Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 128. Di Pabrik



Bab 128. Di Pabrik


^^^" Bagai Harimau menyembunyikan kuku!"^^^


^^^( Seseorang yang merendah, dengan menyembunyikan kelebihannya)^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Widaninggar


Wida seketika langsung mendorong tubuh berat yang menindihnya itu dengan segenap tenaga yang ia miliki. Membuat tubuh Ajisaka terguling ke bawah.


BRUK


" Aduh!" Telinganya bahkan bisa menangkap suara mengaduh itu, meski ia sekarang tengah ketakutan karena jelas dua pria di depan mereka tengah menatap penuh selidik ke arahnya.


Dengan gerakan cepat, Wida berdiri dan berlari menuju luar usai menyambar jaket dan membawa hak yang baru saja ia terima. Sialan betul pria itu.


Ia kini tak peduli akan tatapan dua pria yang baru nongol itu, jelas semua perasaan negatif pasti muncul di benak dua pria tersebut. Tapi ia tak peduli.


" Permisi!" Ucapnya cepat sambil membelah keberadaan Sakti dan Yudha yang masih berdiri mematung itu.


Haish, ia sudah benar-benar ingin pergi dari tempat itu. Membuat Yudha mendelik demi melihat perempuan yang baru saja melintas di sampingnya.


" Itu kan?"


.


.


TUK TUK TUK


suara sepatu si sableng yang beradu dengan lantai rumah Aji, terdengar memecah kebisuan diantara mereka bertiga. Menjadi soundtrack suasana yang perlahan menjadi mencekam.


Ajisaka kini lebih mirip seperti seorang pesakitan yang tengah di interogasi dua manusia kepo di depannya. Yudha dan Sakti.


" Benar-benar licik! Kau selama ini berkata tidak pernah dekat dengan wanita, tidak pernah pacaran, tidak ini...tidak itu..." Sakti menghela nafasnya seraya menggeleng tak percaya.


" Tau-tau main gerilya lu!" Sakti tentu saja tak ingin menyia-nyiakan mulutnya yang lemes itu. Ia syok dengan Aji yang berduaan dengan seorang wanita.


" Kalau kita gak datang, aku jamin pasti kamu...!"


" Cangkem jangan mulai cangkem!" Aji mendengus. Mulut si sableng selalu saja kehabisan kanfas rem.


Yudha masih menatap Ajisaka dengan sebelah alis yang terangkat, sambil bersidekap. Rasa penasaran yang juga kini bersarang di benaknya.


" Kenapa kau bisa kenal dengan wanita itu?" Tanya Yudha dengan tatapan penuh arti.


Ajisaka menghembuskan napasnya pasrah.


" Sudah dari tadi aku jelaskan, semua itu salah paham. Aku tersandung dan..."


Sakti menyebikkan bibirnya tak percaya, dramatis sekali seperti kisah Marimar di telenovela.


" Gak percaya!" Sakti menjeda setiap kata yang Aji ucapkan sebagai bentuk ketidakpercayaannya kepada pria kaku di depannya itu.


" Sejak kapan kau mengenal Bu Wida?"


Sakti kini juga menoleh kepada Yudha dengan wajah konyolnya. Apa dia saja yang ketinggalan berita?


" Kau kenal Yud?" Aji bahkan kini menatap serius ke arah Yudha.


" Bagaimana enggak kenal, dia nasabahku. Beberapa waktu yang lalu aku nyurvei ke rumahnya!"


" Dia baru aja ngajuin pinjaman ke kantor!"


" Tapi, dari persyaratan yang dia bawa...dia bukannya sudah menikah?" Tukas Yudha yang mengingat hal itu.


Aji memijat kepalanya yang pening, niat hati tak ingin orang tahu akan apa yang ia rasakan, kini malah menjadi seperti ini.


" Elu tuh ya...enggak pernah tau beritanya sama betina, ini tau-tau nyikat istri orang aja lu!" Sakti mendakwa bengis ke arah Aji.


