Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 10. Dia lagi



Bab 10. Dia lagi


^^^" Hidup memang selalu ada tingkatannya. Dan tatanan hidup yang mutlak tetaplah takdir!"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Serafina


Malam kembali menyapa, Serafina membuka laptopnya. Sudah lama ia tak melihat email di laptopnya. Ia membuka email yang berasal dari sahabatnya Dita.


Aku bakal di pindah ke Kalianyar. Itu bukannya rumah Oma kamu.


Kata-kata itu tersemat pada lampiran SK milik Dita, yang ia kirim kepada Serafina. Gadis itu mendadak senang. Dita adalah seorang dokter muda baru yang berprestasi. Ia akan bertugas di fasilitas kesehatan milik pemerintah yang berada di desa tempat dimana Fina berada.


Puskesmas Karanganyar.


Ia lantas mencari ponselnya lalu menghubungi sahabatnya itu. Itu artinya, beberapa hari kedepan ia tidak akan terlalu bosan saat berada di desa itu.


Dua kali berdering, panggilan darinya baru di jawab oleh sahabatnya yang memiliki pipi chubby itu.


" Halo Fin?" terdengar sapaan renyah dari Dita.


" Buset girang banget lu. Jadi kesini kapan?" Fina nampak bersukacita. Ia berguling kesana kemari sambil asyik bertelepon dengan Dita.


" Sabar lah, SK nya baru turun tadi. Aku juga gak nyangka!"


Kegembiraan. Itulah yang ia rasakan, setelah berhari-hari larut dalam belenggu kebosanan, ia kini mendapat satu angin segar. Mendapat teman.


" Fina!" Gadis itu terkejut karena tiba-tiba pintu kamarnya di buka oleh neneknya.


Bu Asmah membuka pintu kamar cucunya itu keras, karena sedari tadi mengetuk tak mendapat sahutan.


.


.


Pandu


Tampilannya selalu saja mempesona mata yang melihat. Mengenakan pakaian apapun, jika dasarannya sudah ganteng ya tetap ganteng.


" Mau kemana Ndu?" Ambarwati terlihat baru melipat beberapa pakaian yang kering. Ia mengantar baju yang sudah rapih ke kamar Putranya itu.


" Kerumah Yudha, pembentukan panitia!" jawabnya seraya menyisir rambutnya yang baru saja ia usapkan Pomade, di depan cermin kecil yang tergantung di kamarnya.


" Kamu ganteng Lo Ndu, kapan kamu menikah?" Ambarwati duduk di ranjang kamar anaknya, sembari menatap anaknya yang sudah beranjak matang.


" Jangan itu terus yang di bahas Buk. Aku masih mikirin Ayu!" Ucapnya sembari menyemprot parfum pria yang beraroma maskulin.


" Aku pergi dulu!"


.


.


Ia memasuki kamar adiknya terlebih dahulu sebelum pergi, " Yuk, kamu mau ikut mas?" Pandu kembali duduk di ranjang adiknya itu. Menatap punggung adiknya yang masih berbaring miring.


Senyap beberapa detik.


" Aku mau kerumah Yudha!"


Ayu menelan ludahnya, ia sedari dulu kagum dengan teman kakaknya itu. Bahkan bisa jadi ayu suka dengan Yudha. Tapi, ia kini cukup tahu diri. Mana ada yang mau dengan wanita tuna netra seperti dirinya.


" Enggak!" Suara ayu terdengar tercekat.


Pandu menelan ludahnya, lalu menghela napas pendek. " Kalau begitu Mas pergi dulu!"


Saat pintu itu tertutup, Ayu membuang semua bantal yang berada di sampingnya. Ia menangis.


Kesal dengan keadaannya yang tiada berguna itu. Terpuruk dalam kegetiran nasib.


" Kenapa kau tidak membuatku mati saja Tuhan?" Ayu menangis dan meratap. Ia merasa hidupnya tak berguna.


Ia protes kepada sang pemilik kehidupan.


Ayu menangis, gadis itu menundukkan kepalanya di antara kedua lututnya yang ia tekuk. Tubuhnya bergetar hebat.


Sayup-sayup terdengar suara motor kakaknya yang sudah berlalu. Andai ia bisa melihat, pasti malam ini akan menjadi malam yang indah buat Ayudya. Ia bisa bertemu dengan Yudha, pria yang ia kagumi selama ini.


Ambarwati yang mendengar raungan, setengah berlari mengintip kamar putrinya. Ia melihat Ayu menangis. Kalau saja bisa memilih, ia ingin menggantikan posisi anaknya itu. Tapi, ia bisa apa?


Hatinya sesak dan nyeri. Ambarwati lagi-lagi menangis dalam diam.


...☘️☘️☘️...


Pandu rupanya datang lebih dulu, " Mana si Sakti sama si Aji?" ucapnya sesaat setelah masuk ke rumah Yudhasoka.


" Paling bentar lagi datang!" sahutnya seraya membawa permadani yang akan ia gelar di Selasar rumahnya.


" Ibu kamu mana?" tutur Pandu.


" Ada di dalam, lagi bikin kopi!" jawab Yudha sembari berlalu.


Pandu adalah pria yang sopan, ia kebelakang karena berniat ingin menemui ibu sahabatnya itu.


" Ee kau rupanya Pandu. Ini lagi siapkan kopi untuk kau dan kawan kawan si Yudha!"


" Ada Pak RT pula Ya?"


Pandu mengangguk " Sama beberapa petinggi kerajaan Mak kayaknya!" Pandu terkekeh.


" Awas kau, nanti mereka dengar pulak habis kelen!"


Pandu hanya tergelak saat ibu dari sahabatnya itu berkelakar.


