Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 147. Keresahan



Bab 147. Keresahan


^^^" Jika sudah terlibat amuk asmara, jangan di tanya benar atau salah. Karena jawabnya sudah pasti karena terlena!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Ia kini benar-benar merasa bahagia. Apa Fina memberikan kejutan untuk dirinya? Oh manisnya. Yeah, he like it!


Aji dan Yudha kini terlihat membetulkan posisi duduknya begitu menyadari jika kekasih Pandu telah datang. Sementara Sakti hanya melongo demi melihat Pandu yang setengah berlari menyongsong Fina yang keluar bersama Dita.


" Oh sial Si Pandu! Enak-enakan dia!" Gumam Sakti yang masih ada di mejanya. Menatap dua sejoli yang jelas membuat mereka iri saat ini.


Pandu memeluk Fina dan hal yang sama juga di lakukan oleh wanita itu. " Aku kangen banget!" Pandu kini tak sungkan mencium kening Fina. Bahkan di hadapan para sahabatnya.


Cie yang merasa dunia hanya seolah milik berdua?


" Itu pacarnya mas Pandu? Pinter banget mas Pandu kalau nyari pacar ya Mas!"


" Cantik, supel dan body-nya!"


" Wow! Gitar spanyol coh!" Cak Juned kini bertopang dagu sambil duduk mensejajari Sakti. Menatap dua sejoli yang melebur rindu lewat pelukan.


" Iya mas, cocok ya!" Tanpa Sakti sadari, ia kini justru saling berpelukan dengan Cak Juned.


Membuat mata Yudha dan Aji membulat. Wong edan kumat!


" Gak laku sih gak laku Sak, tapi enggak sama Cak Juned juga kali!" Cibir Yudha yang terkekeh. Pun dengan Aji. Rupanya kelakuan abnormal Sakti sukses meruntuhkan dinding kecemberutan Ajisaka. Sip!


Menyadari hal konyol yang mereka perbuat, kini baik Sakti maupun cak Juned melepaskan pelukannya dengan cepat. Membuat Dita tak kuasa menahan tawa.


Pria yang kocak!


.


.


Serafina


Ia menyetujui permintaan Dita saat itu.


" Sory ya Fin aku enggak bisa lama-lama. Besok lepas dinas aku bakal nemuin kamu!"


Dita harus bekerja terlebih dahulu, dan berjanji akan menginap di rumah Oma-nya Fina esok hari. Selain rindu, ia yang baru tahu hal mengejutkan yang di alami Fina dan Pandu selama di kota jelas membuat jiwa kepowers Dita meronta-ronta.


Ia harus tahu.


" Mas Aji gimana kabarnya? Yudha, Sakti?" Fina kini duduk berdekatan dengan Pandu sambil menatap ketiga sahabat dari kekasihnya itu. Menyapa mereka dengan keramahan yang khas.


" Aku sih baik, Yudha... agak baik lah, yang kurang baik itu, nih si bos naga!" Tutur Sakti menonyor lengan Ajisaka. Membuat Pandu terkekeh.


Si sableng ini ada aja.


Pria kaku itu hanya diam. Sama sekali tak bisa menyembunyikan keresahan di hatinya akan seseorang. Ya walau ia tak bisa menafikan rasa iri saat melihat kemesraan Pandu dan Fina di depan matanya.


" Kenapa? Masalah cewek?" Sahut Fina yang mengaduk es-nya.


Fina kini menganggap mereka bertiga menjadi bagian dari dirinya juga. Sahabat Pandu, sahabat Fina juga. Ya itu benar!


Pandu lantas menceritakan kejadian yang baru saja di alami oleh Ajisaka. Hanya saja, Pandu tak menyebutkan nama wanita itu. Lagipula Fina juga tak mungkin kenal. Begitu pikir Pandu.


" Percaya aja sama kata bijak klasik mas! Kalau jodoh enggak kemana!" Tutur Fina sesaat setelah menyeruput es kelapa muda buatan Cak Juned.


Aji tertegun. Ia benar-benar larut dalam keresahan.


" Nah bener tuh, lagian elu juga..gak pernah jatuh cinta, sekalinya demen sama perempuan ee enggak taunya istri orang!" Ucap Sakti asal nyeblak.


Membuat Fina mendelik.


Istri orang?


.


.


Ajisaka


Ia pulang dengan lesu dan tak bersemangat. Ada banyak sekali pekerjaan yang menanti dirinya sebenarnya. Ia harus ke pabrik untuk memeriksa laporan distribusi, juga mengecek kualitas produk baru. Tapi lagi-lagi keresahan hati, jelas membuat dirinya kehilangan semua lapisan semangat.


" Sudah saya email bos laporannya. Kalau ada yang kurang nanti saya revisi!"


Pesan dari Dino yang tak berniat ia balas itu ia baca dengan sekilas. Anak buahnya sepertinya semakin hari semakin berkompeten. Ia bersyukur akan hal itu. Namun, hatinya benar-benar kosong. Jelas karena satu nama.


Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, duduk sendiri diatas sofa ruang tamunya. Nelangsa betul bos?


TRING


Sebuah pesan masuk, dengan malas Aji menggulir ponselnya lalu membuka pesan dari nomer baru.


