Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 212. Halal sudah



Bab 212. Halal sudah


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Malam menutup guratan jingga yang berhorizon di ufuk barat. Menyisakan para pekerja yang membereskan sisa acara Fina dan Pandu dengan wajah sumringah sebab bonus yang dijanjikan bos mereka dalam pesta kali ini terbilang lumayan.


Acara itu terbilang lancar meski terjadi insiden diluar gedung yang tak begitu di ketahui banyak orang. Bahkan kedua orang tua pasangan pengantin itu, juga gak mengendus bau perkelahian tadi.


Rendy menutup mulutnya rapat- rapat. Toh masih bisa ia tangani dengan baik dan tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Cincailah pokoknya.


Pandu sedikit resah dan kecewa, sebab sosok yang ia harapkan datang, nyatanya tak menampakkan batang hidung mereka.


Para tamu dari Kalianyar masih menginap di hotel dan akan kembali besok. Rara bersama Ratna langsung bertolak bersama team malam itu juga. Sementara Sakti dan keluarga, juga kembali ke hotel tempat dimana mereka menginap. Pria itu kini lebih menjadi pendiam. Sama sekali tak menyuguhkan kesablengan yang selama ini melekat dalam diri pria itu.


Pandu masih tekun mengepulkan asap sambil menatap Fina yang terlelap akibat kelelahan. Merasa bahagia karena masih tak percaya jika jika gadis nakal itu sudah resmi menjadi istrinya.


Masih ingat dalam ingatannya, sewaktu Fina dengan sombongnya memakai mereka yang sore itu bermain voli bersama.


Juga Fina yang merokok dengan sikap ketus yang sempat membuatnya geleng-geleng kepala. Pun dengan ia yang terkejut sewaktu untuk pertama kalinya, Fina mencium bibirnya di hadapan Dita dan Riko dengan impulsifnya.


Pandu terkekeh demi mengingat beberapa kilasan kejadian, yang lambat laut menjadi cikal-bakal tumbuhnya benih-benih cinta antara mereka berdua.


Fina tadi melesat ke kamar mereka terlebih dahulu ,sebab tak kuasa menahan lelah. Sementara Pandu masih sibuk berbincang dengan para rekan Bayu. Pria gagah itu agaknya memang akan melimpahkan segala sesuatu yang ia miliki, kepada Pandu.


" Kok belum mandi?" Tanya Fina dengan suara parau sebab baru membuka matanya. " Astaga...ini udah malem, kok nggak bangunin aku?" Fina setengah terperanjat dan kini memanyunkan bibirnya.


Kenapa Pandu malah enak-enak ngerokok dan diam memandanginya?


Pandu terkekeh," Baru jadi istriku beberapa jam sudah berani marah ya?" Pandu menggerus batang rokoknya yang masih lumayan panjang, mengerlingkan mata genit ke arah Fina.


" Buruan mandi sana!" Fina yang masih mengenakan gaunnya itu kini terlihat hendak menuju kamar mandi.


" Aku kira udah mandi, malah duduk disitu. Kalau gitu aku yang mandi dulu!" Omel Fina yang kini sudah rempong meraup gaunnya yang menjuntai.


" Tunggu!" Pandu mencengah Fina yang sudah hendak melangkah. Tatapan pria itu penuh maksud dan sorot matanya mengandung kilatan cinta.


Membuat Fina tersenyum penuh arti.


.


.


Guyuran shower dengan air hangat di malam itu, tak menyurutkan kegiatan dua anak manusia yang berada di bawahnya. Tubuh kekar yang terhiaskan oleh tatto di sepanjang punggung lebar Pandu, kini tak luput dari sapuan tangan Fina yang meremas tiap inci otot liat Pandu.


Sudah sah, sudah halal dan sudah bersertifikasi. Tentu saja membuat rasanya makin tak bisa terdefinisikan. Indah dan pasti membahagiakan.


Fina memejamkan matanya kala Pandu menciumi tiap jengkal kulit leher basah wanita itu. Tangan besar Pandu terlihat meremas pinggang polos Fina yang basah karena guyuran air hangat. Sensasi gila yang jelas akan membuat mereka kalang kabut di waktu bersamaan.


Pandu membuka matanya lalu merekatkan dahinya ke dahi Fina. " Makasih, udah mau jadi istriku Fin!" Ucapnya dengan suara parau, sembari menggerakkan tangannya untuk bergerilya di sepanjang garis punggung Fina yang sempurna.