" Dia wanita yang pernah aku temui waktu di Yaksowilangun. Malam itu ia babak belur, dan enggak taunya, dia rupanya anak Pak Atmo!"


Membuat Yudha dan Sakti terkejut. Jelas keanehan sikap sahabatnya yang emosional itu, adalah representasi dari ketertarikan Aji kepada wanita tadi.


" Pak Atmo yang kerja di pabrik mu?" Tanya Sakti.


Aji mengangguk. Biarlah sudah jika mereka kini tahu kebenarannya.


" Tapi kenapa dia bisa disini?" Yudha bertanya dengan wajah datar.


Aji menghela nafasnya sebelum menjelaskan semuanya. Ya.. akhirnya mau tidak mau kedua sahabatnya itu tau juga akhirnya. Pie maneh, wes kadung eruh!


Sakti menahan tawanya demi mengetahui jika Aji jelas tengah dilanda perasaan jatuh cinta. Ihiiiirr!


" Kalau dugaanku benar, kau sedang jatuh cinta sama mbok rondo!" Ucap Sakti tergelak.


Detik itu juga, Aji terlihat memiting leher Sakti.


Sialan!


.


.


Kediaman Atmojo


Pukul 20.52


" Pokoknya aku enggak mau lagi kalau disuruh kesana!" Gumamnya dengan isi hati yang kesal, sambil tekun menarik gas menggunakan tangan kanannya.


Wida tak tahan dan lebih baik pergi sebelum semua makin runyam. Statusnya saat ini saja sudah cukup membuatnya susah untuk menempatkan diri di masyarakat, apalagi jika ia sampai terkena gosip yang aneh-aneh. No way!


" Udah pulang Wid?" Pak Atmo rupanya belum tidur. Mungkin sengaja menunggu putrinya itu.


" Iya Pak!" Kedua alisnya bertaut, terlihat seperti wajah orang kesal. Jawabnya juga sekenanya saja.


" Nyapo maneh?"


( Kenapa lagi?)


" Enggak ada Pak, capek aja. Ya udah Wida masuk dulu, ngantuk!"


Pak Atmo menatap punggung anaknya yang telah berlalu. Jelas terlah terjadi sesuatu. Semoga anaknya itu tak membuat mood pengusaha muda itu berantakan.


Dikamar,


Wida terpaksa tidur di kasur tipis yang ia gelar dibawah dipan. Diatas ranjang ia telah melihat Damar tidur di peluk ibunya. Wida tak mau mengganggu. Biar saja.


" Hihhh!" Wida kesal betul kala mengingat sikap Aji tadi. Terlebih momen sialan yang jelas membuat dua pria tadi pasti salah mengartikan keadaan.


" Pokoknya besok aku enggak mau kesana lagi. Enggak!!"


.


.


Sepekan berlalu dan Wida benar-benar tak mendatangi rumah Aji kembali meskipun upah yang ia terima rupanya sangat banyak. Ia berpikir biarlah sekali-kali ia merasa enak hati saja kali ini. Lagipula, memberinya tiga lembar pecahan proklamator untuk menyetrika selama beberapa jam tidak akan membuat pria itu miskin. Begitu pikirnya.


Tapi, sudah seperti hukum alam. Jika kita tidak menyukai sesuatu, kita akan makin sering di pertemukan dengan hal itu.


Seperti pagi ini misalnya.


Bagiamana tidak, rombongan TK kasih Ibu kini telah berada di sebuah pabrik berukuran sedang bersama para guru dan tentu saja pemiliknya. Ajisaka.


Melihat Ajisaka yang sudah rapih dan lugas dalam menyapa guru beserta anak-anak TK, benar-benar membuatnya mendengus dan hatinya mencelos.


" Lihatlah, dia bahkan bisa berkata semanis itu kepada anak-anak!"


Ingat akan kejadian seminggu yang lalu yang membuatnya kesal. Untung saja sampai sekarang ia tak mendengar omongan aneh-aneh soal dirinya. Dugaannya, pasti Aji sudah membungkam dua pria itu.


