Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 60 . Mencari pelaku (Part1)



Bab 60. Mencari pelaku (Part1)


^^^" Jangan membangunkan singa yang tidur, jika kau tak ingin habis saat itu juga!"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Orang baru dan pernyataan yang terlalu banyak agaknya bukanlah sebuah korelasi yang baik. Jujur Pandu belum mengenal Mansur. Meski jika di tilik, pria dengan cukuran rambut tipis samping itu terlihat lurus-lurus saja.


Tapi menahan lidah itu selalu bertujuan baik bukan.


" Ini kan yang kerja disini Mas. Tapi aku gak bisa pastiin dia di level mana sekarang!" Tukas Mansur seraya lekat menatap kalung stainless itu.


" Memangnya ada apa sih?" Tanya Mansur penasaran.


" Aku ingin bertemu dengan orang itu dan menanyakan sesuatu!" Bohongnya, karena mana mungkin dia akan membicarakan hal itu saat ini.


Mansur mengangguk paham.


" Saya jarang bertemu kalau sama para guard nya. Saya cuma ngurusi anak- anak CS itu mas. Sebentar ya saya tanyakan dulu!" Ucapnya kemudian bangkit dari duduknya.


Saat Mansur berlalu, ia mengamati keadaan sekitar. Banyak sekali CCTV disana. Ia tak memiliki senjata apapun selain sebilah pisau yang ada di balik punggungnya.


Akan sangat berbahaya jika nekat pagi ini. Tidak. Tidak pagi ini!


Pandu keluar ruangan Mansur. Pria itu kini memasuki sebuah koridor yang terlihat sepi. Disana terpampang jelas nama beberapa personel terbaik beserta fotonya.


Benar-benar terlihat profesional.


Foto dengan pas wajah yang mengenakan jas hitam dan dasi warna merah. Terlihat seperti yang ada di film-film. Sayangnya, ini benar-benar kenyataan yang Pandu lihat. Not a film.


Pandu mengamati satu persatu nama berikut foto yang terpanjang di papan persegi berukuran besar itu. Dan benar, dia menemukan nama Raditya Andromeda disana. Ia memotret foto pria itu menggunakan ponselnya. Dalam hati sangat geram. Bagiamana bisa perusahaan sebesar ini mempekerjakan karyawan untuk berbuat tak benar pikirnya.


" Mas aku cari-cari ternyata sampean disini!" Pandu segera memasukkan ponselnya saat mendengar suara Mansur.


" Aku hanya ingin melihat-lihat. Kantornya besar juga ya?" Pandu mencoba bersikap normal.


" Besar lah mas. Banyak para pejabat dan orang kaya yang pakai jasa bodyguard disini!" Tutur Mansur dengan bangga.


Pandu tersenyum sembari mengangguk. Memuaskan hati Mansur yang tentu saja bangga akan perusahaannya yang di puja. Meski ia sendiri bukan ujung tombaknya.


" Oh iya, yang bagian kepegawaian gak masuk mas hari ini. Gak tahu sakit bisul mungkin. Di tanya pada gak ada yang jawab jelas. Kita gak bisa main ketemu orang tanpa ijin dulu!" Ucap Mansur.


" Maaf saya gak bisa bantu lebih!" Ucap Mansur muram.


Pandu tertegun. Sepertinya ia harus membereskan dengan caranya sendiri.


" Emm..kantormu buka sampai malam ya?"


" Betul mas, kami ada yang standby sampai malam. Tapi mas Pandu besok aja datang lagi ya. Besok yang tugas masuk dan bisa kasih jadwalnya. Atau kalau enggak besok biar di panggilkan.


Mansur benar-benar polos pikir Pandu.


" Makasih ya Sur. Tadi udah nolongin aku!" Pandu menepuk pundak Mansur senang.


" Aman mas!"


Tapi agaknya Pandu benar-benar tak bisa menunda lagi. Pria itu malam ini telah merencanakan sesuatu. Ia juga kepikiran dengan ibunya di kampung.


Pandu mendatangi kantor Kijang Kencana malam itu juga. Pandu mengenakan celana, kaos juga jaket dengan warna hitam. Tak ketinggalan sebuah topi dan masker guna menutupi identitasnya.


Keadaan yang sepi malam itu makin membuatnya mudah dalam menjalankan misi.


" Emmmmpphhhh!" Pandu kini telah membekap mulut satpam yang sok itu. Otot lengan Pandu terlihat mengetat kala memegangi tubuh pria yang kini mulai memberontak itu.