...Lumayan buat obat galau....


...Serafina....


Aji sedikit tersenyum kala membaca pesan dari kekasih sahabatnya itu. Mendadak bayangan wajah Wida menghiasi pikirannya. Kemana sebenarnya wanita itu pergi. Mengapa tersiksa sekali rasanya. Sepi dan terasa bagai tersusuk duri sembilu.


.


.


Pandu


" Kamu yakin kalau Aji mau?" Ia kini berada di halaman belakang rumah Bu Asmah. Hubungan yang semakin terang benderang itu jelas membuat mereka kini tak sungkan dalam menunjukkan waktu berduaan bahkan kemesraan. Suit- suit!


Fina yang duduk dengan posisi menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh Pandu, terlihat meremas benda Pusaka Pandu dengan gemas. Membuat pria itu terperanjat. Astaga Fina!


Fina terkekeh " Check in yuk sayang. Aku kangen banget!" Rengek Fina yang selalu saja nakal. Ia memeluk tubuh Pandu posesif dari samping. menghirup dalam-dalam aroma Pandu yang jantan banget.


Pandu benar-benar pusing jika sudah berhadapan dengan Fina. Tingkahnya ada-ada saja. Selalu absurd dan berani. Ah dasar Fina!


" Kamu ini, di tanya apa, jawabnya apa!" Pandu setengah mati menahan efek dari rematan tangan Fina pada benda berharganya. Sial sial!


Bagiamana bisa ia tahan jika terus begini. Sepertinya ia harus cepat- cepat mendirikan bengkelnya agar bisa segera menikahi Fina. Tangan Fina yang nakal benar-benar tak baik untuk aset pentingnya itu.


" Mas Aji pasti mau lah. Gak mungkin enggak mau. Tapi..aku mau ngajak temenku mas, tadi aku gak sengaja ketemu waktu di minimarket!" Tutur Fina yang teringat dengan seseorang.


" Siapa?" Tanya Pandu.


" Ada deh!" Ucap Fina menusuk- nusuk perut Pandu. Membuat keduanya gini saling tergelak karena kegelian.


.


.


Widaninggar


Ia tengah melipat baju yang telah menggunung di kamarnya, saat sebuah pesan masuk kedalam ponselnya yang sudah mirip dengan puzzle itu. Retak disana- sini.


" Mbak, lusa aku jemput ya. Aku ada acara syukuran Tenang aja, nanti pulangnya aku antar. Fina!"


Wida tersenyum. Fina merupakan satu-satunya teman yang ia miliki saat ini. Wanita cantik yang energik dan terlihat sangat mudah membaur itu, membuat dirinya kagum.


" Jam berapa? Apa enggak merepotkan kalau kamu jemput?"


Wida membalas pesan Fina.


" Enggak, cuma acara kecil-kecilan. Aku pingin cerita banyak sama mbak Inggar. Pokoknya harus datang ya!"


" See you!"


Ia meletakkan ponselnya sembari tersenyum sesaat setelah membalas 'OK ' kepada Fina. Memangnya mau membalas bagiamana lagi?


Ia melihat Damar yang telah terlelap. Entah akan sampai berapa lama lagi ia akan terus seperti itu? Hidup dalam persembunyian dan rasa takut karena ancaman mas Pram.


.


.


Pandu


Malam menjelang, ia sudah berpamitan kepada Ibu jika akan mengantar Fina pergi ke kota sebentar.


" Fina datang jam berapa tadi?" Ucap Ibu yang kini terlihat membereskan tumpukan baju yang sudah selesai beliau lipat.


" Pagi, Pandu sebentar kok buk. Katanya, mau cek lokasi ruko yang mau di sewa!" Ucap Pandu sambil membetulkan jaketnya.


" Jadi buka cabang disini?" Tanya Ibu.


" Jadi! Ya .. syukur lah buk. Fina udah mau lebih mandiri!"


Ibu mengangguk setuju.


" Semoga lancar ya, semoga kalian berjodoh Ndu. Ibu bahagia kalau kamu bahagia!" Ibu terlihat duduk dan menatap dirinya lekat. Terasa begitu menentramkan.


Pandu tersenyum sambil menangkup wajah ibunya yang teduh. Mengecup kening ibunya penuh rasa sayang.


" Sama Buk, Pandu juga bahagia kalau ibuk bahagia. Untuk masalah Pak Bayu...!"


" Kamu jangan bahas itu dulu Ndu!" Ibu terlihat malu. Terlihat jelas jika Ibunya itu rikuh.


Pandu meraih jemari lentik ibunya. Mengusap lembut sembari terlihat akan mengatakan sesuatu.


" Ibuk juga berhak bahagia, Ibu tetap tanggung jawab Pandu sampai kapanpun!"


" Tapi...Pandu merestui jika ada pria baik yang mau menjadi Bapak buat Pandu Buk. Pandu sadar, setelah Pandu nikah sama Fina nanti, mungkin enggak seratus persen bisa terus jaga ibuk. Pandu sayang ibuk, oleh karena itu...Pandu cuma mau bilang. Kalau Ibu bahagia, percayalah Pandu juga lebih bahagia Buk!"


.


.


.


.