Mariana adalah ibu dari Yudhasoka. Wanita asli Batak yang menikah dengan Agus, pria keturunan Jawa yang menjadi cinta matinya.


Dari hasil pernikahan mereka lahirlah Yudhasoka dan Arju.


" Bapak dimana?" tanya Pandu sembari mengedarkan pandangannya.


" Belum balik, entah apa pulak yang di buatnya malam begini di warung si Juned itu!"


" Kalau Arju?" tanya Pandu.


" Macam kau tak tahu saja si Arju. Anak itu sudah jadi generasi menunduk semenjak bapaknya kasih dia hape. Kesel pula aku kadang-kadang!"


Pandu terkekeh. Jarak antara sahabatnya dan adiknya terpaut sangat jauh. Yudha saat ini berusia 27 Tahun, sementara Arju baru berusia sepuluh tahun.


" Kelen santai saja dulu, ini kopi bawa kedepan. Nunggu bapakmu pulang beli gorengan dulu. Setelah ini bawak tahu sama bumbu petis ini kedepan. Kelamaan nunggu gorengannya si Juned itu!"


" Yang ku heran apa si Juned ini pindah lapak ke Nabire atau bagaimana. Sudah sejak magrib tadi bapak Yudha pergi belum balik juga!"


Saat Mak Mariana mengomel, Yudha berjalan ke belakang dan kini ia telah berada di dapur. Berniat membantu membawa gelas-gelas berisikan kopi untuk di hidangkan di acara santai itu.


Yudha menggelengkan kepalanya, mamaknya itu selalu saja ngomel tiada henti. Tapi, hal ini malah membuat Pandu terkekeh.


Ada sekitar tiga puluh orang yang hadir, kesemuanya adalah tokoh pemuda dan di hadiri oleh orang-orang berpengaruh untuk membahas kegiatan itu.


Acara itu adalah acara rutin yang diadakan di desa itu. Sebagai simbol dari pecinta olahraga di cabang bola voli.


Terlihat sejumlah perangkat dusun Karanganyar, juga golongan orang berada yang hadir disana sebagai donatur, turut menghadiri acara itu.


" Sory telat!" tukas Ajisaka yang mengatur napasnya. Pria itu berlari usai memarkirkan mobilnya di bahu jalan.


" Supir antar propinsi baru sampai!" Cibir Sakti yang mencomot bakwan jagung, di piring yang berada di depannya.


" Matamu Sak!" dengus Ajisaka. Membuat Yudha dan Pandu tergelak.


" Benar-benar bos sibuk!" tukas Yudha menambahi.


" Dari mana, tumben telat?" tanya Pandu.


" Biasa, mau Nyepi kiriman musti di percepat. Takut close nanti!"


Ajisaka adalah pebisnis, pria itu merupakan orang yang paling berada diantara empat sekawan, namun paling tidak berani dalam urusan perempuan.


Pria itu memiliki lahan buah naga yang luas, ia juga saudagar buah dan sayur di desa itu. Ia yatim piatu sejak duduk di bangku SD. Nenek satu-satunya yang biasa mengasuhnya , tiga tahun lalu meninggalkannya untuk selama- lamanya.


Untung saja, pria itu selain mendapat warisan yang banyak, ia juga mahir dalam mengelola aset dan perkebunan yang ia miliki di desa itu. Membuatnya dapat berpijak di kaki sendiri.


Mereka sibuk ngobrol saat ketua RT membuka acara itu. Terlalu ogah untuk mendengarkan hal menjemukan.


" Yang terhormat bapak kepala...."


Sambutan membosankan yang kerap empat sekawan itu lewatkan. Cuap- cuap yang sama sekali tak membuat mereka tertarik. Acara itu terpaksa digelar di tempat Yudha karena balai dusun desa itu tengah dalam proses perbaikan.


Rumah Yudhasoka tergolong besar dan memiliki Selasar yang luas, membuat banyak yang menyarankan pertemuan itu diadakan di rumah anak juragan tahu itu.


" Sebagai donatur tetap, Yang terhormat Bapak Widiantoro..."


Sakti mencibir saat nama itu di sebutan oleh ketua RT yang menjadi pemandu acara malam itu. Widiantoro adalah ayah dari Desinta. Si tuan tanah yang tajir melintir.


" Calon mertua elu tuh di sebut Ndu!" kekeh Sakti mencibir.


" Matamu Sak, bilang sekali lagi aku tarik mulutmu!" sahut Pandu sebal.


" Eh, itu anaknya juga ikut ternyata, cie cie si Pandu!" ucap Sakti menunjuk ke arah Desinta yang duduk bersila di samping Widiantoro.


" Sekali lagi itu bibir nyerocos, aku sumpah pakai caba mentah ini!" Pandu mengangkat cabai hijau yang bertabur di atas tahu bumbu gurih produksi mamak Mariana.


Kini gantian Ajisaka dan Yudhasoka yang tergelak. Memang dari ke empat sekawan itu, Sakti adalah pria yang bermulut licin.


Namun semua yang hadir disana terperangah saat melihat seorang wanita dengan wajah masam, yang datang bersama seseorang yang juga bertindak sebagai donatur kegiatan itu.


" Woy, diem dulu. Tuh lihat arah jarum jam tiga!" tukas Sakti, membuat ketiga sahabatnya kompak menoleh ke arah yang di sebutkan oleh Sakti.


" Perempuan itu kan yang..." ucap Yudha.


" Ngapain dia kesini!" dengus Ajisaka dengan alis bertaut. Pria berpembawaan dingin yang mudah tersulut emosi.


" Kenapa dia datang kemari?" Pandu hanya membatin, seraya menatap wajah wanita yang malam itu terlihat anggun meski wajahnya terlihat sebal.


.


.


.


.