" Emmmpphhh!" Pria itu memukul lengan Pandu dengan kuat . Dan beberapa detik kemudian, pria itu kehilangan kesadarannya.


" Huft! gesit juga dia!" Gumam Pandu seraya mengatur napasnya yang memburu usai melumpuhkan satu orang.


Pandu menyeret pria itu lalu mengikatnya kuat-kuat serta menutup wajahnya dengan kain penutup.


Satu urusan telah beres.


Sebenarnya ada dua orang yang berjaga disana, namun teman dari pria itu tengah menyeduh kopi di dalam. Kantor itu jika malam lumayan sepi.


Pandu kini terlihat masuk dan langsung menuju ruangan di dalam kantor itu.


" Hey! siapa ka...!"


Terlambat, Pandu lebih dulu menempeleng hidung orang itu hingga pria itu pingsan dalam sekali pukulan.


Benar-benar payah.


Lalat kedua telah beres pikirnya. Ia sangat dituntut untuk cepat malam ini. Sebelum seseorang menyadari lewat CCTV akan kehadirannya.


Pandu menaiki anak tangga, banyak sekali ruangan- ruangan asing disana. Pandu memilih berjalan lurus. Dan tanpa di nyana, ia mendengar suara gelak tawa seperti orang minum.


Pandu merapatkan tubuhnya seraya memasang telinga dengan saksama. Ia menguping.


" Aku baru dapat jatah dari Adit. Jadi kalian bersenang- senanglah malam ini. Hahahaha!" Ucap seseorang dengan suara yang sudah mabuk.


" Elu masih aja berhubungan sama si Adit!" Sergah suara lain.


" Infonya, dia sudah berhasil menjalankan tugasnya. Gila di desa aja bisa dapat bonus segitu banyaknya!" Sahut seseorang dengan suara yang masih normal. Mungkin belum ikutan mabuk pikirnya.


" Tapi dengar-dengar, sampai mati gitu orangnya. Bener gak sih?"


" Aku kok kayak enggak setuju kalau begitu!"


" Menyalahi aturan tahu enggak!"


Pandu semakin menegaskan rahangnya. Apa para manusia biadab itu tengah berpesta pora usai menghabisi seseorang? Tapi jangan-jangan yang dibicarakan mereka adalah adiknya.


" Dia dikasih tugas kemana sih?" Tanya seseorang lagi yang membuat Pandu kian memasang telinganya betul-betul.


" Itu di Kalianyar kalau gak salah. Tapi bosnya dia lelet banget. Kataya orang kata. Masa matinya udah lama, cairnya baru tadi. Makanya gue langsung minta jatah ke dia!" Pria yang mabuk itu terlihat kembali tergelak usai mengatakan hal itu.


Dengan suara yang enggak jelas tentunya.


Dan benar saja. Itu artinya mereka tengah berpesta atas hasil laknat usai membantai adiknya.


Pandu benar-benar geram.


Brakkkkk


Pandu membuka, pintu yang sedikit terbuka itu dan langsung membanting pintu itu dengan kerasnya, kemudian menguncinya. Membuat lima orang disana terlonjak kaget.


Pandu menatap banyak sekali botol minuman beralkohol kelas atas, juga kulit kacang yang berserak. Benar-benar sampah.


" Siapa kamu?" Ucap salah seorang pria yang memakai jas hitam lengkap dengan dasi. Sepertinya ia merupakan personel bodyguard di tempat itu.


Kini mereka semua menatap Pandu dengan tatapan penuh selidik. Selain yang sudah mabuk itu tadi pastinya.


Pria yang masuk itu bahkan kini tak mempersoalkan kehadiran. Sibuk bergumam tak jelas. Perusahaan apa yang mengijinkan personelnya untuk mabuk.


" Aku ingin bertanya baik-baik pada kalian. Dan tolong jangan mempersulit keadaan!" Ucap Pandu datar yang sebenarnya sudah sangat muak.


" Siapa diantara kalian yang bernama Raditya?" Ucap Pandu menatap lekat orang-orang itu.


" Cepat katakan!" Ulangnya lagi dengan penuh kegeraman.


Suasana hening. Lalau sejurus kemudian.


" HAHAHAHAHAHA!" Ke-empat pria itu justru tergelak saat mendengar pertanyaan Pandu.


Membuat kesabaran Pandu semakin terkikis. Ia telah berada di ujung sabarnya.


" Memangnya kau ini siapa? Datang-datang mengganggu kami lalu bertanya dengan soknya!" Satu orang pria yang bertubuh agak kurus melangkah maju dan kini berkacak pinggang di depan Pandu. Menatapnya dengan tatapan menghina.


