Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 203. Good news from west



Bab 203. Good news from west


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Sepanjang perjalanan ia hanya terlihat lebih diam usai mengeluarkan buncahan rasa sarat emosional dalam dirinya. Untuk pertama kalinya, ia bisa merasakan sesuatu yang menentramkan.


Perdamaian.


Fina juga tak banyak bicara, karena selain lelah. Ia juga ingin memberikan waktu pada Pandu untuk mendamaikan dirinya. Fina tahu jika Pandu merupakan pria yang pandai me-manage emosi. Untuk itulah, merenung merupakan langkah yang tepat, untuk membiarkan rasa tak enak dalam hati agar lewat dan berlalu.


Pandu telah menceritakan apa terjadi antara dirinya dan Riko kepada kekasihnya itu. Ia merasa, hal sekrusial seperti ini wajib hukumnya bagi Fina untuk tahu. Yang telah terjadi biarlah terjadi. Waktu memang sebaik-baiknya penyembuh luka batin. Begitu pikir Pandu.


Ia tak mau membuka lagi luka lama yang telah tertutup, meski ia tahu sedalam apa Fina bersama adiknya dulu. Nasib orang tiada yang tahu bukan?


" Aku antar kamu dulu atau gimana?" Ucapnya sejurus kemudian, menyadari jika ia telah terlalu lama mendiamkan Fina. Astaga. Sesal diam-diam menyusup dalam relung hatinya.


" Enggaklah, mau ketemu camer dulu dong !" Fina meringis, ia ingin membuat Pandu tidak terlalu stress. Membuat Pandu terkekeh.


" Thanks ya Fin!" Pandu meremas tangan Fina lalu mencium punggung tangan wanita itu, dengan sekali kecupan yang dalam dan sangat lama.


Pandu benar-benar mencintai Fina.


Fina menolak untuk pulang terlebih dahulu, karena ia ingin menemani Pandu saat menghadapi Bu Ambar, wanita itu lebih memilih untuk ikut bersama Pandu menuju rumah Bayu karena ingin mengetahui reaksi Ibu Pandu, atas semua hal yang Pandu lakukan.


TING TONG


Harap-harap cemas kini menjadi tajuk yang tersuguh.


CEKLEK


Pintu dengan ambang besar setinggi dua meter lebih terlihat terayun . Menampilkan sosok Mbok tua yang menjadi pembantu di rumah Ayahnya itu , dengan wajah kaget.


Tidak ada angin tidak ada hujan, bahkan tidak ada kabar, anak dari majikannya itu tau- tau nongol di depan pintu.


" Bu Ambar! Ada mas Pandu!"


.


.


Bayu


Ia mengusap punggung istrinya yang menahan emosi. Bukan karena Pandu telah mendonorkan darahnya, bukan. Melainkan sikap yang menurut istrinya terlalu sembrono.


" Kalau kamu cuma di jebak gimana?"


" Mbok ya ngomong, Ayahmu jadi bisa nemenin Ndu!"


" Kalau sampai ada apa- apa sama kamu Ibuk terus gimana Ndu?" Ambarwati terlihat menyeka matanya yang basah.


Ia paham akan kekhawatiran istrinya. Ambar hanyalah seorang Ibu yang takut dengan kejadian yang sudah-sudah.


Sangatlah wajar.


" Fin, bawa Ibu ke kamar ya!" Ia meminta calon menantunya yang sudah berwajah murung itu untuk mengantar istrinya untuk beristirahat.


Fina mengangguk, perempuan itu terlihat merengkuh pinggang calon ibu mertuanya dengan anggukan pelan.


" Mari Buk!"


Selepas dua betina itu lenyap dari pandangan mereka, Bayu kini terlihat mendekat ke arah Pandu, sembari menepuk punggung anaknya yang kini berwajah lesu.


" Ayah bangga sama kamu!" Ucap Bayu dengan penuh kasih sayang. "Berjiwa ksatria dengan menolong musuh kita itu, benar-benar melebihi seorang pahlawan!"


Pandu mendongak, ia tak menyangka jika Bayu mendukung keputusannya tadi. Ia pikir Bayu juga akan kecewa dengan keputusannya yang ia ambil tanpa berunding.


" Mereka sudah banyak berubah!" Terang Pandu menatap Bayu yang tersenyum penuh kebanggaan.


" Sebagai anak kamu sudah melakukan yang terbaik nak. Masalah ibumu, serahkan sama Ayah nanti,hm!" Ia mengusap punggung anak laki-laki kebanggaannya itu.


Kadangkala, dengan memaafkan itu bisa membuat hati kita menjadi lebih ringan dan tenang.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Yudha


Semenjak kegundahan yang mendera dirinya, Sakti dan juga Rara. Mereka bertiga kini jarang bertemu. Yudha lebih sering menenggelamkan dirinya pada kesibukan di kantor selama sebulan terakhir ini.


Sementara Rara merawat Bapaknya seperti biasa, yang sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Wanita tangguh itu juga semakin gigih bekerja, guna membayar pinjaman yang diberikan oleh Yudha. Walau Yudha sama sekali tak mengharapkan hal itu.