Fina tersenyum masih di bawah guyuran air itu. Tubuh polosnya mentok ke dinding marmer kamar mandi dan tubuh bagian depannya menyentuh sesuatu yang keras dan membuatnya merinding.


" Aku yang makasih karena kamu mau milih aku jadi istri kamu sayang!" Ucap Fina mengecup bibir Pandu sejurus kemudian. Dua manusia kawakan dalam hal bercinta itu sudah tak bisa diragukan lagi kelihaiannya.


Rasa bahagia bercampur kelegaan, karena sekeras apapun aral melintang, hal ihwal menghadang mereka, nyatanya tak akan pernah bisa menghalangi cinta mereka berdua.


Bagai dialiri arus listrik yang menggetarkan tubuhnya, Fina menarik napasnya dalam-dalam manakala Pandu telah memasuki dirinya dalam posisi yang masih sama. Rasa yang jelas sudah ia dambakan selama ini, kini terbayar lunas sudah.


Sorot mata sendu dengan napas yang kian tersengal, makin membuat keduanya larut dalam rasa memabukkan itu. Ini gila, Pandu memasuki Fina dengan posisi berdiri dan itu sangat membuat Fina suka.


Dalam waktu yang lama, mereka berdua melebur indahnya cumbuan halal yang jelas akan menjadi candu bagi mereka berdua.


Pandu mengangkat sebelah kaki Fina, dan pria itu terlihat menghujam dengan serangan penuh cinta yang membuat keduanya bagai melayang.


Kama Sutra berselimut Tirta.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Ia menyulut rokok untuk kesekian kalinya. Tak bisa memejamkan matanya barang sejenak walau sebenarnya letih telah menyerangnya. Alasannya masih tetap dan tidak berubah. Pria itu risau karena memikirkan Wida, yang bahkan sudah lelap dibuai mimpi, bersama anak-nya.


" Si Pandu jelas lagi enak-enak!" Ucap dengan wajah datar. Mendudukkan dirinya ke samping Yudha yang sibuk berbalas pesan dengan Rara dengan wajah murung.


" Emang masih lama kalian?" Tanya Yudha soal urusan Wida. Ia tahu, Aji tengah menjadi budak cinta janda beranak satu itu.


" Enggak sih, bentar lagi. Tapi...Wida enggak mau nikah di gedung kayak gini Yud. Padahal aku pingin banget!"


Yudha memicingkan matanya. " Kenapa?"


" Sayang duitnya katanya. Aku kok jadi miris. Kayaknya Wida meragukan kemampuanku deh Yud. Kalau cuma nyewa hotel begini, enggak akan buat aku bangkrut kok!" Ucap Aji yang kini terlihat menghisap rokoknya.


Yudha menarik senyuman simpul, sombong amat. " Itu bedanya orang yang udah pernah nikah sama yang belum Ji. Bu Wida orangnya sederhana banget. Terus maunya gimana emang?"


" Ya ...kalau mau syukuran kayanya suruh booking EO yang bisa acara dirumah aja. Enggak tahu lah, belum-belum udah pusing aku!"


Yudha terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.


" Oh iya, tadi Sakti kemana sih. Habis makan kok terus ngilang. Jujur ya Yud, kok gue jadi ngerasa makin berjarak sama tu anak!" Ucap Aji yang mengetuk abu puntungnya.


Yudha kini meletakkan ponselnya ke atas nakas sebab Rara berpamitan akan tidur di mobil. Wanita itu sudah tak kuasa menahan kantuk.


" Gue juga mikir sama. Dia biasanya juga enggak jago gelud. Tapi tadi lihat!" Yudha membentangkan kedua tangannya." Mungkin dia berubah semenjak aku ngelarang dia dekat sama Rara kapan hari!"


Aji terperanjat saat mendengar penuturan Yudha. " Kalian serius suka sama orang yang sama?" Aji menatap serius Yudha.


Yudha mengangguk, pria itu akhirnya menceritakan semuanya yang terjadi. Pun dengan alasan yang membuat ia sempat melarang Sakti waktu itu.


" Kenapa elu enggak ada bilang sialan! Besok aku harus bicara sama tu anak! Aku enggak bisa kayak gini Yud!"


.


.


.