Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 103. Menuju Kantor KJ



Like dulu sebelum baca ya, biar gak kelewatan 😁😁😁


Bab 103. Menuju Kantor KJ


^^^" Jika sudah waktunya, apa yang ditahan pun akan keluar dengan sendirinya!"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ambarwati


Ia tak hentinya menyeka air matanya menggunakan punggung tangannya saat berjalan membelah puluhan wartawan, yang kini berebut posisi menuju ke tempat dimana Hartadi berdiri.


Perasaan lega namun merasa bersalah, kini datang secara bersamaan. Menyerang dirinya. Menantang keteguhan hatinya. Pandu telah mengetahui hal yang paling ia rahasiakan selama ini. Apakah Pandu akan benci kepadanya? Entahlah. Yang jelas, dia sudah melakukan yang terbaik menurutnya, versi dirinya.


"Ibuk!" Ajisaka menyongsong kedatangannya bersama Bayu dengan wajah cemas. Sahabat putranya yang sudah seperti anaknya sendiri itu terlihat begitu mengkhawatirkan dirinya.


" Dimana Pandu nak?" Jawabnya saat telah berada di depan Ajisaka. Menyambut ukuran tangan Aji dengan lembut. Ia ingin berbicara empat mata dengan putranya itu.


" Aku tinggal sebentar ya!" Bayu pamit lantaran ia harus menemui Wira dan juga beberapa wartawan yang sudah berjubel meminta klarifikasi. Membuat pertanyaan Ambarwati terjeda untuk dijawab Aji.


Ambarwati mengangguk " Terimakasih banyak!"


Pria itu hanya tersenyum simpul, sejurus kemudian membalikkan badannya untuk menuju ke tempat Wira berada.


Ia menatap punggung lebar Bayu yang kini berjalan menuju kerumunan pemburu berita itu. Pria itu benar-benar berwibawa.


" Pak apakah benar jika keluarga Hartadi Wijaya terlibat sindikat Human trafficking?"


" Mengapa polisi selama ini tak mengendus aksi haram ini pak?


Sayup-sayup ia mendengar suara wartawan wanita yang langsung memberondong pertanyaan kepada pria yang tadi menolongnya itu. Benar-benar pria penting dan sibuk.


" Kami dari tadi belum melihat Pandu turun Buk!" Jawab Ajisaka yang membuatnya memungkasi tatapan terhadap pria bertubuh tegap itu.


Ia juga mendapat anggukan dari Yudha, sebagai bentuk jawaban yang sama.


" Dimana dia!" Gumamnya cemas, lantaran Pandu pasti saat ini tengah kecewa kepadanya.


" Emm Bu permisi, mari ikut saya!" Tukas Rendy sejurus kemudian. Pria dengan kacamata itu mendatangi Ajisaka, Yudha dan juga dirinya dengan berucap penuh nada kesopanan.


Ia mengerutkan keningnya. Ikut kemana?


" Saya tadi melihat Pandu keluar membawa mobil. Kita bisa menunggunya di kantor!" Tukas Rendy menjalankan titah dari Bayu.


.


.


Bayu


" Bawa ibu dan teman-temannya Pandu ke kantor, setelah ini aku akan menyusul!" Bisik Bayu kepada Rendy sesaat sebelum ia bergabung bersama Wira dan beberapa leadernya.


" Baik Pak!" Rendy selalu tangkas dan sigap. Pria itu selalu mengerti maksud Bayu bahkan tanpa harus mengulang perintah.


Entah mengapa sejumput rasa welas asih tumbuh di hati Bayu. Tak sampai hati melihat wajah sendu Ibu Pandu. Wanita sederhana yang sudah bisa di pastikan ketegarannya.


Bayu merasa seperti ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.


.


.


Polisi telah mengamankan keluarga Hartadi dari serangan wartawan yang membuat Rengganis stres. Riko, Radit dan juga Basuni terlihat di tangani oleh tim medis, untuk selanjutnya akan menjalani serangkaian pemeriksaan oleh Tim Wira.


" Sampai saat ini, kami masih melakukan pendalaman tentang siapa saja yang terlibat!"


Wira menerangkan hal itu dengan wajah tenang. Bayu tak salah kali ini. Saudara sepupunya itu jelas bisa di andalkan. Untuk hal ini, jelas Wira yang lebih berhak untuk berbicara di depan awak media.