" Dia sih pernah jadi rival gue waktu awal-awal kenal sama Fina, gak nyangka pernah jadi rival elu juga!" Terang Pandu melalui chat dengan emoticon ngakak" 🀣 "yang baru saja ia kirimkan.


Ya, Pandu lebih sering bolak balik ke kota karena setelah lamaran, pria itu agaknya gencar menuruti *****-bengek yang Fina mau, soal rencana pernikahan mereka yang akan terselenggara bulan depan.


Aji dan Wida juga semakin terlihat kompak saja. Di beberapa kesempatan, Yudha melihat Aji yang kerap sumringah lantaran lidah pria itu kerap di manjakan dengan masakan yang Wida titipkan melalui Dino. Sebuah sinyal yang ciamik bukan. Ahay!


Bikin ngiri aja!


Hanya dirinya saja yang saat ini masih tak mengerti dengan dirinya sendiri. Ada secuil rasa rindu yang menggebu, walau ia tak tahu apakah yang dirindukan mengerti akan hal itu.


Ceileee!


Pria dengan alis tebal itu terlihat mengetik sesuatu lalu menghapusnya lagi. Mengetik lagi, lalu dihapus lagi. Benar-benar terlihat bodoh.


Entahlah, jika dulu ia benar-benar cuek karena pasti banyak wanita yang mengejar dirinya, tapi agaknya hal itu tidak berlaku kepada Rara.


Wanita tangguh dengan sejuta pesona.


" Bisa gila aku kalau begini terus!" Ia bahkan mengomel kepada diri sendiri, sembari memijat- mijat keningnya yang makin mumet.


...Flashback...


Saat Rara memanggil dirinya di rumah sakit beberapa waktu lalu , ia lebih dulu menatap ke arah Sakti yang langsung berdiri menyongsongnya.


" Disini juga Yud?" Sapa Sakti dengan wajah seperti biasa.


Ia mengangguk canggung, " Tadi...kebetulan lewat sini, jadi sekalian mampir!" Entah mengapa, ia kini mandi canggung. Kemana hilangnya sikap sebelum mereka berdua mengenal Rara?


" Ra! Aku pergi dulu ya. Semoga bapakmu cepat pulih!" Ucap Sakti yang paham mungkin Yudha akan menemui Rara.


" Makasih ya Sak. Yang tadi...jadi rahasia kita ya?" Ucap Rara dengan senyum cerah kepada Sakti. Membuat Sakti mengangguk seraya tersenyum.


Rahasia? Rahasia apa?"


...Flashback off...


Sejak saat itulah, ia menjadi bimbang. Keceriaan yang Rara perlihatkan saat bersama Sakti, membuatnya minder.


Terlebih, beberapa waktu ini Sakti lebih sibuk dari hari biasanya. Bahkan cak Juned juga menggerutu karena jarang sekali bersua dengan pria sableng itu.


What the fu ck!!!


.


.


BRUK!!!


" Apaan nih?" Tanya Aji dengan alis berkerut, seraya menatap Yudha yang kini melempar tubuhnya ke sofa yang berada di ruangannya kerjanya di pabrik utama.


" Buka aja!" Ucap Yudha masih memejamkan matanya. Terlihat lemah, letih, lesu.


" Wihhh, ini beneran?" Tanya Aji yang baru saja membaca berita menggembirakan.


" Akhirnya si Pandu bakalan jadi menantunya Om Guntoro!" Mata Ajisaka berbinar-binar manakala menatap undangan mirip buku tebal dengan nama Fina dan Pandu yang tercetak di sana.


Ya ampun!


Aji benar-benar terlihat senang. Perjalanan cinta yang cukup ekstrem itu, akhirnya menemui titik bahagia. Ah jadi pingin!


" Duh! Sabar bos, masih sebulan lagi...tahan!" Ucap Sukron yang kini sibuk menstaples satu persatu slip gaji karyawan Ajisaka.


Namun yang di mintai untuk bersabar hanya bisa mencibir. " Sabar-sabar, elu sih enggak tahu rasanya orang jatuh cinta itu kayak gimana!" Sahut Ajisaka menjep ke arah Sukron.


" Tahu lah bos, tuh contohnya!" Ucap Sukron menunjuk ke arah Yudha yang terlihat berpenampilan belangsak menggunakan dagunya.


Ajisaka kini menatap ke arah Yudha, yang memandang loyo ke arah langit-langit ruangan itu dengan cara duduk yang tidak rapi.


Kasihan betul kau anak muda!


Aji terkekeh, " Bener juga! Woy! Elu Kenapa? Sakit?" Aji kini menendang tulang kering Yudha dengan perlahan menggunakan ujung sepatunya yang bertapak tebal.


Membuat Yudha mengaduh dengan wajah sebal.


Yudha membasuh wajahnya kasar, " Mumet Ji! Kayaknya enggak semua cewek mau ngejar gue!" Ucap Yudha yang kini terlihat menyambar sebuah kotak sigaret, dan berniat ingin mengepulkan asap saja.


" Siapakah wanita luar biasa yang bisa membuat seorang Yudhasoka gundah gulana?"


Dino mendadak muncul tanpa aba-aba dari belakang sofa tempat dimana Yudha duduk , dan sukses membuat pria itu berjingkat kaget.


" Asu!!"


.


.


.


.