
Bab 44. Sebuah Fakta
^^^" Mulut hanyalah mulut. Dia hanya pandai bicara. Tidak dengan hati. Omongannya kosong dan sangat nyaring bunyinya!"^^^
.
.
.
...πππ...
Dua netra jernih milik Serafina membulat kala Pandu menanyakan hal tersebut. " Bukan, tapi aku ingin memastikan. Ini terlalu tidak masuk akan jika Riko benar yang melakukanya.
Tak bisa mencegah apalagi menghalangi. Rasa khawatir mendadak mencuat. Tapi bukankah Pandu bukanlah siapa- siapa bagi Fina?
Lantas, atas dasar apa Pandu bisa menghalangi?
Malam menjelang.
Pandu berdiri sembari menatap wajah adiknya yang semakin memucat. Sebuah selang yang tersambung di dua lubang hidung adiknya lekat ia tatap. Pikirnya berkelana tentang biaya rumah sakit. Apa uang simpanannya cukup?
Ia juga melihat ibunya yang duduk berbantalkan sebelah lengan di karpet tipis yang entah siapa yang membawakan.
Terasa nyeri dan pedih di dadanya.
" Maafkan aku Yuk!" buliran bening tak senagaja lolos begitu saja. Pandu menyusut air matanya menggunakan lengannya.
Hidup benar-benar hanya tentang diatas dan di bawah.
...πππ...
Cafe Galaxy
Fina terpaksa menghubungi Riko. Namun pria itu justru mengajak Fina untuk bertemu di salah satu cafe. Fina malam itu meminta Ajiz untuk menunggu di mobilnya. Takut jika terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.
Benar-benar tak di nyana jika Riko rupanya masih berada di desa itu. Fina kira mantan kekasihnya itu sudah meninggalkan Karanganyar.
" Sory gye terlambat, tadi..."
" Gue gak lama-lama!" sahut Fina ketus, sembari membuang pandangannya menatap deretan kursi lainnya.
Riko tersenyum mencoba menetralkan keadaan.
" Akhirnya kamu mau menemuiku, kamu udah pesan makan?" Tanya Riko yang baru saja datang. Kini kata-kata yang terlontar berubah menjadi melembut. Riko menyebut Fina dengan sebutan ' Kamu'.
" Gue udah bilang, Gue gak mau lama-lama. Gue cuma mau tanya sesuatu sama elo!" Fina menatap wajah Riko . Namun kali ini, bukan tatapan cinta yang dulu sering ia layangkan.
Menatapnya dengan tatapan bengis .
" Oh common darling, aku tahu kamu masih memiliki hati untukku Fin. Ayo kita mulai dari awal. Aku udah putusin Shila demi kamu!"
Riko mengatakan hal itu sembari meraih tangan bersih Fina. Namun dengan gerakan cepat, Fina menarik tangannya penuh rasa jijik.
" Gue gak mau basa-basi. Kenapa elo tega melakukan semua itu?"
" Apa maksud kamu?" kini Riko menatap Fina dengan alis bertaut.
" Elo kan yang ngerusak lapak dagang Ibunya Pandu. Dan pasti elo juga udah nyuruh orang buat nyelakain adiknya Pandu. Iya kan?" Fina menatap geram Riko. Rahangnya mengeras.
Riko justru tergelak melihat kemarahan Fina, membuat anak Guntoro itu semakin meradang.
" Kamu frustasi tapi ya pilih-pilih orang dong Fin. Kamu milih pria miskin itu?" Riko tergelak degan tatapan menghina.
" Gue bakal laporin elu ke polisi!" Fina benar-benar diambang batas kesabaran.
Lagi-lagi Riko tergelak mendengar ancaman Fina. " Lapor?" segala sesuatu tanpa bukti adalah sebuah fitnah. Dan..." Riko menatap tajam ke arah Fina yang masih menampilkan wajah marah.
" Aku bisa melakukan apapun Fin. Kamu jangan lupakan itu!" Riko tersenyum licik menatap Fina.
" Selama kamu bersikap begini ke aku. Aku gak akan berhenti membuat pria miskin itu dalam masalah!"
Fina menatap geram Riko " Jadi bener elo!" Fina menatap sinis Riko.
" Itu belum seberapa, dibanding rasa sakitku waktu kalian berciuman di depan mata kepalaku!" kali ini Riko mengeraskan rahangnya.
" Elo bener- bener gila Riko, apa otak lo udah nggak waras. Gue sama elo udah selesai sejak aku lihat kalian di Daipoeng. Elu..."
Fina benar-benar muak.
"Gue benar-benar nyesel pernah kenal sama pria brengsek kayak elo!" Fina menyambar tas di mejanya. Pertemuan yang benar-benar tak menghasilkan mufakat apapun, selain kebenaran jika Riko lah dalang dari semua ini.
Fina pergi dengan dada bergemuruh, sementara Riko tersenyum penuh kemenangan.
Ia tak bisa melapor polisi. Jelas keluarga Riko merupakan orang terpandang yang sampai saat ini masih menjadi misteri, mengapa banyak stakeholder ( pemangku kepentingan) terkait, yang tunduk kepada keluarga Riko.
Kini Fina benar-benar menemui jalan buntu. Kembali kepada Riko adalah sebuah kegilaan, mustahil dan tiada mungkin terjadi. Apalagi, hatinya merasa nyaman dengan Pandu saat ini. Tapi, tentu ia tak mau membuat hidup pria itu dalam bahaya.
.
.
" Apa? Tuh kan bener dugaan gue Fin!" Fina menangkap nada kekecewaan dari bibir Dita di ujung telepon yang masih tersambung.
" Pasti dia minta tolong sama bokapnya. Kalau begini caranya, kita kalah telak Fin. Aku Kasihan sama mas Pandu!"
Fina mengerutkan keningnya demi mendengar Dita yang memanggil Pandu dengan sebutan ' Mas'
" Gue harus gimana Dit. Gue jadi ngerasa bersalah sama Pandu dan keluarganya!" Fina benar-benar frustasi.
" Gak ada CCTV juga, gue juga gak yakin kalau misal lapor polisi bakal keluar urusanya. Mereka itu pasti udah Kong kalikong sama oknum!"
" Semua ini salah gue karena nyium Pandu di depan Riko!" Fina bermuram durja seraya memijat keningnya yang terasa pusing.
Kala itu, ia hanya berniat mengusir Riko tanpa berpikir panjang. Benar-benar menjadi bumerang yang kini membuat urusan semakin runyam.
Tanpa mereka sadari, Bu Asmah mendengar semua ucapan mereka di ambang pintu kamar Fina.
" Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?"
.
.
.
.
.