" Kenapa anjing ini bisa masuk kemari. Pasti satpam tolol itu ketiduran lagi!" Sahut seroang pria yang duduk di samping pria mabuk itu.


" Atau, kau ingin merasakan tangan kami hah?" Ucap pria agak kurus itu dengan merenggangkan tangannya.


" Sudah aku katakan, aku ingin bertanya baik-baik!" Pandu dengan wajah tak bergeming masih menatap tajam kelima orang itu. Sebelum ia benar-benar kehilangan kesabaran.


" Bacot lu, elu siapa berani tanya-tanya soal Adit hah?" Pria kurus itu kini melayangkan pukulan.


Bug


Pandu dengan waja datar berhasil menghindar. Membuat pria itu kini semakin geram.


" Kalian tinggal mengatakan, tidak perlu seperti ini!" Ucap Pandu dengan mata elangnya.


" Cari mati ni anak!" Ucap pria yang lain, yang saat ini turut berdiri geram.


Pria kurus itu mulai melayangkan tendangan ke wajah Pandu. Tapi mereka tak pernah menduga, jika pria yang mereka katai anjing tadi merupakan orang yang akan meremukkan tulang belulang mereka.


Pandu menendang tukang kering pria itu, lalu sejurus kemudian menghadiahinya dengan bogem tepat di rahang kanan pria itu. Membuat kepala pria itu seolah diitari oleh banyak bintang.


Bug


Pandu menginjak muka pria itu dengan kerasnya. Sebuah safety shoes milik Pandu agaknya berhasil membuat pria itu kehilangan kesadarannya.


" Kurang ajar!" Ucap pria lain yang gak terima melihat rekannya kini tumbang.


" Brengsek!" Umpat pria lain yang kini mulai ikut menyerang Pandu.


Dug


Pandu terhuyung ke belakang saat tendangan dari kaki bersepatu pantofel itu mengenai perutnya. Sakit dan pedih.


" Sini lo anjing!!" Pria itu mengumpat kepada Pandu.


Pandu menatap mereka geram. Bayangan akan wajah Pucat Ayu yang terkolek lemah tak berdaya seolah memantik energinya.


Bug


Kepalan tangan kokoh nan berotot milik Pandu berhasil membuat wajah pria itu terlempar ke kiri.


Bug


Kini Pandu meninju muka pria itu dengan tinjuan membabi buta " Sudah aku katakan lebih baik untuk berbicara baik-baik. Brengsek!!!' Pandu telah berasa di alam kekesalannya. Pria itu kini terlihat beringas.


Brakkkkk


Tubuh pria itu terlempar hingga mengenai tumpukan kursi disana. Sejurus kemudian pria itu tak sadarkan diri usai mengerang kesakitan. Pandu benar-benar terlihat liar.


Dua orang telah dilumpuhkan.


Claaak


" Arrgghhh!" Pandu meringis kala sebuah balok kayu menghantam punggungnya dari belakang. Pandu menatap pria itu dengan tatapan geram. Sejurus kemudian tanpa menunggu lagi, Pandu menubruk tubuh pria itu. Mereka kini berguling dan menabrak apa saja yang disana.


Membuat suasana menjadi gaduh dan tak terkendali. Satu pria yang terlihat ketakutan hanya berusaha membangunkan si pria mabuk yang semakin teler.


" Bangun Don. Anjing ni anak, itu teman elu pada bonyok itu!' Pria yang mengenakan kaos hijau botol itu terlihat ketakutan kala melihat Pandu yang lebih beringas daripada para bodyguard itu.


Bug


" Adikku mati, dan kalian malah berpesta disini brengsek!"


Bug


Pandu kini duduk diatas tubuh pria itu. Meninju wajah pria itu dengan tiada henti. " Kalian berpesta diatas kematian adikku. Bukan orang kalian emang!!' Pandu berteriak sembari terus membuat wajah pria itu kini bersimbah darah.


Bug


Pandu mengehentikan kegiatannya saat pria itu sudah terlihat tak sadarkan diri. Hidung pria itu mungkin sudah patah. Mulut pria itu bahkan kini terasa asin karena teraliri oleh cairan kental dari hidungnya. Terasa pedih dan berdenyut.


Dengan wajah setengah menahan tangis, Pandu menarik napasnya yang kembang kempis.Pandu sebenarnya sama sekali tak berniat ingin membuat mereka babak belur.


Ceklek


Terdengar bunyi senjata yang kini mengatung di belakang kepala Pandu. Membuat Pandu mengangkat kedua tangannya.


.


.


.