Ia menyimak dengan wajah mencibir saat Aji dengan wibawanya memberikan sambutan dan sapaan ramah kepada anak-anak. Sesi selanjutnya, terlihat pria yang lebih muda mengambil alih jalannya kegiatan.


" Nanti Ibu-ibu bisa cicip Dragon fruit chips- nya di belakang ya. Anak-anak habis ini kita lihat proses pembuatannya yuk!" Ucap Dino yang kini menjadi pemandu kegiatan disana itu.


" Kalian juga bisa bawa pulang produk Ajisaka's Food nanti ya. Gratis!"


Riuh rendah suara tepuk tangan bocah yang girang karena mendengar kata gratis, membuat Wida menarik seulas senyum.


Dan sialnya, dari kejauhan, Ajisaka menatap Wida penuh arti. Tatapan yang justru membuatnya tak nyaman. Pria itu!


Guru beserta anak-anak TK itu belajar mengenai buah tropis yang memiliki tiga warna itu. Merah, Putih dan Kuning. Belajar tentang manfaat, kemudian bisa di olah untuk apa saja. Seperti saat ini, mereka tengah berada di pabrik Ajisaka's Food.


" Pria seganteng itu kok betah sendiri ya? Udah ganteng mapan!"


" Iya, beruntung banget yang dapatin mas Aji!"


" Denger- denger gak pernah punya pacar!"


" Masa sih Bu, jangan sampai yang kayak di Facebook itu. Wong ngganteng senenge karo wong ngganteng!" Para ibu-ibu tergelak saat membicarakan Ajisaka. Terlihat mengagumi pria pemarah itu.


Kasak - kusuk suara ibu-ibu wali murid yang mengiringi putra putri mereka membuat Wida menyebikkan bibirnya kala mereka semua memuja Aji.


Ia bisa melihat pria yang kini mengenakan kaos polo merah degan bawahan celana panjang gelap tengah berdiri berbincang dengan Bu Heni.


Aji ganteng! Ah mikir apa dia.


Mengingat jika pria itu beberapa waktu yang lalu sempat menindihnya secara tak sengaja. Tapi, ia selalu sadar diri. Kini pengajuan gugatannya telah di terima pengadilan. Dan tinggal menuju langkah selanjutnya.


Ia ingin bebas dari bayang-bayang Pram dan segala kenangan buruk yang di torehkan.


" Wid, kamu nggak ikut kedalam?" Tanya salah seorang wali murid yang kini sudah hendak berjalan membuatnya tersentak dari lamunan.


" Enggak Bu, saya nunggu disini saja. Kebetulan kaki saya sakit. Tadi saya sudah izin sama Bu Erna. Saya nunggu Damar disini!" Ia menjawab ramah pertanyaan dari wanita yang paling memanusiakan dirinya itu.


" Oh ya sudah, tapi beneran enggak apa-apa kalau kamu disini sendirian?" Wanita itu kasihan kepada Wida.


Wida mengangguk mantap " Ada pekerja kok di samping, lagian pasti acaranya enggak lama kan. Kaki saya sakit kalau dibuat jalan terus Bu!"


Wida sebenarnya hanya berdalih, perempuan itu merasa jika ia ikut kedalam , potensi bertemu Ajisaka akan besar. Ia ogah lagi berurusan dengan pria itu. Pria kepo yang seolah ingin mengetahui kehidupannya. Wida tidak suka akan hal itu.


Wida kini berpindah ke sebuah tempat terbuka yang ia yakini merupakan tempat untuk menunggu. Sebuah kursi panjang yang bisa ia jadikan tempat untuk mendudukkan tubuhnya.


Namun, sepertinya harapannya menjadi sia-sia kala aroma khas mendadak ia hirup. Aroma yang dominan dan sempat ia kenali beberapa waktu yang lalu.


" Kenapa malah disini? Kenapa tidak ikut masuk?"


Dan demi apapun yang ada di pelosok negeri ini, Wida mendengus kala menoleh dan mendengar suara Ajisaka yang kini tersenyum ke arahnya.


Oh ya ampun!


.


.


.


Keterangan :


Cangkem : Mulut ( kasar)