Rumah itu kini penuh oleh pemburu berita dan kepowers. Dalam sekejap saja, sejumlah portal media sosial berlomba-lomba memposting berita terupdate, perihal bisnis terselubung yang di jalankan oleh Zack yang bekerja sama dengan Riko Wijaya. Benar-benar dahsyat!


" Tunggu dulu, Sakti dimana?" Yudha kini kebingungan mencari pria pecicilan itu. Membuat kesemuanya menghentikan langkah mereka.


" Woy!!!! Eperibadi! aiem hier! ( Everybody om here)" Sakti melambaikan tangannya kepada Ajisaka dan yang lainnya dengan tersenyum sumringah.


Rupanya Sakti telah berada di dalam mobil dengan bak terbuka di belakang, bersama Markus. Dengan kaki telanjang dan sepatu yang terlepas ia melambai-lambai bak nyiur di pantai.


Membuat Yudha dan Ajisaka menggaruk kepalanya. Sungguh mereka malu dengan tingkah bar-bar Sakti. Dasar sableng!


" Oh astaga, aku tidak percaya punya sahabat macam dia!" Dengus Ajisaka. Membuat Rendy juga Yudha terkekeh.


.


.


Ajisaka


Sebuah pengalaman seru dan menegangkan baru saja ia lakoni. Jujur, hal memacu adrenalin seperti ini sangat ia sukai. Aji terpuaskan kala bisa meninju wajah para bajingan itu. Ada suatu kepuasan tersendiri. Yeah!


Namun, entah mengapa sekelebat wajah seseorang melintas dalam pikirannya. Wanita dengan wajah lebam yang menggendong seorang bocah yang tak sengaja ia tabrak tempo hari, membuatnya gelisah.


Keresahan mendadak menghampiri dirinya. Ia ingat akan sesuatu yang ia temukan makam itu. Ia langsung meraba saku belakang celananya. Memastikan barang kecil itu masih aman bersamanya.


" Huft aman!" Gumamnya kala jarinya menyentuh sebuah giwang kecil yang masih berada di sakunya. Jelas ia takut jika benda itu hilang. Berniat dalam hati untuk menyimpannya di dompet nanti saat ia sendirian.


" Apanya yang aman?" Yudha menatap Ajisaka dengan tatapan heran. Apakah sahabatnya itu gila karena tengah berbicara seorang diri?


" Oh...enggak. Maksudku...sekarang Pandu sudah aman. Kita semua lebih tepatnya!" Aji kelabakan seraya meringis, ia tentu saja harus berdalih.


Tentu saja ia tak mau Yudha mengetahui hal ini. Bisa di buly dia. No way. Never ever!


Rendy yang kini mengemudikan mobil Ajisaka terlihat melirik Bu Ambar yang diam seribu bahasa di sampingnya. Kasihan sekali Bu Ambar.


" Tenang saja Bu, Pandu pasti kembali ke kantor!" Tukas Rendy yang seolah tahu, kemana arah pikiran wanita sederhana di sampingnya itu.


Ambarwati tersenyum kecut. Alasannya tetap hidup hingga saat ini hanyalah karena anaknya. Tempaan penderitaan yang datang silih berganti dalam hidupnya seolah tidak ia rasa.


Namun, ia sangat merasa tersiksa bila sudah menyangkut tentang anaknya.


" Terimakasih banyak nak! Terimakasih karena sudah membantu kami!" Dengan tatapan sendu, Ambarwati kini menatap ke arah Rendy. Membuat Yudha dan Ajisaka kini menghela nafasnya, lantaran kesedihan Bu Ambar tak jua mereda.


" Saya yang berterima kasih Bu. Pandu benar-benar orang yang berkompeten. Karena dialah, kita bisa berhasil membekuk Raditya. Pria yang menusuk putri ibu!"


Rendy terenyuh akan cerita yang ia ketahui tentang ketekatan Pandu itu. Kini, sisa rasa tidak sukanya terhadap Pandu saat pertama kali bertemu itu telah sirna. Berganti rasa iba dan kagum.


Mereka keluarga sederhana yang benar-benar bisa di jadikan suri tauladan bagi semua. Tak mengira jika Pandu terlahir dari ibu yang luar biasa.


" Emmm, maaf boleh saya tahu? Tapi...kenapa ya saya musti ikut ke kantornya Pak Bayu ya?" Tanya Ambarwati yang membuat Rendy seakan tercekik ludahnya sendiri.


Sementara Yudha dan Ajisaka saling menatap. Iya juga ya. Padahal, mereka bisa saja langsung mencari Pandu bukan? Benar-benar aneh.


.


.


.


.


.


.