dino berteriak sekencang-kencangnya, membuat mamak Mariana yang berada di dekat mereka berjingkat dan langsung menonyor pria berambut biru itu. Membuat kesemuanya yang hadir sakit perut karena tergelak dengan tingkah konyol abdi setia Ajisaka itu.
Yudha dan Pandu turut mencium kepalan tangannya saat menahan tawanya sendiri. Aji terlihat tak mempedulikan hal itu meski rasanya ia ingin terbahak . Ia kini tekun menengadahkan tangan sembari mengaminkan doa-doa yang kini di panjatkan oleh pria berpeci, sebagai pamungkas syukur terselesaikannya ijab kabul Wida dan Ajisaka dengan lancar.
.
.
.
.
.
.
.